Madre

Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh adalah novel pertama Dee yang saya baca.. Saya terpesona, tak sabar menunggu lanjutannya..

Tapi apa daya, mungkin benar yang dikatakan orang, jangan taruh ekspektasi yang berlebihan saat membaca sebuah sekuel.. Saya merasa mual dan melempar buku nya saat belum separuhnya saya selesaikan..

Saya memutuskan untuk cuti..
Dari semua buku karya Dee..
Tak pernah lagi saya sentuh..

Sampai sebuah tawaran buku gratis dari ijul yg katanya merasa lapar selama membaca novel ini..
Bah, buku gratis? Siapa yg berani nolak?!
Bwehehehe..

Lalu saya tenggelam dalam harum adonan roti hangat yang baru saja keluar dari oven..
Sehangat pelukan dari keluarga Tan de Bakker..
Terpuruk dalam misteri wajah telaga..
Tersesat mengejar layang-layang..
Kemudian terhanyut dalam pusaran pertanyaan, barangkali cinta?

Mungkin memang cuti yang saya butuhkan..
Saat rasa muak melanda..
Saat bosan..
Jenuh..
Dan saya pun kembali segar mengunyah karya Dee..

Thanks bwt tawaran buku gratisnya, Jul!

Advertisements

tandas..

mengingatmu, sudah tak ada daya
tandas setiap detik kenangan
bersamamu, putus sudah harap
tergilas ingkar menyaluti mimpi
mencintamu, cerih pun tiada
pungkas cerita dengan kembali mengunci hati
usai sudah..

Tentang Kehilangan..




Bicara tentang kehilangan, tidak pernah sederhana..
Meski ia datang, kadang dengan cara yang teramat mudah..
Bukankah aneh, kita justru merasa sesak kala merasakan ketiadaan?
Isi kepala begitu penuh hingga tak mampu menampung sisi hidup yang lain..
Mengapa kekosongan alihalih menjelma semesta saat dirasa rengat di hati?
Mungkin karena kehilangan tidak pernah menjadi pilihan..
Saat kehilanganmu, contohnya..
Jika bukan karena simpul yang terpaksa aku jalin, kehilanganmu pasti kan terjadi dalam cara yang lain..
Jua ketika Bapak pergi, di Lebaran lima tahun Hijriah yang lalu..
Apa kami bisa memilih untuk tidak merasakan hampa saat lutut yang seharusnya kami cium di hari yang fitri justru telah terbujur kaku?
Yang aku yakini, hanya ada satu kehilangan yang sepenuhnya menjadi pilihan untuk kita..
Satusatu nya yang berada dalam genggaman kita..
KehilanganNya..
Karena Dia tak pernah tiada..
Acapkali, kita yang melupakan keberadaanNya..
***
Dearest Friends,

Sadly, this could be my last journal on Multiply
I’ve found out about the decision from the new CEO that Multiply will focusing in e-commerce and will determinate the blog feature.
The hell!!
*sorry for sworing*
Mungkin terdengar berlebihan, but the news has truly been a breakdown for me..
I’ve lost my blog at friendster before so its kinda ridiculously sad to lost a place for my self healing, once again..
I was in denial the whole day
Masih ga percaya Multiply bener2 mau shutdown blog nya
Tapi ditelusuri berita nya satu demi satu, dan belum lagi saat masuk ke site multiply, notes dari CEO baru yang bahkan saya tidak sanggup menyebut namanya, meyambut layar laptop saya..
O, darn!!

Bukan hanya journal tempat saya menumpahkan rasa dan asa, tapi bertemu dengan teman-teman baru dan saling berbagi sungguh tidak bisa diniliai dengan keputusan berdasarkan bisnis semata..

Dan ya, kehilangan sepertinya memang bukan suatu pilihan..
Tapi sesuatu yang harus kita jalani dan hadapi..
Sesak mungkin kita rasakan, penuh..
Tapi kita tetap harus maju..
Ayo, kawan..
Mari terus menulis, mari terus berbagi..
Dan tetap ingat, pasti ada tempat lain untuk kau tumpahkan ceceran katamu..

*in edition of MPShutdown*
Bye, All
Hikz..