Madre

Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh adalah novel pertama Dee yang saya baca.. Saya terpesona, tak sabar menunggu lanjutannya..

Tapi apa daya, mungkin benar yang dikatakan orang, jangan taruh ekspektasi yang berlebihan saat membaca sebuah sekuel.. Saya merasa mual dan melempar buku nya saat belum separuhnya saya selesaikan..

Saya memutuskan untuk cuti..
Dari semua buku karya Dee..
Tak pernah lagi saya sentuh..

Sampai sebuah tawaran buku gratis dari ijul yg katanya merasa lapar selama membaca novel ini..
Bah, buku gratis? Siapa yg berani nolak?!
Bwehehehe..

Lalu saya tenggelam dalam harum adonan roti hangat yang baru saja keluar dari oven..
Sehangat pelukan dari keluarga Tan de Bakker..
Terpuruk dalam misteri wajah telaga..
Tersesat mengejar layang-layang..
Kemudian terhanyut dalam pusaran pertanyaan, barangkali cinta?

Mungkin memang cuti yang saya butuhkan..
Saat rasa muak melanda..
Saat bosan..
Jenuh..
Dan saya pun kembali segar mengunyah karya Dee..

Thanks bwt tawaran buku gratisnya, Jul!

Advertisements

Wajah Telaga (Sajak Dee- Dewi Lestari)


Wajah telaga tidak pernah berdusta
Ia bergetar saat udara halus menyapu mukanya
Ia beriak saat angin lincah mengajaknya menari
Ia tak menghindar dari undangan alam tempatnya menghampar
Menghadap awan yang menugggu sabar
dini hari datang
untuk keduanya bersentuhan

Wajah telaga tidak pernah menyangkal
Ia membeku saat langit memecah menjadi miliaran kristal putih
Ia mencair saat matahari kembali di angkasa tanpa serpih
Ia tak bersembunyi dari perubahan dan gejolak hati
Menanti awan yang berubah tak pasti
hingga pagi datang
dan keduanya berpulang pada kejujuran

Izinkan wajahku menjadi wajah telaga
Merona saat disulut cinta
Menangis saat batin kehilangan kata
Memerah saat dihinggapi amarah
Mengguras saat digores waktu
Izinkan wajahku bersuara apa adanya
Bagai telaga yang tak menolak lumut juga lumpur
Namun tetap indah dalam teguh dan ikhlasnya
Kepada udara, kepada surya, kepada alam raya
Menanti engkau yang melayang mencari arti hingga
dini hari datang
Lalu kau luruh menjadi embun yang mengecupi halus
wajahku
Saat engkau mencair menjadi aku dan aku hidup oleh
sentuhanmu
Bersua tanpa samaran apa-apa
Saat semua cuma cinta
Cinta semua saat
Dan bukan lagi saat demi saat

[2007]
Madre, Hal.104