Perihal ASI untuk Mas Galang

Tanggal 1 Desember nanti Mas Galang sudah 6 bulan.
Dua minggu lagi! Ibunya deg-degan, lulus ASIx nggak yah?
Kalau pernah cobain sufor 90 ml (3x takaran) itu termasuk lulus nggak sih? Hehehe…
Meski sufornya dihentikan karena Mas Galang jadi diare.

Akhirnya, alhamdulillah Mas Galang dapat donor dari Mama Gita, ibunya Bro Eiji, tetangga depan rumah yang Masya Allah stok ASIP nya berlimpah.
Sampai 2 kulkas khusus freezer, lho!

Sedangkan saya?
Maksimal bisa kasih oleh-oleh ASIP buat Mas Galang 350 ml dalam sehari.
Rata-rata sih 250-300 ml yang bisa saya perah.

Waktu baru lahiran, ASI saya sampai luber-luber…
Baju selalu basah terkena rembesan ASI…
Sekuat-kuatnya Mas Galang mimik, tetap saja ASInya rembes di baju.

Dan bodohnya, saya tidak perah atau pompa ASInya.
Belum punya breastpump, dan untuk memerah dengan tangan, rasanya terlalu lelah mengingat sebulan pertama itu jam tidur Mas Galang masih belum teratur.
Apalagi Mas Galang nggak pakai diapers melainkan popok kain.
Jadilah rasa lelahnya berlipat-lipat…

Ternyata di sinilah letak kesalahannya…
Saya tidak bisa memompa secara maksimal ketika sudah mulai bekerja lagi.

Jika menyusui secara langsung, ASI buat Mas Galang terasa berlimpah, nggak ada habisnya.
Tapi untuk dipompa entah mengapa hasilnya terbatas…
Memang rangsangan yang diciptakan jika memompa atau memerah jauh berbeda dibandingkan dengan isapan Mas Galang, mungkin itu penyebabnya…

Tapi kok ya ada aja busui yang bisa sekali pumping hasilnya 250-300 ml…
Hikz… Apalagi teman pumping bareng di kantor ya seperti itu…
Sungguh jauh berbeda… Mulai dari ukuran kompartemen (halah, bilang aja payudara), alat, cara, sampai hasil pumping…

Jadilah saya minder…
*nging ngung nging ngung*
PhotoGrid_1409528702385
Bulan September, bulan pertama saya masuk kerja.
Berbekal stok ASIP kurang lebih 15 botol dengan isi variatif 50-100 ml, berapa pun hasil pumping di kantor, saya masih pede.
Pasti cukup, pasti cukup.

Pada pertengahan September semangat saya mengendur karena melihat hasil pumping tidak kunjung bertambah sementara stok ASIP di freezer menipis.
Mas Galang pun semakin lahap minumnya.
Ketikaberangkat kerja pun saya jadi resah, harus memastikan Mas Galang kenyang dan puas menyusui langsung terlebih dahulu baru saya bisa tenang.

Akhir September semangat saya melemah, iman saya goyah.
Abahnya Mas Galang sempat bolak-balik kantor untuk mengambil ASIP hasil pumping pagi hari untuk menyambung stok sore hari.
Saya yang stres mengakibatkan hasil pumping jadi sedikit
Lihat hasil yang pumping sedikit, tambah stress lagi…
Begitu saja terus…
Seperti lingkaran setan…

Kami berdua nyaris putus asa, lelah, dan stres.
Akhirnya suatu pagi di awal oktober, saya terpikir untuk membeli sufor.
Bahkan saat baru terpikir saja sudah membuat saya mau menangis… Apalagi ketika benar-benar beli bareng si Abah, rasanya seperti sudah gagal menjadi Ibu…
Gagal memberikan yang terbaik…
Padahal itu hanya buat jaga-jaga, kalau-kalau stok ASIPnya beneran abis…
Hu hu hu…

Lalu di kantor setelah beli sufor itu, karena mood jelek, pumping pagi cuma dapat 70ml…
Makin sakit lah rasanya itu hati…
Gagal bener gue jadi emak…

Pukul 2 siang, stok beneran mau habis…
Trus si Abah inget kalau ada tetangga yang menyusui juga…
Tapi karena si ibu ini di rumah, dia tidak stok ASIP
Kalau Mas Galang mau, jadinya menyusui langsung…
Lalu saya bingung…
*ngiiiing*

Akhirnya setelah pertimbangan satu dan lain hal, diberikanlah sufor ke Mas Galang…
60 ml untuk hari itu…
Dan 30 ml untuk esoknya…
Sudahlah, gagal sudah saya sebagai Ibu…
*hapus air mata yang bercucuran*

Dan lusanya ada kejadian si mbak yang momong Mas Galang pingsan karena anemia.
Padahal Mas Galang dalam gendongannya…
Astaghfirullah…
Itu gimana rasanya jantung dag-dig-dug.
Langsung tunggang-langgang pulang ke rumah.
Dan Mas Galang diem aja.
Nggak nangis, katanya…

Tapi sorenya pup banyak banget…
Dan tiga hari berikutnya Mas Galang diare.
Meski tetap aktif dan tidak ada tanda-tanda dehidrasi saya tetap panik.
Sempat memanggil tukang urut karena takut Mas Galang kenapa-kenapa dalam gendongan si Mbak yang jatuh.

Hari ke-empat pup Mas Galang sudah normal.
Tapi saya bisa lihat matanya yang meredup.
Aduh, sedih rasanya.
Mau tak mau saya ambil cuti untuk mengggempur dengan ASI langsung agar kondisi Mas Galang kembali normal.

Dilalah, saya ingat tetangga depan rumah yang punya baby 1 bulan lebih tua dari Mas Galang.
Saya minta abahnya untuk tanya ke ayah si Eiji.
Alhamdulillah, gayung bersambut.
ASIP untuk Bro Eiji berlimpah sampai mamanya bersyukur kalau ada yang mau ambil ASIP karena bisa membuat ruang kosong di freezernya untuk menyimpan stok yang baru.

20141101_081912Mas Galang dan Bro Eiji

Hilang sudah beban stok ASIP untuk Mas Galang.
Pumping pun saya merasa lebih ringan, bisa lebih santai dan alhamdulillah memang bisa menghasilkan lebih banyak.
Yaa tetap sih tidak bisa lebih dari 350 ml/hari.
Tapi in sya Allah, Mas Galang masih diberikan rezeki melalui mama Gita, ya Mas?

Beberapa hari lalu, seorang teman pun membagi pengalamannya kala ia menyusui.
Pengalaman itu bisa dilihat di sini.
http://adhyasari.wordpress.com/2014/11/04/sekoper-asip-itupun-terbang-sejauh-700-km/
Saya bersyukur membaca tulisan itu, saya jadi merasa tidak sendiri…
Dan semakin mengerti bahwa perjuangan seorang ibu dalam memberikan yang terbaik untuk anaknya itu tidaklah mudah. (Huhuhu, jadi kangen emak, deh)

Mudah-mudahan Mas Galang masih terhitung lulus ASIx ya?
Kalaupun tidak, saya tidak lagi kecewa.
Saya dan suami sudah berusaha sebaik yang kami bisa.

Swing
Alhamdulillah, sampai sekarang Mas Galang sehat…
Sudah mau 6 bulan…
Perjuangan lain sudah menanti: MPASI!

Dan ibunya pun sekarang lagi sibuk browsing-browsing menu dan jadwal MPASI…
Semangaaat!!PhotoGrid_1413723431492

 

Advertisements

Bahwa Ketika…

Seorang teman mengunggah gambar yang bertuliskan kurang lebih bertuliskan seperti ini, “while others hold their babies, i travel”
Saya pun lalu berpikir, “Iya yaa.. Sudah begitu lama saya tidak berjalan-jalan.”

Lalu beberapa waktu lalu seorang kawan lama pun menyapa, “Hai, Diet… Udah lama gak ada kabar… Gak ikut jalan-jalan bareng kita lagi, nih?”
“Hehehehe, nggak dulu ya… Baby blm bisa dibawa ke mana-mana…”
“Oh, udah punya baby? Waaah congratz yaa… Tapi sayang juga, jadi gak bisa traveling lagi… Padahal kan banyak juga pelajaran hidup yang didapat kalo traveling ya… Baru aja lho mau gue ajak ke Toraja.”
“Iya, sementara main-main di rumah dulu, nih… Hehehe… Waaa have fun yaa… Mudah-mudahan bisa banyak dapat pengalaman… Senangnya yang mau jalan-jalan…”

Dan dia pun meneruskan cerita tentang perjalanan2nya yang lalu sambil tetap menyindir, “Enakan gue berarti ya, masih single jadi masih bisa jalan-jalan tanpa beban…”
Saya mencoba menanggapinya dengan tersenyum..

Pada salah satu kesempatan yang lain, seorang teman mengeluh.
Ketika teman yang lain sibuk ngobrolin film ini dan itu, dia belum sempat menonton film apa pun dikarenakan sibuk dengan pekerjaannya…
Saya pun belum sempat menonton apa pun, Neng 🙂

Ada lagi yang keluh-kesah lain, belum sempat main ke mana-mana beberapa wiken ini karena sibuk mengejar deadline pekerjaannya…
Saya beberapa wiken kemarin bahkan belum sempat pulang ke rumah ibu saya…

Saya kembali mencoba tersenyum saat temen-teman saya itu mengeluh…
Bukannya mengecilkan keluhan mereka, karena apa yang mereka rasakan juga saya rasakan…
Tapi sebisa mungkin saya mencoba untuk tidak mengeluh…

Karena jika saya mengeluh, nanti perasaan partner saya gimana?
Apakah nanti dia tidak merasa bersalah karena saya belum bisa main, belum bisa nonton, belum bisa traveling lagi?
Saya tidak mau mengecilkan hatinya… Saya tahu, dia juga berjuang keras bersama saya…
Masih ada hal-hal lain yang lebih penting kami perjuangkan bersama…

Meski sadar jikapun saya mengeluh seperti itu, beliau tahu saya tidak bermaksud mengecilkan perannya. Saya tetap berusaha tidak mengeluh…
Tidak jika saya masih merasa kuat…

Terkadang memang saya putus asa, saya pun menangis di depannya…
Itu pun membuatnya sedih karena merasa dialah yang menyebabkan saya menangis…
Bukan, sungguh bukan seperti itu…
Saya menangis bukan untuk menyalahkannya…
Hanya untuk mengeluarkan sesak…

Ya, saya sungguh-sungguh berusaha tidak mengeluh…
Karena saya tahu, saya butuh kami berdua untuk tetap kuat…

Jadi ketika teman traveling saya itu kembali mengatakan bahwa saya melewatkan waktu-waktu untuk mempelajari tentang hidup melalui perjalanan, saya mengatakan, “Mungkin Allah lebih mengetahui hal-hal yang harus kupelajari sekarang. Mungkin pelajaran tentang hidup yang bisa diambil dari perjalanan-perjalanan bukanlah pelajaran yang kubutuhkan sekarang. Tapi itu yang sedang kamu butuhkan. Karenanya Allah biarkan kamu tetap traveling sedangkan aku mengambil pelajaran yang lain ketika merawat bayiku.”

images

Bahwa ketika yang kita jalani tidaklah seharusnya kita paksakan dijalani oleh orang lain.
Bahwa ketika pelajaran hidup seseorang belum tentu yang dibutuhkan oleh orang yang lain.
Bahwa ketika yang kita keluhkan mengecilkan hati yang lain.
Bahwa ketika yang kita katakan belum tentu bisa diamini oleh yang lain…

Saya sedang berusaha, sungguh…
Untuk selalu berprasangka baik pada Allah…
Bahwa apa pun yang sedang saya hadapi sekarang adalah salah satu caraNya menunjukkan kasih sayangNya..

Main yuk, Bu!

Sudah pukul 7 malam…

Mas Galang masih seger begini dan semangat banget ngajak Ibu main…

C360_2014-10-20-18-38-47-734

Padahal…

Perut Ibu udah kruyuk-kruyuk kelaparan

bin ngantuk

belum mandi pulak!

 

Tapi masa tega ninggalin mainan lucuk dan bawel kayak gini

C360_2014-10-20-18-39-27-796

Hayuk lah, MAs!

Kita main!

 

*zzzz*

Housewife vs Working Mom

Today conv dgn teman lama

Dia : Jadi skrg lo ngga kerja? Kok bisa sih? Ngga bosen?
Saya : Kerja kan ngga harus tiap hari ke kantor. Gw masih bisa kerja di rumah sambil ngurus anak
Dia : Nah! Exactly my point. Sayang aja  lulusan UI akhirnya cuma ngurus anak
Saya : Justru hebat dong. Anak gue diasuh sama sarjana lulusan UI. Dibanding anak lo yang diasuh sama pembantu lulusan SD
Dia : *senyum kecut*
#situ jual, sini beli

***

Membaca status teman saya di Path seperti di atas membuat saya tergelak.
Geli karena masih saja ada yang berpikiran sempit bahwa pendidikan itu hanya terpakai di dunia kerja.
Geli juga karena teman saya bisa memberikan jawaban secerdas itu membuktikan bahwa dia tidak main-main dalam profesinya menjadi ibu rumah tangga.

Jujur, cita-cita saya dari dulu menjadi ibu rumah tangga.
Simply because my mom was, and i want my children to experience the same things i had.
Makan masakan khas emak yang rasanya gak bisa disamain sama restoran mana pun.
Pulang sekolah, cium tangan emak, ganti baju, lalu asik ngedeprok di dapur cerita ke emak tentang kejadian di sekolah.
Rambut yang lepek oleh keringat dan bau matahari dicium penuh sayang.
Dikejar-kejar ke lapangan, disuruh berhenti biar mau tidur siang.

I want my children to have those moments, with me, their mom…

Seiring sejalan, saya sadari itu belum bisa saya capai sekarang.
Untuk satu dan lain hal sebagai alasannya.
Tapi saya tetap berusaha mencari jalan tengah, berkompromi.

Jika saya terus menjalani profesi yang sesuai dengan gelar sarjana yang saya dapat di Teknik Industri UGM, saya tidak yakin akan sanggup menyisakan tenaga dan pikiran untuk urusan rumah tangga.
Tapi pekerjaan suami yang seasonal dan fluktuatif membuat saya mempertimbangkan bekerja di rumah yang juga fluktuatif.
One of us should have a steady income to have a stabil financial condition in our earlier time of marriage.
Thus, after 4 month unemployed, i reach the opportunity to work in a publishers as copy editor of fiction books.

Editor novel?
Iya, memang sepertinya tidak ada sangkut pautnya dengan latar belakang pendidikan saya.
Tapi saya punya gaji tetap yang bisa jadi pegangan selain pendapatan suami.
Lokasi juga hanya 20-30 menit dari tempat tinggal saya sekarang.
Pun setelah keluar dari kantor, saya benar-benar bisa fokus mengurus suami (dan anak-anak saya nantinya).
Beban tenaga dan otak yang digunakan selama bekerja pun tidak seberat jenis pekerjaan saya yang lama.
Kenapa?
Because i love to read… I love books..,
I love to produce and present a great book to other readers.

Jadi ya, saya memang masih bekerja di kantor, meninggalkan rumah tangga dari pagi hingga sore.
Tapi masih lebih baik ketimbang saya masih bekerja di kantor dengan pekerjaan yang menuntut perhatian saya 24/7.

Lalu bagaimana dengan mimpi saya menjadi ibu rumah tangga?
Bagaimana dengan tanggung jawab saya sebagai istri dan ibu dalam rumah tangga?
Mimpi itu masih ada, dan entah bagaimana mungkin bisa saya wujudkan sembari saya bekerja 🙂

Meski tidak tega meninggalkan bayi saya yang baru berusia 3 bulan, rela tidak rela saya harus berkeras hati…
Someday, Mas Galang, i will be there for you and your sibling(s) 24/7
Someday…

***

B47A0458-C131-45E3-A810-E1801A1A8A02

Akhir-akhir ini begitu banyak yang membandingkan ibu rumah tangga dengan ibu pekerja. Ibu pemberi ASIx dengan sufor…

All i can say is, setiap orang punya pilihannya masing-masing…
Dan dengan pilihan tersebut, lahirlah yang namanya konsekuensi…

Jadi hormatilah pilihan tersebut dan dukunglah apa pun konsekuensi yang mereka hadapi…
Karena tidak ada yang tahu perjuangan orang lain, kecuali kita mengalaminya sendiri… Dan setiap orang menjalani perjuangannya sendiri-sendiri…

 

– pic taken from http://thecorporatehousewifemom.blogspot.com/2013/07/manic-monday-quotes-stealing-your-joy.html

Tentang sebuah etika

Saya pernah membaca salah satu tweet dari teman yang bilang kalau dia kagum akan seorang akhwat, yang meminta izin padanya untuk berbicara dengan suami teman saya itu.
Padahal, si akhwat ini tidak mengenal teman saya itu.

Sebelum saya ikut khalaqah, saya pun sedikit menjaga percakapan dengan teman laki-laki yang sudah menikah. Akan jarang sekali saya bercakap (by phone or text message), terutama di malam hari. Karena saya pikir, malam hari adalah waktu pasutri itu untuk berkomunikasi setelah seharian terpisah karena pekerjaan.

phone_17

Dan di khalaqah pun memang diajarkan seperti itu. Disarankan untuk menjaga hubungan dengan lawan jenis yang sudah menikah (terlepas kita sendiri sudah menikah atau belum). Utamakan percakapan yang penting, pilih waktu yang tidak mengganggu waktu keluarga, dan jaga perasaan pasangan sang teman/rekan.
Hal ini bisa dilakukan dengan permisi atau minta izin terlebih dahulu pada sang istri untuk memulai percakapan dengan teman pria tersebut.

Ya, sepanjang yang saya tahu ya seperti itu etikanya.
Terutama jika kita mengenal kedua belah pihak dengan dekat, sang istri maupun sang suami.

Sekarang, ketika saya sudah menjadi istri, saya tahu betapa etika tersebut sesungguhnya benar-benar menjaga keharmonisan keluarga 🙂

Mungkin standarnya berbeda di tiap orang, tapi saya berusaha menjaga standar yang berbeda tersebut untuk mencari aman menjaga perasaan para pasangan teman-teman pria saya. Mudah-mudahan sih belum pernah ada kejadian istri yang cemburu karena saya bercakap-cakap dengan suaminya, yah?
Hehehehe

can you hear me?

Seharian saya fokus dan konsentrasi menyelesaikan koreksi dari proofreader saya agar naskah bisa turun cetak minggu ini.
Setelah mendapat hasil koreksi dari setter pada Rabu sore kemarin, saya baru sempat memeriksa kembali pada pagi ini.
Saking fokusnya saya tidak sempat memantau pergerakan Baby Mo dalam perut saya..

Ya, beberapa hari yang lalu saya memang sudah bisa merasakan Baby Mo bergerak dalam rahim saya.
Tepat pada usia kandungan 20 minggu.
MasyaAllah, lucu rasanya.. Geli..

Dan setelah beberapa hari, si Mbul juga akhirnya bisa merasakan Baby Mo bergerak-gerak..
Setelah dipanggil-panggil beberapa kali
“Lagi maen bola di dalem ya, Nak?” tanya si Mbul..
Dijawab Baby Mo dengan beberapa gerakan lagi..
Si Mbul tertawa puas..

Hands on Baby Bumbhttp://blog.kateborgeltphotography.com/2011/08/17/baby-bump-kellie-kyle-maternity-session-golden-co/

Nah.. Setelah berjibaku dengan deadline, saya pulang dengan menumpang mikrolet yang lumayan penuh.. Duduk di depan, di samping pak supir..
Berbagi bangku dengan ibu-ibu yg lumayan banyak bawaannya, saya merasa hengap..
Sepanjang perjalanan keringat mengucur deras dan saya pun lemas..

Dan ketika si Mbul menjemput di depan komplek, saya menyandarikan kepala di bahunya.. Benar-benar lemas..
Bahkan ketika melewati lapangan tempat dua ponakan saya bermain bersama teman-temannya,
Saat Aya memanggil, “Tantee, tanteeee…” Saya hanya tersenyum sambil melambaikan tangan.

Sesampai di kamar, saya rebahan..
Lalu saya baru ingat..
Hei.. Baby Mo hari ini sudah bergerak belum ya?
Seharian ini saya belum mengelus perut.. Belum sempat berbincang dengan Baby Mo..
Duh, saya merasa bersalah..

Lalu saya mengelus-elus perut.. Berusaha berbicara dengannya,
“Nak, maapin Ibu yaa.. Ibu lupa menyapa kamu, Nak.. Maapin Ibu sibuk sampai lupa menyampaikan rasa sayang Ibu sama kamu.
Kamu baik-baik aja, kan? Ya kan, Nak? Yang kuat yaa.. Maap ya, Nak.. Jangan buat Ibu khawatir ya, Nak..”

Terus saya usap-usap perut saya.
Lalu saya khawatir karena belum ada reaksi..
Duh, Baby Mo jangan kenapa-kenapa donk yaaa…

Eeeeeh, tidak lama kemudian dia gerak-gerak dooonk..
Seakan mau kasih tau ke saya agar saya tidak usah khawatir..
MasyaAllah, Nak..
Kamu beneran bisa dengar Ibu yaaa?

Duuuh gak tahan mau cium-cium..
Ini anak pengertian banget siiiih..
Gak mau bikin ibunya khawatir..
Makin sayaaaang…

*elus-elus perut*
*perut si Mbul*
#lho