itu saja…

bc681b9ed68411e2979d22000aaa0925_7

ada yang mencoba melumatkan rindu pada waktu
menggerusnya pada hampa
mengusirnya pada rinai kesibukan

aku,
hanya ingin menyematkannya

di keriangan pagi
hangatnya siang
sendunya senja
temaram malam

karena buatku

rindu itu,
kamu

itu saja

Gradiasi

210446804301

Selepas hujan akan ada pelangi, katanya
Selepas malam akan ada pagi, biasanya
Aku tak tenggelam di satu waktu
Yang memayungi dengan satu warna langit, biru

Biru.
Kamu bilang, meski langit berselimutkan awan yang berarak,
ia tetap menghias dasar hati, dengan biru.
Hingga damai tetap tinggal, meski riak mengguncang.

Luruh,
ya, ada yang meluruh dalam damai.
Mengunci resah agar tak membuat semangat patah-patah.
Mengemas kelu agar suka membelit selalu.

Ada yang mengikat erat rindu.
Menyatukan asa dan saling memburu.
Lalu menyisipkan doa-doa di antaranya.
Menggeliat bahagia saat saling bertatap mata.

Rindu,
Kamu bilang ia kadang berwarna kelabu.
Lalu menguning kala ia malu.
Pada asa yang tersimpan ragu.
Lalu meletup kala bertemu.
Meretas kala degup jantung terdengar
pada pancaran mata yang saling bertatap.

Lalu menjadi hijau.
Sejuk tanpa syarat.
Hanya jemari yang pelan bertaut,
lewat senyum yang sulit untuk langu.

Hei, sergahmu
Apa lagi yang kamu ragukan
tentang senyum, tawa dan segala rasa yang mengikatnya?

Mungkin aku memilih memenjarai hati dalam belenggu luka
yang terbuat dari rasa tidak percayaku sendiri?

Lalu, kamu anggap semesta ini gubahan siapa?
Tak ada yang perlu dirutuki dalam setiap lekuknya.

Luka, ragu, dan belenggu rendah diri,
masih dapat ku cipratkan merah, jingga, ungu.
Agar ia tetap dapat membara, bergairah
dan lantang menatap dunia.

Kecuali ku biarkan hatiku terpuruk,
Lebih dalam lagi.
Maka tak ayal hitam akan terus menemani.

Lalu, kemana pergi sang tawakkal?
Janji yang diucapkan ruh pada raga yang berupa janin berumur empat bulan.

Kemana perginya iman?
Yang memegang teguh prasangka baik padaNya

Mereka lengah pada kenikmatan,
ujarmu

Boleh kau pilih warna langit hari ini.
Namun tak jua ia menjadi seperti yang kau mau, itu katamu.
Bahkan ia sendiri tak akan mampu memilih warna untuk dirinya sendiri.
Merelakan apa pun yang tersemat padanya.

Begitu pula kita.
Meski mengingini warna tertentu menghias kita,
Tak selalu lah bisa didapat.

Maka, tak perlu murka.
Akan ada tawa di setiap akhirnya,
Hei, janji Tuhan tak ada yang ingkar, ingatmu

DiciptakanNya warna,
Agar kau berpikir pada tiap spektrumnya.
Untuk kau resapi tiap cahayanya.
Jelajahi tiap gradiasinya.

Karena tiap alihan satu warna pada berikutnya,
terselip sapaNya.
Ia masih mengingatmu.
Bersyukur adalah tindakan yang paling tepat, bukan?

Karena hidup, kapan saja, bisa,
terenggut..

***

A Week of Collaboration

Theme: Tawa

Partner:  1. Poem with Wulan Martina, find her amazing writings at http://lunastory.wordpress.com

2. Pic courtersy of Frans Nasution, find his amazing pictures at instagram id: @frans_nasution

tentang rasa..

1358338336816-picsay

Berbicara tentang rasa itu tiada pernah sederhana,
Lalu dimana kau menyimpannya kala lidahmu kelu,
kala tiap patahan rantingnya menusuk,
dalam,
memaku setiap relung pada hati yang telah payah kau rekatkan
dari kepingan pada gulungan waktu yang lalu

tiap serpih yang tengah kau rangkai,
hanya mampu tersemat pada janji
yang tertanam di halaman sendiri
tanpa berani kau layangkan secarik undangan
untuknya sekadar menjenguk
tunas yang belum lagi genap tumbuh..

ya, tentang rasa..tidak akan pernah sederhana,
hingga hanya lirih yang bisa kau bisikkan
pun semata pada angin yang kau mahfum tak mampu
goyahkan saka yang ia tancapkan,
bukan pada
hatimu..

kemudian pelan..
kau enyahkan raga dari nya

maka pergi lah,
Jika rasa kau insafi bisa lenyap,
lemparlah pada buih yang tergulung..

hingga nanti,
sederhana dapat dapat kau katakan..
i’ve loved you, once
and that’s enough..

****

third colaboration
pic courtessy of @frans_nasution
poem by me

this is for you and for the sorry that i have never have the courage to utter..
if leaving indeed heals you, then i got nothing to complain..

rindu di ujung cakrawala

1355929665896

Terhimpit dalam ruang penuh bincang,
Tabur aksara membentuk sebuah nama,
memenuhi udara,
berdengung menabuh gendang telinga,
Gaduh..

Kemudian perlahan merasuk,
Pelan..
Mengisi kedua ruang paruparu..
Sedikit,
demi..
Sedikit.
Sesak tak mampu,
bernafas..

Berlari,
menyibak pintu yang terkunci rapat..
Kencang, terus..
Berlari..
Hingga lelah,
Peluh pun tak sempat mengalir,
lacur ia mengering, di ujung setapak,
pada luasnya samudera..

Biar lepas,
Biar menguap,
Biar terdengar oleh semesta,
dan cakrawala menyampaikan kata lirih,
terbisik..

Bapak, aku rindu..

 ***

Second #colaboration of amazing picture by @frans_nasution and poem by me..

Untuk unggah bersama @instanusantara @instanusantarajakarta

#inub126 #instanusantara #instanusantaraLandscape

sesap

Sesapan pertama, langsung menyentuh bibir hati.. Yang merindu akan racikan aksara yang berkedip pada layar empat inchi.. Ataukah itu dahaga gendang jiwa kepada ninabobo yang mengalun di ujung seberang..
Duh, Duhai Pemilik Hati, jika bukan deretan kata dan senandung merdu dari nya yang membawa hamba ke pintuMu, maka halau lah damba ini hingga menguap.. Selayaknya buih pada sesapan terakhir yang tiada tinggalkan jejak pada ujung kecap..