Menanti Senja

Merasakan kedinginan menyelimuti kulitku sama seperti hatiku yang sudah membeku. Dasar bajingan, kamu pikir kamu itu siapa? Aku lelah menunggu tapi hatiku tak mau kalau bukan kamu. Sialan, coba saja hati ini sama warasnya dengan pikiranku.

Aku sakit dengan rasa rindu yang terus memuncak. Aku ingin bersama kamu. Ingin memeluk, mencium hingga tertawa bersama kamu lagi. Tapi sial dengan takdir. Kenapa kamu harus pergi? Meninggalkan semua kenangan yang tak bisa aku hapus. Aku tak boleh lemah, aku kuat. Tapi kenapa setiap aku mengingatmu membuatku lemah. Aku tak suka. Benar-benar tak suka. Seperti saat aku benci meminum obat padahal obat merupakan pengobat saat aku sakit. Yah, seperti itu. Aku tak bisa memilih pilihan yang lain.

Senja kembali mengiringi ratapan piluku. Ahh, senja yang indah tapi tak seindah hatiku kini. Aku ingat, kamu sangat menyukai senja, seperti kisah kita. Di mulai ketika senja datang dan berakhir ketika senja mulai memudar. Tapi sekali lagi, aku selalu melihat senja datang. Berharap kamu akan datang kembali.

Senja, selalu datang di esok hari, tapi tidak denganmu. Pada tiap gurat jingga yang senja paparkan padaku, tak kudapati senyum maupun sapa mesra darimu. Atau sekadar lintas tatap matamu.

Satui December 150.1

Seperti kala itu, aku menanti senja di titik nol kota Jogja. Yang tengah ramai dengan dengung Sekaten dalam antusiasme rakyatnya. Sesekali aku pergoki muda-mudi yang hilir mudik, mesra. Ah, harap agar kamu datang dan menanti senja bersamaku kali ini langsung membumbung tinggi. Tempat dimana cinta berpesta pora bagiakan sarang bagimu, yang selalu menarik untuk mendekat dan kembali.

Hingga senja pamit lalu bulan menempati tahtanya, kamu tak datang. Layaknya tugu kecil tempatku bersandar, aku kembali ke titik nol penantian.

Ahhh, aku ingat ketika kamu mengajakku berburu senja. Kamu menculikku ketika aku pulang kerja. Ketika itu kamu menginginkan melihat senja di pantai kuta, Bali. Lucunya, kau sudah siap dengan segala berlengkapan menginap sedangkan aku hanya membawa tas kerjaku.

Kau bersikeras bahwa saat itu kita harus pergi ke Bali. Menikmati senja yang indah. Tanpa banyak kalimat, kau lagi-lagi berhasil menculikku dan lagi-lagi aku harus membeli pakaian. Semenjak saat itu, aku selalu menyiapkan pakaian di dalam tas tanganku. Karena aku ingin menemanimu memburu senja.

Tetapi senja yang mempunyai kenangan adalah senja di pantai Lovina. Kita menanti senja di sebuah sampan di tengah laut. Penantian itu tak sia-sia karena senja begitu indah. Sinarnya kekuningan bercampur merah dan oranye. Langit seakan tersenyum menampilkan warna warna ungu. Iya, ungu warna kesukaanku. Seketika itu kau mengabadikannya melalui kamera Canonmu. Bukan hanya senja itu yang kau foto tetapi aku. Dengan latar senja.

Setiap kali aku bertanya kenapa kau memfotoku berlatarkan senja. Kau akan selalu menjawab karena aku adalah senja yang termanis dalam hidupmu.

Hey, kamu.

Kemana saja kah senja kau buru setelah meninggalkanku? Untuk membuktikan pada dirimu sendiri, bahwa memang tak ada senja yang lebih manis dariku.

Tanpa sadar, aku pun tertular memburunya. Untuk meyakinkan diriku sendiri, bahwa kau tak mungkin temukan senja yang lebih manis dariku. Maka tas ku masih selalu berisi pakaian. Untuk berjaga jika tiba-tiba ada senja yang memanggilku untuk dinikmati.

Nyaris putus asa, aku kembali ke Lovina. Karena senja demi senja aku temui, makin cantik ia semburatkan cakrawala. Makin manis ia menoleh pada rembulan untuk menggantikannya. Dan melihat senja Lovina lagi, bagaikan sebuah manifest untukku. Terus memburu senja dan kamu? Atau mencukupkan diri lalu lelap tenggelam pada redupnya bulan.

Ah, Lovina lagi.

Sekali lagi aku menyingahi pantai ini. Yah, pantai Lovina. Pantai perburuan awal dan akhir kita. Dulu, kita terombang – ambing di sebuah perahu sanpan hanya menanti senja itu hadir. Saat ini, aku menanti senja itu di bibir pantai. Kau pasti tertawa mengetahui bahwa aku ingin sekali menaiki perahu itu lagi, bukan sendiri tapi bersamamu.

Kau tahu bahwa aku tak bisa menaiki perahu itu sendiri. Trauma masa laluku yang tak memungkinkan aku untuk pergi sendiri. Hanya bersamamu aku berani. Seperti biasa kau membawaku ketika menaiki perahu itu. Mengenggam eratku, tersenyum seraya berunjar “Kau akan baik-baik saja karena ada aku”

Aku kangen dan merinduimu. Air mata ini tak pernah bisa bertahan cukup lama ketika menginggatmu. Kenangan, penantianku, semua yang aku rasakan tak pernah bisa bertahan. Aku harap kau datang menjemputku atau menculikku kembali. Aku tidak akan protes.

Senja, aku berharap kau tetap bertahan beberapa lama lagi. Biar aku bisa menanti cinta itu datang. Tanganku ini tak menggengam tanganmu tetapi dada ini yang begitu merindumu.

“Seperti biasa, kau selalu mudah ditemukan. Aku tak mengetahui bahwa kau menyukai senja padahal dulu kau selalu mengeluh”. Sebuah suara dibelakangku. Tersentak, kaget dan tenang. Tanpa kalimat yang sudah berada dikepalaku tapi tak bisa aku ucapkan. Aku memeluknya dengan erat.

Terima kasih senja 🙂

***

A Week of Collaboration

Theme: Penantian

Partner: Delisa, find her amazing writings at http://elfe-melody.blogspot.com

Pesta untuk Rahmat

Baru pukul sepuluh pagi, tapi matahari sudah mengganas. Peluh mengucur dari kepala Rahmat yang tertutup helm. Kaos merah maroon di balik jaketnya pun basah dibanjiri keringat. Melihat cuacanya,  perjuangan ke Pasar Gembrong hari ini nampaknya akan melelahkan.

Daftar belanjaan untuk dekorasi pesta kali ini dipenuhi dengan berbagai jenis boneka. Anak manja! Rahmat sering tak habis pikir dengan klien kantornya. Mereka rela menghabiskan puluhan juta rupiah hanya untuk merayakan ulang tahun bagi anak yang masih terlalu kecil untuk mengerti arti dari pesta.

Kekesalan Rahmat sebenarnya tidak hanya berpusat pada angka nominal untuk pesta itu,  melainkan karena di daftar belanjaan itu ada benda yang sangat Rahmat benci. Boneka! Sebenarnya dibayar berapa pun dia tak akan sudi, tapi sekarang taruhannya bukan pada bayaran, tapi dia bisa dipecat dari kantor kalau tidak bisa memenuhi permintaan klien yang dilihat karena isi dompetnya itu.

Rahmat mengelap peluh di dahinya, semakin panas saja. Bayangan boneka sudah menari nari di pelupuk mata.  Ah.. Rahmat menarik napas, malu juga kalau sampai terdengar orang, pria dewasa seperti dia takut sama boneka.

Menelusuri hingga ke masa kecilnya, Rahmat masih tidak mengerti kapan dan mengapa dirinya mulai takut pada mainan yang identik dengan anak perempuan itu. Bahkan sampai ke boneka cantik dan imut-imut seperti Barbie dan beruang Teddy pun menjadi momok tersendiri baginya. Sulit untuk menetralisir debar jantung saat menatap mata mereka yang meski berwarna biru gemerlap indah, tetap saja terasa menusuk jantung.

1315235607_Cute_Doll

http://telepics.net/peoples/1649-cute-doll.html

Motor diparkirnya di depan deretan penjual karpet. Meski toko langganannya berada di samping underpass menuju Kampung Melayu, tapi area itu lebih aman untuk parkir karena dia kenal baik si penjaga.

Langkah terasa berat, mental disiapkannya untuk mengangkut beberapa boneka yang sudah dipesannya melalui telepon. Apalagi mengingat barang-barang tersebut harus disimpan di rumahnya terlebih dahulu karena kantornya masih dalam proses renovasi.

Rahmat hanya membalas panggilan bang Karto, pemilik toko langganannya, dengan senyuman. Melihat Bang Karto mengumpulkan barang pesanannya, Rahmat bergidik ngeri. Boneka sialan. Dan siapa yang harus disalahkan dengan situasi ini? Si klien yang banyak mau, bos yang memerintah tanpa berpikir atau mungkin salahkan saja boneka-boneka itu yang menerornya. Ah.. Rahmat mendesah, angannya melayang samar. Rumah duka , peti mati, boneka…

“Mas!”

Rahmat terlonjak kaget mendapatkan tepukan bang Karto.

“Jangan bengong, entar kemasukan, di sini kan bekas kuburan.  Angker!”

Bang Karto menggoda Rahmat yang bengong di muka toko.

Setelah membayar, Rahmat mengangkut barang-barangnya. Malas kembali ke kantor, biarkan saja kalau mendapat teguran. Dia lelah, panas semakin menyengat.

Satu karung berisi boneka kemudian tersampirkan pada bagian belakang motornya. Rasanya itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Rahmat terdiam pucat. Hanya sampai besok pagi, besok pagi. Berulang dirapalkannya kalimat tersebut untuk menenangkan diri.

Sesampainya pada petakan rumah kontrakannya di bilangan cawang, wajahnya masih pucat memandang karung di atas motornya. Huffft. Pelan diangkatnya karung tersebut ke dalam rumah yang hanya terdiri dari dua ruangan. Di kamar atau di ruang tamu? Rahmat menimbang letak penyimpanan karung tersebut.

Batinnya sih berteriak untuk melempar karung itu di kanal depan gang tadi, biar saja terbawa banjir. Setelah menimbang-nimbang, Rahmat pun meletakkan karung itu di kamar tidurnya. Diruang tamu tidak aman, meskipun dia tidak pernah kemalingan tapi dia tidak mau mengambil resiko, harga sekarung boneka itu lumayan mahal. Rahmat menghempaskan tubuhnya di ranjang, matanya terpejam. Kesejukan mulai merambat membuat Rahmat tak ingin beranjak. Motor toh sudah dikuncinya.

Siang-siang di kontrakan memang sepi, paling cocok untuk tidur siang. Belum berapa lama dia terlelap, perutnya berbunyi. Sambil meraba kantong belakang celananya untuk memastikan dompetnya masih ada di tempatnya, dia berjalan keluar kamar. Lalu kemudian menyadari, karung tersebut hilang!

Matanya meraba tiap sudut kamarnya. Ya ampun! Apa aku meletakkannya di ruang tamu? Bergegas ia keluar hanya untuk menemukan karung itu pun tak ada di sana. Dia lalu berusaha mengingat kronologis dari saat  parkir motor di luar hingga ke kasurnya yang mulai kempis. Dia masih sangat yakin kalau diletakkannya karung tersebut di dalam kamar.

Bukan panik karena harga sekarung boneka yang lebih besar dari gajinya sebulan, melainkan ketakutan bahwa karung tersebut melarikan diri sendiri dari ruang tidurnya. Konyol! Mana mungkin, pikirnya. Tapi tak urung opsi itu membuat bulu kuduknya merinding

Jengkel hati dan perutnya pun tak bisa menunggu. Rahmat percaya boneka-boneka itu sedang mempermainkan dirinya. “Kalian pikir aku takut?” bentaknya kepada udara kosong. Wajahnya merah padam, gentar juga hatinya, bagaimana kalau tiba tiba boneka itu berlari mengejarnya? Rahmat menggeleng dan semakin merenung. Rahmat mengunci pintu, lebih baik makan saja toh percuma ia mencarinya sekarang.

Pelan ia langkahkan kakinya menuju warung Mbok Lasmi. Memesan makan siang yang sudah terlambat memang tidak perlu berburu-buru, selain pilihan makanan yang tinggal sedikit, antrian pun sudah tidak ada. Ditiban pulung, ternyata makanan sudah habis, yang terisisa hanya beberapa potong gorengan. Rahmat mengambil satu-dua potong tempe goreng sambil melamun di sela-sela kunyahannya. Tiba-tiba ingatannya menyeruak. Ingatan yang sudah terkunci bertahun tahun itu perlahan membuka. Ia ingat kenapa membenci boneka, selama ini ia sudah tidak mengingat masalah itu karena tidak pernah bersinggungan lagi dengan boneka.

Rahmat tidak pernah mau kalau disuruh melayat ke pemakaman siapa pun. Pada waktu ia kecil, opa yang tinggal disebelah rumahnya meninggal, Karena ingin menghargai opa yang telah baik padanya terpaksa dia menurut kemauan ayahnya yang marah dan mengatakan kalau lelaki tidak boleh takut akan apa pun.

Tertinggal dari rombongan, Rahmat berjalan menunduk menuju rumah duka, tempat beberapa jenazah warga Tionghoa disemayamkan. Sesampainya di sana, Rahmat hanya duduk di luar salah satu selasar, diperhatikannya, tidak ada seorang pun yg dikenalnya, aneh.

Pelan, disingkirkannya rasa enggan, Rahmat kecil lalu masuk dengan takut-takut, tanpa menoleh ke sekeliling. Matanya terpaku pada peti mati yang terbuat dari kokohnya kayu jati mengalihkan tujuannya untuk hanya bersalaman dengan anak opa. Kemudian ia melongok ke peti mati.

Kaget! Terbaring di sana, malah seorang gadis kecil yang sangat cantik, ditemani boneka di sebelahnya. Mata boneka itu melotot tajam kepadanya, dengan bibir yang menyeringai keji. Rahmat kecil semakin merasa sepasang mata itu menariknya ke dalam peti, seringai itu meledeknya. Panik, ia menyambar boneka itu dan berlari lalu melemparkannya ke sungai.

Sambil berdiri di pinggir sungai, jantungnya berdegup kencang, saat itulah Rahmat mulai membenci boneka. Dia bukan hanya dihantui rasa bersalah tapi sepertinya arwah gadis itu menyatu dengan bonekanya.

Ingatan itu terkuak, karena degup jantung yang sama dirasakan Rahmat sekarang. Pada sekarung kumpulan boneka yang menghilang.

Brengsek!

Tidak akan dibiarkannya mereka menakut-nakuti aku seperti ini lagi. Mereka hanya kumpulan wajah dan mata yang dijahit atau dicetak secara masal. Lekas dia letakkan uang untuk dua potong tempe goreng di atas meja lalu berjalan menuju rumahnya.

Pintu depan dibukanya kasar, mereka pasti masih ada di kamar. Harus masih ada di sana! Mereka tidak boleh ke mana-mana. Mereka hanya boneka. Tidak lebih.

Kakinya merasakan cairan aneh di depan kamarnya. Sedikit lengket. Dia kemudian menyalakan lampu pada kamar yang telah gelap dimakan sore. Kini dia tahu, cairan itu berwarna merah. Dan di atas kasurnya yang kempes, terbaring tubuhnya, ya tubuhnya!

Lalu bisa dirasakannya gadis kecil di samping tubuhnya yang terbaring menoleh, gadis yang sama seperti di peti mati. Dikelilingi boneka yang seharusnya berada dalam karung yang dibawanya dari Pasar Gembrong. Dengan seringai yang mirip boneka yang terlempar ke dalam sungai. Dan darah pada tangan yang mengenggam potongan jemarinya.

Kepalanya berputar, pening.. Dan semuanya tiba-tiba menjadi hening.

***

A Week of Collaboration

Thema : Hening

Partner: Aini, find her amazing writings at http://aini-woaini.blogspot.com

Di balik helm Acit

Bola mata Acit menelusuri baris demi baris pada halaman khusus lowongan kerja di Koran pagi ini. Rutinitas tiap sabtu pagi yang mulai dilakukannyasejak enam bulan lalu. Ya, sejak tali pada toganya berpindah dari sisi kiri ke kanan oleh dekan Fakultas Teknik di kampusnya.

Terlihat ada notifikasi baru pada layar empat inchi ponselnya. Mama.

Cit, udah sarapan? Hari ini ada rencana apa, sayang? Pakde Kusno mau mampir ke sana. Kangen sama kamu tuh.

Indra hari ini masih berkutat dengan event di kantornya. Isi kulkas dan lemari cemilan bisa dibilang masih cukup aman. Mood memasak sedang melanglang buana entah kemana. Penjaja makanan yang lewat masih bisa mengakomodir gejolak liar naga di perutnya.

Ndak kemana-mana, Ma.. Kalau Pakde mau ke sini boleh aja. Mau datang jam berapa?

Berbincang dengan Pakde Kusno bisa menjadi hiburan di akhir pecan ini. Gaya bicara yang lepas dengan suara berat dan lantang adalah ciri khasnya. Persis seperti Papa.

Papa. Ah, tiap kali membicarakan pria paruh baya yang satu itu hati Acit selalu saja bergemuruh. Seperti ada amarah yang siap untuk meledak sewaktu-waktu. Tak ubahnya panen bom waktu di Afganistan. Entah sudah berapa lama sejak kali terakhir berbincang-bincang dengan Papa. Satu hal yang ia ingat betul, rasa panas yang melekat tepat di pipi kanannya sulit sekali dihilangkan dalam pikiran dan hatinya meski bekas sudah tak lagi tampak sehari sesudahnya.

Kunjungan Pakde Kusno sedikit banyak mengganti kehadiran Papa. Meski beliau paham ketegangan yang terjadi antara Acit dan Papa, tapi tidak pernah memaksa untuk membicarakannya. Tidak tanpa Acit yang memulainya. Dan seringkali, Acit yang terpicu emosi dan mengungkit masalahnya dengan Papa.

Seperti mengenai status Acit yg masih pengangguran. Memang agak mengherankan, dengan bekal IPK 3.4 dan pengalamam magang di beberapa perusahaan, ditambah daftar keaktifannya dalam kegiatan kemahasiswaan, semestinya mendapatkan pekerjaan bukan hal yang sulit untuknya. Pakde Kusno secara halus selalu mengajak Acit menganalisa alasan penolakan perusahaan-perusahaan itu. Yang selalu berujung pada, “mungkin memang belum rejekinya, belum dapat ridho dari Allah.”

“Arrrggh..”

Acit melemparkan Koran pagi yang ada di tangannya. Ia malas melanjutkan pencariannya. Ia bergegas keluar kamar dan menyambar handuk yang tergantung di jemuran samping kamarnya.

“Sebaiknya aku ke kampus. Mungkin ada yang bisa kukerjakan di sana,” batinnya.

Tak berapa lama, ia sudah siap mengajak Lui-sepeda polygon merah kesayangannya- menuju kampus. Helm berwarna senada ia kenakan sebelum membelah jalan raya pagi ini. Acit selalu saja ‘melarikan diri’ bersama Lui jika sedang resah. Selain Pakde Kusno tentu saja yang ia jadikan sandaran cerita ketika hatinya benar-benar membutuhkan setitik damai.

Menyusuri sepanjang jalan menuju kampus selalu membawa angin segar dalam hatinya. Penjaja makanan serta segala macam rental dan toko yang menjadi sahabat setia kantong para mahasiswa terasa begitu akrab baginya. Mungkin karena itu juga ia masih menyewa sepetak kamar di rumah kost Ibu Rahadi. Karena sebenarnya, ia tak mau pergi melangkah ke dalam suatu dunia baru, tanggung jawab baru. Apalagi untuk kembali ke Solo, dimana tanggung jawab besar menantinya lebih dari sekadar seorang karyawan.

Berbekal bolang-baling yang baru saja dibelinya di warung Mas Jo’ ia bergegas masuk ke dalam kampus. Langkah kakinya dipercepat menuju satu tempat yang dulu hanya dilihatnya sekilas tiap kali ia ingin ke ruang kemahasiswaan. Jobs Corner. Sebuah tempat di mana papan berukuran 2,5mx1,5m berdiri dengan banyak kertas menempel di tiap sisinya. Kertas-kertas bertuliskan berbagai info lowongan kerja dan magang bagi para mahasiswa maupun alumnus.

Entah apa yang membuat Acit tergelitik untuk mampir dan membaca setiap kertas yang tertempel di sana. Perlahan ia menekuni setiap info yang terpampang di hadapannya. Mulai dari marketing sebuah provider kenamaan di Jakarta, menjadi penterjemah buku, guru privat, hingga menjadi relawan di salah satu panti jompo.

Tak ada satupun yang membuat hati Acit tergerak untuk mencari tahu lebih jauh. Hingga matanya tertumbuk pada satu pengumuman bertuliskan “Dicari penyiar untuk Radio Geronimo”. Lama ia membaca informasi yang tertera di sana. Ada rona bahagia terpancar dari matanya, sudut bibirnya tertarik membentuk senyum tipis namun manis. Segera ia mencatat alamat email yang tercantum di sana, renggana@geronimofm.com.

Ia pun melanjutkan langkahnya menuju Lab Aerodynamic. Kantung bolang-baling diletakkannya di meja ruang asisten Lab. Hari sabtu seperti ini, dijadikan para asisten untuk kumpul-kumpul menghabiskan waktu. Terutama mereka yang masih jomblo, fasilitas internet gratis membuat mereka betah mengais rokok batangan yang dibeli renceng di koperasi.

Bolang-baling gahar diserbu mereka, tandas seketika. “Piye, mba? Tes kemarin berhasil, tah?” Acit menjawab dengan cubitan pada hidung Anji yang lumayan mancung itu. “Helah piye, tho? Ditakon kok yo malah nyubit. Mukamu yang kusut  jadi jawaban wis. Eh, apa itu karena belum mandi ya, mba?” konyol ia julurkan lidahnya pada Acit. “Ndak usah banyak omong. Bantuin aku aja nih, aku mau tanya-tanya soal Geronimo.” Nyaman Acit selonjorkan kaki nya ke atas pegangan bangku kosong di sebelahnya. Lab ini bagaikan rumah keduanya. Biarlah ia bermain di sini dulu. Toh Pakde baru sore nanti datang ke kos.

“Waah, mau jadi penyiar tho, Mbak? Emang suaramu enak didenger yo?” goda Anji yang membuat Acit langsung mendaratkan sebuah jitakan di kepalanya.

“Wong  jenenge yo usaha, siapa tahu aku beruntung,” jawab Acit sekenanya. Tapi sejujurnya, ia menggantungkan sedikit lebih banyak harapan pada lowongan kali ini. Ia mulai mencari tahu tentang Geronimo dan tentang lowongan yang akan coba ia isi nantinya. Penyiar. Salah satu mimpi yang pernah ia punya dulu sekali, yang pernah ia coba hingga akhirnya Papa menghalanginya karena menurut Papa menjadi penyiar hanya akan mengganggu kuliah saja.

Sigh!

“Lagi-lagi Papa,” gumamnya.

Papa yang dulu selalu mendukung segala mimpi Acit tiba-tiba menjadi batu besar pada setiap langkahnya. “Papa kan sudah bilang, kuliah jangan main-main. Kamu memang pintar, tapi jangan sombong. Menghabiskan waktu bergaul dengan orang-orang semacam itu gak ada gunanya. Apalagi mulai ikut apa itu, naik gunung, demo, panitia ini itu. Kapan kamu belajarnya?” Omongan Papa saat ia tengah aktif berorganisasi di tingkat tiga kuliahnya membuat Acit mengernyitkan kening, dan juga bibir mungilnya.

Kala itu keluarganya baru saja pindah ke Solo, sebuah keputusan besar yang hingga kini Acit tak mengerti alasannya apa. Belum lagi ditambah berita bahwa Papanya mendirikan usaha pabrik furnitur yang mengkhususkan pada dekorasi perkantoran. Mengapa harus Solo? Dan mengapa harus meninggalkan adiknya sendirian di Jakarta?

Dan bahkan belum puas Papa mengekang kegiatan Acit, hubungannya dengan Indra pun harus rela menjadi bahan pertengkaran setiap kali ia pulang. “Mental pegawai! Mana bisa dampingi kamu buat pimpin pabrik ini.” Hah? Siapa yang mau memimpin pabrik? Apa sih yang sedang direncanakan Papa?

Apapun yang berkaitan dengan Papa selalu saja membawa Acit ke dalam lamunan panjang. Mengacaukan mood-nya seharian dan entah apalagi yang akan membuatnya enggan menyunggingkan senyum. Papa, ibarat musuh bebuyutan untuk Acit beberapa tahun terakhir.

“Nji, aku pinjam laptop mu ya. Mau bikin surat lamaran, malas bikin di kosan,” ujar Acit bahkan sebelum Anji menyetujuinya ia sudah duduk nyaman bersama dengan laptop kesayangan Anji. Tak perlu waktu lama untuknya membuat surat lamaran itu. Ia kirimkan beserta contoh suara yang ia rekam baru saja dengan telepon genggam miliknya. Ia melirik jam tangan Swatch miliknya.

“Astaga! Pakde Kusno!” pekik Acit yang membuat Anji bertanya keheranan.

“Kenapa, Mbak?”

“Aku pamit ya, Pakde ku mau datang ke kosan sore ini,” bergegas ia pamit kepada Anji dan segera menyambar Lui yang tengah mengenyakkan diri di dekat pohon angsana tua depan lab.

Pakde Kusno datang sore ini, kalau sempat kamu mampir ke kosan ya. O ya, tadi aku kirim lamaran ke Geronimo. Doakan ya.

Sebuah pesan singkat ia ketikkan dengan tergesa dan langsung dikirimkannya ke Indra. Komunikasi mereka memang tidak seperti pasangan kebanyakan. Cukup dengan info singkat tentang kegiatan hari itu cukup membuat mereka tetap merasakan dekat. Sederhana saja.

Lui tiba-tiba dihenyakkannya pada halaman rumah Ibu Ruhadi. Kenapa terdengar suara tawa Papa di ruang tamu? Dan sepatu Indra pun tampak berdampingan di rak samping pintu. Yang datang sebetulnya siapa? Pakde atau Papa?

“Assalamu’alaikum.. Loh, sudah sampai, Pakde?” Acit langsung mencium tangan Papa dan Pakde bergantian, namun tetap tak menyapa Papanya. Wajah penuh pertanyaan dia lempar ke Indra yang sedang tersenyum nakal penuh rahasia. Mau pecah rasanya kepala kalau menjadi satu-satu nya orang yang tidak mengerti apa yang terjadi.

“Wa’alaikumsalam. Darimana, Cit? Kata Mama kamu ndak ada rencana apa-apa, eh kok malah keluyuran. Nih, makan dulu Sosis Solonya. Kasihan cacing kelaparan di perut kamu diajak naik sepeda terus.” Menatap sekotak cemilan kesukaannya, Acit masih mencoba menerka apa yang sedang terjadi.

“Helm kamu udah ndak pantas dipakai, Nak. Papa bawakan yang baru nih.” Tersedak Acit menerima helm dari tangan Papanya. Suara Papa terdengar berubah. Lebih lembut dari biasanya. Seperti dulu, kala beliau masih menjadi sahabat terbaik tempat Acit bercerita.

“Tadi Papa muter-muter cari yang cocok untuk kamu bareng Indra,” lanjut Papa yang membuat Acit semakin sulit menelan makanannya. Acit melemparkan pandangan tajam kea rah Indra.

Seperti menangkap sinyal tanya Acit, Indra mencoba membuka suara.

stock-photo-red-bicycle-helmet-2225175
“Iya, tadi Papa ke kantorku dan ajak aku cari helm untuk kamu. Lha wong yang lama udah retak sana sini kebanyakan dipake nyungsep pas down hill sih,” canda Indra yang sama sekali tidak bisa membuat tanya dikepala Acit luntur sedikit saja.

“Papa… Indra… Helm ini? Ada apa sih sebenarnya? Acit nggak ngerti!” kata-katanya sedikit meninggi.

Indra merangkul bahu Acit dan mengajaknya untuk duduk bersama. Ada hangat yang tertahan di pelupuk matanya. Ada haru yang perlahan menelusup di hatinya. Ini terlalu manis untuk dijadikan kejutan sore, Acit merasa tak siap. Meski ini sebuah bahagia… sepertinya.

“Kamu inget gak bulan lalu aku sempet ada event di Solo?” Acit berusaha mengangguk dengan mata yang bergantian menatap Indra dan Papa bergantian. “Aku mampir ke rumah. Kebetulan pas Papa sedang membongkar mobil. Jadi ya aku ngobrol sama Papa sambil ikut benerin mobil.” Dari seringai yang terbentuk di bibir Indra, Acit mulai bisa meraba arah pembicaraannya. Meski masih sangsi apakah itu benar-benar terjadi.

“Kamu tahu kan udah lama banget Papa pengen si Kudo itu dimodifikasi. Cuma belum ketemu waktu sama bengkel yang cocok aja. Nah, Nak Indra kebetulan punya kenalan di Solo yang bisa bikin Kudo jadi gagah. Yaa, senggaknya gak bikin Papa malu lah pas antar Mama ke pasar.” Suzuki Escudo keluaran 94 punya Papa memang sudah sedikit memalukan kondisinya. Pantas saja Papa dan Indra bisa akrab begini. Kalau sudah mengenai otomotif, antusiasme dan semangat Indra langsung membumbung tinggi. “Yah, karena itu setiap wiken aku ke Solo. Menemani Papa ke bengkel temenku. Maaf ya aku bohong kalau bilang ada event di luar kota.”

Acit semakin lahap menyantap Sosis Solo, menutupi debaran jantungnya yang semakin penasaran akan muara cerita ini. “Papa banyak bicara sama Nak Indra. Bukan hanya soal Kudo, tapi juga soal keinginan kamu yang ingin merambahi beberapa mimpi kamu. Papa juga jelaskan, usaha supply sayuran dan buah-buahan Papa mengalami penurunan omset. Makanya Papa melihat peluang usaha furnitur perkantoran yang sedang naik daun sebagai alternatif. Papa sudah diskusi dengan beberapa teman dan relatif. Solo menjadi pilihan karena selain itu kampung halaman Papa dan Mama, juga karena biaya produksinya lebih murah dibandingkan di Jakarta.”

Lalu Pakde menambahkan, Papa sebetulnya khawatir dalam memulai usaha barunya ini. Karenanya beliau ingin Acit segera lulus kuliah dan membantu Papa menjalankan bisnisnya. Hanya saja, gengsi Papa terlalu tinggi untuk menyampaikan pada Acit. Papa takut putri kesayangannya merasa kecewa bahwa Papa yang diidolakannya gagal mempertahankan usaha di Jakarta dan membutuhkan bantuan putrinya.

Tiba-tiba, Sosis Solo yang sudah dingin karena perjalanan Solo-Yogya kembali terasa hangat di mulut Acit. “Tapi dengan sikap Papa yang keras terhadap Acit itu sudah bikin Acit kecewa,” sanggahnya dengan segera, masih berusaha memungkiri hatinya yang memanas. Entah karena iba bahwa selama ini Papa menanggung segala kekhawatiran atau karena merasa tersinggung tidak dianggap cukup dewasa untuk dilibatkan dalam permasalahan keluarganya.

“Papa nggak tahu kan Acit berjuang mati-matian menunjukkan sama Papa kalau segala kegiatan itu tidak akan membuat Acit lupa kewajiban Acit sebagai mahasiswa. Papa juga gak tahu kan Acit sempat dirawat karena kehabisan cairan habis ujian. Semuanya demi Papa membuka mata kalau Acit bisa, Pa”, dan ia pun mulai terisak.

Suasana lalu menjadi sepi terisi kecanggungan. Papa masih terdiam menatap Acit yang membiarkan Indra memeluknya. Beliau yang selalu rela maju menerjang siapapun yang menyebabkan gadis kecilnya menangis kini harus menerima kenyataan bahwa kali ini, beliaulah yang menyebabkan airmata di wajah gadisnya.

Kemudian tangannya menggapai tangan Acit yang masih dalam pelukan Indra. Pelan, Acit menjawab permintaan maaf lewat sentuhan itu, dengan menggenggam tangan Papanya.

“Acit kangen Papa,” kata-kata Acit menggantung di udara, membuat pelupuk mata Papa menghangat. Langit sore ini memang tidak seberapa indahnya, tapi justru memancarkan hangat yang istimewa untuk Acit dan juga Papanya.

 

***

A Week of Collaboration

Theme: Hangat

Partner:  Septia Wulan, find her amazing writings at http://celotehnona.wordpress.com

Tiga Bungkus Nasi

 

Teguh menggeret karung berisi hasil buruannya hingga sore ini. Beberapa botol plastik bekas dan potongan kain sisa konveksi diharapkan bisa membelikannya sebungkus nasi malam ini. Syukur kalau bisa sampai dua bungkus sehingga ia dan Ciput bisa mendamaikan genderang di perut mereka masing-masing.

 

Antrean masih panjang, ada sekitar enam orang pemulung lain yang berada di depannya. Masing-masing dengan wajah penuh harap, bahwa apapun yang mereka bawa sore ini mampu mengganjal lapar sehari-dua hari ke depan. Teguh memegang dadanya yang terbalut kaos kumal, erat. Ia semakin terlatih menghiraukan nyeri yang dirasa bagai jarum-jarum kecil menusuk.

 

“Bang, tissue Ciput akhir-akhir ini gak ada yang beli ya? Padahal udah pasang muka melas. Siapa tahu kan yang lihat jadi kasihan dan beli tissue Ciput. Tapi makin hari makin sepi aja. Ciput makin sering laper, Bang. Kan cuma Abang yang bawa nasi bungkusnya.”

 

“Gak apa-apa Put, yang penting kita masih bisa makan. Nasi bungkus yang Abang bawa kan bisa kita makan berdua. Jangan dipasang lagi muka melasnya ya, ngga baik mengharapkan iba dari orang lain.” jawab Teguh dengan ketenangan yang memilukan.

 

Udara kian lama kian bertambah dingin. Dinginnya menambah nyeri yang dirasakan oleh Teguh. Sesekali dia terbatuk dan menarik nafas pelan. Kondisi seperti ini yang setiap hari mesti dia alami, walau dia tahu bahwa raga yang menopang jiwanya mulai tak kuat menahan beban. Hanya saja dia memang harus terus berjuang, kalau tidak siapa lagi orang yang akan menolongnya. Bahkan untuk sesuap nasi dia tak ingin meminta. Kedua kaki dan tangan juga otaknya masih dapat digunakan untuk mencari cara bagaimana mempertahankan hidupnya yang begitu susah. Kesulitan yang tak berkesudahan telah melatihnya menjadi sosok yang kuat dan taat.

 

“Oi, Guh.. Dapet banyak lo hari ini? Udah dibilangin ikut gue aja ngamen. Masih aja ngotot mulung lo. Kalo ngamen tuh lo bisa dapet banyak. Apalagi pas bengek begini. Tambah tampang sangar gue dijamin dah banyak yang ngasih. Gak percaya sih lo, ah!” Boi menepuk pundak Teguh, kasar. Kemudian dihembusnya asap rokok pada wajah bocah berumur sebelas tahun itu. Teguh pun semakin terbatuk keras.

 

Ia tak pernah menyukai lagak tengil Boi. Seakan tato pada sekujur lengan kanannya membuat dia preman remaja tangggung yang paling keren searea Prumpung. Cara Boi mengamen yang cenderung kasar dan memaksa juga tak pernah ia setujui. Sama saja dengan mengemis. Dan itu adalah satu-satunya hal yang dihindari Teguh demi menjaga amanat Ayah.

 

 

“Sesusah apapun keadaannya, Nak, jangan pernah kamu mengemis, meminta. Mboten pareng. Ora elok. Gusti Allah lebih suka tangan yang berada di atas dibandingkan yang di bawah.” ujar ayahnya saat Teguh menemani di tempat pengolahan sampah.

 

“Tangan di atas itu maksudnya gimana, yah? Apa seperti mandor Juki waktu diserbu Pak Polisi?” tanya Teguh, polos. “Bukan, Nak. Tapi itu artinya memberi. Karena saat memberi, tangan kamu akan berada di atas. Yang artinya doa kamu untuk ditempatkan pada posisi atas dalam golongan umat Allah juga pasti lebih didengar.”

 

Teguh terdiam mengingat kata-kata Ayah tiga tahun silam. Tepat sebulan sebelum ayah ditemukan terkapar di samping rel kereta dekat persimpangan Pisangan. Dengan isi kepala yang terurai.

 

Ia lalu beringsut menjauhkan diri dari Boi, bukan hanya karena ingin menghindari bau asap yang disemburkan Boi tetapi juga karena ia tak kuat mencium aroma minuman keras yang keluar dari mulut Boi.

 

“Gak ah, Boi. Hasil memulung ini pun udah cukup buat membeli nasi bungkus.”

 

Boi yang memang berlagak seperti preman itu malah membodoh-bodohi Teguh. “Nasi bungkus yang lo beli itu pun gak cukup, tolol! Tuh si Ciput gak pernah dapat apa-apa, lo mau kasih dia makan apa?”

 

Teguh mengalihkan pandangan ke Ciput. Iya, Ciput memang jarang sekali membawa hasil dari asongan tissuenya sehingga dia hampir tak pernah bisa membeli makan. Bahkan hal itu terjadi hampir setiap hari. Mereka berdua memang sudah menyadari keterbatasan penghasilan yang mereka dapatkan namun tetap tidak membuat mereka kemudian memilih pekerjaan seperti yang dikerjakan Boi. Tak mengapa buat mereka saling berbagi hasil yang didapatkan asal tidak menjadi orang yang mengharapkan belas kasih orang lain.

 

Masih tidak menghiraukan ocehan Boi, Teguh maju perlahan. Giliran menukar isi karungnya tiba. Penuh harap ia bayangkan dua bungkus nasi yang akan dinikmatinya bersama Ciput.

 

“Bang, lampu merahnya rame! Ciput jualan dulu yah. Serbuuuu!!” Ciput berlari riang dengan senyuman menyeringai. Adiknya yang berumur 7 tahun itu jarang sekali mengeluh. Hanya pertanyaan polos yang sering diajukan tentang perilaku orang-orang jalanan di sekitar mereka. Mau tak mau Teguh pun ikut tersenyum melihat semangat adiknya.

 

“Lumayan juga bawaan lo hari ini, Guh. Ngider dimana kemana aje lo nemu banyak potongan kaen begini. Nih buat lo bawa pulang hari ini. Potong sepuluh ribu yak buat setoran ke mandor.” Teguh menerima tiga lembar uang limaribuan lusuh. Alhamdulillah. Bukan cuma dua bungkus yang bisa dibeli.

 

Tapi ada sisa juga yang bisa disimpan apabila sewaktu-waktu potongan kain yang dicari tidak banyak ia dapatkan. Segera Teguh pergi meninggalkan tempat Bang Yogi. Ia ingin segera membeli nasi untuknya dan Ciput. Semoga malam ini pun Ciput membawa hasil asongannya agar dapat menambah syukur atas rejeki yang mereka berdua dapatkan. Bahkan kalau memang perlu, Teguh akan mengajak pulang saja Ciput ke gubuk mereka berdua di bawah jembatan di sudut kota dan tak meneruskan usahanya menjajakan tissue di lampu merah.

 

Teguh sebenarnya merasa tak tega pada adiknya itu namun ia pun tak bisa melarang Ciput untuk membantunya bekerja. Apalagi udara dingin dan gelap malam hari ini tak biasanya terjadi. Mungkin karena baru saja hujan disepanjang hari ini.

 

Tegap ia langkahkan kaki nya ke warung Mak Iyah. Sebungkus nasi dengan sayur daun singkong serta ikan teri sambal untuknya, lalu sayur sop dan telor dadar untuk Ciput dipesannya sambil memikirkan jalur memulungnya esok hari. Ia harus sering melewati deretan industri kecil dan ilegal di samping rel kereta itu untuk mendapatkan hasil yang serupa hari ini.

IMG_20120605_131508

Oh ya, tidak lupa, Ciput akan diajaknya ke panti jompo untuk menemui Pak Ajo. Sudah dua minggu lebih mereka tidak menjenguk orang tua itu. Ya, semenjak hasil jualan tissur Ciput menurun. Teman dekat ayah itu sudah bertahun-tahun tidak dikunjungi sanak keluarganya. Anak-anaknya menelantarkannya di panti jompo tanpa menjenguknya kembali. Ayah mengenalnya ketika Pak Ajo menyusup keluar panti karena bosan dan mengajak ayah mengobrol setelah dilihatnya Ayah memisahkan sampah di masing-masing karungnya agar rapih.

 

Pak Ajo sudah seperti pengganti ayah bagi mereka. Rasa menyenangkan dan bahagia terpancar setiap kali mereka mengunjungi lelaki yang sebenarnya masih terlihat segar itu.

 

Ada saja yang mereka kerjakan ketika waktu mempertemukan mereka. Saling bercerita apa yang telah masing-masing mereka lakukan. Ciput paling senang jika Pak Ajo mulai bercerita berbagai macam dongeng. Mungkin, karena Ciput masih terlalu kecil sehingga dia begitu menyukai kisah-kisah yang diperdengarkan lelaki pengganti Ayah mereka.

 

Ada senyuman, ada tawa membahana, ada canda yang saling mereka lontarkan. Tak ada sedikitpun keluhan atau rengekan kesedihan diantara mereka. Mereka hanya saling menyalurkan bahagia.

 

Teguh merindukan itu semua. Sumber bahagia yang dapat ia bagi bersama adiknya.

 

Memikirkan Pak Ajo membuat Teguh memesan satu bungkus nasi tambahan. Biarlah hasil hari ini berkurang, melihat beliau dengan lahap menyantap nasi kuah santan dengan perkedel kentang kesukaannya sudah membuat Teguh dan Ciput merasa senang.

 

Tiga bungkus nasi sudah selesai disiapkan Mak Iyah. Dengan riang, Teguh melangkah keluar, menyusul Ciput yang masih menjaja tissue di lampu merah. Rasa senang memenuhi dadanya, seakan menutupi sesak dan nyeri yang dideritanya. Teguh bagaikan lupa akan anjuran Pak Ajo untuk memeriksakan sakit di dadanya ke dokter di panti. Vonis penyakit bukanlah sesuatu yang ia dan Ciput butuhkan dalam keadaan ini.

 

“Put, Cipuuut! Siniiii.. Nasi nya udah siap nih. Kita sekalian makan bareng di tempat Pak Ajo yuuk. ” Teguh melambaikan kantong nasi bungkusnya pada adiknya. Ciput pun menoleh dan lekas mengambil ancang-ancang untuk berlari menuju kakaknya. Terburu-buru, kotak tisu yang dijajakannya terbentur kaca spion mobil yang tengah menanti lampu merah. Isi nya lalu jatuh berserakan di jalan, sedangkan lampu lalu lintas sudah berganti menjadi hijau. Panik, Ciput mencoba mengumpulkan satu persatu tissuenya tanpa menghiraukan bahaya dari kendaraan yang melintas.

 

Melihat bahaya yang mengincar adiknya, Teguh berlari melintasi rel kereta. Tanpa sadar bahwa palang pintu kereta akan menutup kedua jalurnya. Commuter Line arah Bekasi-Kota itu pun melaju kencang. Dan meninggalkan persimpangan beserta tubuh Teguh yang terkapar.

 

Persis di lokasi Ayahnya terbujur kaku, tiga tahun yang lalu. Ciput menjerit. Teguh sempat melihat adiknya menangis kencang. Lalu melirik sekilas pada tangannya yang berada di atas bungkus nasi yang remuk terlindas rel. Lalu kemudian ia lihat senyum Ayahnya, berganti dengan senyum Pak Ajo. Lalu dadanya terasa semakin nyeri dan sesak. Masih dalam keadaan terkapar, tangannya mencoba melambai pada Ciput yang masih menangis kencang.

 

Lalu semuanya hilang, gelap.

 

***

A Week of Collaboration

Theme: Gelap

Partner: Indah Lestari find her amazing writtings at http://akunulis.wordpress.com/

 

Mengikat Damai

1351774860-picsay

 

 

Sudah lebih dari setengah jam Ara terjebak di tengah kemacetan Tol JORr Simatupang. Semacam lelah bercampur kesal demi mengingat kerja kerasnya hari ini agar bisa pulang lebih cepat dari biasanya. Hujan tak pelak menjadi sasaran umpatannya di belakang setir.

Ara membayangkan kepulan nasi hangat dan sayur sop yang di siapkan ibu di rumah. Ya, hari ini ia putuskan untuk pulang ke rumah, bukan ke kamar seluas 5×6 m2 yang disewanya di dekat kantor. Tatapan hangat ibu, satu hal yang ia butuhkan hari ini.

Ara memilih fokus pada suara penyiar di radio. Cukup menghibur. Mereka tak membicarakan jalanan yang macet, peristiwa kriminal, pun peliknya perpolitikan negeri ini. Sesekali sempat mengembang senyum di sudut bibirnya.

Tetiba ringtone berlantun lagu Mother dari Adhitya Sofyan mengambil alih pendengarannya. Ara menatap layar smartphone miliknya. Bibirnya kembali melengkung ke bawah. Membaca nama pemanggil sudah cukup membuatnya malas. Apalagi untuk menjawab telepon darinya. Benar-benar tak diinginkan Ara. Ia sudah bosan membicarakan hal-hal yang tanpa muara. Tak ada solusi, malah menambah kesal. Pekerjaannya tak justru terbantu. Posisinya di kantor pun makin rumit.

“Kamu tahu kan, ada beberapa tempat yang sudah disiapkan manajemen buat kamu, Ra. Potensi kamu sudah berada dalam lampu sorot sejak skandal Pak Ismed terungkap oleh kamu. Kami menilai kamu mampu mengganti entah Bu Sherly atau Pak Rudi setelah mereka pensiun tahun ini.” Ara teringat pembicaraan kemarin sore, saat appraisal di ruangan si bos. “Tapi kalau memang ada gelagat kamu akan meneruskan satu hubungan dengan karyawan kantor ini, mau gak mau ya kami khawatir, Ra. Yang punya potensi besar kan kamu, jelas kamu yang lebih mudah mencari pekerjaan lain di luar.”

Ara terkesiap saat Pak Helmi mengucapkan kalimat demi kalimat itu. Darimana datangnya ide beliau mengenai hubungan pribadi Ara? Karena sampai sekarang, dirinya dan Adhit tidak pernah membicarakan apapun mengenai yang terjadi di antara mereka. Sosok dan sikap Adhit kepadanya masih terlalu gelap untuk diraba maksud dan tujannnya.

Deru klakson dari kendaraan lain membuyarkan lamunan Ara. Nissan Juke putih itu pun kembali berada di bawah kendalinya. Perlahan, yang penting bergerak memecah padat kendaraan yang menghampar. Seperti yang ia inginkan saat ini, memecah masalah yang sedang memenuhi kepalanya.

Kadang Ara ingin mengakhiri saja semuanya dengan cara pergi. Sayangnya, ia sangat mencintai pekerjaan yang saat ini menjadi tanggung jawabnya. Pun sebenarnya ia tak mencari materi. Ia benar ingin mengabdi. Namun persaingan adalah manusiawi. Bahkan tak ayal mereka mengatasnamakan pertautan hati sebagai sumber masalahnya.

Jarum jam telah menunjuk ke angka delapan ketika Ara sampai di rumah. Langit gelap berteman dengan gerimis kecil menyambut kedatangan Ara. “Ibu sudah siapkan air hangat untukmu, Ara. Mandilah dulu, nanti kita makan bersama” sambut ibu setelah Ara memberikan salam selamat datang dan sebentar berbincang.

Ada yang ibu khawatirkan dari tatapan lelah Ara. Ibu tahu betul, Ara tak akan sekesal itu jika masalah yang dihadapinya hanya sepele.

“Bu, besok Ara cuti. Ajarin Ara masak ikan peda ya, Bu.” ujarnya sembari meniup kepulan nasi panas dan tempe goreng sambal. Tangannya kemudian menyendok sayur sop ke dalam mangkok di depannya. Ara tidak memperhatikan tangan Ibu yang menggenggam satu amplop cokelat.

“Kamu cuti apa, Ra? Tumben.. Bukannya minggu ini justru minggu sibuk? Awal bulan biasanya kamu ribut sama report.” Ibu menyendokkan tambahan nasi ke piring Ara yang nyaris tandas isinya. Kemudian dibelainya rambut putri sulungnya, lembut. “Berlari dari masalah itu ndak baik, Nduk. Kamu harus terus berusaha menyelesaikannya. Menghindar hanya akan membuat masalahnya lebih rumit dari yang ada.” Ara tak menghentikan mulutnya yang sedang mengunyah, meski perlahan air mata mulai meninggalkan sarangnya. “Ara bukan lari, Bu. Hanya berusaha menepi. Mungkin akan mendapatkan pandangan yang lebih jernih dan luas dari tepian. Berada di dalam lingkaran rasanya semakin sesak.”

Ara tampak sangat menikmati menu yang saat ini ada di hadapannya. Menu yang sangat ia rindukan. Sesekali ia bercakap menanyakan kabar adik-adiknya yang beranjak dewasa. Apalagi si bungsu, tahun ini ia lulus SMA. Ibu bercerita dengan selingan tawa-tawa kecil. “Adikmu itu lagi banyak penggemar. Banyak cewek-cewek yang suka main kesini, tapi dia masih juga pemalu.” Ara menganga, “Ngapain cewek-cewek pada dateng?” “Belajar bareng katanya,” ibu menambahkan kuah sop ke piring Ara. Ara mengikik nyaris nasi yang ada di mulutnya berhamburan keluar. Ara benar-benar menikmati segala cerita sebagai penjamu rindunya.

Suapan terakhir usai. Segelas air putih sudah menjadi penutupnya pula. Ibu menghela nafas. Ia menggenggam tangan Ara. “Nduk, apa yang sebenarnya terjadi? Ceritakan sama ibu.”

Ara terdiam. Ia yakin ibu akan mengetahui hal ini juga. “Tak biasanya ada kiriman surat dari kantormu ke rumah ini. Jujur, ibu tak berani membukanya,” ibu menyerahkan amplop coklat yang sejak tadi digenggamnya.

DEG! Ara perlahan membuka amplop itu. Berlarian lagi ingatannya tentang pembicaraannya dengan Pak Helmi waktu itu. Tangannya menjadi sedikit gemetar dan berangsur dingin.

“Pak Ismed mengajukan banding atas kasusnya, Ra. Ada kabar kalau beliau akan mengajukan bukti baru, dan sayangnya bukti tersebut menyeret nama kamu.” Hela nafas Pak Helmi terdengar sangat berat. Keputusan atas posisi Ara, tangan kanannya, telah ditetapkan manajemen semenjak surat banding dari Pengadilan datang. Ara harus dirumahkan secepatnya.

“Kami berpikir sebaiknya kamu fokus menghadapi kasus ini. Manajemen akan mendukung kamu, jangan takut. Tim pengacara kantor juga akan mendampingi kamu. Adhit juga siap membantu untuk mengumpulkan kembali bukti-bukti yang memberatkan Pak Ismed.”

Adhit?

Dua hari yang lalu, Adhit bilang akan mengambil cuti panjangnya. Meninggalkan Ara ditengah kericuhan limpahan pekerjaan yang ditinggalkan Pak Ismed. Itu saja sudah cukup membuat Ara kesal. Sekarang Adhit mau membantu? Omong kosong apalagi ini?

Ara lelah menafsirkan apa pun tentang perkara itu. Ia telah memasrahkan semuanya. Biarlah semua bukti yang berbicara. Setidaknya Ara bisa menguatkan hati saat kembali bersaksi. Bagaimana pun sakitnya, saat ini berada di dekat ibu dan adik-adiknya adalah takdir terbaik.

Malam semakin pekat. Rinai hujan pun semakin rekat. Namun, sunyi tetaplah tak bisa menyamarkan derit pagar rumah Ara. Ara mengendap menuju ruang tamu, membuka sedikit gordyn untuk melihat siapa yang datang.

Ara mengerjap-kerjapkan matanya. Ia kenal betul dengan sosok yang datang. Ya, dialah Adhit. Untuk apa ia datang malam-malam begini? Ara bergumam.

Ketukan pintu memecah sunyi. Ara mengatur nafas dan debaran jantungnya. Memastikan mimik mukanya tak terlihat cemas ketika pintu sudah terbuka.

“Malam Ra,” sapa Adit dengan suara berat yang menjadi khasnya. Ara mempersilakan Adhit duduk. Pembicaraan serius mengalir setelah Ara menghidangkan secangkir teh hangat untuk Adhit.

Tak berapa lama, keduanya menghela nafas panjang. Adhit menatap jauh ke dalam mata Ara. Ara, perempuan tegas yang diyakini Adhit memiliki pendirian yang kuat. Ia sangat yakin, segala pernyataan Ara adalah apa adanya.

Namun, bisa terlihat dari tatapan Ara, ada kesal yang ia tunjukkan kepada Adhit. Juga karena perilaku Adhit yang cukup membingungkan Ara.

Seperti tahu apa yang sedang Ara pikirkan, Adhit mencoba menepikan kalut yang dirasakan Ara. “Aku setuju dengan semua pendapatmu, untuk mengungkapkan semua hal secara rinci tentang kejadian itu. Tapi, ada satu hal yang ingin aku minta darimu,” Adhit kemudian menyesap teh yang sudah tinggal setengah. “Apa itu?” Ara penasaran.

“Bisakah kau berdamai dengan dirimu sendiri, tentang aku?” Adhit mencoba menyembunyikan kikuknya. “Maksud kamu?” Ara mengernyit. “Ada batas yang membuat kamu tak bisa mengungkap semuanya kepadaku. Aku tahu ada tembok yang sangat tinggi yang tengah kamu bangun,” jelas Adhit.

Ara bergeming. Benarlah adanya yang dikatakan Adhit. Kasus ini tak kunjung selesai karena Ara masih menutup diri dari Adhit. Ia tak ingin Adhit menjadi pahlawan baginya. Hatinya masih terlalu angkuh untuk mengakui betapa penting keberadaan Adhit baginya.

Ya, ia lah yang harus berdamai dengn dirinya sendiri dahulu. Barulah ia bisa mengungkap semua peristiwa yang ada. Melepaskan semua beban yang selama ini melilitnya. Biar saja, setiap rasa menemukan muaranya. Biar saja setiap ingin menemukan damainya.

 

***

A Week of Collaboration

Theme: Damai

Partner: Wulan Martina , find her amazing writings at http://lunastory.wordpress.com