menitipkan renjana pada Langit



semburat biru awan kini cerah menggoda
layanglayangku berbuai tertiup angin
mongkok melewati keluwung
yang baru saja memudar
seiring perginya bau tanah
basah ditinggalkan hujan

ia melayang, layanglayangku
menuju kaldron tuk kobarkan semangat demi visiun
yang telah ia bisikkan sebelum pamit terbang
mengelon sendi khayal yang selama ini terkurung dalam cencawan, lepas..

campin ia jemput angin yang menari gempita
ke arah badai yang membayang dari balik
awan yang kembali kelam

ia tetap terbang melayang
ikut menari gemulai bersama angin
memberikanku pertunjukan dramatis
mencoba menghilangkan rambang yang terasa pada ujung
benang sulur yang semakin erat tergenggam

ia semakin jauh terbang, didaktis
karena meski kasat mata kini penampakannya, masih ada
pada genggamanku, ujung sulur dimana renjana kutitipkan

mengalir ke Langit
ketempat layanglayangku melayang
menjaganya untuk ingat jalan pulang
kembali padaku
utuh

Perumnas Klender, 21 Maret 2012 untuk Hari Puisi Dunia

*kepada renjana yang kutitipkan pada Langit, be safe yaa.. i’ll be waiting 🙂
Advertisements

dan ketika..

Kita berdiri berpagut di bibir tebing
Menikmati langgam alam yang berputar menaungi atap dunia
Tenggelam dalam rasa yang tak mengenal kembali
Sebab rindu tak pernah mengisbatkan bara untuk padam

Dan ketika fajar datang menyapa,
Hangatnya mengejek kelopak mata
Yang mengerjap berjuang memeluk mimpi

Pagi telah membuka tirainya
Harum tubuhmu pun tak lagi terendus angan
Tiada tersisa

Selayaknya bedinde,
Raga ini bangkit tinimbang lancut menepis sepi
Tergopoh-gopoh menuaikan tugas
Mengisi hidup

Lantaran percuma kita merindu tanpa kenangan
Meraba di setiap lembar yang penuh ucap
Sia-sia mencari rasa pada tiap kecupan
Lidah pun telah anti kecap
Tiap indera, menghilang, bersimbiosis mencipta nelangsa
Lengkap sudah..

Aku pun abai meracik cinta

***

arisan kata episode 15

dari kursi pada baris ketiga

di depan sana
ia bersenandung
hanya dua bait

mengenai kelelahan
mengenai kecintaan
mengenai tanah air

dari sini, di kursi pada baris ketiga
saya mendengarnya berbicara
dengan bibirnya saya berkelana
ke kota-kota tak terjamah angan
masuk ke dalam tiap hati penghuninya
jauh dari nada sumbang berselimutkan kapitalis

dengan matanya saya menjelajah
hingga menuju surga tak terjangkau mimpi
tertutup lembah bagai sangkar
menikmati warna dari tiap wajah
yang garis beda nya menegaskan batas,
menyembulkan dendam mengakar,
nyaris menghancurkan seonggok kebanggaan
dan belum mau berhenti
demi kepentingan hewan berkedok kemanusiaan

lirih saya dengar dari sini
dari kursi pada baris ketiga
lagu yang mengantar saya takjub menerka
suka cita yang tertuang pada tiap butir debu
senyum yang tersembunyi di balik kain berjendela
bukan lagi hanya derita tua peradaban
yang mengacu pada candu kemunafikkan

Sore di Festival Buku, Depok Town Square, 30 April 2011


*arisan kata 14*
*hanya sekelumit bagian dari berjuta kesan yang tertinggal dari pertemuan dengan seorang Agustinus Wibowo*
*jadi pengen ngobrol lebih banyak, ehehehehe*
*kebelet pengen buru-buru melahap habis Selimut Debu dan Garis Batas ditemani senandung sarzamin-e-man*
*gambar dari
sini *

membaca k.a.m.u.


aspal yang basah bercerita
hujan baru saja menyentuhnya
meninggalkan jejak dalam kubangan lubang

lubang yang terbabang bercerita
muak ia menanggung beban
dari cinta yang tiap hari dioleskan ban yang nyaris gundul

ban yang gundul bercerita
letih ia berkelana
mengarungi rit panjang pencarian

jalan yang panjang bercerita
acuh Tuhan pada umatNya
demi satu simpul di ujung penantian
saat seseruput teh di tengah dinginnya Desember
menjadi begitu mewah

simpul itu bercerita
usai sudah anyaman hati
saat mata ini mampu membaca kisah
tentang k.a.m.u

*arisan kata 13*
*buat setiap insan yang masih sulit membaca k.a.m.u. –ditimpuk topan, wakakak-*
*teruntuk k.a.m.u yang ternyata masih setia bersembunyi*
*terinspirasi dari 33 halaman bertabur puisi-puisi Moammar Emka tentang k.a.m.u*
*gambar dari sini*

tanah tak bertuan

tanah ini telah lama tak bertuan

petani satu datang membawa tenggala
namun yang ia lakukan hanya mengumbar hasrat
tanpa sedikit pun sentuhan pada awatnya tanah
ia merasa cukup dengan hanya duduk dan berangan akan panen yang tak kunjung ia dapatkan

tanah ini tetap tak bertuan

petani dua datang mengusung tenggala dan humus
rajin ia berkeringat memupuk tanah agar kembali menggembur
ia hadiahkan hujan untuk mengisi setiap rongga yang tercipta dari sepinya lahan
ia tanam satu demi satu pepohonan hingga rimbun dedaunan
namun tak mampu ia pagari bambu di sekelilingnya
tak cukup kuasa untuk menancapkan kredo

tanah ini telah menggembur
pepohonan itu tetap rimbun
tapi ia tetap tak bertuan

petani tiga datang membawa harap segar
ia membangun oase
agar rongga tanah tetap terisi meski kemarau menghampiri
ia menancapkan bambu, mulai dari halaman depan

tapi pada pertengahan jalan ia terhenti
tanah itu mengeras
seakan berontak
tak rela jika tak lagi sanggup menuai ketam,
ia pergi mencari lahan lain
dan pada bekas tancapan bambu akan banyak lubang
dalam..

petani tiga terpaku
limbung
menerka
haruskah ia melanjutkan langkah
meski ia tak yakin seberapa banyak yang akan ia tuai

petani tiga masih terpaku
masih mencoba menghisab
membaca

dan tanah itu masih tak bertuan
entah sampai kapan

*arisan kata 12*
*telat setor lagi.. huehe3 mentok.. ga to the max nih hasilnya*

sekoci iman

sudah tak serau jarak
kaki pun tak lagi hanya sepasang
berderap seiring senada
menuju laut ragu
enggan menoleh pada pasal-pasal dogma

eulogi ini ingin bercerita
tentang iman yang nyaris tenggelam
eulogi ini hanya sanggup memanjatkan hiperbola jampi
pada sekoci keinsafan

agar eulogi ini bisa bernyanyi
untuk harap yang telah mati
pada canda yang menghadirkan setia di akhir sedu
bagi horizon bincang bernas yang terpaksa usai di waktu yang entah kapan terputuskan

*arisan kata sebelas yang juga telat disetor*
*menjura pada peserta yang lain*
gambar dari sini

lagu riang

terbaring pada selasar dunia
di tengah-tengah gelumat umat
senyum pun terasa satir

tapi derita sudah obsolet dalam kamus
jangan berharap prahara mendusin
meski riuh
meski ramai
tak kan lagi topi diangkat

kecuali pada lawatan riang
yang menyanyikan partitur lagu cita
menggema
menusuk
merasuk
hingga terban tongkat prasangka
serakah
dengki
iri

hilang
tanpa asap
lenyap
dari tubuh yang terbujur
kejur

* untuk arisan kata sepuluh yang telat setor berbulan-bulan lamanya