Ada Mas Editor Baru!

Persoalan babysitter dan ART selalu membuat emak-emak pening.

Menjelang cuti melahirkan saya selesai, saya tak kunjung mendapatkan BS (babysitter) untuk menjaga Mas Galang.

Seharusnya, Selasa, 2 September 2014 saya sudah masuk kantor lagi.

Si mbak BS ini baru muncul di hari Minggu, 31 Agustus 2014 dan baru bisa mulai hari Seninnya.

Saya memang mencari BS yang pulang hari karena kamar di rumah mertua tidak ada yang lowong bila memperkerjakan BS yang menginap.

Akhirnya, saya menambah cuti 1 hari, demi bisa melihat dan mengajari Mbak BS menjaga Mas Galang.

Mbak BS ini kebetulan istri dari anak kos di rumah tetangga komplek. Katanya, daripada di rumah nggak ngapa-ngapain, mending jagain bayi aja. Siapa tau ketularan. Maklum, pengantin baru… Saya takjub, umurnya baru 21 tahun, tapi sudah menikah. Saya tidak memikirkan kemungkinan dia nanti hamil dan mengundurkan diri. Yang penting saya bisa masuk kantor dulu… Hehehe…

Yah, dilema memperkerjakan anak muda. Ada saja yang terjadi.

Setelah tiga bulan penuh kejadian ini-itu, drama sana-sini, si Mbak mengundurkan diri. Tepat ketika Mas Galang memulai MPASI.

Saya kelimpungan lagi. Untungnya, belum lima menit si Mbak I ini pergi di hari terakhirnya, ada tetangga yang mengantarkan BS baru.

Mbak II ini pernah jadi TKI di Taiwan selama tiga tahun.  Fasih berbahasa Mandarin. Di sana dia menjaga lansia, lalu ketika sang lansia meninggal, si Mbak berganti tugas momong bayi. Alasan kepulangannya ke Indonesia, karena anaknya yang berusia 6 tahun kangen. Sang anak memintanya untuk tidak lagi bekerja di luar negeri, terlalu jauh.

Tepat di akhir bulan kedua si Mbak II ini menjaga Mas Galang, dia mengatakan harus pulang ke kampung. Anaknya menelepon, memintanya untuk pulang. Dan tidak dapat berjanji kapan akan kembali.

Saya pun kembali pusing. Kali ini, tidak secepat itu saya mendapatkan pengganti.

Setelah mengambil cuti beberapa hari, saya tidak tahan. Ada satu terbitan yang saya harus cross check karena ternyata ada banyak typo di cetakan pertamanya. Padahal typo-typo tersebut sudah diperbaiki oleh saya dan sang setter.

Mas Galang pun saya bawa ke kantor pada Selasa, 3 Februari 2015.

Untungnya ada sofa untuk Mas Galang tidur dengan nyenyak, meski pada akhirnya dia lebih memilih tidur di gendongan ibunya.

Mas Galang juga nggak rewel meski tetap rusuh… Ahahaha.

Galang Office 1Pada Kamis, 5 Februari 2015, akhirnya saya mendapatkan BS pengganti.

Seorang wanita berusia 47 tahun dengan empat anak, asal Purwokerto. Anak terakhirnya baru saja lulus SMP dan tidak berniat untuk melanjutkan sekolah. Mau kerja saja di Jakarta, seperti kakak-kakaknya.

Karena khawatir membiarkan anak gadis satu-satunya merantau di Jakarta meski ada kakak-kakaknya yang menjaga, si Mbak memutuskan untuk ikut ke Jakarta. Dan akhirnya berjodoh untuk menjaga Mas Galang.

So far, saya belum ada keluhan. Bahkan ketika heboh banjir pun, si Mbak dengan rajin pantang menyerah tetap datang ke rumah setelah menerobos banjir.

Hanya saja, awal Maret 2015, Mas Galang tidak juga kunjung sembuh dari batuk setelah dua minggu lebih. Akhirnya pada suatu pagi, saya harus menggedor pintu rumah dokter anak terdekat yang terpercaya. Setelah diperiksan, Mas Galang dirujuk untuk Thorax karena dicurigai ada infeksi pada paru-parunya…

Setelah melewati proses check-up, Mas Galang positif KP. Harus berobat selama enam bulan. Ibu dan Abahnya harus tetap menjaga semagat. Mas Galang sudah kembali aktif. batuk dan pileknya pun sudah hilang.

Tapi giliran si Mbak yang kolaps karena panik dan merasa bersalah. Akhirnya, Jumat 13 Maret 2015 kemarin, saya kembali membawa Mas Galang ke kantor karena cuti sudah habis.

Galang Office 2

So far, Mas Galang hepi-hepi aja dibawa ke kantor. Dia senang dengan suasana baru. Meski AC-nya yang sedingin kutub utara membuat saya menahan diri untuk tidak sering-sering membawa si Mas ke kantor. Ya iyalah, mana tega sih… Kalau nggak terpaksa banget saya nggak bakal deh bawa si Mata Belo ini ke kantor.

Tapi, satu hal yang saya syukuri, keputusan saya bekerja di kantor ini yang memungkinkan saya memprioritaskan anak dan keluarga.

Semoga si Mbak jilid III ini betah menjaga Mas Galang… Aamiin

Persiapan MPASI Mas Galang

Deg-degan nyiapin MPASI nya Mas Galang yang sebentar lagi mau 6 Bulan…

Berikut alat perangnya:

Puku Baby Food Maker, kado dari teman2 GPU

puku

Pigeon Baby Feeding Set, lengkap dengan 4 steps Mag mag

img1507

 

Pigeon Baby Weaning Bottle with Spoon

 

pigeon baby waeaning bottle

Karena saya ibu pekerja yang ingin masak sendiri buat MPASI nya

Jadi mau cari2 dulu kukusan, wadah buat simpan puree di freezer, sama slow cooker (nggak bakat masak bubur pakai api kompor :p)

Trus, setelah browsing sana-sini, saya gunakan http://www.wholesomebabyfoods.com untuk referensi jadwal MPASI Mas Galang.

Ini rencana jadwal di bulan pertama…

Mudah2an lancar yaaa… Bismillah…

Saya sampai berencana mengungsi ke rumah emak di klender biar pede… Ahahahaha

Jadwal MPASI 6 Bulan

Perihal ASI untuk Mas Galang

Tanggal 1 Desember nanti Mas Galang sudah 6 bulan.
Dua minggu lagi! Ibunya deg-degan, lulus ASIx nggak yah?
Kalau pernah cobain sufor 90 ml (3x takaran) itu termasuk lulus nggak sih? Hehehe…
Meski sufornya dihentikan karena Mas Galang jadi diare.

Akhirnya, alhamdulillah Mas Galang dapat donor dari Mama Gita, ibunya Bro Eiji, tetangga depan rumah yang Masya Allah stok ASIP nya berlimpah.
Sampai 2 kulkas khusus freezer, lho!

Sedangkan saya?
Maksimal bisa kasih oleh-oleh ASIP buat Mas Galang 350 ml dalam sehari.
Rata-rata sih 250-300 ml yang bisa saya perah.

Waktu baru lahiran, ASI saya sampai luber-luber…
Baju selalu basah terkena rembesan ASI…
Sekuat-kuatnya Mas Galang mimik, tetap saja ASInya rembes di baju.

Dan bodohnya, saya tidak perah atau pompa ASInya.
Belum punya breastpump, dan untuk memerah dengan tangan, rasanya terlalu lelah mengingat sebulan pertama itu jam tidur Mas Galang masih belum teratur.
Apalagi Mas Galang nggak pakai diapers melainkan popok kain.
Jadilah rasa lelahnya berlipat-lipat…

Ternyata di sinilah letak kesalahannya…
Saya tidak bisa memompa secara maksimal ketika sudah mulai bekerja lagi.

Jika menyusui secara langsung, ASI buat Mas Galang terasa berlimpah, nggak ada habisnya.
Tapi untuk dipompa entah mengapa hasilnya terbatas…
Memang rangsangan yang diciptakan jika memompa atau memerah jauh berbeda dibandingkan dengan isapan Mas Galang, mungkin itu penyebabnya…

Tapi kok ya ada aja busui yang bisa sekali pumping hasilnya 250-300 ml…
Hikz… Apalagi teman pumping bareng di kantor ya seperti itu…
Sungguh jauh berbeda… Mulai dari ukuran kompartemen (halah, bilang aja payudara), alat, cara, sampai hasil pumping…

Jadilah saya minder…
*nging ngung nging ngung*
PhotoGrid_1409528702385
Bulan September, bulan pertama saya masuk kerja.
Berbekal stok ASIP kurang lebih 15 botol dengan isi variatif 50-100 ml, berapa pun hasil pumping di kantor, saya masih pede.
Pasti cukup, pasti cukup.

Pada pertengahan September semangat saya mengendur karena melihat hasil pumping tidak kunjung bertambah sementara stok ASIP di freezer menipis.
Mas Galang pun semakin lahap minumnya.
Ketikaberangkat kerja pun saya jadi resah, harus memastikan Mas Galang kenyang dan puas menyusui langsung terlebih dahulu baru saya bisa tenang.

Akhir September semangat saya melemah, iman saya goyah.
Abahnya Mas Galang sempat bolak-balik kantor untuk mengambil ASIP hasil pumping pagi hari untuk menyambung stok sore hari.
Saya yang stres mengakibatkan hasil pumping jadi sedikit
Lihat hasil yang pumping sedikit, tambah stress lagi…
Begitu saja terus…
Seperti lingkaran setan…

Kami berdua nyaris putus asa, lelah, dan stres.
Akhirnya suatu pagi di awal oktober, saya terpikir untuk membeli sufor.
Bahkan saat baru terpikir saja sudah membuat saya mau menangis… Apalagi ketika benar-benar beli bareng si Abah, rasanya seperti sudah gagal menjadi Ibu…
Gagal memberikan yang terbaik…
Padahal itu hanya buat jaga-jaga, kalau-kalau stok ASIPnya beneran abis…
Hu hu hu…

Lalu di kantor setelah beli sufor itu, karena mood jelek, pumping pagi cuma dapat 70ml…
Makin sakit lah rasanya itu hati…
Gagal bener gue jadi emak…

Pukul 2 siang, stok beneran mau habis…
Trus si Abah inget kalau ada tetangga yang menyusui juga…
Tapi karena si ibu ini di rumah, dia tidak stok ASIP
Kalau Mas Galang mau, jadinya menyusui langsung…
Lalu saya bingung…
*ngiiiing*

Akhirnya setelah pertimbangan satu dan lain hal, diberikanlah sufor ke Mas Galang…
60 ml untuk hari itu…
Dan 30 ml untuk esoknya…
Sudahlah, gagal sudah saya sebagai Ibu…
*hapus air mata yang bercucuran*

Dan lusanya ada kejadian si mbak yang momong Mas Galang pingsan karena anemia.
Padahal Mas Galang dalam gendongannya…
Astaghfirullah…
Itu gimana rasanya jantung dag-dig-dug.
Langsung tunggang-langgang pulang ke rumah.
Dan Mas Galang diem aja.
Nggak nangis, katanya…

Tapi sorenya pup banyak banget…
Dan tiga hari berikutnya Mas Galang diare.
Meski tetap aktif dan tidak ada tanda-tanda dehidrasi saya tetap panik.
Sempat memanggil tukang urut karena takut Mas Galang kenapa-kenapa dalam gendongan si Mbak yang jatuh.

Hari ke-empat pup Mas Galang sudah normal.
Tapi saya bisa lihat matanya yang meredup.
Aduh, sedih rasanya.
Mau tak mau saya ambil cuti untuk mengggempur dengan ASI langsung agar kondisi Mas Galang kembali normal.

Dilalah, saya ingat tetangga depan rumah yang punya baby 1 bulan lebih tua dari Mas Galang.
Saya minta abahnya untuk tanya ke ayah si Eiji.
Alhamdulillah, gayung bersambut.
ASIP untuk Bro Eiji berlimpah sampai mamanya bersyukur kalau ada yang mau ambil ASIP karena bisa membuat ruang kosong di freezernya untuk menyimpan stok yang baru.

20141101_081912Mas Galang dan Bro Eiji

Hilang sudah beban stok ASIP untuk Mas Galang.
Pumping pun saya merasa lebih ringan, bisa lebih santai dan alhamdulillah memang bisa menghasilkan lebih banyak.
Yaa tetap sih tidak bisa lebih dari 350 ml/hari.
Tapi in sya Allah, Mas Galang masih diberikan rezeki melalui mama Gita, ya Mas?

Beberapa hari lalu, seorang teman pun membagi pengalamannya kala ia menyusui.
Pengalaman itu bisa dilihat di sini.
http://adhyasari.wordpress.com/2014/11/04/sekoper-asip-itupun-terbang-sejauh-700-km/
Saya bersyukur membaca tulisan itu, saya jadi merasa tidak sendiri…
Dan semakin mengerti bahwa perjuangan seorang ibu dalam memberikan yang terbaik untuk anaknya itu tidaklah mudah. (Huhuhu, jadi kangen emak, deh)

Mudah-mudahan Mas Galang masih terhitung lulus ASIx ya?
Kalaupun tidak, saya tidak lagi kecewa.
Saya dan suami sudah berusaha sebaik yang kami bisa.

Swing
Alhamdulillah, sampai sekarang Mas Galang sehat…
Sudah mau 6 bulan…
Perjuangan lain sudah menanti: MPASI!

Dan ibunya pun sekarang lagi sibuk browsing-browsing menu dan jadwal MPASI…
Semangaaat!!PhotoGrid_1413723431492

 

Main yuk, Bu!

Sudah pukul 7 malam…

Mas Galang masih seger begini dan semangat banget ngajak Ibu main…

C360_2014-10-20-18-38-47-734

Padahal…

Perut Ibu udah kruyuk-kruyuk kelaparan

bin ngantuk

belum mandi pulak!

 

Tapi masa tega ninggalin mainan lucuk dan bawel kayak gini

C360_2014-10-20-18-39-27-796

Hayuk lah, MAs!

Kita main!

 

*zzzz*