Ada Mas Editor Baru!

Persoalan babysitter dan ART selalu membuat emak-emak pening.

Menjelang cuti melahirkan saya selesai, saya tak kunjung mendapatkan BS (babysitter) untuk menjaga Mas Galang.

Seharusnya, Selasa, 2 September 2014 saya sudah masuk kantor lagi.

Si mbak BS ini baru muncul di hari Minggu, 31 Agustus 2014 dan baru bisa mulai hari Seninnya.

Saya memang mencari BS yang pulang hari karena kamar di rumah mertua tidak ada yang lowong bila memperkerjakan BS yang menginap.

Akhirnya, saya menambah cuti 1 hari, demi bisa melihat dan mengajari Mbak BS menjaga Mas Galang.

Mbak BS ini kebetulan istri dari anak kos di rumah tetangga komplek. Katanya, daripada di rumah nggak ngapa-ngapain, mending jagain bayi aja. Siapa tau ketularan. Maklum, pengantin baru… Saya takjub, umurnya baru 21 tahun, tapi sudah menikah. Saya tidak memikirkan kemungkinan dia nanti hamil dan mengundurkan diri. Yang penting saya bisa masuk kantor dulu… Hehehe…

Yah, dilema memperkerjakan anak muda. Ada saja yang terjadi.

Setelah tiga bulan penuh kejadian ini-itu, drama sana-sini, si Mbak mengundurkan diri. Tepat ketika Mas Galang memulai MPASI.

Saya kelimpungan lagi. Untungnya, belum lima menit si Mbak I ini pergi di hari terakhirnya, ada tetangga yang mengantarkan BS baru.

Mbak II ini pernah jadi TKI di Taiwan selama tiga tahun.  Fasih berbahasa Mandarin. Di sana dia menjaga lansia, lalu ketika sang lansia meninggal, si Mbak berganti tugas momong bayi. Alasan kepulangannya ke Indonesia, karena anaknya yang berusia 6 tahun kangen. Sang anak memintanya untuk tidak lagi bekerja di luar negeri, terlalu jauh.

Tepat di akhir bulan kedua si Mbak II ini menjaga Mas Galang, dia mengatakan harus pulang ke kampung. Anaknya menelepon, memintanya untuk pulang. Dan tidak dapat berjanji kapan akan kembali.

Saya pun kembali pusing. Kali ini, tidak secepat itu saya mendapatkan pengganti.

Setelah mengambil cuti beberapa hari, saya tidak tahan. Ada satu terbitan yang saya harus cross check karena ternyata ada banyak typo di cetakan pertamanya. Padahal typo-typo tersebut sudah diperbaiki oleh saya dan sang setter.

Mas Galang pun saya bawa ke kantor pada Selasa, 3 Februari 2015.

Untungnya ada sofa untuk Mas Galang tidur dengan nyenyak, meski pada akhirnya dia lebih memilih tidur di gendongan ibunya.

Mas Galang juga nggak rewel meski tetap rusuh… Ahahaha.

Galang Office 1Pada Kamis, 5 Februari 2015, akhirnya saya mendapatkan BS pengganti.

Seorang wanita berusia 47 tahun dengan empat anak, asal Purwokerto. Anak terakhirnya baru saja lulus SMP dan tidak berniat untuk melanjutkan sekolah. Mau kerja saja di Jakarta, seperti kakak-kakaknya.

Karena khawatir membiarkan anak gadis satu-satunya merantau di Jakarta meski ada kakak-kakaknya yang menjaga, si Mbak memutuskan untuk ikut ke Jakarta. Dan akhirnya berjodoh untuk menjaga Mas Galang.

So far, saya belum ada keluhan. Bahkan ketika heboh banjir pun, si Mbak dengan rajin pantang menyerah tetap datang ke rumah setelah menerobos banjir.

Hanya saja, awal Maret 2015, Mas Galang tidak juga kunjung sembuh dari batuk setelah dua minggu lebih. Akhirnya pada suatu pagi, saya harus menggedor pintu rumah dokter anak terdekat yang terpercaya. Setelah diperiksan, Mas Galang dirujuk untuk Thorax karena dicurigai ada infeksi pada paru-parunya…

Setelah melewati proses check-up, Mas Galang positif KP. Harus berobat selama enam bulan. Ibu dan Abahnya harus tetap menjaga semagat. Mas Galang sudah kembali aktif. batuk dan pileknya pun sudah hilang.

Tapi giliran si Mbak yang kolaps karena panik dan merasa bersalah. Akhirnya, Jumat 13 Maret 2015 kemarin, saya kembali membawa Mas Galang ke kantor karena cuti sudah habis.

Galang Office 2

So far, Mas Galang hepi-hepi aja dibawa ke kantor. Dia senang dengan suasana baru. Meski AC-nya yang sedingin kutub utara membuat saya menahan diri untuk tidak sering-sering membawa si Mas ke kantor. Ya iyalah, mana tega sih… Kalau nggak terpaksa banget saya nggak bakal deh bawa si Mata Belo ini ke kantor.

Tapi, satu hal yang saya syukuri, keputusan saya bekerja di kantor ini yang memungkinkan saya memprioritaskan anak dan keluarga.

Semoga si Mbak jilid III ini betah menjaga Mas Galang… Aamiin

Persiapan MPASI Mas Galang

Deg-degan nyiapin MPASI nya Mas Galang yang sebentar lagi mau 6 Bulan…

Berikut alat perangnya:

Puku Baby Food Maker, kado dari teman2 GPU

puku

Pigeon Baby Feeding Set, lengkap dengan 4 steps Mag mag

img1507

 

Pigeon Baby Weaning Bottle with Spoon

 

pigeon baby waeaning bottle

Karena saya ibu pekerja yang ingin masak sendiri buat MPASI nya

Jadi mau cari2 dulu kukusan, wadah buat simpan puree di freezer, sama slow cooker (nggak bakat masak bubur pakai api kompor :p)

Trus, setelah browsing sana-sini, saya gunakan http://www.wholesomebabyfoods.com untuk referensi jadwal MPASI Mas Galang.

Ini rencana jadwal di bulan pertama…

Mudah2an lancar yaaa… Bismillah…

Saya sampai berencana mengungsi ke rumah emak di klender biar pede… Ahahahaha

Jadwal MPASI 6 Bulan

Perihal ASI untuk Mas Galang

Tanggal 1 Desember nanti Mas Galang sudah 6 bulan.
Dua minggu lagi! Ibunya deg-degan, lulus ASIx nggak yah?
Kalau pernah cobain sufor 90 ml (3x takaran) itu termasuk lulus nggak sih? Hehehe…
Meski sufornya dihentikan karena Mas Galang jadi diare.

Akhirnya, alhamdulillah Mas Galang dapat donor dari Mama Gita, ibunya Bro Eiji, tetangga depan rumah yang Masya Allah stok ASIP nya berlimpah.
Sampai 2 kulkas khusus freezer, lho!

Sedangkan saya?
Maksimal bisa kasih oleh-oleh ASIP buat Mas Galang 350 ml dalam sehari.
Rata-rata sih 250-300 ml yang bisa saya perah.

Waktu baru lahiran, ASI saya sampai luber-luber…
Baju selalu basah terkena rembesan ASI…
Sekuat-kuatnya Mas Galang mimik, tetap saja ASInya rembes di baju.

Dan bodohnya, saya tidak perah atau pompa ASInya.
Belum punya breastpump, dan untuk memerah dengan tangan, rasanya terlalu lelah mengingat sebulan pertama itu jam tidur Mas Galang masih belum teratur.
Apalagi Mas Galang nggak pakai diapers melainkan popok kain.
Jadilah rasa lelahnya berlipat-lipat…

Ternyata di sinilah letak kesalahannya…
Saya tidak bisa memompa secara maksimal ketika sudah mulai bekerja lagi.

Jika menyusui secara langsung, ASI buat Mas Galang terasa berlimpah, nggak ada habisnya.
Tapi untuk dipompa entah mengapa hasilnya terbatas…
Memang rangsangan yang diciptakan jika memompa atau memerah jauh berbeda dibandingkan dengan isapan Mas Galang, mungkin itu penyebabnya…

Tapi kok ya ada aja busui yang bisa sekali pumping hasilnya 250-300 ml…
Hikz… Apalagi teman pumping bareng di kantor ya seperti itu…
Sungguh jauh berbeda… Mulai dari ukuran kompartemen (halah, bilang aja payudara), alat, cara, sampai hasil pumping…

Jadilah saya minder…
*nging ngung nging ngung*
PhotoGrid_1409528702385
Bulan September, bulan pertama saya masuk kerja.
Berbekal stok ASIP kurang lebih 15 botol dengan isi variatif 50-100 ml, berapa pun hasil pumping di kantor, saya masih pede.
Pasti cukup, pasti cukup.

Pada pertengahan September semangat saya mengendur karena melihat hasil pumping tidak kunjung bertambah sementara stok ASIP di freezer menipis.
Mas Galang pun semakin lahap minumnya.
Ketikaberangkat kerja pun saya jadi resah, harus memastikan Mas Galang kenyang dan puas menyusui langsung terlebih dahulu baru saya bisa tenang.

Akhir September semangat saya melemah, iman saya goyah.
Abahnya Mas Galang sempat bolak-balik kantor untuk mengambil ASIP hasil pumping pagi hari untuk menyambung stok sore hari.
Saya yang stres mengakibatkan hasil pumping jadi sedikit
Lihat hasil yang pumping sedikit, tambah stress lagi…
Begitu saja terus…
Seperti lingkaran setan…

Kami berdua nyaris putus asa, lelah, dan stres.
Akhirnya suatu pagi di awal oktober, saya terpikir untuk membeli sufor.
Bahkan saat baru terpikir saja sudah membuat saya mau menangis… Apalagi ketika benar-benar beli bareng si Abah, rasanya seperti sudah gagal menjadi Ibu…
Gagal memberikan yang terbaik…
Padahal itu hanya buat jaga-jaga, kalau-kalau stok ASIPnya beneran abis…
Hu hu hu…

Lalu di kantor setelah beli sufor itu, karena mood jelek, pumping pagi cuma dapat 70ml…
Makin sakit lah rasanya itu hati…
Gagal bener gue jadi emak…

Pukul 2 siang, stok beneran mau habis…
Trus si Abah inget kalau ada tetangga yang menyusui juga…
Tapi karena si ibu ini di rumah, dia tidak stok ASIP
Kalau Mas Galang mau, jadinya menyusui langsung…
Lalu saya bingung…
*ngiiiing*

Akhirnya setelah pertimbangan satu dan lain hal, diberikanlah sufor ke Mas Galang…
60 ml untuk hari itu…
Dan 30 ml untuk esoknya…
Sudahlah, gagal sudah saya sebagai Ibu…
*hapus air mata yang bercucuran*

Dan lusanya ada kejadian si mbak yang momong Mas Galang pingsan karena anemia.
Padahal Mas Galang dalam gendongannya…
Astaghfirullah…
Itu gimana rasanya jantung dag-dig-dug.
Langsung tunggang-langgang pulang ke rumah.
Dan Mas Galang diem aja.
Nggak nangis, katanya…

Tapi sorenya pup banyak banget…
Dan tiga hari berikutnya Mas Galang diare.
Meski tetap aktif dan tidak ada tanda-tanda dehidrasi saya tetap panik.
Sempat memanggil tukang urut karena takut Mas Galang kenapa-kenapa dalam gendongan si Mbak yang jatuh.

Hari ke-empat pup Mas Galang sudah normal.
Tapi saya bisa lihat matanya yang meredup.
Aduh, sedih rasanya.
Mau tak mau saya ambil cuti untuk mengggempur dengan ASI langsung agar kondisi Mas Galang kembali normal.

Dilalah, saya ingat tetangga depan rumah yang punya baby 1 bulan lebih tua dari Mas Galang.
Saya minta abahnya untuk tanya ke ayah si Eiji.
Alhamdulillah, gayung bersambut.
ASIP untuk Bro Eiji berlimpah sampai mamanya bersyukur kalau ada yang mau ambil ASIP karena bisa membuat ruang kosong di freezernya untuk menyimpan stok yang baru.

20141101_081912Mas Galang dan Bro Eiji

Hilang sudah beban stok ASIP untuk Mas Galang.
Pumping pun saya merasa lebih ringan, bisa lebih santai dan alhamdulillah memang bisa menghasilkan lebih banyak.
Yaa tetap sih tidak bisa lebih dari 350 ml/hari.
Tapi in sya Allah, Mas Galang masih diberikan rezeki melalui mama Gita, ya Mas?

Beberapa hari lalu, seorang teman pun membagi pengalamannya kala ia menyusui.
Pengalaman itu bisa dilihat di sini.
http://adhyasari.wordpress.com/2014/11/04/sekoper-asip-itupun-terbang-sejauh-700-km/
Saya bersyukur membaca tulisan itu, saya jadi merasa tidak sendiri…
Dan semakin mengerti bahwa perjuangan seorang ibu dalam memberikan yang terbaik untuk anaknya itu tidaklah mudah. (Huhuhu, jadi kangen emak, deh)

Mudah-mudahan Mas Galang masih terhitung lulus ASIx ya?
Kalaupun tidak, saya tidak lagi kecewa.
Saya dan suami sudah berusaha sebaik yang kami bisa.

Swing
Alhamdulillah, sampai sekarang Mas Galang sehat…
Sudah mau 6 bulan…
Perjuangan lain sudah menanti: MPASI!

Dan ibunya pun sekarang lagi sibuk browsing-browsing menu dan jadwal MPASI…
Semangaaat!!PhotoGrid_1413723431492

 

Main yuk, Bu!

Sudah pukul 7 malam…

Mas Galang masih seger begini dan semangat banget ngajak Ibu main…

C360_2014-10-20-18-38-47-734

Padahal…

Perut Ibu udah kruyuk-kruyuk kelaparan

bin ngantuk

belum mandi pulak!

 

Tapi masa tega ninggalin mainan lucuk dan bawel kayak gini

C360_2014-10-20-18-39-27-796

Hayuk lah, MAs!

Kita main!

 

*zzzz*

Housewife vs Working Mom

Today conv dgn teman lama

Dia : Jadi skrg lo ngga kerja? Kok bisa sih? Ngga bosen?
Saya : Kerja kan ngga harus tiap hari ke kantor. Gw masih bisa kerja di rumah sambil ngurus anak
Dia : Nah! Exactly my point. Sayang aja  lulusan UI akhirnya cuma ngurus anak
Saya : Justru hebat dong. Anak gue diasuh sama sarjana lulusan UI. Dibanding anak lo yang diasuh sama pembantu lulusan SD
Dia : *senyum kecut*
#situ jual, sini beli

***

Membaca status teman saya di Path seperti di atas membuat saya tergelak.
Geli karena masih saja ada yang berpikiran sempit bahwa pendidikan itu hanya terpakai di dunia kerja.
Geli juga karena teman saya bisa memberikan jawaban secerdas itu membuktikan bahwa dia tidak main-main dalam profesinya menjadi ibu rumah tangga.

Jujur, cita-cita saya dari dulu menjadi ibu rumah tangga.
Simply because my mom was, and i want my children to experience the same things i had.
Makan masakan khas emak yang rasanya gak bisa disamain sama restoran mana pun.
Pulang sekolah, cium tangan emak, ganti baju, lalu asik ngedeprok di dapur cerita ke emak tentang kejadian di sekolah.
Rambut yang lepek oleh keringat dan bau matahari dicium penuh sayang.
Dikejar-kejar ke lapangan, disuruh berhenti biar mau tidur siang.

I want my children to have those moments, with me, their mom…

Seiring sejalan, saya sadari itu belum bisa saya capai sekarang.
Untuk satu dan lain hal sebagai alasannya.
Tapi saya tetap berusaha mencari jalan tengah, berkompromi.

Jika saya terus menjalani profesi yang sesuai dengan gelar sarjana yang saya dapat di Teknik Industri UGM, saya tidak yakin akan sanggup menyisakan tenaga dan pikiran untuk urusan rumah tangga.
Tapi pekerjaan suami yang seasonal dan fluktuatif membuat saya mempertimbangkan bekerja di rumah yang juga fluktuatif.
One of us should have a steady income to have a stabil financial condition in our earlier time of marriage.
Thus, after 4 month unemployed, i reach the opportunity to work in a publishers as copy editor of fiction books.

Editor novel?
Iya, memang sepertinya tidak ada sangkut pautnya dengan latar belakang pendidikan saya.
Tapi saya punya gaji tetap yang bisa jadi pegangan selain pendapatan suami.
Lokasi juga hanya 20-30 menit dari tempat tinggal saya sekarang.
Pun setelah keluar dari kantor, saya benar-benar bisa fokus mengurus suami (dan anak-anak saya nantinya).
Beban tenaga dan otak yang digunakan selama bekerja pun tidak seberat jenis pekerjaan saya yang lama.
Kenapa?
Because i love to read… I love books..,
I love to produce and present a great book to other readers.

Jadi ya, saya memang masih bekerja di kantor, meninggalkan rumah tangga dari pagi hingga sore.
Tapi masih lebih baik ketimbang saya masih bekerja di kantor dengan pekerjaan yang menuntut perhatian saya 24/7.

Lalu bagaimana dengan mimpi saya menjadi ibu rumah tangga?
Bagaimana dengan tanggung jawab saya sebagai istri dan ibu dalam rumah tangga?
Mimpi itu masih ada, dan entah bagaimana mungkin bisa saya wujudkan sembari saya bekerja 🙂

Meski tidak tega meninggalkan bayi saya yang baru berusia 3 bulan, rela tidak rela saya harus berkeras hati…
Someday, Mas Galang, i will be there for you and your sibling(s) 24/7
Someday…

***

B47A0458-C131-45E3-A810-E1801A1A8A02

Akhir-akhir ini begitu banyak yang membandingkan ibu rumah tangga dengan ibu pekerja. Ibu pemberi ASIx dengan sufor…

All i can say is, setiap orang punya pilihannya masing-masing…
Dan dengan pilihan tersebut, lahirlah yang namanya konsekuensi…

Jadi hormatilah pilihan tersebut dan dukunglah apa pun konsekuensi yang mereka hadapi…
Karena tidak ada yang tahu perjuangan orang lain, kecuali kita mengalaminya sendiri… Dan setiap orang menjalani perjuangannya sendiri-sendiri…

 

– pic taken from http://thecorporatehousewifemom.blogspot.com/2013/07/manic-monday-quotes-stealing-your-joy.html

Tentang sebuah etika

Saya pernah membaca salah satu tweet dari teman yang bilang kalau dia kagum akan seorang akhwat, yang meminta izin padanya untuk berbicara dengan suami teman saya itu.
Padahal, si akhwat ini tidak mengenal teman saya itu.

Sebelum saya ikut khalaqah, saya pun sedikit menjaga percakapan dengan teman laki-laki yang sudah menikah. Akan jarang sekali saya bercakap (by phone or text message), terutama di malam hari. Karena saya pikir, malam hari adalah waktu pasutri itu untuk berkomunikasi setelah seharian terpisah karena pekerjaan.

phone_17

Dan di khalaqah pun memang diajarkan seperti itu. Disarankan untuk menjaga hubungan dengan lawan jenis yang sudah menikah (terlepas kita sendiri sudah menikah atau belum). Utamakan percakapan yang penting, pilih waktu yang tidak mengganggu waktu keluarga, dan jaga perasaan pasangan sang teman/rekan.
Hal ini bisa dilakukan dengan permisi atau minta izin terlebih dahulu pada sang istri untuk memulai percakapan dengan teman pria tersebut.

Ya, sepanjang yang saya tahu ya seperti itu etikanya.
Terutama jika kita mengenal kedua belah pihak dengan dekat, sang istri maupun sang suami.

Sekarang, ketika saya sudah menjadi istri, saya tahu betapa etika tersebut sesungguhnya benar-benar menjaga keharmonisan keluarga 🙂

Mungkin standarnya berbeda di tiap orang, tapi saya berusaha menjaga standar yang berbeda tersebut untuk mencari aman menjaga perasaan para pasangan teman-teman pria saya. Mudah-mudahan sih belum pernah ada kejadian istri yang cemburu karena saya bercakap-cakap dengan suaminya, yah?
Hehehehe

It’s positive

Saya punya satu teman di kantor yang sudah lebih dulu menikah setahun sebelum saya. Sementara ini dia tidak terlalu antusias untuk hamil karena ingin mengobati Rubella-nya dan juga masih ingin menikmati masa berduaan dengan suaminya.

Lalu saya datang ke kantor ini di bulan April dan dua bulan kemudian saya menikah. Dan satu saat dia bertanya pada saya, “Mau langsung hamil, Diet?”
Saya jawab, “Iya, udah umur segini soalnya. Kapan lagi? Keburu tua. Takut gak sanggup fisiknya.”
“Gak pengen pacaran dulu? Kan lo ketemu suami lo gak pake pacaran.”
“Gpp lah, sambil hamil juga malah makin mesra pacarannya. Gue takut ngebayangin udah tua trus anaknya masih kecil-kecil. Keterbatasan fisik nanti ngurusnya ribet.”
“Iya juga ya.”

Dan beberapa minggu kemudian dia bilang, “Hamil bareng, yuk Diet!”
Eeeh, sekate-kate.. Dipikir untuk hamil gampang, kali yaa..
Ahahaha..
Tapi saya mengerti maksudnya..
Dia mau bareng-bareng menjalani kehamilan agar ada yang menjadi teman senasib, mungkin..
Yah, akhirnya saya pun menjawab, “Yuk!”

Sampai pada suatu saat, sudah sekitar tiga hari dia telat menstruasi, sedangkan jadwal saya masih minggu depannya.
Dia mengajak saya beli test pack karena malu kalau beli sendiri.
Saya yang sejujurnya juga geli dan malu kalo bayangin beli itu sendirian akhirnya terkekeh dan nurut.
Saya toh pengen tahu cara penggunaan test pack itu seperti apa sih?
Jadilah siang itu kami ke toko obat dekat kantor.
“Ko, ada test pack?”
“Mau yang modelnya kayak gimana? Yang mahal apa yang murah?”
Eh buset, mana eike tau.. Kami saling melihat.
“Adanya yang kayak gimana aja, Ko?”
“Ada yang murah nih, 5rb apa 10rb? Tinggal yang ini doank.”
dan tadi dia nanya mau yang model gimana? padahal sisa yang murah doank.. Hih..

Akhirnya kami mengurungkan niat membeli di toko itu.
Kemudian mampirlah di Indomaret sebelahnya.
Ada dua macam brand, Sensitif dan Direct Test.
Kami memilih Sensitif karena yang Direct Test hanya tersisa 1 pcs.
Keluar dari Indomaret kami berdua senyum=senyum.
Kayak gitu yah beli test pack, ternyata..
Ahahaha..

Kembali ke kantor, teman-teman yang lain heboh bertanya, “Gimana belinya? Jadi? Caranya gimana, tadi?” sambil meledek keluguan kami berdua..
Hih.. *tujes2 temen2 GPU*

Esok paginya, saya mencoba.
Tanpa berharap, karena toh siklus haid saya memang belum waktunya.
Saya hanya ingin tahu bentuk dan cara pakai si test pack ini.
Tapi tak ayal, saat menunggu garis itu kok ya deg2an juga..
Hadeeeh..
Hasilnya, satu garis.. Yah, memang belum waktunya.

Sampai di kantor, hasil teman saya positif.
Alhamdulillah..
Dia pun menyemangati saya untuk terus berusaha..
Ahahaha.. Siyap, komandan! Laksanakan!

Tapi seminggu kemudian haid saya datang.
Lagi-lagi, memang belum waktunya.. Hikz

Saya pun semangat mengikuti perkembangan kehamilan teman saya.
Dia juga semangat bertanya dan memberikan tips khusus..
“Jangan makan ayam KFC yah!” dan dua hari kemudian keluar iklan Rabu Diskon untuk 1 bucket Ayam, weleh!
“Jangan makan MSG!”
Duh, mie instan.. i can not help it..
Teman saya ini sangat menjaga makanannya, dan beberapa minggu kemudian dia mual-mual. Tidak bisa makan nasi.
Kami pun menyemangatinya, bahkan salah satu teman saya yang jago masak menyiapkan kentang dan labu manis khusus sebagai pengganti nasi untuk dia.

Beberapa minggu kemudian datanglah Idul Adha, saya kebagian tugas memotong dan memasukkan jeroan Sapi dan Kambing ke dalam bungkusan pembagian. Mual. Tapi, siapa sih yang gak mual sama bau jeroan kayak gitu?
Saya gak mau ge’er duluan, meski sepertinya gak sanggup makan daging2an selama sebulan lagi.. Huek lah pokoknya..

Hari minggu keluarga si Mamah berkumpul, menjenguk pakde yang masuk ICU RS Haji Pondok Gede.
Perjalanan dari Kembangan ternyata cukup melelahkan. Saya kehabisan tenaga. Apalagi si mbul yang bawa motor, hmppp *puk puk Mbul dan Sorendro*
Pas si Mamah nyuruh ikut pulang ke Klender, saya pun menggeleng.
“Pusing, mah.. Mual di jalan tadi.”
“Jangan-jangan hamil?”
“Nggak, baru minggu depan kok haid-nya.”
“Iya, siapa tau kan?”
“Ya udah, Mamah doain aja, mudah-mudahan aja deh,” jawab saya dengan senyum dipaksakan..
Saya tidak mau Mamah berharap banyak, pun dengan diri saya sendiri..

Selasa berikutnya jadwal haid saya yang seharusnya. Hari Rabu saya merasakan pms seperti biasa, nyeri pinggang. Teman saya bilang, waktu dia mau hamil pun rasanya seperti pms. Ah, lagi-lagi saya tidak mau berharap banyak.

Kamis, sepertinya saya telat makan, dan ada rujak untuk camilan sore.
Sampai di rumah, saya minta si Mbul mengantarkan saya ke Alfa untuk membeli obat maag. Sekaligus test-pack.
Iya, menstruasi saya sudah terlambat dua hari.

Jum’at subuh, saya terbangun untuk mengambil wudhu.
Sebelumnya saya buang air kecil dan tidak lupa saya siapkan untuk dipakai di test-pack.
Memang, menunggu itu menyebalkan..
Padahal cuma 1-3 menit agar si alat bisa menunjukkan hasilnya.
Tapi tetap saja saya deg-degan..
Issh…
It felt like forevaaaaa…

Satu garis keluar..
Okay.. saya tunggu beberapa detik lagi..
Garis kedua pun samar terlihat..
Saya tunggu lebih lama lagi agar samarnya berubah jelas.

Hmmph, garis kedua tetap samar, tapi teman saya pun begitu saat dia tes dan ternyata benar hamil..
Harapan saya melambung tinggi..
Saya langsung membereskan peralatan dan kembali menuju kamar.
Saya bangunkan si Mbul.

20140130161736

“Yang, liat deh ini. Ada dua garisnya, tapi yang satu samar.”
“Garis apaan?” Si Mbul mengucek-ucek mata.
“Garis ini,” kata saya sambil menunjukkan strip si test-pack.
“Apaan sih? Emang udah subuh?”
Duh, saya jadi ingat, saya belum jadi ambil wudhu..
“Ini Yaaang, test pack-nya.. Garisnya ada dua, tapi yang satu lagi samar.”



Ada sekitar dua-tiga menit si Mbul terdiam.
“Hamil berarti?”
“Mungkin.. Piye ki? Beneran hamil gak yah? Kayaknya beneran, kemarin temenku juga begini pas sebelum ke dokter.”
“Hamil berarti, Yang?” si Mbul mengulangi pertanyaan itu lagi.
Saya jawab dengan anggukan dan senyum manis tapi ragu.



Kami berdua terdiam cukup lama. Lalu dia meraih lengan saya.
“Wudhu, yuk.. Shalat Subuh dulu.”

Selesai shalat, kami berdua hening cukup lama..
Membereskan alat shalat pun masih dalam keadaan diam..
“Jadi beneran hamil?” akhirnya si Mbul membuka suara.
“InsyaAllah..” jawab saya sambil tersenyum kecil.
Dipeluknya saya, erat.
“Kasih tau Ibu gak? Mamah?” tanya saya sambil masih merasa bingung.
“Jangan dulu deh, ke dokter dulu. Nanti kalo udah pasti baru deh kasih tau.”
“Oke.”

Dan biasanya kami memanfaatkan waktu untuk tidur sedikit lagi sebelum mulai bersiap-siap berangkat kerja.
Tapi nyatanya saya tidak bisa tidur.
Akhirnya saya putuskan untuk menyelesaikan tumpukan setrikaan.
Meja setrika ada di luar kamar, jadi saya tinggalkan si Mbul di tempat tidur.

Selang 10 menit, pintu kamar terbuka, si Mbul muncul sambil nyengir.
“Gak bisa tidur…”
Saya naikkan bahu sambil ikutan senyum-senyum.

Ketika sudah waktunya untuk mandi, saya ke bawah, dan mendapati Ibu sedang membuat teh.
“Selamet yaa..” kata ibu.
Saya bingung sejenak, dan langsung menyadari, si Mbul udah duluan ngasih tau Ibu…
Hmppph.. dasar gombal.. Ahahaha..

Selesai mandi, saya dengarkan ceritanya waktu memberitahu Ibu.
Dia turun sambil senyum-senyum, masuk ke kamar mandi. Keluar lagi, masih dengan senyum-senyum.
“Ngopo koe ngguya-ngguyu pagi-pagi? Tumben wis tangi.”
Masih senyam-senyum, si Mbul mencium tangan Ibu.
“Ngopo sik? Pake cium tangan.. Iki opo?”
“Doain, Bu.. InsyaAllah, entuk cucu maning.”
“Oalaaaah, wiiis.. Alhamdulillah.. udah dicek? kapan?”
“Barusan…”

Hissssh…
Dia yang bilang jangan ngomong2 dulu, tapi gak tahan juga ternyata…
*tujes si Mbul

Akhirnya saya pun mengabari si Mamah, masyaAllah, sungguh senang mendengar suara beliau yang mengucap Alhamdulillah..
Setidaknya satu momen ini saya berhasil persembahkan untuk beliau..

Hari Sabtu dan Minggu, saya dan si Mbul mengumpulkan informasi, mencari rumah sakit dan dokter yang dirasa cocok, apalagi dari segi biaya…
Ya ampun, mahal banget ya biaya melahirkan 😦

Setelah tanya sana-sini, browsing-browsing, pilihan kami jatuhkan ke dr Hasnah Siregar di RS Harapan Kita.
Jadwal praktek Selasa Sore dan Sabtu Pagi.

Jadilah selasa sore itu saya izin pulang lebih cepat dan meluncur ke RS bersama si Mbul.
Daftar antrean yang pendek, tak lama kemudian kami pun masuk ke ruang periksa setelah saya ditimbang, diukur tensi darah, dan ditanyai kapan terakhir haid.
Data tersebut kami bawa masuk ke ruang dokter.

Setelah proses tanya jawab, dr Hasnah menghitung kemungkinan janin sudah berusia 5 minggu.
Lalu saya ditawarkan USG transvaginal untuk melihat letak kantung apakah posisinya tepat.
Kami jawab iya.

Dan saya pun dibaringkan, agak kaget saat alat itu masuk ke tubuh.
Duh, Gusti.. Malu juga ternyata.. Hehehehe..

Dan di monitor itu, MasyaAllah..
Kantung rahim saya.. Yang diperkirakan berusia 4 minggu 5 hari.
Alhamdulillah berada di tempat yang seharusnya.
Jadi, iya.. Saya positif hamil..

USG1

Alhamdulillah, ya Allah
*nangis lagi*
*cengeng*
*biarin*