buka pakai apa?

Pukul 18.16, 1 Ramadhan 1434 H

Ma’cut, istri dari Mas Sigit, kakak ketiga saya, mengirimkan pesan via Line,
Selamat berbuka puasa, mba.. Mba Buka pake apa?”

Selamat berbuka puasa jugaaa.. Teh manis sama kue lumpur, plus gorengan. Hehehehe.. Di rumah buka pake apa?”

Ibu buat batagor sama es rumput laut. Yummi..

es-buah-rumput-laut-1

*ngiler*

Waaakz… batagooor… Enaknyooo..

Iya, ibu ngomongin mba.. Buka pake apa ya mba didit… Hehehehe..

*mewek*

#edisibukapuasapertamadirumahsuamijauhdariemak

pic from http://inginsekalisehatt.wordpress.com

Terkunci!

Kemarin adalah hari pertama saya tinggal di rumah suami.
Sebetulnya, mulai minggu sore saya sudah berada di sana, tapi saya dan suami sibuk berbelanja dan bebenah untuk keperluan di dalam kamar.

Minggu malam pun beberapa teman mengajak kumpul di Chick’a Pow di daerah Rawa Belong, the food and beverages-nya enak lho by the way.

Pulang dari kuliner tersebut sudah pukul 11 malam. Lampu sudah dimatikan dan pintu rumah sudah dikunci.
Saya sempat memperhatikan kalau suami memegang copy kunci rumah, sempat terpikir juga untuk bertanya pada beliau kalau saya ingin copy kunci itu juga.
Tapi hal itu saya lewatkan begitu saja karena sudah sangat mengantuk.

Seninnya, kami berdua sudah kembali bekerja.

Suami pun mengatakan akan pulang malam karena ada acara ulang tahun kantornya.

Berarti saya pulang sendiri dari kantor Palmerah ke Kembangan.

Sebelumnya, si Mbul memang sudah menunjukkan perempatan Srengseng tempat saya harus turun dari M.11

Lalu dia menunjukkan tempat saya harus menunggu angkot berikutnya.

“Kamu tunggu di situ aja, nyebrang dikit si M11nya, karena B10 nya datang dari arah sana, M48 nya datang dari situ, kadang ada kopaja 85 juga. Semua lewat komplek. Dan semua lewat yang komplek rumah ya lewat sini.”

Saya mengangguk, berharap memori saya yang pendek tidak mengacaukan visualisasi saat saya memang harus naik angkot pulang nanti.

Turun dari M11, saya yakin saya turun di lajur yang benar.
Kemudian saya kebingungan, trus nunggu angkotnya di mana yah?

Saya lihat m48 ngetem di samping kanan, lalu B10 dari arah seberang menuju tempat saya berdiri.

Untuk meyakinkan, saya bertanya pada pemilik warung terdekat.
“B10 yang ke arah Kembangan yang mana ya, Bu?”
“Ya di sini, neng.”

Okesip, berarti saya berada di tempat yang benar.
Karena tidak mau menunggu lama, saya memilih menaiki B10.

Beberapa waktu perjalanan, saya mulai cemas..
Kok ndak ada fly over-nya yah?
Ranch Market-nya mana?

Lho.. perempatan Puri Indahnya kok ndak muncul-muncul?
Saya salah arah kah?

Ketika melihat plang nama jalan bertuliskan “H. Lebar” saya pun mahfum kalau benar-benar telah salah arah.
“Bang, komplek keuangan kembangan udah lewat yah?”
“Yaaaah, neng.. Salah arah..”

Saya pun langsung turun (serta bayar, tentunya) dan langsung menyeberang, kebetulan ada B10 lewat serta merta saya melompat naik.

Ok, berarti saya menunggu di tempat yang salah tadi.
Noted lah buat besok naik angkot lagi.

Tidak memerlukan waktu lebih dari 15 menit untuk sampai di depan cafe wa’ucup kebanggaan si Mbul.

Adzan berkumandang dari Masjid Al Muthmainah.. Saya pun bergegas berjalan menuju rumah.
Sampai di rumah, pintu pagar depan saya buka.
Lalu menuju pintu samping.
Jegrek
Pintunya dikunci
Saya berpindah ke pintu depan
Jegrek
Dikunci juga

Saya ketuk kamar ibu yang ada di samping pintu depan.
Tidak ada jawaban.
Saya telepon ke dalam rumah.
Terdengar deringan, tapi tetap tidak ada jawaban.

Ngadu ke si mbul yang kemudian memberitahukan letak kunci rahasia.
Nihil, kunci tidak ada di tempat
Saya telepon rumah lagi, tetap tak terjawab

5 menit
10 menit
15 menit

Saya lihat Path dan Mas Arief, ipar saya baru saja memberikan emot “gasped” di status kesasaran saya tadi.
Saya pun langsung mengirimkan PM
“Mas Arief, pintu depan dikunci, aku gak ada yang bukain.”

20080502003119_lockedpic http://ekgme.blogspot.com/2012/05/lockedlearnedlaughed.html

Selang satu dua menit, Mas Arief, Mba Dewi, Aya, dan Ibu pun membuka pintu.
Ternyata mereka sedang shalat Maghrib di kamar masing-masing, hingga ketukan pintu tak terdengar..

Kami pun duduk ngobrol dan saya ceritakan mengenai proses menyasar sampai ke Jl. H. Lebar..

“Ya ampun, tante Didiet kayak lagi diospek..”

Nyasar dan terkunci.
Pengalaman hari pertama di rumah mertua.
Demikian.

Rasa McDonald’s, dahulu dan kini

Ketika menyantap makan siang saya di rumah hari ini,
Entah mengapa saya teringat suatu cerita ketika saya SMP.
Waktu itu keadaan keluarga sedang susahsusahnya.
Untuk bayaran sekolah pun beberapa kali harus tertunda.

Di SMP saya ada kegiatan atletik rutin yang wajib kami ikuti di Velodrome, Rawamangun.
Letaknya yang tepat di depan Arion Mall menjadikan kegiatan tersebut ajang kumpul-kumpul.
Tapi saya sering kali melewatkan acara itu.
Untuk membayar biaya masuk atletik dan ongkos bis saja saya musti pelan-pelan meminta kepada ibu saya.
Apalagi meminta tambahan untuk duduk mengobrol di McDonald’s yang ketika itu hits berat dengan burger dan kentang gorengnya.

Hingga suatu saat saya mendengar banyak teman mencemooh karena saya jarang kumpul.
Kata nya saya sombong, saya gak gaul, saya pilih-pilih teman karena saya pulang bersama teman lain yang cukup puas dengan membeli siomay atau batagor gerobak yang kemudian dikemas di dalam plastik dan memakannya dalam bis perjalanan pulang.

Saya lalu memberanikan diri meminta uang jajan lebih yang kemudian disambut sengit oleh ibu saya.
Sejujurnya saya mengerti kesulitan ibu, tapi saat itu ego anak-anak saya muncul begitu kuat.
Saya menangis meraung-raung.

Bapak yang tidak tega lalu memberikan saya uang jajan yang lebih dari biasanya.
Tapi tidak dengan cumacuma.
Beliau memberikannya seraya mengajak saya berbicara.

Ada beberapa teman kamu yang begitu beruntung punya uang dan kekayaannya sehingga mereka bisa membeli apa saja.
Dan kamu tidak perlu iri sama mereka.
Apa pun yang mereka katakan, yang mereka punya bukan sesungguhnya kepunyaan mereka.
Itu hasil jerih payah orangtuanya.
Sekarang kamu bapak kasih uang biar nanti, ketika kamu bisa membeli makanan di restoran seperti yang sekarang kamu beli, dengan jerih payah kamu sendiri nanti nya, kamu bisa membandingkan.
Rasa makanan yang kamu beli dengan uang kamu sendiri nanti, akan jauh lebih nikmat dibanding yang kamu beli sekarang.”

IMG_20120608_201122

Alhamdulillah saya sudah bisa berkalikali membeli burger dan berbagai menu di McDonald’s.
Dan juga beragam menu di restoran lainnya.

Dengan uang jerih payah saya sendiri..

Benar saja apa kata Bapak, rasa nya memang lebih nikmat.
Alhamdulillah..

Aku Gemuk! Hurray!

Satu bulan ini saya benar-benar merasa kesulitan bergerak di dalam beberapa pasang jeans yang saya punya.
Seriously, i’ve gain my weight.
And that should be the thing i am grateful of.
Berapa tahun coba saya mencoba menaikkan berat badan saya tapi selalu mentok di angka 42 kg.. Hufft..

Bukannya kenapakenapa ya, sebagian orang mungkin bilang saya beruntung karena banyak yang pengen kurus mati2an menjaga makanan dan berolahraga membakar kalori, tapi saya? Sebanyak apa pun saya makan, sepertinya semua lancar terbuang kembali tak bersisa di badan saya.
Nah, yang saya rasakan dengan tubuh setipis triplek seringan kerupuk itu ya saya mudah sekali sakit, flu lah, masuk angin lah, migrain lah (yang belakangan saya ketahui kalau penyebabnya adalah kolesterol tinggi! nah! ini salah satu kerugian mempunyai badan dengan efisiensi tinggi. Badan kurus jadi makan apa aja gak ada pantangan, tauk tauk kolesterol aja.. hih..)

Sekitar 7 tahun setelah saya lulus kuliah, saya berhasil menembus angka 40 kg di timbangan badan saya.
Tapi ya itu.. hanya seputaran 42, 43 mentok yaa 45 kg..
Usaha keras saya dengan makan banyak terkuras dalam ritme pekerjaan yang subhanallah, dinamis banget (baca: gedabrukan).
Belum lagi, kebanyakan merasakan patah hati (#eh) juga saya pikir menyumbang sebagian besar alasan mengapa saya susah gemuk.

Hingga pada akhir tahun lalu, saya memutuskan untuk resign. Alasan utama nya memang karena lokasi yang di rimba pertambangan Kalimantan. Tapi alasan tersembunyinya adalah saya sudah tidak kuat, sungguh.. Menjalani tipe pekerjaan yang saya geluti selama tujuh tahun terakhir itu sungguh melelahkan. Lahir dan batin.

Kerja mana ada yang gak melelahkan sih, Dhee?

Yup, itu yang banyak orang katakan.
But then again, kalau sudah sampai merusak hati saya yang bersih ini (siapsiap dikemplang yang baca blog), saya meyerahlah..
Saya harus melindungi hati saya dari perasaan negative.
Jika tidak sanggup saya lakukan dengan beristighfar, wudhu, artinya memang saya harus pergi dari lingkungan tersebut, bukan?

Dan dimulailah empat bulan keluntanglantungan saya.
The choice are either i hang out or be a potato couch, watching tv or read some books.
Makanan yang masuk tidak banyak dikeluarkan kembali dalam bentuk perang batin, putar2 pikiran, maupun gerakan badan yang dinamis dari gudang ke gudang.. hehehehe..

Ditambah lagi, ada seseorang yang selain membuat hati saya mulai berbahagia (ahiyr), tapi juga rutin nyentil kalo sakit gara-gara makan telat jangan ngeluh.

Dikarenakan timbangan di rumah sedang rusak, saya tidak paham benar berapa kg yang sudah bertambah. Tapi dari ketidaknyamanan tubuh bagian pinggang ke bawah saya saat memakai jeans, celana panjang bahan, dan bahkan saat memakai rok, saya pun mahfum kalau berat badan saya benar-benar naik.

Saya putuskan untuk membeli jeans baru. Dengan merk yang sama, saya menemukan kenyamanan dalam balutan no 30 dimana sebelumnya saya bernomorkan 27.
Ah, yang benar saja saudara.. dalam waktu empat bulan?

Dan lucu nya lagi, sedari dulu, saya mengukur pertambahan berat badan saya hanya dengan melihat bagian bawah tubuh saya. Eh tapi ternyata, dua hari belakangan saya menatap cermin dan menemukan lengan atas pun mulai tampak kekar.. ahahahahaha

PicsArt_1371178125002

Dan kini saya banting setir ke sebuah pekerjaan yang memang saya impikan.
Apalagi lokasi yang dekat dengan rumah mas nya *uhuk*.
Sayah jadi mantap mengatakan iyah saat offering itu datang ke hadapan.

Sudah lebih dari tiga minggu saya di sini.
Saya makin merasa perlu membeli jeans baru..
Dengan ukuran no 31 kalau perlu.

Ahahahaha..

Lebih parahnya lagi, mas nya bilang kenapa gak sekalian beli jeans dengan pinggang karet, sekalian buat hamil nanti *uhuk*.

Tentang Doa

Suatu hari, seseorang pernah bertanya tentang Doa

“Seperti apakah doa yang diniatkan untuk Allah?
Agar tidak lagi mengutamakan diri sendiri?
Haduh, pertanyaan yang saya pikir sangat tidak tepat dilontarkan pada saya
Apa yang saya tau tentang Doa?

Doa, yang seringkali sering saya tinggalkan karena kesombongan..
Hingga saya pun seakan lupa akan cara berdoa, lagi!
Lalu menjadi linglung menjawab pertanyaan tersebut..

Buat saya, doa adalah ketika saya berbicara denganNya

Ketika hati saya mengingatNya
Ketika bibir ini mengucap satu dari sekian namaNya
Ketika saya meminta, dan saya tahu, tiada yang dapat dipinta kecuali hanya padaNya..

Malam sebelumnya, seorang sahabat bercerita tentang runtunan kejadian yang mengakibatkan dia mendapatkan memar dan lebam
Saya terkejut karena sepertinya saya tertinggal berita tentang kecelakaan yang menimpanya
Dan tepat diujung cerita nya yang mengerikan, dia berkata,
“Allah sayang banget sama aku ya, Dit.. Masih diingatkan dengan berbagai cobaan. Aku ikhlas deh..
Apa sih yang nggak buat Allah, ya Dit?”

By the time she said that, i wanna jump and run through her place and gave her a hug
It was my words, but she was the one who take it in to the heart..
Saya merasa malu.. Sungguh

Maka, demi menjawab pertanyaan pagi itu, saya bergegas menuju musholla..
Saya rindu, yaa Allah..
Lalu air yang mengalir pun saya basuhkan perlahan..
Sambil mengucap istighfar..
Duhai Yang Maha Pengasih, saya rindu, sungguh..

Dan saat kembali saya mengucapkan ayat itu saat saya dekapkan tangan saya pada pelukan dada,
“Arrahmani arraheem | Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”
Saya merasa bersyukur..
Allah masih mengingat saya, meski saya telah melupakanNya, lagi..

Perlu bukti apa lagi?
Apalagi, dhee?
Sejauh apapun kita pergi, sekencang apapun kita berlari, selama apapun kita meninggalkannya,
Allah tetap menunggu, dan menerima kita untuk kembali..
Karena Ia Maha Penyayang..
Perlu bukti apalagi?

Dan saya pun mengetikkan, “soal doa ya?”
Percakapan itu pun seakan menjadi pengingat buat saya..
Perbaiki lagi wudhu nya, dhee
Resapi lagi setiap aliran yang menyentuh tubuh..
Mohon agar aliran tersebut ikut membasuh semua dosa..
Agar doa menjadi lebih syahdu, karena kita memohon dalam keadaan rendah hati..

Percakapan itu pengingat buat saya, bahwa saya sungguh teramat beruntung
Saya mempunyai sahabat dalam iman..
Yang senantiasa membawa saya di jalanNya..
Menyayangi saya dengan kasih sayangNya..
Untuk terus menerus mengucap “Lillah” pada tiap yang saya lakukan..

Seorang sahabat pun baru saja kemarin mengutarakan,
“Ga kebayang ya, dhee.. Kalau ga ada teman yang mengingatkan..
Ga ada sahabat, lingkungan yang mengembalikan niat kita untuk Allah..
Setiap minggu tidak ada siraman rohani, hanya bersenangsenang”

Saya pun tidak berani membayangkan kehilangan supporting system yang saya punya sekarang
Lingkaran persaudaraan dalam iman..
Meski saya sadar, kita tak bisa sepenuhnya bersandar pada makhlukNya
Tak sepenuhnya bisa bergantung untuk selalu diingatkan pada saudara dan teman,
Karena di suatu waktu, satu per satu dari mereka pasti akan pergi..
Oleh karenanya, saya hanya bisa berdoa, untuk selalu dilindungiNya
Untuk selalu diberikan kesempatan untuk mengingatnya
Untuk selalu dilimpahkan kasihsayangNya
Untuk terus menerus diberikan dan dijaga dalam lingkaran yang tak terputus
Jika yang satu hilang, akan selalu ada yang menggantikan..


Karena memang hanya padaNya tempat kita bersandar, sedangkan sahabat dan lingkaran tersebut hanyalah perantara kasihNya

Boleh saya mengutip satu kalimat dari blog seorang teman?
menjadi istimewa itu sederhana, yaitu saat ada yang mengingatmu dalam doa

Jadi teman, sahabat, kawan, saudara..
Bolehkan saya mengingat kalian dalam doa saya?
Karena setiap kalian istimewa, setidaknya di hati saya.. Yeah, you are..
*peluk jauh satu per satu*

asumsi

you’ve made an assumption..
you think i’ve done something..
but you didn’t ask,
you didn’t talk
and yet, you said you can not forgive me..
well, news updated for you, i’m gonne be the one who will never forgive you..
-said Alex to Izzie, Greys’s Anatomy, Season 6-

asumsi..
seberapa sering kita membuat asumsi dan berakhir pada suatu kondisi yang lebih buruk dari asumsi yang kita buat

pernah di suatu waktu, seorang teman berkata, “Menurut aku, orang percaya apa yang mau mereka percaya. Kalo kamu bilang kamu ga mau liat FB nya karena kamu mau percaya sama dia, artinya, kamu mau percaya apa yang mau kamu percaya. Padahal kalo beneran kamu percaya sama dia, no matter apa yang ada di FB nya, ga bakal ngaruh sama kepercayaan kamu ke dia donk?”

hew..
mutermuter sih kalimatnya
but i get what she meant at the time

Kadang memang, kita percaya hanya pada apa yang ingin kita percaya
no matter kondisi yang sebenarnya seperti apa
kita sepertinya menutup mata, telinga dan hati untuk hal-hal yang di luar kepercayaan kita

Sama halnya dengan perkataan seorang teman,
yang terbiasa hidup cukup, lebih malah..
dia bilang, kalau ada tawaran untuk ikut bakti sosial, ke panti asuhan, ke tempat kumuh, dia pasti akan ikut, tapi hanya sekedar memberikan dana. Untuk terjun langsung dia tak sanggup. Karena takut tidak kuat akan realita bahwa memang ada yang hidup seadanya. Pakai baju seadanya.
Dia bilang, dia tidak tega mengetahui ada yang hidup dalam keadaan seperti itu..

hew..
bener khan
berapa banyak dari kita yang pakai kacamata kuda
hanya ingin melihat apa yang kita ingin lihat
hanya ingin mendengar apa yang ingin kita dengar

kalau untuk menjaga diri, hati, iman, itu sih musti yaaa
tapi untuk menjadi apatis, tidak peduli akan kejadian sekitar, atau sekedar tidak mau capek berpikir untuk merubah keadaan menjadi lebih baik, bisa menuntun pada kesiasiaan, bukan yah?
*ngomong sama kaca*

eh, kok jadi ngelantur ke sini arah tulisan ini yah..
perasaan tadi niatnya bukan mau ke sini deh..
mwahahahaha..

saya sadar kok, keputusan saya dua bulan lalu pun berdasarkan asumsi
dan itu bukan hal yang baik, saya mahfum..
tapi walau bagaimanapun saya tidak menyesal
meski banyak yang bilang saya terlalu keras, kaku, dan tidak fleksibel..
tapi jika hal tersebut menyangkut sesuatu yang buat saya sangat prinsipal, saya tidak bisa bertoleransi..

saya jahat, memang
dengan tidak mendengarkan penjelasan beliau lebih lanjut sebelum saya mengambil keputusan sepihak..
egois, tidak adil, you named it, i’d admitted it..

tapi saya akan berusaha, untuk menjadikan keputusan itu keputusan yang terbaik
dengan tidak menyesalinya
dengan tidak hidup dibayang2 kata, “what if”
dengan memaafkannya, juga memaafkan diri saya sendiri..
dengan selalu berdoa, agar lain kali,
jika saya harus membuat asumsi, agar menjadi asumsi yang baik
berdasarkan prasangka baik..

Allah pun tahu, saya sedang berusaha..
Dengan ijinNya.. InsyaAllah..

perihal Sahabat dan perihal Hati..


Allah itu Maha Pencemburu kan, Diet? Itu yang aku sadar.. Ketika kita terlalu mencintai sesuatu yang bisa membuat kita melupakan untuk mencintaiNya, maka hal itu bukan hal baik lah pastinya

Ayu mengatakan ini di suatu malam minggu di Semanggi
Setelah kami selesai menonton Last Night, membahas film tersebut, juga film The Skin I Lived In yang Ayu tonton di DVD, kemudian membahas tentang hubungan saya dengan si mbul kala itu yang Ayu analogikan dengan keadaan dia dengan seseorang di masa lalu

Dot, you’re wasting your time, and i know that you already know that. Detoksifikasi dari sesuatu yang membuat kita merasa teracuni itu penting. Ga mudah, cenderung susah malah. I’ve been there and you know how i was back then. Kita ga bisa terima masukan dan nasihat dari siapapun kan? Makanya, minta bantuan dan kekuatan sama Yang Punya Dunia.. Minta diberikan kekuatan hati untuk detoksnya. Petunjuk untuk segera diselesaikan masalah. And remember, I’m here if you need me

Ima said that, di saat hati ini benarbenar tidak kuat menghadapi si mbul.
Saat butuh menjaga jarak dari rindu akan bersama dia, di saat saya tahu sudah dan sedang membuangbuang waktu dan hati jika meneruskan untuk berhubungan dengannya.

Tapi itu adalah episode masa lalu..
Saya sudah berusaha menyelesaikan permasalahan saya dengan si mbul..
Mungkin tidak sepenuhnya dia terima dengan keputusan saya yang menjauh dari dia.
But what can i do?
I have to..


Worrying is part of the process. U do have the right. N dia pikir hal yang sama kan? He told u. Means he admits u’ve right to know n respects it. Belip me, sampe merit pun susah sembuh ko yang namanya insecure.hehehe

Kamu ragu kenapa, Diet? Di saat kita menuju kepada niat yang baik seperti pernikahan, setan tidak akan berhenti membuat kita ragu agar niat baik itu tidak terlaksana. Bukannya tadinya kamu yakin mau mencoba? Kamu kencengin lagi ibadahnya yaaa. Jika kamu ragu saat ibadah sedang lemah, maka keraguan itu datangnya dari syaitan.. Tapi jika kamu ragu saat kamu sedang giat beribadah dan sedang merasa dekat denganNya, maka itu adalah petunjuk.. Sholat malam dan istikharahnya masih jalan khan?

Whuaa, jangaaaan.. Kamu harus belajar percaya. Bener deh, ga bakal maju2 kalo ga gitu. Akan gini2 aja kalo kita sendiri masih ketakutan atau ragu terus. Jangan ragu lagi yaa

Ima, mba Ika, dan Ayu said that, di episode yang lain lagi..
Di saat rasa ragu semakin membesar tentang seseorang yang datang menawarkan mimpi kepada saya
Dan memang, saya merasa ibadah saya, terutama sunnah sedang kurangkurangnya..
Sedang lalailalai nya..


Eh, bukannya lo dulu pernah bilang ya mau kerja ga jauhjauh dr orangtua. Orangtua dah sepuh, pengennya kapanpun beliau butuh anakanaknya bisa dengan cepet dateng.

Dot, gue inget dulu lo pernah bilang mo pake cara yang benar buat dpt yg benar

Kedua kalimat di atas adalah pertanyaan Bagja saat saya cerita mengenai perpindahan kerja saya ke Kalimantan, dan ketika saya menyebut kata pacar untuk doping antibosen nya
Believe me, Bang.. When you said those lines, it does sounds like gue menjilat ludah sendiri.. And i owe you a huge thanks for that..

Juga terngiang petuah Puti saat beliau sedang mereparasi gigi depan yang patah karena menabrak karang kemaren..
Boleh jadi dia memang serius.. Tapi inget ya, Maaak.. Dijaga.. Jaga diri dan hati.. Pokoknya jangan lepasin hatinya sebelum ijab ya, Maak..

I have to go back pada tujuan dan prinsip yang dulu saya tekankan pada diri sendiri.

Bahwa kebahagiaan Ibu adalah segalanya.. Jauh di atas mimpimimpi saya sendiri..
Untungnya untuk yang satu ini beliau benarbenar sudah memberikan restu untuk saya berangkat ke Kalimantan..

Juga bahwa kembali pada jalur dan koridor yang benar dalam mencari pasangan bisa membuat saya merasa lebih secure dan mantap

Nah.. mungkin ini yang membuat saya masih krisis pede hingga saat ini,
Masih merasa tidak yakin..
Tidak yakin bahwa ada yang benarbenar berniat baik
Ragu akan keyakinan beliau terhadap mimpi dan masa depan yang katanya mau dibangun dengan saya

Kamu udah sholat minta petunjuk?, tanya ayu
Sudah, jawab saya..
Tapi belum datang keyakinan itu, nampaknya masih kurang..
Allah sedang menguji saya..
Sampai seberapa banyak saya mau terseokseok mendekat kepadaNya
Dan yaa, kembali saya sadar, saya memang sedang pelit sekali beribadah..

Lalu tema kultum dan kajian hari ini..
Tentang Ukhuwah.. juga tentang Hati..
Seakan kembali mengingatkan kondisi hati saya saat ini..

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa y
ang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
(Q.S 64:11)

gambar dari sini


Hati yang sehat akan lebih mudah mendapatkan petunjuk
Dan apakah yang bisa menyebabkan hati menjadi tidak sehat alias sakit, dan bahkan menuju mati?

* kemaksiatan
Jika kita terus melakukan kemaksiatan, titiktitik hitam akan selalu mengotori hati. Dan jika tidak dibersihkan dengan istighfar dan taubat, maka hati akan menjadi semakin sakit, dan semakin sulit menerima petunjuk

* dusta
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.(Q.S 2:10)
Entah itu kebohongan kecil atau pun besar. Kebohongan “putih” atau murni kebohongan..
Dusta selalu akan mengotori hati

Lalu.. kemaksiatan dan dusta apa yang telah menjadi penyakit hati saya?
Banyak pastinya..
Entah saya sadari atau tidak..
Kemaksiatan dan dusta pada orang lain ataupun terhadap diri sendiri..
Perbuatan lalim terhadap makhluk lain atau pun diri sendiri..
Juga kemaksiatan dan dusta padaNya..
Saya terlampau sering melalaikanNya.. dusta kepada janjijanji saya padaNya..

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Q.S 45:23)

Mungkinkah saya sedang mendewakan hawa nafsu saat ini?
Na’udzubillahi mindzalik..

Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.(Q.S 43:36)

Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (Q.S 17:72)

Saya tidak mau menjadi sahabat karibnya setan.. Saya tidak mau menjadikan hati saya buta dan kemudian tersesat..

Jadi, jika sekarang ditanya apakah saya sudah merasa yakin akan beliau yang di ujung sana?
Atau saya harus berbelok tegas mengatakan tidak dan kembali berkeras untuk menempuh cara yang dulu saya inginkan?

Entah, saya belum bisa menjawabnya sekarang..
Yang saya bisa katakan, saya harus membersihkan hati saya..
Saya perlu menyembuhkannya dari hal-hal yang bisa menjadikan titiktitik hitamnnya kian menggerogoti hati saya..

Janji kami di khalaqah tadi, bahwa setiap harinya, kami harus selalu berusaha:
* sholat tepat waktu
* tidak berdusta
* dzikir yang diwujudkan dengan tilawah minimal 3 lembar
* bersyukur untuk setidaknya satu hal setiap harinya
sedikit banyak insyaAllah bisa membantu saya untuk menyembuhkan hati saya…

Dan sungguh, saya bersyukur karena selalu mempunyai sahabat yang selalu mengingatkan saya untuk kembali padaNya
Love you, mates.. Like, a lot..
Jazakillah khairan katsiraa..
Allah mencintai kalian lebih dariku..
*peluk*

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.S 3:103)