Yang tak mudah diceritakan (kembali)

Suddenly i stumbled upon a book in Goodreads.

This book: https://www.goodreads.com/book/show/13409193-unforgettable

Membaca review buku itu membuatku berpikir, kira-kira kisah apa yang belum mampu saya ceritakan kembali tanpa sesak?

Mengutip paragraf teralhir review saya:

suatu saat,
saya akan sanggup bercerita tentang masa lalu seperti perempuan yang duduk di samping jendela itu..
dengan ringan saya akan berkata bahwa masa lalu itu menjadi moment yang ingin saya simpan dalam kaset untuk diputar kembali..
tanpa sesak..

suatu saat,
pasti..”

 

 

 

Saya akui, sebelum menikah, saya punya banyak kisah dengan para lelaki. Kisah yang meski tidak pernah berakhir bahagia, tapi setidaknya saya bisa menceritakan atau mengenang kembali, tanpa harus dikuasai sesak.

Terkadang, memang ada sesak, tapi biasanya hanya sesaat, bukan yang sampai mengambil alih hari saya untuk kemudian berantakan. Karena saya menyadari, apa yang saya miliki sekarang jauh lebih berharga untuk saya kemudian tenggelam dalam kenangan-kenangan melankolis tersebut.

Lalu saya melihat tanggal dibuatnya review buku itu. Dan saya ingat, buku itu saya bawa ketika menuju Kalimantan Selatan, tempat saya memulai pekerjaan baru. Meninggalkan lingkungan yang sudah empat setengah tahun saya akrabi. Juga meninggalkan kisah tentang seseroang yang sehari sebelum keberangkatan membuat saya menyesali kebodohan diri sendiri.

Ya, saya tahu sekarang kenapa saya tidak bisa menangis karena keputusan saya sehari sebelum keberangkatan itu. Sampai sekarang saya pun tidak bisa menangis. Padahal, bagi saya menangis itu salah satu bentuk pemulihan. Baru saya mengerti sekarang. Secara tidak langsung, alam bawah sadar saya tidak mau membodohi diri sendiri dengan membiarkan air mata saya jatuh untuk dia.

Dia satu-satunya yang membuat saya merasa bodoh. Sebodoh-bodohnya.

Dan saya tahu mengapa sampai sekarang saya enggan menyebut namanya.

Tak mampu mengatakan bahwa dia termasuk dari sekian banyak pria yang pernah singgah di hati saya.

Karena saya rasa, saya tidak benar-benar membiarkannya masuk. Saya hanya membiarkan diri saya dibodohi. Saya membiarkan diri saya percaya. Namun saya tidak rela mengatakan bahwa saya pernah memberikan hati saya padanya.

 

Tidak.

 

Bukan hati yang saya berikan.

Namun rasa percaya.

Mungkin, itu yang membuat saya tak bisa menceritakannya kembali tanpak sesak dan mungkin amarah.

Entah sampai kapan.

Mungkin tidak akan pernah.

Saya rasa itu pun tidak terlalu penting sekarang.