Tentang sebuah etika

Saya pernah membaca salah satu tweet dari teman yang bilang kalau dia kagum akan seorang akhwat, yang meminta izin padanya untuk berbicara dengan suami teman saya itu.
Padahal, si akhwat ini tidak mengenal teman saya itu.

Sebelum saya ikut khalaqah, saya pun sedikit menjaga percakapan dengan teman laki-laki yang sudah menikah. Akan jarang sekali saya bercakap (by phone or text message), terutama di malam hari. Karena saya pikir, malam hari adalah waktu pasutri itu untuk berkomunikasi setelah seharian terpisah karena pekerjaan.

phone_17

Dan di khalaqah pun memang diajarkan seperti itu. Disarankan untuk menjaga hubungan dengan lawan jenis yang sudah menikah (terlepas kita sendiri sudah menikah atau belum). Utamakan percakapan yang penting, pilih waktu yang tidak mengganggu waktu keluarga, dan jaga perasaan pasangan sang teman/rekan.
Hal ini bisa dilakukan dengan permisi atau minta izin terlebih dahulu pada sang istri untuk memulai percakapan dengan teman pria tersebut.

Ya, sepanjang yang saya tahu ya seperti itu etikanya.
Terutama jika kita mengenal kedua belah pihak dengan dekat, sang istri maupun sang suami.

Sekarang, ketika saya sudah menjadi istri, saya tahu betapa etika tersebut sesungguhnya benar-benar menjaga keharmonisan keluarga 🙂

Mungkin standarnya berbeda di tiap orang, tapi saya berusaha menjaga standar yang berbeda tersebut untuk mencari aman menjaga perasaan para pasangan teman-teman pria saya. Mudah-mudahan sih belum pernah ada kejadian istri yang cemburu karena saya bercakap-cakap dengan suaminya, yah?
Hehehehe