buka pakai apa?

Pukul 18.16, 1 Ramadhan 1434 H

Ma’cut, istri dari Mas Sigit, kakak ketiga saya, mengirimkan pesan via Line,
Selamat berbuka puasa, mba.. Mba Buka pake apa?”

Selamat berbuka puasa jugaaa.. Teh manis sama kue lumpur, plus gorengan. Hehehehe.. Di rumah buka pake apa?”

Ibu buat batagor sama es rumput laut. Yummi..

es-buah-rumput-laut-1

*ngiler*

Waaakz… batagooor… Enaknyooo..

Iya, ibu ngomongin mba.. Buka pake apa ya mba didit… Hehehehe..

*mewek*

#edisibukapuasapertamadirumahsuamijauhdariemak

pic from http://inginsekalisehatt.wordpress.com

Terkunci!

Kemarin adalah hari pertama saya tinggal di rumah suami.
Sebetulnya, mulai minggu sore saya sudah berada di sana, tapi saya dan suami sibuk berbelanja dan bebenah untuk keperluan di dalam kamar.

Minggu malam pun beberapa teman mengajak kumpul di Chick’a Pow di daerah Rawa Belong, the food and beverages-nya enak lho by the way.

Pulang dari kuliner tersebut sudah pukul 11 malam. Lampu sudah dimatikan dan pintu rumah sudah dikunci.
Saya sempat memperhatikan kalau suami memegang copy kunci rumah, sempat terpikir juga untuk bertanya pada beliau kalau saya ingin copy kunci itu juga.
Tapi hal itu saya lewatkan begitu saja karena sudah sangat mengantuk.

Seninnya, kami berdua sudah kembali bekerja.

Suami pun mengatakan akan pulang malam karena ada acara ulang tahun kantornya.

Berarti saya pulang sendiri dari kantor Palmerah ke Kembangan.

Sebelumnya, si Mbul memang sudah menunjukkan perempatan Srengseng tempat saya harus turun dari M.11

Lalu dia menunjukkan tempat saya harus menunggu angkot berikutnya.

“Kamu tunggu di situ aja, nyebrang dikit si M11nya, karena B10 nya datang dari arah sana, M48 nya datang dari situ, kadang ada kopaja 85 juga. Semua lewat komplek. Dan semua lewat yang komplek rumah ya lewat sini.”

Saya mengangguk, berharap memori saya yang pendek tidak mengacaukan visualisasi saat saya memang harus naik angkot pulang nanti.

Turun dari M11, saya yakin saya turun di lajur yang benar.
Kemudian saya kebingungan, trus nunggu angkotnya di mana yah?

Saya lihat m48 ngetem di samping kanan, lalu B10 dari arah seberang menuju tempat saya berdiri.

Untuk meyakinkan, saya bertanya pada pemilik warung terdekat.
“B10 yang ke arah Kembangan yang mana ya, Bu?”
“Ya di sini, neng.”

Okesip, berarti saya berada di tempat yang benar.
Karena tidak mau menunggu lama, saya memilih menaiki B10.

Beberapa waktu perjalanan, saya mulai cemas..
Kok ndak ada fly over-nya yah?
Ranch Market-nya mana?

Lho.. perempatan Puri Indahnya kok ndak muncul-muncul?
Saya salah arah kah?

Ketika melihat plang nama jalan bertuliskan “H. Lebar” saya pun mahfum kalau benar-benar telah salah arah.
“Bang, komplek keuangan kembangan udah lewat yah?”
“Yaaaah, neng.. Salah arah..”

Saya pun langsung turun (serta bayar, tentunya) dan langsung menyeberang, kebetulan ada B10 lewat serta merta saya melompat naik.

Ok, berarti saya menunggu di tempat yang salah tadi.
Noted lah buat besok naik angkot lagi.

Tidak memerlukan waktu lebih dari 15 menit untuk sampai di depan cafe wa’ucup kebanggaan si Mbul.

Adzan berkumandang dari Masjid Al Muthmainah.. Saya pun bergegas berjalan menuju rumah.
Sampai di rumah, pintu pagar depan saya buka.
Lalu menuju pintu samping.
Jegrek
Pintunya dikunci
Saya berpindah ke pintu depan
Jegrek
Dikunci juga

Saya ketuk kamar ibu yang ada di samping pintu depan.
Tidak ada jawaban.
Saya telepon ke dalam rumah.
Terdengar deringan, tapi tetap tidak ada jawaban.

Ngadu ke si mbul yang kemudian memberitahukan letak kunci rahasia.
Nihil, kunci tidak ada di tempat
Saya telepon rumah lagi, tetap tak terjawab

5 menit
10 menit
15 menit

Saya lihat Path dan Mas Arief, ipar saya baru saja memberikan emot “gasped” di status kesasaran saya tadi.
Saya pun langsung mengirimkan PM
“Mas Arief, pintu depan dikunci, aku gak ada yang bukain.”

20080502003119_lockedpic http://ekgme.blogspot.com/2012/05/lockedlearnedlaughed.html

Selang satu dua menit, Mas Arief, Mba Dewi, Aya, dan Ibu pun membuka pintu.
Ternyata mereka sedang shalat Maghrib di kamar masing-masing, hingga ketukan pintu tak terdengar..

Kami pun duduk ngobrol dan saya ceritakan mengenai proses menyasar sampai ke Jl. H. Lebar..

“Ya ampun, tante Didiet kayak lagi diospek..”

Nyasar dan terkunci.
Pengalaman hari pertama di rumah mertua.
Demikian.