Rasa McDonald’s, dahulu dan kini

Ketika menyantap makan siang saya di rumah hari ini,
Entah mengapa saya teringat suatu cerita ketika saya SMP.
Waktu itu keadaan keluarga sedang susahsusahnya.
Untuk bayaran sekolah pun beberapa kali harus tertunda.

Di SMP saya ada kegiatan atletik rutin yang wajib kami ikuti di Velodrome, Rawamangun.
Letaknya yang tepat di depan Arion Mall menjadikan kegiatan tersebut ajang kumpul-kumpul.
Tapi saya sering kali melewatkan acara itu.
Untuk membayar biaya masuk atletik dan ongkos bis saja saya musti pelan-pelan meminta kepada ibu saya.
Apalagi meminta tambahan untuk duduk mengobrol di McDonald’s yang ketika itu hits berat dengan burger dan kentang gorengnya.

Hingga suatu saat saya mendengar banyak teman mencemooh karena saya jarang kumpul.
Kata nya saya sombong, saya gak gaul, saya pilih-pilih teman karena saya pulang bersama teman lain yang cukup puas dengan membeli siomay atau batagor gerobak yang kemudian dikemas di dalam plastik dan memakannya dalam bis perjalanan pulang.

Saya lalu memberanikan diri meminta uang jajan lebih yang kemudian disambut sengit oleh ibu saya.
Sejujurnya saya mengerti kesulitan ibu, tapi saat itu ego anak-anak saya muncul begitu kuat.
Saya menangis meraung-raung.

Bapak yang tidak tega lalu memberikan saya uang jajan yang lebih dari biasanya.
Tapi tidak dengan cumacuma.
Beliau memberikannya seraya mengajak saya berbicara.

Ada beberapa teman kamu yang begitu beruntung punya uang dan kekayaannya sehingga mereka bisa membeli apa saja.
Dan kamu tidak perlu iri sama mereka.
Apa pun yang mereka katakan, yang mereka punya bukan sesungguhnya kepunyaan mereka.
Itu hasil jerih payah orangtuanya.
Sekarang kamu bapak kasih uang biar nanti, ketika kamu bisa membeli makanan di restoran seperti yang sekarang kamu beli, dengan jerih payah kamu sendiri nanti nya, kamu bisa membandingkan.
Rasa makanan yang kamu beli dengan uang kamu sendiri nanti, akan jauh lebih nikmat dibanding yang kamu beli sekarang.”

IMG_20120608_201122

Alhamdulillah saya sudah bisa berkalikali membeli burger dan berbagai menu di McDonald’s.
Dan juga beragam menu di restoran lainnya.

Dengan uang jerih payah saya sendiri..

Benar saja apa kata Bapak, rasa nya memang lebih nikmat.
Alhamdulillah..

Aku Gemuk! Hurray!

Satu bulan ini saya benar-benar merasa kesulitan bergerak di dalam beberapa pasang jeans yang saya punya.
Seriously, i’ve gain my weight.
And that should be the thing i am grateful of.
Berapa tahun coba saya mencoba menaikkan berat badan saya tapi selalu mentok di angka 42 kg.. Hufft..

Bukannya kenapakenapa ya, sebagian orang mungkin bilang saya beruntung karena banyak yang pengen kurus mati2an menjaga makanan dan berolahraga membakar kalori, tapi saya? Sebanyak apa pun saya makan, sepertinya semua lancar terbuang kembali tak bersisa di badan saya.
Nah, yang saya rasakan dengan tubuh setipis triplek seringan kerupuk itu ya saya mudah sekali sakit, flu lah, masuk angin lah, migrain lah (yang belakangan saya ketahui kalau penyebabnya adalah kolesterol tinggi! nah! ini salah satu kerugian mempunyai badan dengan efisiensi tinggi. Badan kurus jadi makan apa aja gak ada pantangan, tauk tauk kolesterol aja.. hih..)

Sekitar 7 tahun setelah saya lulus kuliah, saya berhasil menembus angka 40 kg di timbangan badan saya.
Tapi ya itu.. hanya seputaran 42, 43 mentok yaa 45 kg..
Usaha keras saya dengan makan banyak terkuras dalam ritme pekerjaan yang subhanallah, dinamis banget (baca: gedabrukan).
Belum lagi, kebanyakan merasakan patah hati (#eh) juga saya pikir menyumbang sebagian besar alasan mengapa saya susah gemuk.

Hingga pada akhir tahun lalu, saya memutuskan untuk resign. Alasan utama nya memang karena lokasi yang di rimba pertambangan Kalimantan. Tapi alasan tersembunyinya adalah saya sudah tidak kuat, sungguh.. Menjalani tipe pekerjaan yang saya geluti selama tujuh tahun terakhir itu sungguh melelahkan. Lahir dan batin.

Kerja mana ada yang gak melelahkan sih, Dhee?

Yup, itu yang banyak orang katakan.
But then again, kalau sudah sampai merusak hati saya yang bersih ini (siapsiap dikemplang yang baca blog), saya meyerahlah..
Saya harus melindungi hati saya dari perasaan negative.
Jika tidak sanggup saya lakukan dengan beristighfar, wudhu, artinya memang saya harus pergi dari lingkungan tersebut, bukan?

Dan dimulailah empat bulan keluntanglantungan saya.
The choice are either i hang out or be a potato couch, watching tv or read some books.
Makanan yang masuk tidak banyak dikeluarkan kembali dalam bentuk perang batin, putar2 pikiran, maupun gerakan badan yang dinamis dari gudang ke gudang.. hehehehe..

Ditambah lagi, ada seseorang yang selain membuat hati saya mulai berbahagia (ahiyr), tapi juga rutin nyentil kalo sakit gara-gara makan telat jangan ngeluh.

Dikarenakan timbangan di rumah sedang rusak, saya tidak paham benar berapa kg yang sudah bertambah. Tapi dari ketidaknyamanan tubuh bagian pinggang ke bawah saya saat memakai jeans, celana panjang bahan, dan bahkan saat memakai rok, saya pun mahfum kalau berat badan saya benar-benar naik.

Saya putuskan untuk membeli jeans baru. Dengan merk yang sama, saya menemukan kenyamanan dalam balutan no 30 dimana sebelumnya saya bernomorkan 27.
Ah, yang benar saja saudara.. dalam waktu empat bulan?

Dan lucu nya lagi, sedari dulu, saya mengukur pertambahan berat badan saya hanya dengan melihat bagian bawah tubuh saya. Eh tapi ternyata, dua hari belakangan saya menatap cermin dan menemukan lengan atas pun mulai tampak kekar.. ahahahahaha

PicsArt_1371178125002

Dan kini saya banting setir ke sebuah pekerjaan yang memang saya impikan.
Apalagi lokasi yang dekat dengan rumah mas nya *uhuk*.
Sayah jadi mantap mengatakan iyah saat offering itu datang ke hadapan.

Sudah lebih dari tiga minggu saya di sini.
Saya makin merasa perlu membeli jeans baru..
Dengan ukuran no 31 kalau perlu.

Ahahahaha..

Lebih parahnya lagi, mas nya bilang kenapa gak sekalian beli jeans dengan pinggang karet, sekalian buat hamil nanti *uhuk*.

Yang Kuhirup

untitled

pic source

mengejar hujan, tangan kanannya memutar gas sekali lagi
membiarkanku mendekap aroma tubuhnya yang dihembuskan angin
berbaur dengan harum rintik hujan yang pelan menyapa tanah basah
jadi ini kah, wangi yang akan aku hirup seumur hidupku nanti?