Menanti Senja

Merasakan kedinginan menyelimuti kulitku sama seperti hatiku yang sudah membeku. Dasar bajingan, kamu pikir kamu itu siapa? Aku lelah menunggu tapi hatiku tak mau kalau bukan kamu. Sialan, coba saja hati ini sama warasnya dengan pikiranku.

Aku sakit dengan rasa rindu yang terus memuncak. Aku ingin bersama kamu. Ingin memeluk, mencium hingga tertawa bersama kamu lagi. Tapi sial dengan takdir. Kenapa kamu harus pergi? Meninggalkan semua kenangan yang tak bisa aku hapus. Aku tak boleh lemah, aku kuat. Tapi kenapa setiap aku mengingatmu membuatku lemah. Aku tak suka. Benar-benar tak suka. Seperti saat aku benci meminum obat padahal obat merupakan pengobat saat aku sakit. Yah, seperti itu. Aku tak bisa memilih pilihan yang lain.

Senja kembali mengiringi ratapan piluku. Ahh, senja yang indah tapi tak seindah hatiku kini. Aku ingat, kamu sangat menyukai senja, seperti kisah kita. Di mulai ketika senja datang dan berakhir ketika senja mulai memudar. Tapi sekali lagi, aku selalu melihat senja datang. Berharap kamu akan datang kembali.

Senja, selalu datang di esok hari, tapi tidak denganmu. Pada tiap gurat jingga yang senja paparkan padaku, tak kudapati senyum maupun sapa mesra darimu. Atau sekadar lintas tatap matamu.

Satui December 150.1

Seperti kala itu, aku menanti senja di titik nol kota Jogja. Yang tengah ramai dengan dengung Sekaten dalam antusiasme rakyatnya. Sesekali aku pergoki muda-mudi yang hilir mudik, mesra. Ah, harap agar kamu datang dan menanti senja bersamaku kali ini langsung membumbung tinggi. Tempat dimana cinta berpesta pora bagiakan sarang bagimu, yang selalu menarik untuk mendekat dan kembali.

Hingga senja pamit lalu bulan menempati tahtanya, kamu tak datang. Layaknya tugu kecil tempatku bersandar, aku kembali ke titik nol penantian.

Ahhh, aku ingat ketika kamu mengajakku berburu senja. Kamu menculikku ketika aku pulang kerja. Ketika itu kamu menginginkan melihat senja di pantai kuta, Bali. Lucunya, kau sudah siap dengan segala berlengkapan menginap sedangkan aku hanya membawa tas kerjaku.

Kau bersikeras bahwa saat itu kita harus pergi ke Bali. Menikmati senja yang indah. Tanpa banyak kalimat, kau lagi-lagi berhasil menculikku dan lagi-lagi aku harus membeli pakaian. Semenjak saat itu, aku selalu menyiapkan pakaian di dalam tas tanganku. Karena aku ingin menemanimu memburu senja.

Tetapi senja yang mempunyai kenangan adalah senja di pantai Lovina. Kita menanti senja di sebuah sampan di tengah laut. Penantian itu tak sia-sia karena senja begitu indah. Sinarnya kekuningan bercampur merah dan oranye. Langit seakan tersenyum menampilkan warna warna ungu. Iya, ungu warna kesukaanku. Seketika itu kau mengabadikannya melalui kamera Canonmu. Bukan hanya senja itu yang kau foto tetapi aku. Dengan latar senja.

Setiap kali aku bertanya kenapa kau memfotoku berlatarkan senja. Kau akan selalu menjawab karena aku adalah senja yang termanis dalam hidupmu.

Hey, kamu.

Kemana saja kah senja kau buru setelah meninggalkanku? Untuk membuktikan pada dirimu sendiri, bahwa memang tak ada senja yang lebih manis dariku.

Tanpa sadar, aku pun tertular memburunya. Untuk meyakinkan diriku sendiri, bahwa kau tak mungkin temukan senja yang lebih manis dariku. Maka tas ku masih selalu berisi pakaian. Untuk berjaga jika tiba-tiba ada senja yang memanggilku untuk dinikmati.

Nyaris putus asa, aku kembali ke Lovina. Karena senja demi senja aku temui, makin cantik ia semburatkan cakrawala. Makin manis ia menoleh pada rembulan untuk menggantikannya. Dan melihat senja Lovina lagi, bagaikan sebuah manifest untukku. Terus memburu senja dan kamu? Atau mencukupkan diri lalu lelap tenggelam pada redupnya bulan.

Ah, Lovina lagi.

Sekali lagi aku menyingahi pantai ini. Yah, pantai Lovina. Pantai perburuan awal dan akhir kita. Dulu, kita terombang – ambing di sebuah perahu sanpan hanya menanti senja itu hadir. Saat ini, aku menanti senja itu di bibir pantai. Kau pasti tertawa mengetahui bahwa aku ingin sekali menaiki perahu itu lagi, bukan sendiri tapi bersamamu.

Kau tahu bahwa aku tak bisa menaiki perahu itu sendiri. Trauma masa laluku yang tak memungkinkan aku untuk pergi sendiri. Hanya bersamamu aku berani. Seperti biasa kau membawaku ketika menaiki perahu itu. Mengenggam eratku, tersenyum seraya berunjar “Kau akan baik-baik saja karena ada aku”

Aku kangen dan merinduimu. Air mata ini tak pernah bisa bertahan cukup lama ketika menginggatmu. Kenangan, penantianku, semua yang aku rasakan tak pernah bisa bertahan. Aku harap kau datang menjemputku atau menculikku kembali. Aku tidak akan protes.

Senja, aku berharap kau tetap bertahan beberapa lama lagi. Biar aku bisa menanti cinta itu datang. Tanganku ini tak menggengam tanganmu tetapi dada ini yang begitu merindumu.

“Seperti biasa, kau selalu mudah ditemukan. Aku tak mengetahui bahwa kau menyukai senja padahal dulu kau selalu mengeluh”. Sebuah suara dibelakangku. Tersentak, kaget dan tenang. Tanpa kalimat yang sudah berada dikepalaku tapi tak bisa aku ucapkan. Aku memeluknya dengan erat.

Terima kasih senja 🙂

***

A Week of Collaboration

Theme: Penantian

Partner: Delisa, find her amazing writings at http://elfe-melody.blogspot.com

Advertisements

4 thoughts on “Menanti Senja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s