Gradiasi

210446804301

Selepas hujan akan ada pelangi, katanya
Selepas malam akan ada pagi, biasanya
Aku tak tenggelam di satu waktu
Yang memayungi dengan satu warna langit, biru

Biru.
Kamu bilang, meski langit berselimutkan awan yang berarak,
ia tetap menghias dasar hati, dengan biru.
Hingga damai tetap tinggal, meski riak mengguncang.

Luruh,
ya, ada yang meluruh dalam damai.
Mengunci resah agar tak membuat semangat patah-patah.
Mengemas kelu agar suka membelit selalu.

Ada yang mengikat erat rindu.
Menyatukan asa dan saling memburu.
Lalu menyisipkan doa-doa di antaranya.
Menggeliat bahagia saat saling bertatap mata.

Rindu,
Kamu bilang ia kadang berwarna kelabu.
Lalu menguning kala ia malu.
Pada asa yang tersimpan ragu.
Lalu meletup kala bertemu.
Meretas kala degup jantung terdengar
pada pancaran mata yang saling bertatap.

Lalu menjadi hijau.
Sejuk tanpa syarat.
Hanya jemari yang pelan bertaut,
lewat senyum yang sulit untuk langu.

Hei, sergahmu
Apa lagi yang kamu ragukan
tentang senyum, tawa dan segala rasa yang mengikatnya?

Mungkin aku memilih memenjarai hati dalam belenggu luka
yang terbuat dari rasa tidak percayaku sendiri?

Lalu, kamu anggap semesta ini gubahan siapa?
Tak ada yang perlu dirutuki dalam setiap lekuknya.

Luka, ragu, dan belenggu rendah diri,
masih dapat ku cipratkan merah, jingga, ungu.
Agar ia tetap dapat membara, bergairah
dan lantang menatap dunia.

Kecuali ku biarkan hatiku terpuruk,
Lebih dalam lagi.
Maka tak ayal hitam akan terus menemani.

Lalu, kemana pergi sang tawakkal?
Janji yang diucapkan ruh pada raga yang berupa janin berumur empat bulan.

Kemana perginya iman?
Yang memegang teguh prasangka baik padaNya

Mereka lengah pada kenikmatan,
ujarmu

Boleh kau pilih warna langit hari ini.
Namun tak jua ia menjadi seperti yang kau mau, itu katamu.
Bahkan ia sendiri tak akan mampu memilih warna untuk dirinya sendiri.
Merelakan apa pun yang tersemat padanya.

Begitu pula kita.
Meski mengingini warna tertentu menghias kita,
Tak selalu lah bisa didapat.

Maka, tak perlu murka.
Akan ada tawa di setiap akhirnya,
Hei, janji Tuhan tak ada yang ingkar, ingatmu

DiciptakanNya warna,
Agar kau berpikir pada tiap spektrumnya.
Untuk kau resapi tiap cahayanya.
Jelajahi tiap gradiasinya.

Karena tiap alihan satu warna pada berikutnya,
terselip sapaNya.
Ia masih mengingatmu.
Bersyukur adalah tindakan yang paling tepat, bukan?

Karena hidup, kapan saja, bisa,
terenggut..

***

A Week of Collaboration

Theme: Tawa

Partner:  1. Poem with Wulan Martina, find her amazing writings at http://lunastory.wordpress.com

2. Pic courtersy of Frans Nasution, find his amazing pictures at instagram id: @frans_nasution

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s