Tiga Bungkus Nasi

 

Teguh menggeret karung berisi hasil buruannya hingga sore ini. Beberapa botol plastik bekas dan potongan kain sisa konveksi diharapkan bisa membelikannya sebungkus nasi malam ini. Syukur kalau bisa sampai dua bungkus sehingga ia dan Ciput bisa mendamaikan genderang di perut mereka masing-masing.

 

Antrean masih panjang, ada sekitar enam orang pemulung lain yang berada di depannya. Masing-masing dengan wajah penuh harap, bahwa apapun yang mereka bawa sore ini mampu mengganjal lapar sehari-dua hari ke depan. Teguh memegang dadanya yang terbalut kaos kumal, erat. Ia semakin terlatih menghiraukan nyeri yang dirasa bagai jarum-jarum kecil menusuk.

 

“Bang, tissue Ciput akhir-akhir ini gak ada yang beli ya? Padahal udah pasang muka melas. Siapa tahu kan yang lihat jadi kasihan dan beli tissue Ciput. Tapi makin hari makin sepi aja. Ciput makin sering laper, Bang. Kan cuma Abang yang bawa nasi bungkusnya.”

 

“Gak apa-apa Put, yang penting kita masih bisa makan. Nasi bungkus yang Abang bawa kan bisa kita makan berdua. Jangan dipasang lagi muka melasnya ya, ngga baik mengharapkan iba dari orang lain.” jawab Teguh dengan ketenangan yang memilukan.

 

Udara kian lama kian bertambah dingin. Dinginnya menambah nyeri yang dirasakan oleh Teguh. Sesekali dia terbatuk dan menarik nafas pelan. Kondisi seperti ini yang setiap hari mesti dia alami, walau dia tahu bahwa raga yang menopang jiwanya mulai tak kuat menahan beban. Hanya saja dia memang harus terus berjuang, kalau tidak siapa lagi orang yang akan menolongnya. Bahkan untuk sesuap nasi dia tak ingin meminta. Kedua kaki dan tangan juga otaknya masih dapat digunakan untuk mencari cara bagaimana mempertahankan hidupnya yang begitu susah. Kesulitan yang tak berkesudahan telah melatihnya menjadi sosok yang kuat dan taat.

 

“Oi, Guh.. Dapet banyak lo hari ini? Udah dibilangin ikut gue aja ngamen. Masih aja ngotot mulung lo. Kalo ngamen tuh lo bisa dapet banyak. Apalagi pas bengek begini. Tambah tampang sangar gue dijamin dah banyak yang ngasih. Gak percaya sih lo, ah!” Boi menepuk pundak Teguh, kasar. Kemudian dihembusnya asap rokok pada wajah bocah berumur sebelas tahun itu. Teguh pun semakin terbatuk keras.

 

Ia tak pernah menyukai lagak tengil Boi. Seakan tato pada sekujur lengan kanannya membuat dia preman remaja tangggung yang paling keren searea Prumpung. Cara Boi mengamen yang cenderung kasar dan memaksa juga tak pernah ia setujui. Sama saja dengan mengemis. Dan itu adalah satu-satunya hal yang dihindari Teguh demi menjaga amanat Ayah.

 

 

“Sesusah apapun keadaannya, Nak, jangan pernah kamu mengemis, meminta. Mboten pareng. Ora elok. Gusti Allah lebih suka tangan yang berada di atas dibandingkan yang di bawah.” ujar ayahnya saat Teguh menemani di tempat pengolahan sampah.

 

“Tangan di atas itu maksudnya gimana, yah? Apa seperti mandor Juki waktu diserbu Pak Polisi?” tanya Teguh, polos. “Bukan, Nak. Tapi itu artinya memberi. Karena saat memberi, tangan kamu akan berada di atas. Yang artinya doa kamu untuk ditempatkan pada posisi atas dalam golongan umat Allah juga pasti lebih didengar.”

 

Teguh terdiam mengingat kata-kata Ayah tiga tahun silam. Tepat sebulan sebelum ayah ditemukan terkapar di samping rel kereta dekat persimpangan Pisangan. Dengan isi kepala yang terurai.

 

Ia lalu beringsut menjauhkan diri dari Boi, bukan hanya karena ingin menghindari bau asap yang disemburkan Boi tetapi juga karena ia tak kuat mencium aroma minuman keras yang keluar dari mulut Boi.

 

“Gak ah, Boi. Hasil memulung ini pun udah cukup buat membeli nasi bungkus.”

 

Boi yang memang berlagak seperti preman itu malah membodoh-bodohi Teguh. “Nasi bungkus yang lo beli itu pun gak cukup, tolol! Tuh si Ciput gak pernah dapat apa-apa, lo mau kasih dia makan apa?”

 

Teguh mengalihkan pandangan ke Ciput. Iya, Ciput memang jarang sekali membawa hasil dari asongan tissuenya sehingga dia hampir tak pernah bisa membeli makan. Bahkan hal itu terjadi hampir setiap hari. Mereka berdua memang sudah menyadari keterbatasan penghasilan yang mereka dapatkan namun tetap tidak membuat mereka kemudian memilih pekerjaan seperti yang dikerjakan Boi. Tak mengapa buat mereka saling berbagi hasil yang didapatkan asal tidak menjadi orang yang mengharapkan belas kasih orang lain.

 

Masih tidak menghiraukan ocehan Boi, Teguh maju perlahan. Giliran menukar isi karungnya tiba. Penuh harap ia bayangkan dua bungkus nasi yang akan dinikmatinya bersama Ciput.

 

“Bang, lampu merahnya rame! Ciput jualan dulu yah. Serbuuuu!!” Ciput berlari riang dengan senyuman menyeringai. Adiknya yang berumur 7 tahun itu jarang sekali mengeluh. Hanya pertanyaan polos yang sering diajukan tentang perilaku orang-orang jalanan di sekitar mereka. Mau tak mau Teguh pun ikut tersenyum melihat semangat adiknya.

 

“Lumayan juga bawaan lo hari ini, Guh. Ngider dimana kemana aje lo nemu banyak potongan kaen begini. Nih buat lo bawa pulang hari ini. Potong sepuluh ribu yak buat setoran ke mandor.” Teguh menerima tiga lembar uang limaribuan lusuh. Alhamdulillah. Bukan cuma dua bungkus yang bisa dibeli.

 

Tapi ada sisa juga yang bisa disimpan apabila sewaktu-waktu potongan kain yang dicari tidak banyak ia dapatkan. Segera Teguh pergi meninggalkan tempat Bang Yogi. Ia ingin segera membeli nasi untuknya dan Ciput. Semoga malam ini pun Ciput membawa hasil asongannya agar dapat menambah syukur atas rejeki yang mereka berdua dapatkan. Bahkan kalau memang perlu, Teguh akan mengajak pulang saja Ciput ke gubuk mereka berdua di bawah jembatan di sudut kota dan tak meneruskan usahanya menjajakan tissue di lampu merah.

 

Teguh sebenarnya merasa tak tega pada adiknya itu namun ia pun tak bisa melarang Ciput untuk membantunya bekerja. Apalagi udara dingin dan gelap malam hari ini tak biasanya terjadi. Mungkin karena baru saja hujan disepanjang hari ini.

 

Tegap ia langkahkan kaki nya ke warung Mak Iyah. Sebungkus nasi dengan sayur daun singkong serta ikan teri sambal untuknya, lalu sayur sop dan telor dadar untuk Ciput dipesannya sambil memikirkan jalur memulungnya esok hari. Ia harus sering melewati deretan industri kecil dan ilegal di samping rel kereta itu untuk mendapatkan hasil yang serupa hari ini.

IMG_20120605_131508

Oh ya, tidak lupa, Ciput akan diajaknya ke panti jompo untuk menemui Pak Ajo. Sudah dua minggu lebih mereka tidak menjenguk orang tua itu. Ya, semenjak hasil jualan tissur Ciput menurun. Teman dekat ayah itu sudah bertahun-tahun tidak dikunjungi sanak keluarganya. Anak-anaknya menelantarkannya di panti jompo tanpa menjenguknya kembali. Ayah mengenalnya ketika Pak Ajo menyusup keluar panti karena bosan dan mengajak ayah mengobrol setelah dilihatnya Ayah memisahkan sampah di masing-masing karungnya agar rapih.

 

Pak Ajo sudah seperti pengganti ayah bagi mereka. Rasa menyenangkan dan bahagia terpancar setiap kali mereka mengunjungi lelaki yang sebenarnya masih terlihat segar itu.

 

Ada saja yang mereka kerjakan ketika waktu mempertemukan mereka. Saling bercerita apa yang telah masing-masing mereka lakukan. Ciput paling senang jika Pak Ajo mulai bercerita berbagai macam dongeng. Mungkin, karena Ciput masih terlalu kecil sehingga dia begitu menyukai kisah-kisah yang diperdengarkan lelaki pengganti Ayah mereka.

 

Ada senyuman, ada tawa membahana, ada canda yang saling mereka lontarkan. Tak ada sedikitpun keluhan atau rengekan kesedihan diantara mereka. Mereka hanya saling menyalurkan bahagia.

 

Teguh merindukan itu semua. Sumber bahagia yang dapat ia bagi bersama adiknya.

 

Memikirkan Pak Ajo membuat Teguh memesan satu bungkus nasi tambahan. Biarlah hasil hari ini berkurang, melihat beliau dengan lahap menyantap nasi kuah santan dengan perkedel kentang kesukaannya sudah membuat Teguh dan Ciput merasa senang.

 

Tiga bungkus nasi sudah selesai disiapkan Mak Iyah. Dengan riang, Teguh melangkah keluar, menyusul Ciput yang masih menjaja tissue di lampu merah. Rasa senang memenuhi dadanya, seakan menutupi sesak dan nyeri yang dideritanya. Teguh bagaikan lupa akan anjuran Pak Ajo untuk memeriksakan sakit di dadanya ke dokter di panti. Vonis penyakit bukanlah sesuatu yang ia dan Ciput butuhkan dalam keadaan ini.

 

“Put, Cipuuut! Siniiii.. Nasi nya udah siap nih. Kita sekalian makan bareng di tempat Pak Ajo yuuk. ” Teguh melambaikan kantong nasi bungkusnya pada adiknya. Ciput pun menoleh dan lekas mengambil ancang-ancang untuk berlari menuju kakaknya. Terburu-buru, kotak tisu yang dijajakannya terbentur kaca spion mobil yang tengah menanti lampu merah. Isi nya lalu jatuh berserakan di jalan, sedangkan lampu lalu lintas sudah berganti menjadi hijau. Panik, Ciput mencoba mengumpulkan satu persatu tissuenya tanpa menghiraukan bahaya dari kendaraan yang melintas.

 

Melihat bahaya yang mengincar adiknya, Teguh berlari melintasi rel kereta. Tanpa sadar bahwa palang pintu kereta akan menutup kedua jalurnya. Commuter Line arah Bekasi-Kota itu pun melaju kencang. Dan meninggalkan persimpangan beserta tubuh Teguh yang terkapar.

 

Persis di lokasi Ayahnya terbujur kaku, tiga tahun yang lalu. Ciput menjerit. Teguh sempat melihat adiknya menangis kencang. Lalu melirik sekilas pada tangannya yang berada di atas bungkus nasi yang remuk terlindas rel. Lalu kemudian ia lihat senyum Ayahnya, berganti dengan senyum Pak Ajo. Lalu dadanya terasa semakin nyeri dan sesak. Masih dalam keadaan terkapar, tangannya mencoba melambai pada Ciput yang masih menangis kencang.

 

Lalu semuanya hilang, gelap.

 

***

A Week of Collaboration

Theme: Gelap

Partner: Indah Lestari find her amazing writtings at http://akunulis.wordpress.com/

 

Advertisements

Mengikat Damai

1351774860-picsay

 

 

Sudah lebih dari setengah jam Ara terjebak di tengah kemacetan Tol JORr Simatupang. Semacam lelah bercampur kesal demi mengingat kerja kerasnya hari ini agar bisa pulang lebih cepat dari biasanya. Hujan tak pelak menjadi sasaran umpatannya di belakang setir.

Ara membayangkan kepulan nasi hangat dan sayur sop yang di siapkan ibu di rumah. Ya, hari ini ia putuskan untuk pulang ke rumah, bukan ke kamar seluas 5×6 m2 yang disewanya di dekat kantor. Tatapan hangat ibu, satu hal yang ia butuhkan hari ini.

Ara memilih fokus pada suara penyiar di radio. Cukup menghibur. Mereka tak membicarakan jalanan yang macet, peristiwa kriminal, pun peliknya perpolitikan negeri ini. Sesekali sempat mengembang senyum di sudut bibirnya.

Tetiba ringtone berlantun lagu Mother dari Adhitya Sofyan mengambil alih pendengarannya. Ara menatap layar smartphone miliknya. Bibirnya kembali melengkung ke bawah. Membaca nama pemanggil sudah cukup membuatnya malas. Apalagi untuk menjawab telepon darinya. Benar-benar tak diinginkan Ara. Ia sudah bosan membicarakan hal-hal yang tanpa muara. Tak ada solusi, malah menambah kesal. Pekerjaannya tak justru terbantu. Posisinya di kantor pun makin rumit.

“Kamu tahu kan, ada beberapa tempat yang sudah disiapkan manajemen buat kamu, Ra. Potensi kamu sudah berada dalam lampu sorot sejak skandal Pak Ismed terungkap oleh kamu. Kami menilai kamu mampu mengganti entah Bu Sherly atau Pak Rudi setelah mereka pensiun tahun ini.” Ara teringat pembicaraan kemarin sore, saat appraisal di ruangan si bos. “Tapi kalau memang ada gelagat kamu akan meneruskan satu hubungan dengan karyawan kantor ini, mau gak mau ya kami khawatir, Ra. Yang punya potensi besar kan kamu, jelas kamu yang lebih mudah mencari pekerjaan lain di luar.”

Ara terkesiap saat Pak Helmi mengucapkan kalimat demi kalimat itu. Darimana datangnya ide beliau mengenai hubungan pribadi Ara? Karena sampai sekarang, dirinya dan Adhit tidak pernah membicarakan apapun mengenai yang terjadi di antara mereka. Sosok dan sikap Adhit kepadanya masih terlalu gelap untuk diraba maksud dan tujannnya.

Deru klakson dari kendaraan lain membuyarkan lamunan Ara. Nissan Juke putih itu pun kembali berada di bawah kendalinya. Perlahan, yang penting bergerak memecah padat kendaraan yang menghampar. Seperti yang ia inginkan saat ini, memecah masalah yang sedang memenuhi kepalanya.

Kadang Ara ingin mengakhiri saja semuanya dengan cara pergi. Sayangnya, ia sangat mencintai pekerjaan yang saat ini menjadi tanggung jawabnya. Pun sebenarnya ia tak mencari materi. Ia benar ingin mengabdi. Namun persaingan adalah manusiawi. Bahkan tak ayal mereka mengatasnamakan pertautan hati sebagai sumber masalahnya.

Jarum jam telah menunjuk ke angka delapan ketika Ara sampai di rumah. Langit gelap berteman dengan gerimis kecil menyambut kedatangan Ara. “Ibu sudah siapkan air hangat untukmu, Ara. Mandilah dulu, nanti kita makan bersama” sambut ibu setelah Ara memberikan salam selamat datang dan sebentar berbincang.

Ada yang ibu khawatirkan dari tatapan lelah Ara. Ibu tahu betul, Ara tak akan sekesal itu jika masalah yang dihadapinya hanya sepele.

“Bu, besok Ara cuti. Ajarin Ara masak ikan peda ya, Bu.” ujarnya sembari meniup kepulan nasi panas dan tempe goreng sambal. Tangannya kemudian menyendok sayur sop ke dalam mangkok di depannya. Ara tidak memperhatikan tangan Ibu yang menggenggam satu amplop cokelat.

“Kamu cuti apa, Ra? Tumben.. Bukannya minggu ini justru minggu sibuk? Awal bulan biasanya kamu ribut sama report.” Ibu menyendokkan tambahan nasi ke piring Ara yang nyaris tandas isinya. Kemudian dibelainya rambut putri sulungnya, lembut. “Berlari dari masalah itu ndak baik, Nduk. Kamu harus terus berusaha menyelesaikannya. Menghindar hanya akan membuat masalahnya lebih rumit dari yang ada.” Ara tak menghentikan mulutnya yang sedang mengunyah, meski perlahan air mata mulai meninggalkan sarangnya. “Ara bukan lari, Bu. Hanya berusaha menepi. Mungkin akan mendapatkan pandangan yang lebih jernih dan luas dari tepian. Berada di dalam lingkaran rasanya semakin sesak.”

Ara tampak sangat menikmati menu yang saat ini ada di hadapannya. Menu yang sangat ia rindukan. Sesekali ia bercakap menanyakan kabar adik-adiknya yang beranjak dewasa. Apalagi si bungsu, tahun ini ia lulus SMA. Ibu bercerita dengan selingan tawa-tawa kecil. “Adikmu itu lagi banyak penggemar. Banyak cewek-cewek yang suka main kesini, tapi dia masih juga pemalu.” Ara menganga, “Ngapain cewek-cewek pada dateng?” “Belajar bareng katanya,” ibu menambahkan kuah sop ke piring Ara. Ara mengikik nyaris nasi yang ada di mulutnya berhamburan keluar. Ara benar-benar menikmati segala cerita sebagai penjamu rindunya.

Suapan terakhir usai. Segelas air putih sudah menjadi penutupnya pula. Ibu menghela nafas. Ia menggenggam tangan Ara. “Nduk, apa yang sebenarnya terjadi? Ceritakan sama ibu.”

Ara terdiam. Ia yakin ibu akan mengetahui hal ini juga. “Tak biasanya ada kiriman surat dari kantormu ke rumah ini. Jujur, ibu tak berani membukanya,” ibu menyerahkan amplop coklat yang sejak tadi digenggamnya.

DEG! Ara perlahan membuka amplop itu. Berlarian lagi ingatannya tentang pembicaraannya dengan Pak Helmi waktu itu. Tangannya menjadi sedikit gemetar dan berangsur dingin.

“Pak Ismed mengajukan banding atas kasusnya, Ra. Ada kabar kalau beliau akan mengajukan bukti baru, dan sayangnya bukti tersebut menyeret nama kamu.” Hela nafas Pak Helmi terdengar sangat berat. Keputusan atas posisi Ara, tangan kanannya, telah ditetapkan manajemen semenjak surat banding dari Pengadilan datang. Ara harus dirumahkan secepatnya.

“Kami berpikir sebaiknya kamu fokus menghadapi kasus ini. Manajemen akan mendukung kamu, jangan takut. Tim pengacara kantor juga akan mendampingi kamu. Adhit juga siap membantu untuk mengumpulkan kembali bukti-bukti yang memberatkan Pak Ismed.”

Adhit?

Dua hari yang lalu, Adhit bilang akan mengambil cuti panjangnya. Meninggalkan Ara ditengah kericuhan limpahan pekerjaan yang ditinggalkan Pak Ismed. Itu saja sudah cukup membuat Ara kesal. Sekarang Adhit mau membantu? Omong kosong apalagi ini?

Ara lelah menafsirkan apa pun tentang perkara itu. Ia telah memasrahkan semuanya. Biarlah semua bukti yang berbicara. Setidaknya Ara bisa menguatkan hati saat kembali bersaksi. Bagaimana pun sakitnya, saat ini berada di dekat ibu dan adik-adiknya adalah takdir terbaik.

Malam semakin pekat. Rinai hujan pun semakin rekat. Namun, sunyi tetaplah tak bisa menyamarkan derit pagar rumah Ara. Ara mengendap menuju ruang tamu, membuka sedikit gordyn untuk melihat siapa yang datang.

Ara mengerjap-kerjapkan matanya. Ia kenal betul dengan sosok yang datang. Ya, dialah Adhit. Untuk apa ia datang malam-malam begini? Ara bergumam.

Ketukan pintu memecah sunyi. Ara mengatur nafas dan debaran jantungnya. Memastikan mimik mukanya tak terlihat cemas ketika pintu sudah terbuka.

“Malam Ra,” sapa Adit dengan suara berat yang menjadi khasnya. Ara mempersilakan Adhit duduk. Pembicaraan serius mengalir setelah Ara menghidangkan secangkir teh hangat untuk Adhit.

Tak berapa lama, keduanya menghela nafas panjang. Adhit menatap jauh ke dalam mata Ara. Ara, perempuan tegas yang diyakini Adhit memiliki pendirian yang kuat. Ia sangat yakin, segala pernyataan Ara adalah apa adanya.

Namun, bisa terlihat dari tatapan Ara, ada kesal yang ia tunjukkan kepada Adhit. Juga karena perilaku Adhit yang cukup membingungkan Ara.

Seperti tahu apa yang sedang Ara pikirkan, Adhit mencoba menepikan kalut yang dirasakan Ara. “Aku setuju dengan semua pendapatmu, untuk mengungkapkan semua hal secara rinci tentang kejadian itu. Tapi, ada satu hal yang ingin aku minta darimu,” Adhit kemudian menyesap teh yang sudah tinggal setengah. “Apa itu?” Ara penasaran.

“Bisakah kau berdamai dengan dirimu sendiri, tentang aku?” Adhit mencoba menyembunyikan kikuknya. “Maksud kamu?” Ara mengernyit. “Ada batas yang membuat kamu tak bisa mengungkap semuanya kepadaku. Aku tahu ada tembok yang sangat tinggi yang tengah kamu bangun,” jelas Adhit.

Ara bergeming. Benarlah adanya yang dikatakan Adhit. Kasus ini tak kunjung selesai karena Ara masih menutup diri dari Adhit. Ia tak ingin Adhit menjadi pahlawan baginya. Hatinya masih terlalu angkuh untuk mengakui betapa penting keberadaan Adhit baginya.

Ya, ia lah yang harus berdamai dengn dirinya sendiri dahulu. Barulah ia bisa mengungkap semua peristiwa yang ada. Melepaskan semua beban yang selama ini melilitnya. Biar saja, setiap rasa menemukan muaranya. Biar saja setiap ingin menemukan damainya.

 

***

A Week of Collaboration

Theme: Damai

Partner: Wulan Martina , find her amazing writings at http://lunastory.wordpress.com

Gradiasi

210446804301

Selepas hujan akan ada pelangi, katanya
Selepas malam akan ada pagi, biasanya
Aku tak tenggelam di satu waktu
Yang memayungi dengan satu warna langit, biru

Biru.
Kamu bilang, meski langit berselimutkan awan yang berarak,
ia tetap menghias dasar hati, dengan biru.
Hingga damai tetap tinggal, meski riak mengguncang.

Luruh,
ya, ada yang meluruh dalam damai.
Mengunci resah agar tak membuat semangat patah-patah.
Mengemas kelu agar suka membelit selalu.

Ada yang mengikat erat rindu.
Menyatukan asa dan saling memburu.
Lalu menyisipkan doa-doa di antaranya.
Menggeliat bahagia saat saling bertatap mata.

Rindu,
Kamu bilang ia kadang berwarna kelabu.
Lalu menguning kala ia malu.
Pada asa yang tersimpan ragu.
Lalu meletup kala bertemu.
Meretas kala degup jantung terdengar
pada pancaran mata yang saling bertatap.

Lalu menjadi hijau.
Sejuk tanpa syarat.
Hanya jemari yang pelan bertaut,
lewat senyum yang sulit untuk langu.

Hei, sergahmu
Apa lagi yang kamu ragukan
tentang senyum, tawa dan segala rasa yang mengikatnya?

Mungkin aku memilih memenjarai hati dalam belenggu luka
yang terbuat dari rasa tidak percayaku sendiri?

Lalu, kamu anggap semesta ini gubahan siapa?
Tak ada yang perlu dirutuki dalam setiap lekuknya.

Luka, ragu, dan belenggu rendah diri,
masih dapat ku cipratkan merah, jingga, ungu.
Agar ia tetap dapat membara, bergairah
dan lantang menatap dunia.

Kecuali ku biarkan hatiku terpuruk,
Lebih dalam lagi.
Maka tak ayal hitam akan terus menemani.

Lalu, kemana pergi sang tawakkal?
Janji yang diucapkan ruh pada raga yang berupa janin berumur empat bulan.

Kemana perginya iman?
Yang memegang teguh prasangka baik padaNya

Mereka lengah pada kenikmatan,
ujarmu

Boleh kau pilih warna langit hari ini.
Namun tak jua ia menjadi seperti yang kau mau, itu katamu.
Bahkan ia sendiri tak akan mampu memilih warna untuk dirinya sendiri.
Merelakan apa pun yang tersemat padanya.

Begitu pula kita.
Meski mengingini warna tertentu menghias kita,
Tak selalu lah bisa didapat.

Maka, tak perlu murka.
Akan ada tawa di setiap akhirnya,
Hei, janji Tuhan tak ada yang ingkar, ingatmu

DiciptakanNya warna,
Agar kau berpikir pada tiap spektrumnya.
Untuk kau resapi tiap cahayanya.
Jelajahi tiap gradiasinya.

Karena tiap alihan satu warna pada berikutnya,
terselip sapaNya.
Ia masih mengingatmu.
Bersyukur adalah tindakan yang paling tepat, bukan?

Karena hidup, kapan saja, bisa,
terenggut..

***

A Week of Collaboration

Theme: Tawa

Partner:  1. Poem with Wulan Martina, find her amazing writings at http://lunastory.wordpress.com

2. Pic courtersy of Frans Nasution, find his amazing pictures at instagram id: @frans_nasution