rindu di ujung cakrawala

1355929665896

Terhimpit dalam ruang penuh bincang,
Tabur aksara membentuk sebuah nama,
memenuhi udara,
berdengung menabuh gendang telinga,
Gaduh..

Kemudian perlahan merasuk,
Pelan..
Mengisi kedua ruang paruparu..
Sedikit,
demi..
Sedikit.
Sesak tak mampu,
bernafas..

Berlari,
menyibak pintu yang terkunci rapat..
Kencang, terus..
Berlari..
Hingga lelah,
Peluh pun tak sempat mengalir,
lacur ia mengering, di ujung setapak,
pada luasnya samudera..

Biar lepas,
Biar menguap,
Biar terdengar oleh semesta,
dan cakrawala menyampaikan kata lirih,
terbisik..

Bapak, aku rindu..

 ***

Second #colaboration of amazing picture by @frans_nasution and poem by me..

Untuk unggah bersama @instanusantara @instanusantarajakarta

#inub126 #instanusantara #instanusantaraLandscape

Ibu, sesederhana itu..

1355917719458

 

Aku tergugu di ujung fajar,
menatapnya bersendagurau dengan pagi.
Jemarinya memilin daun kehidupan,
bagi tiap tunas yang tercipta dari benih kasihnya.
Ruas jarinya kasar bergariskan luka berpola,
gambaran cerita tentang buah hati nya yang menutup garis tipis lukisan dirinya.
Dan tak sekalipun lukaluka itu kuhapus dengan belaian terimakasih.

Aku masih tergugu.
Silau oleh spektrum pada binar mata yang menyala, kala dipandangnya sulir pada pembungkus bekal penerus kisahnya.
Tak redup dengan segala keluh kesah,
jeritan tuntutan,
tangisan pinta,
bahkan caci
dari tiap bibir pusat doa nya.
Dan bisa terhitung aku selipkan nama nya dalam pusaran harap pada Nya.

Aku semakin tergugu.
kala ia bangkit menyongsong matahari yang makin tinggi.
Ringkih segala sendi nya bergerak,
menuju satu tujuan,
Lengkung kebahagiaan pada wajahwajah yang meniru raut kharismanya.
dan nyeri di tiap syaraf nya pun sirna.
Sesederhana itu.

 

***

First colaboration with picture of @frans_nasution and poem by me..

Untuk unggah bersama @instanusantara

#inub125

#instanusantaraPalingIndonesia
#instanusantaraIbuIndonesia
#instanusantaraHI

After (Setelah Malam Itu)

Afterby Amy Efaw (Author), Nina Andiana (Translator)

Mass Market Paperback, 456 pages
Published September 2011 by Gramedia Pustaka Utama
didn't like it it was ok liked it really liked it (my current rating) it was amazing

Bukan mengenai kalah atau menang, tapi mengakui kesalahan, itu yang terpenting

Tumbuh dalam keluarga yang tidak normal, hanya mengenal seorang Ibu
Tanpa Ayah, nenek dan kerabat lain membuat Devon Sky Davenport paham bahwa kehidupan yang dijalani Ibu nya bukanlah kehidupan yang ingin dijadikan masa depan bagi nya.

Maka Devon membangun pagar
Yang dia atur sedemikian tinggi
Hingga sulit untuk dilewati, dipanjat, dirubuhkan
Oleh Coach Mark, Mrs Evans, Kait,
Terlebih oleh ibu nya,
dan bahkan oleh diri nya sendiri..

Devon mengisolasi diri nya
Bukan hanya Setelah Malam Itu, malam ketika dia merasa gagal
Gagal untuk menghindar dari menjadi sosok seperti ibu nya
Malam ketika semuanya bermula

Ketika benak manusia mampu untuk tidak mengakui sama sekali mengenai sesuatu yang sebenarnya sungguhsungguh terjadi dan merupakan suatu bentuk mekanisme pertahanan diri.

dr. Bacon pun mencoba menelaah benak Devon,
Nampak seperti pola luka salingsilang, sebagian sudah lama dan berwarna putih, lainnya lebih baru dan dalam berbagai spektrum pink atau merah. seperti pola pada retakan di langitlangit pertemuan. Menunjukkan tekanan yang diterima bangunan tersebut. – hal.228.

Mencari penyangkalan di dalam pola tersebut..
Juga Dom, pengacara yang ditunjuk membantu Devon kala tak ayal Devon berada dalam sel penjara dengan pikiran yang diliputi sejuta kebingungan dan hati hampa yang penuh dengan kesendirian.

Butuh waktu yang lama untuk Devon belajar membuka diri
Menyingkap selimut isolasi untuk menyadari,
Bahwa ketika kau tidak banyak bicara, bukan berarti orangorang tidak menyadari keberadanmu. Bahwa yang pendiamlah yang paling banyak menarik perhatian. Ada pusaran konstan gerakan dan suara di sekitar dengan si pendiam sebagai pusatnya. -Hal. 296.

Bahwa sendirian itu tidak pernah baik, sehingga ia harus membuka celah kecil, agar ibunya dapat melangkah lebih dekat setelah dijauhkan sedemikian rupa dari hak untuk membuat keputusan yang baik baginya.

Untuk yakin, bahwa dirinya bukan hanya sekedar kejadian di Malam itu, atau pula di Pagi itu. Kala kehadiran ITU menjadikannya sangat panik. Basahnya kemeja di daerah seputaran dada yang mengencang dan berbau asam laktat.

Tidak, bukan hanya sekedar itu.

Butuh lebih dari sekedar keberanian untuk dapat menang..
Meski pada akhirnya, bukan lagi perkara menang atau kalah yang melegakan hati..
Tapi mengaku pada diri sendiri, memaafkan diri sendiri, tidak ada orang yang sempurna..
Tidak ada rencana yang berjalan sempurna..

Nobody, nothing is..