Life in a Refrigerator Door (Kehidupan di Pintu Kulkas)

Kehidupan di Pintu Kulkas
by Alice Kuipers, Rosi L. Simamora (Translator)

Berapa kali saya merasa jengkel karena Emak?
Sering!

Berapa kali saya mengacuhkan Emak karena bosan mendengarkan keluhan beliau?
Sering!

Berapa kali saya merasa tidak mendengarkan nasihat beliau?
Sering!

Berapa kali saya membuat Emak jengkel karena tidak menyentuh masakan yang sudah susah payah beliau siapkan untuk saya?
Sering!

Berapa kali saya membuat Emak menarik nafas panjang untuk setiap perselisihan pendapat yang selalu berakhir dengan terdiamnya beliau karena kekeraskepalaan saya?
Sering!

Sungguh, hubungan saya dengan Emak tidak selalu menyenangkan..
Banyak konflik yang membuat saya kadang ingin tinggal di rumah kos saja daripada pusing berhadapan dengan beliau..

Tapi sekarang, saat saya bekerja di seberang pulau..
Saya kangen combro buatan Emak
Saya merindu bau asam tubuhnya yang terlelap lelah setelah seharian mengurusi rumah..
Saya menyesal telah membuat beliau terdiam
Saya iri melihat beliau bercerita kepada orang lain alihalih kepada saya

Bahkan ketika adik saya sakit, saya tidak mengetahui apapun
Saat beliau menginginkan satu alat kesehatan, beliau menabung dari uang bulanan, bukan meminta khusus kepada saya

Ah, Emak..
Sebegitu sulitnya ya, mempunyai anak seperti saya?
Hingga kerut pada wajah Emak senantiasa bertambah demi memikirkan kehidupan anakanaknya..
Sendiri, tanpa Bapak yang sudah pergi lima tahun lalu

Dan berapa kali saya mengatakan saya menyayangi Emak?
Berapa kali saya memeluk nya dan mengucapkan terimakasih atas semua yang sudah beliau lakukan untuk saya?
Berapa kali saya menyebut beliau dalam doa saya?

*sigh*

Tuhan, saya tidak tahu berapa lama lagi waktu yang diberikan bagi saya dan Emak untuk bisa bersama-sama..
Tapi saya mohon, bisa kah saya diberikan kesempatan untuk membahagiakan beliau?
Untuk membuat nya tersenyum ketika mengetahui saya sudah sembuh dari patah hati dan mampu jatuh cinta lagi..
Untuk membuatnya merasa tenang dengan menitipkan saya pada imam saya nanti?

Nah, lihat kan?
Dua permohonan di atas masih saja mengenai saya, bukan kebahagiaan yang murni untuk beliau..

Saya ulangi, yaa Tuhan..
Berikan saya kesempatan untuk benarbenar melukiskan senyum pada wajah Emak, yang penuh dengan kerut kebijaksanaan..
Berikan ia cukup kesehatan dalam menikmati sisa hidupnya..
Berikan ia cukup keleluasaan dalam merasakan cinta dan kasihMu..
dan jika memungkinkan, Tuhan.. Ijinkan saya mengantar beliau menuju rumahMu..
Membawa nya melihat Ka’bah dan Masjid Nabawi..
Menangis bersama menikmati keagunganMu, Yaa Rabb..

Lindungi saya dari kesempatan menyakiti hati beliau lagi..
Dan jangan biarkan beliau pergi tanpa mengetahui bahwa saya, anak yang sungguh terlampau sering menyusahkannya, sangat sungguh mencintainya..
Sungguh..

***
Makasih ya, Kak Mute..
Melihat buku ini di tengah kumpulan buku di lemari Petrik dan Kakak saat jagain Bebeh Khansa yang lagi bobok..
Langsung tertarik mau baca

Kehidupan Claire, 15 tahun, dan ibu nya yang seorang dokter..
Dilalui dengan pesanpesan yang terkadang singkat terkadang panjang

Miris, memang..
Tidak percaya kalau mereka yang tinggal serumah jarang berbicara langsung dan alihalih menggunakan pesan di depan pintu kulkas..

Tapi, coba kita lihat lagi..
Mungkin kita sering melakukannya dengan orangorang terdekat kita..

Bahkan saat mereka sedang membutuhkan kita
Seperti saat Claire yang membutuhkan Mom untuk membantu nya melewati masa krisis remaja
Juga saat Mom membutuhkan Claire membantu nya melewati perjuangan melawan kanker payudara..

Ah, Claire Bear.. Mom..
Terimakasih..
Telah mengingatkan saya, sekali lagi, tentang betapa berharga nya waktu bersama Emak..

Emak, i love you..
This much..
Yes, this much till the world can not afford to handle
🙂
Jangan pergi dulu ya, Mak..
Jangan sebelum senyum itu benarbenar terlukis di wajah Emak..
Ku mohon..

Advertisements

2 thoughts on “Life in a Refrigerator Door (Kehidupan di Pintu Kulkas)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s