Tentang Doa

Suatu hari, seseorang pernah bertanya tentang Doa

“Seperti apakah doa yang diniatkan untuk Allah?
Agar tidak lagi mengutamakan diri sendiri?
Haduh, pertanyaan yang saya pikir sangat tidak tepat dilontarkan pada saya
Apa yang saya tau tentang Doa?

Doa, yang seringkali sering saya tinggalkan karena kesombongan..
Hingga saya pun seakan lupa akan cara berdoa, lagi!
Lalu menjadi linglung menjawab pertanyaan tersebut..

Buat saya, doa adalah ketika saya berbicara denganNya

Ketika hati saya mengingatNya
Ketika bibir ini mengucap satu dari sekian namaNya
Ketika saya meminta, dan saya tahu, tiada yang dapat dipinta kecuali hanya padaNya..

Malam sebelumnya, seorang sahabat bercerita tentang runtunan kejadian yang mengakibatkan dia mendapatkan memar dan lebam
Saya terkejut karena sepertinya saya tertinggal berita tentang kecelakaan yang menimpanya
Dan tepat diujung cerita nya yang mengerikan, dia berkata,
“Allah sayang banget sama aku ya, Dit.. Masih diingatkan dengan berbagai cobaan. Aku ikhlas deh..
Apa sih yang nggak buat Allah, ya Dit?”

By the time she said that, i wanna jump and run through her place and gave her a hug
It was my words, but she was the one who take it in to the heart..
Saya merasa malu.. Sungguh

Maka, demi menjawab pertanyaan pagi itu, saya bergegas menuju musholla..
Saya rindu, yaa Allah..
Lalu air yang mengalir pun saya basuhkan perlahan..
Sambil mengucap istighfar..
Duhai Yang Maha Pengasih, saya rindu, sungguh..

Dan saat kembali saya mengucapkan ayat itu saat saya dekapkan tangan saya pada pelukan dada,
“Arrahmani arraheem | Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”
Saya merasa bersyukur..
Allah masih mengingat saya, meski saya telah melupakanNya, lagi..

Perlu bukti apa lagi?
Apalagi, dhee?
Sejauh apapun kita pergi, sekencang apapun kita berlari, selama apapun kita meninggalkannya,
Allah tetap menunggu, dan menerima kita untuk kembali..
Karena Ia Maha Penyayang..
Perlu bukti apalagi?

Dan saya pun mengetikkan, “soal doa ya?”
Percakapan itu pun seakan menjadi pengingat buat saya..
Perbaiki lagi wudhu nya, dhee
Resapi lagi setiap aliran yang menyentuh tubuh..
Mohon agar aliran tersebut ikut membasuh semua dosa..
Agar doa menjadi lebih syahdu, karena kita memohon dalam keadaan rendah hati..

Percakapan itu pengingat buat saya, bahwa saya sungguh teramat beruntung
Saya mempunyai sahabat dalam iman..
Yang senantiasa membawa saya di jalanNya..
Menyayangi saya dengan kasih sayangNya..
Untuk terus menerus mengucap “Lillah” pada tiap yang saya lakukan..

Seorang sahabat pun baru saja kemarin mengutarakan,
“Ga kebayang ya, dhee.. Kalau ga ada teman yang mengingatkan..
Ga ada sahabat, lingkungan yang mengembalikan niat kita untuk Allah..
Setiap minggu tidak ada siraman rohani, hanya bersenangsenang”

Saya pun tidak berani membayangkan kehilangan supporting system yang saya punya sekarang
Lingkaran persaudaraan dalam iman..
Meski saya sadar, kita tak bisa sepenuhnya bersandar pada makhlukNya
Tak sepenuhnya bisa bergantung untuk selalu diingatkan pada saudara dan teman,
Karena di suatu waktu, satu per satu dari mereka pasti akan pergi..
Oleh karenanya, saya hanya bisa berdoa, untuk selalu dilindungiNya
Untuk selalu diberikan kesempatan untuk mengingatnya
Untuk selalu dilimpahkan kasihsayangNya
Untuk terus menerus diberikan dan dijaga dalam lingkaran yang tak terputus
Jika yang satu hilang, akan selalu ada yang menggantikan..


Karena memang hanya padaNya tempat kita bersandar, sedangkan sahabat dan lingkaran tersebut hanyalah perantara kasihNya

Boleh saya mengutip satu kalimat dari blog seorang teman?
menjadi istimewa itu sederhana, yaitu saat ada yang mengingatmu dalam doa

Jadi teman, sahabat, kawan, saudara..
Bolehkan saya mengingat kalian dalam doa saya?
Karena setiap kalian istimewa, setidaknya di hati saya.. Yeah, you are..
*peluk jauh satu per satu*

Advertisements

Love, Aubrey (4*)

 

Bicara tentang kehilangan, tidak pernah sederhana..
Meski ia datang, kadang dengan cara yang teramat mudah..
Bukankah aneh, kita justru merasa sesak kala merasakan ketiadaan?
Isi kepala begitu penuh hingga tak mampu menampung sisi hidup yang lain..
Mengapa kekosongan alihalih menjelma semesta saat dirasa rengat di hati?-

 

Seakan belum cukup kepergian Dad dan Savannah dalam kecelakaan yang tragis, Aubrey, gadis 11 tahun, masih harus mengalami kehilangan ibu nya..
Tapi bukan hanya Aubrey, ibu nya sendiri pun kehilangan diri nya sendiri..
Beliau tidak sanggup menopang kehilangan dua orang tercintanya
Hingga siang itu, beliau pergi

Aubrey yang menyangka ibunya hanya pergi berbelanja kebingungan..
Dan sesak karena kekosongan rumahnya..
Hingga malam datang, Aubrey sendirian..
Lalu malam berikutnya, dan berikutnya..
Bertahan dengan makanan sisa yang ada di dapur..

Di sini, saya sangat ingin memeluk Aubrey..
Betapa beruntungnya saya masih mempunyai Emak untuk saya peluk..
Kapan pun saya merasa dunia ingin menelan saya bulatbulat, Emak masih ada untuk mendengarkan saya..

Apalagi setelah tadi pagi saya berbincang dengan Ayu..
At some point, she felt tired of things, and she texted her mom..
Ini balasan si mamah, “Kalo kamu ngerasa gak kuat jalan, merangkaklah, belajar lagi dari awal buat berjalan. Tapi jangan pernah berhenti. Kalo kamu merasa capek, menangislah, habiskan dan kamu akan bisa ketawa lagi, tapi jangan pernah berhenti ya, nak. Percaya aja sama Allah. Sing sabar ya, Nduk..”

See?
Betapa beruntungnya kita yang masih punya Ibu untuk menguatkan kita..
Sedangkan Aubrey?
Tuhan..

Untungnya Gram datang, menyelamatkan Aubrey..
Membawa nya ke rumah dan mulai membangun sedikit demi sedikit kekuatan Aubrey..
Dan meski di awal pertemuan dengan Brdiget dan keluarganya justru membuat perut Aubrey bergejolak sesak, tapi mereka terlalu hangat hingga Aubrey merasa nyaman berada di tengah mereka..

Aubrey mulai mampu berdiri kuat..
Dan sekali lagi, nampaknya ujian belum selesai..
Mom datang..
Masih dengan ketidakmampuan menopang emosi nya sendiri..

Lalu perut Aubrey bergejolak lagi..

 

-Mungkin karena kehilangan tidak pernah menjadi pilihan..
Saat kehilanganmu, contohnya..
Jika bukan karena simpul yang terpaksa aku jalin, kehilanganmu pasti kan terjadi dalam cara yang lain..
Jua ketika Bapak pergi, di Idul Fitri lima tahun Hijriah yang lalu..
Apa kami bisa memilih untuk tidak merasakan hampa saat lutut yang seharusnya kami cium di hari yang fitri justru telah terbujur kaku?
 
Yang aku yakini, hanya ada satu kehilangan yang sepenuhnya menjadi pilihan untuk kita..
Satusatu nya yang berada dalam genggaman kita..
KehilanganNya..
Karena Dia tak pernah tiada..
Acapkali, kita yang melupakan keberadaanNya..-

Tentang Kehilangan..




Bicara tentang kehilangan, tidak pernah sederhana..
Meski ia datang, kadang dengan cara yang teramat mudah..
Bukankah aneh, kita justru merasa sesak kala merasakan ketiadaan?
Isi kepala begitu penuh hingga tak mampu menampung sisi hidup yang lain..
Mengapa kekosongan alihalih menjelma semesta saat dirasa rengat di hati?
Mungkin karena kehilangan tidak pernah menjadi pilihan..
Saat kehilanganmu, contohnya..
Jika bukan karena simpul yang terpaksa aku jalin, kehilanganmu pasti kan terjadi dalam cara yang lain..
Jua ketika Bapak pergi, di Lebaran lima tahun Hijriah yang lalu..
Apa kami bisa memilih untuk tidak merasakan hampa saat lutut yang seharusnya kami cium di hari yang fitri justru telah terbujur kaku?
Yang aku yakini, hanya ada satu kehilangan yang sepenuhnya menjadi pilihan untuk kita..
Satusatu nya yang berada dalam genggaman kita..
KehilanganNya..
Karena Dia tak pernah tiada..
Acapkali, kita yang melupakan keberadaanNya..
***
Dearest Friends,

Sadly, this could be my last journal on Multiply
I’ve found out about the decision from the new CEO that Multiply will focusing in e-commerce and will determinate the blog feature.
The hell!!
*sorry for sworing*
Mungkin terdengar berlebihan, but the news has truly been a breakdown for me..
I’ve lost my blog at friendster before so its kinda ridiculously sad to lost a place for my self healing, once again..
I was in denial the whole day
Masih ga percaya Multiply bener2 mau shutdown blog nya
Tapi ditelusuri berita nya satu demi satu, dan belum lagi saat masuk ke site multiply, notes dari CEO baru yang bahkan saya tidak sanggup menyebut namanya, meyambut layar laptop saya..
O, darn!!

Bukan hanya journal tempat saya menumpahkan rasa dan asa, tapi bertemu dengan teman-teman baru dan saling berbagi sungguh tidak bisa diniliai dengan keputusan berdasarkan bisnis semata..

Dan ya, kehilangan sepertinya memang bukan suatu pilihan..
Tapi sesuatu yang harus kita jalani dan hadapi..
Sesak mungkin kita rasakan, penuh..
Tapi kita tetap harus maju..
Ayo, kawan..
Mari terus menulis, mari terus berbagi..
Dan tetap ingat, pasti ada tempat lain untuk kau tumpahkan ceceran katamu..

*in edition of MPShutdown*
Bye, All
Hikz..