Jalanjalan ke Venesia bersama Le Poème Harmonique

Saat Mei mengajak ke GKJ tanggal 29-May, langsung aja pengen ikutan tanpa tahu apa jenis pertunjukkannya, as usual :p
Ternyata musik klasik..
Okeh, mari berjuang untuk tidak mengantuk, itu pemikiran pertama, hahahaha..

Setelah siangnya bertemu dengan bbrp flaggers di Mister Baso, saya kembali pulang, mandi dan menuju daerah Pasar Baru..
Senang karena bisa mengunjungi pusat budaya lagi, bertemu dengan Mei, Shelly dan Mba Iin lagi..
Kangen banget *peyukpeyuk*

Dan secara tidak sadar, kostum kita hari itu senada, lho..
Ada hitam dan abuabu nya, kompak banget yaaa..

Mendapatkan kursi di baris ketiga dari depan membuat kita bisa menikmati pertunjukkan dengan lebih dekat..
Somethings are worth the pay, lah yah..
Ahahahaha..

Penataan panggungnya dibuat sangat minimalis
Hanya ditemani oleh dua lampu jalan model klasik yang ditempatkan di tengah selayaknya gerbang masuk

Kemudian masuklah 6 instrumentalis yang ga tau deh nama alatnya apa ajah..
Hahahaha *getok otak dewe*
Ada yang main biola, gitar, dan cello sih yang jelas..
Yang main gitar nya cakep banget.. Eaaa *lirik Mei dan Shelly*
Setelah keenam musisi itu duduk dan menyiapkan alat musiknya, masuklah seorang pria berpakaian serba hitam..
Pakaian yang sederhana, sekedar kemeja dan celana katun berwarna hitam..
Lalu bernyanyi lagu sendu..
Suaranya dramatis, dalam, dan tebal..
Jadi ikutan sedih gitu dengernya..
*alasan aja nih, padahal memang lagi melo, hehehe*

Ah, setelah mengintip ke situs ini nih, ternyata ada 1 biola, 2 lute, 1 perkusionis dan 2 basso continuo.. Nah itu tuh instumentalis lengkapnya..
Hihihihi..
Mereka juga berpakaian serba hitam, lho..
Jadi suasanyanya jadi agakagak mistis, kelam, dan dramatis gitu..

Setelah itu, muncul dua penyanyi pria lainnya yang juga berpakaian hitam
Lalu mereka bernyanyi trio, kemudian disusul seorang wanita anggun berpakaian warna merah
Aduh, mak.. Suaranya, mantep banget..
Sedih, sedih, sediiiiih denger lagunya..
Padahal pakai bahasa Itali, kayaknya..
Ga ngerti juga artinya apa, cuma pas “Amour, Amour, Amour..”
Nah, tau deh kalo itu lagu cinta..
Bwahahahahaha
*ditabok pembaca*


Eh, tapi yang seru nya nih..
Setelah lagu sedih, mereka bawain lagu riang juga..
Meski ga ngerti bahasa nya, tapi mereka bernyanyi dengan bahasa tubuh yang teatrika jadi serasa lagi denger dongeng deh..
Kayaknya sih lagu nya tentang petualangan di desa gitu..
Ada masa panen, nyobain buah ini itu, menyusuri sungai (yang ini ketahuan dari perkusi yang menirukan suara gemericik air)..
Penyanyi nya pun ada menirukan suara kucing kejepit juga..
Mwahahaha, lucu banget..
Seru deh..

Nah, setelah mengintip artikel di situs yang ini nih, ternyata formasi penyanyinya adalah sebagai berikut;
Tenor : Serge Goubioud dan Jan Van Elsacker
Bass : Geoffroy Buffière
Soprano : Claire Lefilliâtre

Pertunjukan tersebut adalah buah karya komposer Claudio Monteverdi dan Francesco Manelli yang berhasil membawa pononton jalanjalan ke Venesia, menikmati musik Barok klasik tanpa kesan berat dan rumit..
Sempet terkantuk juga sih, tapi overall, pertunjukkannya keren..
Puas banget..
Dan yang terpenting, bertemu dengan temanteman tersayang..
Kapankapan lagi yaaaa, gurls..
*bisous*


gambar dan sumber tulisan bisa diintip dari situs berikut:

sesap

Sesapan pertama, langsung menyentuh bibir hati.. Yang merindu akan racikan aksara yang berkedip pada layar empat inchi.. Ataukah itu dahaga gendang jiwa kepada ninabobo yang mengalun di ujung seberang..
Duh, Duhai Pemilik Hati, jika bukan deretan kata dan senandung merdu dari nya yang membawa hamba ke pintuMu, maka halau lah damba ini hingga menguap.. Selayaknya buih pada sesapan terakhir yang tiada tinggalkan jejak pada ujung kecap..

asumsi

you’ve made an assumption..
you think i’ve done something..
but you didn’t ask,
you didn’t talk
and yet, you said you can not forgive me..
well, news updated for you, i’m gonne be the one who will never forgive you..
-said Alex to Izzie, Greys’s Anatomy, Season 6-

asumsi..
seberapa sering kita membuat asumsi dan berakhir pada suatu kondisi yang lebih buruk dari asumsi yang kita buat

pernah di suatu waktu, seorang teman berkata, “Menurut aku, orang percaya apa yang mau mereka percaya. Kalo kamu bilang kamu ga mau liat FB nya karena kamu mau percaya sama dia, artinya, kamu mau percaya apa yang mau kamu percaya. Padahal kalo beneran kamu percaya sama dia, no matter apa yang ada di FB nya, ga bakal ngaruh sama kepercayaan kamu ke dia donk?”

hew..
mutermuter sih kalimatnya
but i get what she meant at the time

Kadang memang, kita percaya hanya pada apa yang ingin kita percaya
no matter kondisi yang sebenarnya seperti apa
kita sepertinya menutup mata, telinga dan hati untuk hal-hal yang di luar kepercayaan kita

Sama halnya dengan perkataan seorang teman,
yang terbiasa hidup cukup, lebih malah..
dia bilang, kalau ada tawaran untuk ikut bakti sosial, ke panti asuhan, ke tempat kumuh, dia pasti akan ikut, tapi hanya sekedar memberikan dana. Untuk terjun langsung dia tak sanggup. Karena takut tidak kuat akan realita bahwa memang ada yang hidup seadanya. Pakai baju seadanya.
Dia bilang, dia tidak tega mengetahui ada yang hidup dalam keadaan seperti itu..

hew..
bener khan
berapa banyak dari kita yang pakai kacamata kuda
hanya ingin melihat apa yang kita ingin lihat
hanya ingin mendengar apa yang ingin kita dengar

kalau untuk menjaga diri, hati, iman, itu sih musti yaaa
tapi untuk menjadi apatis, tidak peduli akan kejadian sekitar, atau sekedar tidak mau capek berpikir untuk merubah keadaan menjadi lebih baik, bisa menuntun pada kesiasiaan, bukan yah?
*ngomong sama kaca*

eh, kok jadi ngelantur ke sini arah tulisan ini yah..
perasaan tadi niatnya bukan mau ke sini deh..
mwahahahaha..

saya sadar kok, keputusan saya dua bulan lalu pun berdasarkan asumsi
dan itu bukan hal yang baik, saya mahfum..
tapi walau bagaimanapun saya tidak menyesal
meski banyak yang bilang saya terlalu keras, kaku, dan tidak fleksibel..
tapi jika hal tersebut menyangkut sesuatu yang buat saya sangat prinsipal, saya tidak bisa bertoleransi..

saya jahat, memang
dengan tidak mendengarkan penjelasan beliau lebih lanjut sebelum saya mengambil keputusan sepihak..
egois, tidak adil, you named it, i’d admitted it..

tapi saya akan berusaha, untuk menjadikan keputusan itu keputusan yang terbaik
dengan tidak menyesalinya
dengan tidak hidup dibayang2 kata, “what if”
dengan memaafkannya, juga memaafkan diri saya sendiri..
dengan selalu berdoa, agar lain kali,
jika saya harus membuat asumsi, agar menjadi asumsi yang baik
berdasarkan prasangka baik..

Allah pun tahu, saya sedang berusaha..
Dengan ijinNya.. InsyaAllah..