cancer and the city

Malam tadi saya menonton dokumenter Cancer and the City di National Geographic

Tentang perjuangan seorang Rae Leung, wanita Hongkong berumur 30 tahun yang mengidap kanker paru-paru

Setelah operasi pertama, ternyata kanker nya terlanjur menyebar ke bagian tubuh yang lain sehingga Rae harus mengalami lebih dari 10x PET Scan, 1 siklus kemo, dan berbagai tipe perawatan lainnya.

Kanker yang Rae derita termasuk kanker yang langka dan agresif
Para dokter hanya mampu memperkirakan hidup Rae tidak akan sampai 1 tahun lagi dari kali pertama Rae diketahui mengidap kanker

Tapi dengan sikap poitif yang Rae punya, mampu membuat tim dokter tak percaya bahwa Rae telah bertahan hidup selama lebih dari 4 tahun
Rae masih menjalani aktifitas di selasela perawatannya
Masih aktif menjadi tim kreatif di suatu perusahaan
Keluarga dan temanteman yang memberikan dukungan membuat Rae mampu mempertahankan semangatnya

Di sesi pertama dan kedua dokumenter ini diperlihatkan bagaimana Rae menjalani kehidupan seharihari nya dengan penuh semangat
Saya tercengang dengan begitu biasa nya kehidupan Rae, seakan dia tidak mengidap kanker
Begitu ceria dan energik

Tapi saat sesi kedua akan berakhir, narator mengatakan, bagaimanapun sikap positif yang dipunya seorang pengidap kanker, orang tersebut tetap menjadi orang yang suram
Rae mengamini itu
Ia cemas setiap memikirkan masa depan
Karena besar kemungkinan Rae tidak mempunyai masa depan sama sekali
Meski hal tersebut tidak menyurutkan semangat Rae

Pada sesi ketiga, saat diketahui bahwa kanker Rae kembali mengganas
Kankernya mulai menutupi saluran pernapasan dan oleh karenanya harus melakukan operasi dan menjalani satu siklus kemo lagi

Di sini lah Rae perlahanlahan kehilangan berat badan dan rambutnya
Di sesi inilah saya melihat meskipun masih bersemangat, Rae mulai cemas akan peluang hidupnya
Di sini lah saya melihat perjuangan Rae yang sesungguhnya
Dan saat Rae kembali bangkit, saya benarbenar mengangkat topi untuknya

Dan di sesi keempat setelah perjuangan terberatnya, Rae mengatakan ini;

Living in a big city like Hongkong, i admitted the fact that it is indeed increasing the chance to have cancer

But whlist i have it, and still living in the city..
I often watch people went by and think;
‘do you have to go so fast?’
‘do you have to be in a rush?’
‘cant you just relax and live in the moment?’

Wew..
Saya jadi berpikir..
Kapan terakhir saya berjalan tidak tergesa-gesa..
Kapan saya berjalan sambil menikmati detik detik dengan resapan yang dalam..
Dan saya tidak bisa memanggil moment tersebut..

Ah, betapa dunia telah mempermainkan kita
Terbawa arus yang menjejali dengan dogma bahwa waktu adalah uang

Islam pun mengajarkan kita untuk tidak menjadi pemalas
Untuk bergegas menjemput pagi
Beraktifitas, tidak menyianyiakan waktu

Tapi menikmati moment yang kita punya, saya rasa itu bukan bentuk dari kemalasan
Kemarin lusa pun saya mendapat sms dari seorang subordinate yang meminta ijin untuk tidak masuk kantor karena ada acara keagamaan
Obrolan berlanjut ke account FB dan akhirnya saya goda dia untuk membuat account goodreads 🙂
Yang membuat saya terkejut adalah saat dia berkata bahwa dia merasa tidak enak mengobrol di kantor
Karena tidak enak mengobrol di saat semua orang bekerja keras
Dan itu pula yang saya rasakan persis

Bisa dimaklumi, karena kami berdua sama-sama baru di Dept ini
Tapi lagi, setelah mendengar apa yang Rae katakan, saya meringis..
Saya harus bisa menikmati saat ini
Dengan berjibun pekerjaan yang menanti, tetap harus ada saat dimana saya dan team menikmati waktu yang kita habiskan bersama

Dan saya pun akhirnya menikmati raungan musik live Mr Big yang terputar di komputer Agung
Lalu mengalun bersama Eric Clapton dari komputer Pak Arman
Bernostalgia dalam lagu Phil Collins dari komputer Om Teddy
Menggalau lewat lagu Adele dari komputer Jefri
Beradu vokal dengan Enggi dengan lagulagu MYMP

Musik memang akhirnya yang membuat saya menikmati suasana di kantor hari ini
Ada cara yang lain, saya yakin itu..
Pelanpelan.. Sesulit apapun keadaannya, sebanyak apapun bebannya..
InsyaAllah saya dan team akan bisa menemukan cara agar kami bisa menikmati lebih dari setengah hari yang kami habiskan bersama
We will..

Dan dalam 8 hari ke depan, saya akan pulang..
Menghabiskan cuti 17 hari saya
Saya akan melakukannya tanpa tergesagesa..
Saya ingin menikmati setiap momentnya..
Dengan teman, sahabat, dan keluarga..
Dan yang paling penting, dengan diri sendiri..
Dan Allah, pastinya..

gambar dari sini

berkemas




aku bergerak maju


ada perjalanan yang harus kulanjutkan

cerita tentang kamu sepertinya terlalu berat untuk didukung oleh punggungku

jadi, tidak apa ya jika kukeluarkan semua tentang kamu dan kutinggalkan di masa lalu?




*gambar diambil dari sini*