menitipkan renjana pada Langit



semburat biru awan kini cerah menggoda
layanglayangku berbuai tertiup angin
mongkok melewati keluwung
yang baru saja memudar
seiring perginya bau tanah
basah ditinggalkan hujan

ia melayang, layanglayangku
menuju kaldron tuk kobarkan semangat demi visiun
yang telah ia bisikkan sebelum pamit terbang
mengelon sendi khayal yang selama ini terkurung dalam cencawan, lepas..

campin ia jemput angin yang menari gempita
ke arah badai yang membayang dari balik
awan yang kembali kelam

ia tetap terbang melayang
ikut menari gemulai bersama angin
memberikanku pertunjukan dramatis
mencoba menghilangkan rambang yang terasa pada ujung
benang sulur yang semakin erat tergenggam

ia semakin jauh terbang, didaktis
karena meski kasat mata kini penampakannya, masih ada
pada genggamanku, ujung sulur dimana renjana kutitipkan

mengalir ke Langit
ketempat layanglayangku melayang
menjaganya untuk ingat jalan pulang
kembali padaku
utuh

Perumnas Klender, 21 Maret 2012 untuk Hari Puisi Dunia

*kepada renjana yang kutitipkan pada Langit, be safe yaa.. i’ll be waiting πŸ™‚
Advertisements

19 thoughts on “menitipkan renjana pada Langit

  1. jaraway said: ini kepanjangan dari qn nya.. hihihi..keren mba.. waaahh 16 lunas.. qeqeqe..dititipin coz mau ditinggal ke borneo =p

    iyaaaaa draft puisi nya dah ada semenjak QN itu.. tapi ga jadijadi.. ehehehe.. aku dah ditinggal duluan, jar.. hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s