menitipkan renjana pada Langit



semburat biru awan kini cerah menggoda
layanglayangku berbuai tertiup angin
mongkok melewati keluwung
yang baru saja memudar
seiring perginya bau tanah
basah ditinggalkan hujan

ia melayang, layanglayangku
menuju kaldron tuk kobarkan semangat demi visiun
yang telah ia bisikkan sebelum pamit terbang
mengelon sendi khayal yang selama ini terkurung dalam cencawan, lepas..

campin ia jemput angin yang menari gempita
ke arah badai yang membayang dari balik
awan yang kembali kelam

ia tetap terbang melayang
ikut menari gemulai bersama angin
memberikanku pertunjukan dramatis
mencoba menghilangkan rambang yang terasa pada ujung
benang sulur yang semakin erat tergenggam

ia semakin jauh terbang, didaktis
karena meski kasat mata kini penampakannya, masih ada
pada genggamanku, ujung sulur dimana renjana kutitipkan

mengalir ke Langit
ketempat layanglayangku melayang
menjaganya untuk ingat jalan pulang
kembali padaku
utuh

Perumnas Klender, 21 Maret 2012 untuk Hari Puisi Dunia

*kepada renjana yang kutitipkan pada Langit, be safe yaa.. i’ll be waiting 🙂

Jika Aku Tetap Di Sini (If I Stay, #1)

rasanya seperti membaca tentang keraguan..

Entah karena buku ini penuh dengan keraguraguan Mia Hall yang digambarkan oleh penulis dengan gamblang,
Atau memang karena saya yang sedang merasa ragu? #eaaa

***
Mia merasa ragu saat Adam mencoba mendekatinya.
Bukan karena Adam termasuk anak yang populer seperti di kisah-kisah remaja lainnya, karena Adam tidak sebegitu populernya.. Tapi bisa dibilang Adam itu keren, anak band, band rock pula.. Jadi ya, Adam keren, in someother way, got what i mean, gurls? *grin*
Bukan pula karena Mia merasa termasuk anak yang culun.. Hanya pendiam, dan sibuk dengan jadwal latihan cello nya.

Mia ragu akan motivasi Adam mendekatinya.
Bahkan saat Adam bilang kalau dia punya tiket gratis konser Yo-Yo Ma, pemain cello terkenal di Arlene Schnitzer Hall dan mengajaknya menonton bersama konser tersebut.

Bukan Adam yang membuatku gugup. Aku gugup karena ketidapastian. Apa ini sebenarnya? Kencan? Teman yang berbaik hati? Perbuatan amal? Aku tidak suka berada dalam situasi yang tidak pasti

hal.33

Nah, membaca paragraph di atas, saya jadi pengen melindes beberapa orang yang sudah pernah membuat saya merasakan hal di atas.
Apalagi kemudian, saya membaca satu sajak manis dari seorang dyas yang salah satu baitnya berbunyi seperti ini;

kamu, berhentilah beri aku
harapan bila nyatanya kamu
tidak menyembunyikan kado apapun
dibalik punggungmu.
description

Ishhhh.. Rasanya akan sangat menyakitkan jika ketidakpastian yang dirasakan Mia berujung pada ketiadaan kado dibalik punggung Adam, bukan?
Nyatanya, malam itu mereka memang berkencan, dan ya, malam itu bisa dikatakan mereka resmi berpacaran.

Tapi keraguan masih Mia rasakan saat menjalani hubungan dengan Adam.
Terutama ketika menonton pertunjukan Shooting Star, band Adam yang sudah mulai naik daun.

Keenggananku menonton pertunjukkan Adam sama skeali tidak berhubungan dengan musik atau groupie atau iri. Keengganan itu berhubungan dengan keraguan. Keraguan meresahkan tentang tidak berada di tempat yang benar yang selalu kurasakan. Aku tidak merasa pantas berada bersama ADam, namun tidak seperti kaluargaku, yang terpaksa bersamaku, Adam memilihku, dan aku tidak memahami ini. Kenapa dia jatuh cinta padaku? Rasanya tidak masuk akal. — Saat bersama Adam, aku merasa dipilih, spesial, dan itu hanya membuatku semakin bertanya-tanya kenapa aku?

hal.80

Dan semua keraguan itu mulai menguap saat Haloween pertama yang mereka lalui sejak mereka pacaran. Adam mengenakan kostum a la Mozart, sehingga Mia matimatian bergaya a la rocker cewek paling keren dengan bantuan ibunya.
Saat pulang, Mia bertanya;
“Kau menyukaiku malam ini? Kau suka aku berpenampilan seperti ini? Lebih menyukaiku? Daripada normal.”
Dengan mengusap anak rambut pada wig yang dipakai Mia, Adam menjawab,
“Mia, Mia, Mia. Inilah dirimu yang kusuka. Kau memang berpakaian lebih seksi dan, kau tahu, pirang, dan itu berbeda. Tapi dirimu malam ini sama dengan dirimu yang mebuatku jatuh cinta kemarin, sama dengan dirimu yang akan membuatku jatuh cinta besok. Aku suka kau bisa menjadi rapuh dan tangguh, pendiam dan liar. Astaga, kau salah satu cewek paling punk yang kukenal, tidak peduli musik apa yang kau dengardan apa yang kaukenakan.” hal.86
Nice, huh?

Tapi, keraguan kemudian datang kembali saat Mia harus memutuskan apakah akan meneruskan pendaftaran di Julliard yang artinya akan semakin berjauhan dengan Adam yang sedang sibuk dengan jadwal tur Shooting Star yang mulai menanjak namanya.
Dad membantu Mia dengan mengatakan, “Kadang-kadang kau membuat pilihan dalam hidupmu dan kadang-kadang pilihanlah yang memilihmu. Apakah kedengaran masuk akal?” hal.161

Mom juga membuka jalan pikiran Mia.
“Omong kosong, Mia. Semua hubungan itu sulit. Persis seperti musik, kadang-kadang kau mendapatkan harmoni dan di lain waktu kau mendapatkan suara sumbang.
Dan ingat, musiklah yang menyatukan kalian. Kalian berdua mencintai musik, kemudian jatuh cinta. Omong kosong jika kau merasa musik juga yang memisahkan kalian. Musik tidak melakukan itu. Kehidupan mungkin akan membawa kalian ke jalan berbeda. Tapi kalian masing-masing bisa memilih jalan mana yang akan ditempuh.
Aku mengerti jika kau memilih cinta, cinta terhadap Adam, daripada cinta terhadap musik. Bagaimanapun kau menang. Dan bagaimanapun, kau kalah. Mau bilang apa lagi? Cinta memang bikin susah.”
hal.175

Hmm.. Yup, bisa dibilang Dad, Mom dan Teddy sangat mendukung hubungan mereka berdua. Seperti juga orang-orang di sekitar mereka. Teman-teman di Shooting Star, Gran dan Gramps, Henry dan Willow..
Ditengah keeksentrikan keluarga yang sedikit mengingatkan akan keluarga Elly di When God was a Rabbit, hubungan Adam dan Mia bisa dibilang hubungan yang sempurna..

Hingga tragedi pagi itu..
Yang merenggut Dad, Mom, dan pada akhirnya Teddy..
Membuat jiwa Mia berkeliaran dalam mengumpulkan kembali semua alasan yang melenyapkan segala keraguannya dulu..
Akankah Mia bertahan?

***
Yup, justru keraguan juga yang memenuhi kepala dan hati saya saat saya membaca buku ini.
Dan dengan selesai membaca nya, apakah saya masih tetap ragu?
Entahlah..
Yang jelas, saya tidak mau menjadi bagian dari orang-orang dangkal yang hanya mempercayai apa yang ingin mereka percayai -hal.65
Saya percaya, bahwa Dialah yang menentukan. Mungkin Dia hanya menunda waktu – hal.71
Saya hanya berusaha menitipkan pertanyaan akan keraguan ini padaNya..
Biar Dia yang menentukan kapan waktu saya bisa menemukan jawabannya.
🙂

Topeng Kaca – Dua Akoya Vol. 2

baca volume dua ini jadi pengen donlot lagu ini dan nyanyi buat Shiori, Maya dan Ayumi
kasih 3* aja karena jadi kayak sinetron ceritanya..
hehehehe

Kecemburuan..
Entah akan cinta, entah akan kesempatan, entah akan potensi..
Ah, manusia..

*sok bijak*
*dikeplak seluruh jagat*
*pinjem ayu juga*

Jealousy
Queen

Oh how wrong can you be?
Oh to fall in love was my very first mistake
How was I to know I was far too much in love to see?
Oh jealousy look at me now
Jealousy you got me somehow
You gave me no warning
Took me by surprise
Jealousy you led me on
You couldn’t lose you couldn’t fail
You had suspicion on my trail

How how how all my jealousy
I wasn’t man enough to let you hurt my pride
Now I’m only left with my own jealousy

Oh how strong can you be
With matters of the heart?
Life is much too short
To while away with tears
If only you could see just what you do to me
Oh jealousy you tripped me up
Jealousy you brought me down
You bring me sorrow you cause me pain
Jealousy when will you let go?
Gotta hold of my possessive mind
Turned me into a jealous kind

How how how all my jealousy
I wasn’t man enough to let you hurt my pride
Now I’m only left with my own jealousy
But now it matters not if I should live or die
‘Cause I’m only left with my own jealousy