Allah menyapa dengan berbagai macam cara

Akhir-akhir ini saya merasa Allah sedang rajin menyapa saya
Hehe, menyapa? bahasa halus kalo tidak mau menggunakan kata menegur
;P

Dimulai dari insiden kecil di Green Canyon, proses detoks dari sakaw akan si mbul, curhatnya si Uul, galaunya Once, dan tentunya ajakan tiba-tiba dari seseorang yang muncul dari mesin waktu 17 tahun yang lalu

Saya seperti dibuat hanyut
Menangis tersedu-sedu di dalam hati saat ustadzah Fathiya menyampaikan tafsir untuk ayat ke tiga dari surat Ad Dhuha di kajian tanggal 29 Januari kemarin.
“Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu.” (QS 93:3)

Allah tiada pernah meninggalkan umatNya
Manusia lah yang pergi menjauh dariNya
Dan Dia tiada pula lelah menyapa kita, memanggil, menegur, mengingatkan
Dalam berbagai macam cara
Hanya saja, apa kita cukup peka untuk mendengar dan menyambut panggilanNya, atau malah mengingkari, menyangka dan bahkan mengabaikanNya?

Entahlah..
Beberapa kejadiankejadian membuat saya merasa sungguh bersyukur

Saya sungguh terpesona akan keindahan alam Green Canyon saat body rafting di sungai nya, liburan Januari kemarin
Kepala yang menengadah ke langit mengucap Subhanallah akan ciptaanNya yang menakjubkan
Dan beberapa menit terakhir dari perjalan body rafting, saya digempur arus, nyaris tenggelam, untuk kemudian muncul kembali ke permukaan sungai dan membentur karang
Darah yang mengucur dari bibir yang robek
Gigi yang patah
Kepanikan temanteman seperjalanan
Entah mengapa yang berputar di kepala saya adalah Allah menyayangi saya, Dia sedang menyapa saya, saya akan baikbaik saja

Senyum, ketegaran, dan semangat coba saya tunjukkan pada temanteman seperjalanan demi tidak membuat mereka khawatir dan panik akan kondisi saya
Tapi jujur, saya menangis dalam hati
Saya pasti telah melakukan banyak hal buruk yang membuat Allah menyapa saya dengan cara ini
Saya tergugu
Gamang..

Kejadian itu pula yang membuat saya yakin untuk benar-benar mengambil jarak dari rindu akan si mbul
Saya harus berani mulai menjauh
Mungkin bukan demi kebaikan dia, tapi jelas demi kebaikan saya
Egois, mungkin
Tapi saya lelah
Saya sudah merasa cukup
Saya pun memulai untuk detoksifikasi
Karena yang saya rasakan, dia sudah menjadi toxic bagi saya

Saya tidak sendiri
Teman saya Uul pun sedang mengalami hal yang sama
Mencoba menjaga jarak dari rindu, meski bukan toxic yang dia hindari
Tapi airmata nya ba’da ashar itu, sungguh membuat saya bergidik
Semua, segala pujapuji manusia yang selama ini membuat aku dulu bangga, sekarang buat aku itu nothing!!
Yang katanya aku seksi, badanku bagus, aku cantik, aku supel, aku pintar, aku berpotensi..
Semua ga ada apa-apanya.
Aku bahkan sempat jijik sama diriku sendiri.
Buat apa semua itu, kalau aku ga bisa dekat sama Allah?
Buat apa semua itu, kalau Allah tidak sayang sama aku?

Pagi tadi, aku diperempatan. Dari balik setir, aku lihat tukang jualan tisu
Dua ribu rupiah satu bungkus, mba
Aku yang biasanya, akan belabelain beli tisu ke Indomaret, Alfamart, bahkan Superindo, dengan kepastian mendapat kualitas tisu yang lebih bagus dengan harga yang lebih murah
Tapi pagi tadi, aku nangis
Dua ribu, mba
Buat aku itu cuma selembar uang yang kecil artinya
Tapi buat mereka?
Dua ribu bisa berarti itu sebungkus nasi yang entah dengan laukpauk yang bergizi atau tidak, yang penting perut mereka terisi
Dua ribu bisa berarti mereka bisa pulang naik angkot dan tidak berjalan kaki
Dua ribu, mba
Cuma dua ribu dan aku sebetulnya sudah membantu mereka
Dua ribu..

Terus itu, pengendara motor yang ugal-ugalan
Yang biasanya akan aku berikan umpatan akan ketidakberesan mereka di lalulintas Jakarta
Siapa tahu, mereka sedang terburuburu karena anak atau istri mereka sedang sakit di rumah
Atau di dalam tas mereka ada mainan yang sedang ditunggu oleh anaknya yang sedang menangis di rumah
Atau, mereka hanya ingin cepat pulang demi menuntaskan kerinduan akan orang-orang yang mereka sayangi di rumah

Kemana aja aku selama ini sampe ga melihat itu, mba?
Segitu sombongnya kah aku sampai sulit memperhatikan semua hal itu?
Apa ini teguran Allah karena aku sudah melepas hijab dan meninggalkan liqo aku waktu SMA dulu?
Allah lagi marah sama aku, mba
Aku sudah meninggalkan Dia, terlalu lama
Aku mau kembali tapi aku takut, apa aku masih diterima?

Uul sayang, Allah pun menyapa aku lewat kamu..
Dia sedang memperingatkan aku lewat kamu..
Aku mana pernah kepirikan tentang tukang jualan tisu seperti pikiran kamu
Masih belum bisa berhenti mengeluh akan u
lah para pengendara motor yang ugalugalan di jalan
Jangan sesali yang udah kamu perbuat, sayang..
Karena mungkin, jika keadaannya tidak begitu, mata hati kamu tidak akan terbuka untuk halhal kecil yang baru aja kamu ceritakan
Mungkin, kamu tidak akan sebegini sedihnya karena merasa telah meninggalkan Allah
Justru, Allah sangat sayang sama kamu makanya kamu dipanggil mendekat lagi

Cerita tentang Uul pula yang menambah keyakinan Once untuk benarbenar percaya
Tuhan tidak pernah meninggalkan kita
Kita nya saja yang telalu bebal untuk menjawab panggilanNya
Dan Once pun mulai tenang dan menyingkirkan dilema dan keresahannya
Karena dia mulai menurutsertakan Tuhan dalam tiap langkah yang dia ambil

Lalu saat saya meminta sedikit saja kekuatan untuk melalui proses detoksifikasi, Allah memberikan saya bantuan
Datang dari mesin waktu
17 tahun yang lalu

Saya pun menyerahkan kembali segala yang ada di depan kepada Allah
Semua harapan
Saya gantungkan padaNya
Hanya kepadaNya
Sambil terus menajamkan indera
Untuk terus merasakan sapaNya..
Apapun yang terjadi di depan nanti

Bismillah..

*gambar dari sini*
Advertisements

12 thoughts on “Allah menyapa dengan berbagai macam cara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s