sang matahari



kamu pernah bertanya dimana gerangan matahari

dan aku berlari sekuat tenaga ke timur
meski hingga kini, aku tak tahu apakah aku sesungguhnya pernah terbit menghangatkanmu
tapi itu tak lagi menjadi penting, bukan?

kamu pernah bertanya apa Tuhan mendengarkan doa umatNya?
dan tak lelah aku menengadahkan tangan
kamu yang bersinar terang sekarang, bukti bahwa Tuhan mendengarkan, bukan?
meski belum tentu hanya aku yang meminta

kamu pernah bertanya apa artinya bersabar
dan aku melepaskanmu
hingga kini, apa esensi bersabar (akan kamu), aku pun tak mampu menelusurinya
tapi itu tak lagi menjadi gundahku

aku tetap ingin menjadi matahari
meski bukan padamu selimut hangat ku bentangkan
aku tetap ingin berdoa
meski bukan akan dirimu yang aku panjatkan
aku tetap ingin bersabar
meski bukan hatimu yang aku tunggu

Dunia di Balik Kaca : Kisah Nyata Seorang Gadis Autistik

kisah luar biasa yang diceritakan dengan cara yang membosankan

Donna Williams merasa ‘mati’ saat ia berumur tiga tahun
Donna menjadi Willie saat dunia menyentuhnya, menyiksanya, meledeknya
Donna menjadi Carol saat ia ingin dunia menerimanya
Donna menjadi Donna saat ia sendiri

Ketidakadilan yang dialami Donna akan perlakuan ibunya, kakak dan adik lakilakinya
Ketidakberdayaan ayahnya untuk melindunginya dari kekejaman dunia

Donna berjuang
Agar Willie dan Carol tidak hilang dari diirnya
Agar Donna yang kata banyak orang, gila, tidak ditemukan
Dalam ketidakbiasaan perilaku yang ia punya, Donna bertahan
Bahkan bisa lulus kuliah

Tapi sebenarnya, apa yang terjadi saat berumur tiga tahun yang menyebabkannya merasa diri dan dunianya ‘mati’?

Bahkan saat pengungkapan kejadian penting yang menjadi titik ‘mati’ nya itu pun saya tidak bisa menangkap emosi nya
Entah karena cara bertutur yang membuat bosan,
Entah karena memang buku ini termasuk kategori non-fiksi #eh?
Entah karena saya yang bebal

Kejadian demi kejadian di Dunia di Balik Kaca dijabarkan secara detail oleh Donna
Dari sisi ‘orang dalam’
Tapi entah mengapa saya tidak bisa menelusuri dunia ini
Penjabaran yang liar, meloncat-loncat dan tidak beraturan
Saya tidak bisa menikmatinya

Atau, memang mustinya kita tidak boleh menikmati membaca soal autisme, ya?

*baca bareng sinta, bukunya pinjem bu dokter*

http://www.goodreads.com/review/show/135129368

Jarak Antara Kita

hati-hati dengan lelaki yang penuh dengan pesona..
#halah

Bhima, seorang pelayan yang mengabdi kepada keluarga Sera semenjak masih gadis
Mengalami pahitnya cinta yang hilang karena liciknya perlakuan terhadap kaum buruh yang dialami suaminya
Hingga suaminya pergi bersama anak lelaki kebanggaannya entah kemana
Anak perempuannya meninggal bersama dengan menantunya karena AIDS

Yang tertinggal hanya cucu nya, Maya
Yang ia besarkan sepenuh hati dan tenaga
Agar tidak lagi menjadi sekedar pelayan sepertinya

Sera, seorang perempuan yang salah menilai calon suaminya
Hingga terpaksa hidup menderita dengan mertua yang sedikit sakit jiwa
Merasa sedih namun merdeka ketika suaminya akhirnya meninggal dunia

Yang tertinggal hanya kebahagiaan Dinaz, putrinya, yang menikah dengan seorang pria penuh pesona, Viraf
Dinaz yang tengah menantikan kelahiran anak pertamanya menjadi obat bagi Sera
Obat keyakinan bahwa pengorbanan karir dan kehidupan wanita modern yang ia tinggalkan demi menikah dengan Feroz akhirnya bisa terbayar

Semua harapan Bhima dan Sera tertumpu pada Maya dan Dinaz
Dan semuanya hancur saat Maya diketahui hamil diluar nikah

Saya suka bagaimana Thrity menyampaikan dialog antara Bhima dan Sera
Yang sangat dalam dan hangat namun tetap terpaksa menampakkan batas bahwa mereka adalah majikan dan pelayan
Juga dialog antara Bhima dan Maya saat mereka berjalan-jalan di pantai
Atau saat Maya menangis karena merasa terkurung dalam rumah

Dialog-dialog yang dalam
Adegan-adegan yang melelahkan

Persis selayakyna film India semacam Kabhi Kushi Kabhi Gaam #hehehe
Dan diterjemahkan dengan sangat apik oleh Femmy Syahrani
Adanya beberapa istilah yang dibiarkan dalam bahasa aslinya membuat kita bisa mengerti sedikit banyak tentang kebudayaan India

Hati-hati dengan prasangkamu
Hati-hati dengan pria penuh pesona

http://www.goodreads.com/review/show/179709959

Kontemplasi Kemerdekaan

Pertama kali saya terenyak tentang makna kemerdekaan adalah ketika saya membaca tulisan Indra Herlambang di buku nya yang lagi laris manis layaknya kacang goreng. Errwww, kacang goreng masih laris manis ga sih, sekarang? *salah fokus*.

Tulisan tersebut menyadarkan saya betapa kita yang secara fisik berada di luar bangunan penjara tidaklah lebih merdeka dibanding mereka yang berada di dalam sana. Setidaknya mereka mempunyai banyak waktu luang. Sedangkan kita? Tidak sedikit yang tidak mampu melakukan banyak hal yang diinginkan karena terbelenggu kewajiban sana-sini. Pekerjaan lah, keluarga lah, masyarakat lah, negara lah.

Lalu di Ramadhan tahun ini saya berusaha sekuat tenaga untuk bisa pulang ke rumah sebelum adzan magrib. Sehingga sempat buka bersama keluarga, juga sempat mandi sebelum tarawih di mesjid. Apa daya, hanya dua hari pertama hal itu bisa kesampaian. Hari-hari berikutnya saya menyerah pada limpahan kepercayaan pekerjaan yang diberikan pada saya.

Saya pun merenungi tulisan Indra tersebut. Saya menyatakan bahwa saya terpenjara oleh pekerjaan saya. Tidak lagi punya cukup tenaga untuk membaca buku di angkot karena terlalu lelah dan lebih memilih untuk tidur. Bahkan ketika berhasil menyelesaikan satu buku pun, tidak ada cukup waktu untuk menulis reviewnya. Tidak lagi punya cukup tempat di pikiran untuk menulis di blog. Suara-suara bising itu hanya sempat mampir tanpa berani menganggu otak saya yang sudah berembun.

Yang paling sedih, saya merasa waktu saya untuk tilawah ikut terenggut. Tahun lalu, bisa dengan mudah menghabiskan sedikitnya setengah juz dalam satu hari. Marathon dari sebelum dan sesudah subuh, dalam perjalanan ke dan dari kantor, di kantor, setelah maghrib, dan menjelang tarawih. Tapi sekarang? Boro-boro deh.. Bisa menyelesaikan dua lembar sehari aja udah bersyukur banget.

Saya pun menyalahkan pekerjaan atas ketidakmampuan untuk meluangkan waktu sesuai dengan keinginan.

Lalu kemudian, hari minggu kemarin saya sempatkan ke Istiqlal. Saya ajak ibu yang belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di sana. Saya iming-imingi dengan pengajian yang diisi ustadz-ustadz terkenal . Melangkah pergi bertiga dengan Amel, saya sedikit merasa kecewa dengan sound system yang kurang sempurna. Yang bisa tertangkap hanya sebagian dari kobaran semangat Ust Bachtiar Nasir yang mengkampanyekan Gerakan Nasional Tadabbur Al-Qur’an (GENTA).

Beliau mengatakan, kemerdekaan negeri ini belum tergenggam seutuhnya jika pemimpinnya belum ada yang bisa memberikan keteledanan terhadap rakyat. Mengapa? Karena masyarakat Indonesia terlalu disibukkan dengan hal-hal dunia dan melupakan fakta bahwa segala petunjuk ada di dalam Al-Qur’an. Masyarakat hanya mengacu pada hal-hal yang digembargemborkan dalam keduniawian sehingga yang menjadi tujuan hidupnya hanya dunia. Uang, jabatan, popularitas, tubuh yang molek, kulit yang mulus, perut yang sixpack #eh?. Padahal semua itu tidak ada artinya tanpa akhlak Al-Quran yang melekat pada kepribadiannya.

Sebegitu mudahnya orang menghabiskan waktu berjamjam menonton acara gosip, tapi meluangkan lima menit untuk tilawah saja susah. Sebegitu relanya menyelesaikan satu novel dalam waktu dua-tiga jam tapi menyempatkan diri membaca tafsir Al-Quran saja tidak mau. Sebegitu terlenanya akan pekerjaan sampai menundanunda waktu sholat. *nunjuk-nunjuk diri sendiri*

Ketika sampai di sini, saya menunduk dan berbisik kepada Amel, “Sedih yaaa, pengennya bisa tilawah, tarawih di mesjid, tapi tahun ini kayaknya ribet bener sama kerjaan. Pulang malem terus.” Amel pun mengangguk. “Minimal jam 12 malem dari kantor, pulang tidur cuma sebentar udah musti bangun buat sahur. Kadang di jalan bisa sambil tidur lho, gue.” “Sinting, di atas motor?” “Ho’oh.” Kami berdua pun mendesah.

Malamnya, sepulang tarawih di mesjid saya menonton Just Alvin di metro tv. Bintang tamunya Aa Gym. Temanya adalah Kala Hidup Harus Memilih. Saya pun kembali tertampar. Dihadirkannya seorang sahabat Aa, Entang, yang tunanetra sungguh mengecilkan hati saya. Dalam cobaan hidup dan sibuknya berjuang menghadapi ujian ketunanetraannya, Entang memilih untuk yakin dan berprasangka baik kepada Allah. Aa juga bilang kalau dulu beliau merasa seperti terpenjara akan dunia. Popularitas. Tapi sebetulnya, itu semua hanya pilihan. Kita bisa memilih untuk terpenjara, bisa juga memilih untuk membebaskan diri dari semuanya. Asalkan kita yakin kepada Allah, berbaik sangka kepada Allah, semua hal di dunia menjadi teramat kecil. Rasa takut dan cemas akan hal keduniawian akan hilang, dan kita pun akan menjadi tenang.

Jadi, apakah pekerjaan yang telah memenjarakan saya atau saya yang telah memilih untuk memenjarakan diri saya sendiri? Apakah itu semua hanya dalih? Bagaimana jika saya tidak lagi disibukkan dengan pekerjaan? Apakah benar saya akan tilawah dengan lebih rajin? Apakah pasti saya akan sholat tepat waktu? Apakah jelas waktu luang akan saya isi dengan mentadabburi ayat-ayat Allah?


Saya rasa, saya terlalu menganggap remeh ujian kesibukkan yang diberikan Allah kepada saya. Kemerdekaan yang saya keluhkan telah terenggut oleh tumpukan pekerjaan ternyata hilang oleh kepicikkan diri saya sendiri. Saya yang harus mulai belajar mengatur waktu lagi. Bukan mengkambinghitamkan limpahan kepercayaan dan tanggung jawab yang diberikan. Sehingga penjara yang ternyata saya ciptakan sendiri bisa terbuka kuncinya.

“Kuatkan doa, Dut. Itu yang bisa bantu kamu mengatur waktu dan diberikan kemudahan dalam segala urusan. “ Seorang teman berujar ketika saya curhat di sudut meja kerja saya.

Nah, ini lagi.. Saya harus sering-sering mengingatkan diri saya sendiri untuk tidak so
mbong mempercayai bahwa Allah pasti mengetahui apa yang saya butuhkan tanpa saya perlu memintanya. Hah! Siapa saya?

Yang jadi pertanyaan sekarang, setelah beberapa kali merasa tertampar, lalu saya bagaimana? Selesai hanya di merasa tertampar tanpa mengambil tindakan lebih lanjut seperti yang sudah-sudah? Apakah lagi-lagi saya akan menempatkan diri pada golongan orang-orang yang merugi? *pletaaaak*

berhenti aja, apa ya?

“Ma, uang yang kemarin Hadi kasih, pinjem dulu donk..”

“Buat apa?”

“Biasaaaaa, buat modal nyetak..
Hadeeeeeh.. Berasa berat, euy lama-lama…
Berhenti jadi wedding photographer aja, apa ya?”

“Berat di modalnya apa karena kecapekan?”

“Bukaaaan.. Tiap kali moto, mupeeeeeng..”

Bwahahahahahahaha
*adegan kecil di rumah dengan si Hadi sebagai pemeran utama
*punya adek kok ga kalah galau sama kakaknya, hihihihihi