Mencari Tepi Langit

Namun kesepian memang mematikan. Hal.21

Cerita tentang Senja dan -Horizon- Santi. Dua orang yang kesepian dipertemukan oleh keinginan mencari Tepi Langit. Kental dengan dunia jurnalistik. Dibahas secara cerdas, kalau tidak mau dibilang intelek. *lirik tret sebelah* Dibalut dengan bahasa yang lugas sampai-sampai permasalahan yang berat malah membuat hati saya berbunga-bunga #eh?

Saya membaca buku ini di saat otak yang sudah berembun karena jadwal produksi dan perencanaan material, belum lagi supplier yang minta dipentungin satu-persatu. Di dalam angkot M.32 jurusan Perumnas Klender-Kampung Melayu. Disambung M.06A jurusan Jatinegara-Gandaria.
Pagi saya pun tiba-tiba cerah.

Terimakasih, Bang Fauzan Mukrim.
Saya suka, suka, suka, suka, suka, suka, sukaaaaaaa banget sama bukunya.
Ga peduli buku ini menjadikan saya seorang yang intelek atau tidak. *lagi-lagi lirik tret sebelah* Hati saya terangkat oleh buku ini. Jum’at saya kali ini tidak lah terasa begitu berat.

Tabik!
-15072011-
http://www.goodreads.com/review/show/163387374

Sekarang, aku nggak punya pacar, baru putus-jangan tanya kenapa . Hal.28

Sementara ibunya seorang ibu rumah tangga biasa, tamatan Sekolah Pendidikan Guru yang mencoba membuka salon kecil-kecilan di rumahnya, tetapi gagal dan segera menyadari bahwa pekerjaan terbaik yang bisa dilakukan seorang perempuan adalah mengurus anak, suami, dan cucian. Targetnya sederhana: memastikan semua anaknya tidak memakai baju yang sama setiap harinya. Hal.42

“SMS-in aku kalau kamu udah nyampe kos-an,” kata Senja, mencoba menerapkan salah satu tip how to be a gentleman yang pernah dibaca nya sekilas di majalah. Hal.53
***bwahahahahahaha.. tuh, kaaaan.. betul kaaan.. feeling aku bener berarti, he’s just not that in to me.. Jangan kan minta di-sms, nanya udah nyampe apa belum aja nggak.. *pentung! *eh, kok malah curhat?

Dan menangis ada gunanya juga, ternyata. Menangis membuat tubuhmu sedikit lebih hangat hingga malam tidak perlu terasa terlalu dingin. Hal.56

Anak perempuan tidak selalu harus bermain boneka dan anak lelaki tidak harus selalu bermain pistol. Menjadi maskulin bukan sesuatu yang membanggakan bagi rembulan, seperti halnya menjadi feminim tidaklah selalu memalukan bagi matahari. Hal.60

Bagi gue, rumah itu benteng terakhir. Lo bisa aja jalan sejauh mana pun, tapi kalau tidak punya tempat untuk pulang, buat apa? Hal.63

Hehehehe. Besok aja belum kebayang, Bu. Apalagi sepuluh tahun ke depan. Hal.69

Kalau memang sudah waktunya berhenti, ya berhenti. Kenapa harus ngotot? Sehari-hari, hidup kita ini sudah cukup dengan persoalan dengan sesama manusia, janganlah ditambah dengan prasangka buruk kepada Allah juga. Hal.71

Dia adek yang paling gue sayang, yang kalau misalnya gue denger petir gede aja akan gue telepon buat nanya apa dia baik-baik aja. Hal.109

Meski begitu, Senja merasa ada yang berubah dari sikap Santi. Itulah untungnya jadi lelaki. Engkau selalu dibekali antena gaib untuk menangkap sinyal-sinyal tak terduga. Psikolog karbitan menyebutnya dengan istilah dua huruf. GR. Hal.123 ***bwahahahaha, kalo gitu, kata siapa donk kalo cowo itu ga peka? meh!

Itu gejala voyeuism. Mereka mendapatkan kesenangan dengan mengintip wilayah orang lain, tapi tidak mau terlibat. Hal.125

Ah, Senja, jangan naif lah. Dia itu sengaja disimpan. Menunggu momen. Supaya proyek pemberantasan teroris tetap jalan. Supaya dana turun terus. Amerika itu duitnya banyak buat dihambur-hambur. Polisi dibayar buat ngejar-ngejar orang yang dituduh teroris. Akhirnya yang ditangkap yang kecil-kecil saja dulu, supaya kelihatan ada kerja. Pelan-pelan, tapi pasti. Tahun depan, liat saja, Dokter Azhari juga ketangkap. Hal.142

Serius, orang-orang Densus dan Kamneg itu jago-jago. Mereka tahu buruannya. Seperti macan di Taman Safari yang dibebasin, tapi dikasih kalung. Saya, meskipun dibebasin, tapi sebenarnya nggak. Ini, nggak tahu gimana caranya, tapi mereka bisa kerjain. Pernah sekali waktu, baterainya cepat sekali drop, padahal sudah diganti yang baru. Terus, kalau ngobrol, suara orang di seberan kayaknya jauh banget. Aku bawa ke tukang reparasi juga nggak ada masalah. Baru ada kawan yang kasih tau, katanya itu tanda-tanda kalau HP disadap. Hal.142

Biarin aku yang duluan bilang, Ja. Jangan ge-er, tapi aku musti bilang aku bersyukur ketemu kamu. Mungkin kamu ga sadar, tapi aku banyak belajar dari pengalaman-pengalamanmu, cerita-ceritamu, email-emailmu, tulisan di blog-mu, lelucon-lelucon garingmu, semua. Aku kayak nemu sparing partner buat bertanding melawan kehidupan. Hal.190

Tiga jam setelah sampai di pantai itu, Senja baru merasa matanya basah. Di kejauhan, sebuah mesjid tampak tegak berdiri di antara reruntuhan di sekitarnya. Senja menrik napas dalam-dalam, merasakan dadanya sesak oleh sebuah pertanyaan: Tuhan, apa yang sesungguhnya ingin Kau sampaikan? Hal.214

Adakalanya seorang laki-laki memang perlu menjadi androgini. Laki-laki yang menangis. Itulah Senja. Hal.221

Seddimi laleng tenriola, wiring na mi bittarae! Hanya satu jalan yang tak bisa kau tempuh, hanya tepian langit! Hal.232

Sementara itu, bus Damri mulai meninggalkan gerbang bandara yang ada tanda Selamat Datang itu. Selamat Datang pada apa? Pada kenyataan hidup, mungkin. Hal.237

Senja menepuk pipi Santi, pelan. Dan lagi-lagi Santi harus membenakan satu teori yang pernah dia baca di majalah travelling. Semakin jauh kamu dari rumahmu, semakin kamu kehilangan perlawanan, demikian teori itu berbunyi. Lagipula, kenapa harus melawan? Hal.268

Advertisements

5 thoughts on “Mencari Tepi Langit

  1. Waaaa, bang Ochan nya beneran mampir…*ngumpet malu-malu kumis kucing*Hehehe.. Sama-sama, bang.. Makasih atas buku nya yang sudah mencerahkan salah satu hari saya di dunia ini.. Ditunggu karya berikutnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s