memeluk bimbang


Di butir mata nya aku lihat kilat cahaya
Terpancar dalam gelak tawa menatap panggung dunia
Di telapak tangan nya aku lihat kematangan
Terpapar dari garis-garis kasar yang tergurat
Di berat suaranya aku dengar keraguan
Tersembunyi di balik diam atas pertanyaan yang ku lontarkan
Di balik punggungnya aku peluk kekecewaan
Yang menghangat dari tangisan terpendam
Carilah dulu jawabanmu sendiri, Lelaki
Lalu datang lagi padaku


Tarik tanganku dengan asa yang tertancap mantap
Bukan hanya ingin yang bergoyang bimbang


-17072011-
*baru bangun tidur siang menanti adzan ashar*

ekspektasi mati

dalam temaram aku menjejak
di atas jalanan yang bergejolak
tanpa memberikan kesempatan untuk mengelak
pada hati yang sibuk berkecipak

dalam langkah mengucap keluh
beriringan
mengambil jatah hembusan nafas
di antara tawa lepas,
monolog sang gelisah terdengar

tentang angka yang tak melekat pada pangkat
harga sebuah nama pada secarik kertas
kepasrahan yang mengakar, stagnan
Kehidupan yang terenggut sebuah kata profesionalitas
kehormatan yang terucap pada pandangan mata
kesempatan yang datang dalam bimbang

dalam langkah peluh pun berjatuhan
menemani
rintik hujan yang seakan mengamini
hidup tak akan pernah berhenti mengacaukan ekspektasi
bahkan dalam cara kau mati


Wajah Telaga (Sajak Dee- Dewi Lestari)


Wajah telaga tidak pernah berdusta
Ia bergetar saat udara halus menyapu mukanya
Ia beriak saat angin lincah mengajaknya menari
Ia tak menghindar dari undangan alam tempatnya menghampar
Menghadap awan yang menugggu sabar
dini hari datang
untuk keduanya bersentuhan

Wajah telaga tidak pernah menyangkal
Ia membeku saat langit memecah menjadi miliaran kristal putih
Ia mencair saat matahari kembali di angkasa tanpa serpih
Ia tak bersembunyi dari perubahan dan gejolak hati
Menanti awan yang berubah tak pasti
hingga pagi datang
dan keduanya berpulang pada kejujuran

Izinkan wajahku menjadi wajah telaga
Merona saat disulut cinta
Menangis saat batin kehilangan kata
Memerah saat dihinggapi amarah
Mengguras saat digores waktu
Izinkan wajahku bersuara apa adanya
Bagai telaga yang tak menolak lumut juga lumpur
Namun tetap indah dalam teguh dan ikhlasnya
Kepada udara, kepada surya, kepada alam raya
Menanti engkau yang melayang mencari arti hingga
dini hari datang
Lalu kau luruh menjadi embun yang mengecupi halus
wajahku
Saat engkau mencair menjadi aku dan aku hidup oleh
sentuhanmu
Bersua tanpa samaran apa-apa
Saat semua cuma cinta
Cinta semua saat
Dan bukan lagi saat demi saat

[2007]
Madre, Hal.104