Menerjemahkan Sastra Menerjemahkan Realitas Kemanusiaan

copas artikel dari sini

Jika dilihat dari sudut pandang kebudayaan, penerjemahan merupakan pilar yang menggerakkan suatu kebudayaan.

David Tobing

PENERJEMAHAN karya sastra bermakna menghidupkan kembali suatu karya sastra sekaligus menempatkan karya sastra hasil terjemahan menjadi bagian dari khazanah sastra bahasa penerjemah.

Sebagai bagian dari khazanah sastra bahasa penerjemah, karya sastra terjemahan meledakkan denyut kreativitas penulisan sastra bahasa penerjemah. “Ketika karya sastra itu diterjemahkan, karya sastra yang diterjemahkan itu menjadi milik bangsa penerjemah,” ringkas sastrawan cum guru besar Sapardi Djoko Damono, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, penerjemahan karya sastra penting karena sastra itu sendiri penting. Sastra jadi penting karena mampu mengembangkan imajinasi dan kesadaran akan betapa banyak masalah manusia.

Penerjemah sastra Ronny Agustinus pun mengatakan, melalui penerjemahan, publik dari bahasa penerjemah dapat menikmati bahkan mengetahui permasalahan yang tengah dihadapi suatu bangsa yang lain. “Di sisi lain, karya sastra terjemahan itu mampu menginspirasi lahirnya suatu karya sastra yang baru dalam khazanah sastra dari bahasa terjemahan,” jelas Ronny.

Dari sudut pandang kebu-dayaan. Sapardi meyakini bahwa penerjemahan merupakan pilar yang menggerakkan suatu kebudayaan. “Yang membentuk budaya adalah terjemahan. Ketika ada deadlock pada kebudayaan, terjemahan akan maju ke panggung. Penerjemahan berarti meminjam kebudayaan orang lain untuk bertahan hidup. Bahkan, kalau perlu kita merampok apa yang kita anggap baik demi bertahan hidup,” papar Sapardi.

Ia pun mencontohkan cerita Mahabharata dan Ramayana di Jawa berbeda dengan Ma-Uabharala dan Ramayana di India. Proses penerjemahan memungkinkan hal tersebut dan menjadikan dua versi Ma-habharala dan Ramayana yang berbeda.

MenerjemahKan realitas

Menurut Sapardi, menerjemahkan karya sastra suatu negara asing berarti juga menerjemahkan realitas kemanusiaan dari negara tersebut. “Melalui karya sastra terjemahan, kita dapat mempelajari bagaimana masyarakat di negara asing itu hidup, kita dapat mengenal kebudayaan mereka, permasalahan mereka,” terang Sapardi.

Mengetahui lekuk liku permasalahan bangsa lain melalui sastra terjemahan akan menyadarkan dan menambah kekayaan spiritual pembaca untuk berjaga-jaga bila berhadapandengan masalah serupa. “Hal itu dimungkinkan karena sastra itu adalah penghayatan. Membaca sastra berarti menghayati,” simpul Sapardi.

Sapardi bahkan meyakini seorang antropolog, yang tak pernah baca sastra, tak layak disebut antropolog. Alasannya, antropolog itu tidak mengetahui bagaimana dunia batin manusia yang ia teliti.

Sapardi pun mencontohkan sastra karya Okot pBitek berjudul Afrika yang Resah yang ia terjemahkan. Karya itu bicara tentang penyikapan orang Afrika terhadap budaya Barat.

Niat menerjemahkan sastra negara asing untuk mempelajari masalah bangsa tersebut juga dialami Ronny. Dia merupakan salah seorang penerjemah karya sastra yang berasal dari kawasan Amerika Latin ke dalam bahasa Indonesia. Ronny memilih menerjemahkan karya sastra dari Amerika Latin karena sadar akan adanya kemiripan situasi sosial-politik di Amerika Latin dan di Indonesia. “Kalau katakanlah sastra dari Eropa, sepertinya tidak relevan. Sastra Eropa lebih bersifat monolog batin, kadang malah narsis dan lebih pada eksplorasi bentuk,” terang Ronny.

Menurut Ronny, sastra Amerika Latin cenderung menceritakan permasalahan sosial-politik yang digarap menjadi suatu karya yang memancarkan kesinisan, kelucuan, tanpa niatan menggurui atau marah.

Dari titik tolak demikian. Ronny menilai sastra Indonesia belum dapat menceritakan permasalahan sosial-politiklewat cara yang sinis, lucu, dan tanpa menggurui. Ronny berharap sastra terjemahan menjadi medium untuk menggerakkan denyut eksplorasi kreativitas dalam sastra Indonesia.

Proses

Ronny mengungkapkan bahwa penerjemahan karya sastra tidak semata-mata berkenaan dengan kemahiran berbahasa asing. “Tetapi, si penerjemah harus benar-benar menguasai bahasa yang dituju.

Kalau si penerjemah mahir bahasa asing tapi bahasa Indonesianya belepotan, itu bisa kacau juga.”

Penerjemah, katanya harus mampu mengetahui latar belakang sejarah dan kebudayaan dari bahasa yang akan diterjemahkan. “Serta tentunya mengetahui juga konteks.”

Ronny pun mencontohkan pengalaman ia menerjemahkan karya sastra Amerika Latin karangan Isabel Allende dari bahasa Spanyol ke bahasa Indonesia dengan judul Rumah

Arwah. Dalam novel tersebut ada kata aguardiente. Serurut konteks budaya di Cile, aguar-diente mengacu pada minuman beralkohol bagi kelas rendahan, arak.

“Tapi, pada buku Allende terjemahan Inggris, kata agiutr-diente diterjemahkan menjadi whisky. Allende kabarnya sempat protes, karena whisky itu di Cile bukan minuman kelas rendahan,” jelas Ronny.

Dalam situasi penerjemahan yang demikian. Ronny mengaku bahwa bahasa Indonesiamampu menerjemahkan aguardiente tanpa menyimpangkan acuan yang hendak dituju, yakni minuman beralkohol kelas rendahan.

“Kalau di Indonesia, ada banyak kata bagi aguardiente, misalnya saja sopi, arak, dan lainnya,” terang Ronny. Keselarasan konteks bahasa asing ke dalam bahasa penerjemah menjadi kunci keberhasilan bagi sastra terjemahan. (M-4)miweekendamediaindonesia com

Advertisements

2 thoughts on “Menerjemahkan Sastra Menerjemahkan Realitas Kemanusiaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s