Empress Orchid

Anggrek (Tzu Hsi) adalah anak Hui Cheng Yehonala, mantan taotai (Gubernur) di sebuah kota kecil beranama Wuhu, di Propinsi Anhwei, propinsi termiskin di Cina.

Masa kecilnya tidak pernah mudah.
Terutama setelah ayahnya dipecat Kaisar Tao Kang karena tidak mampu menahan pemberontakan petani yang putus asa karena kemarau panjang.
Ayahnya mati dirundung malu.
Bahkan demi memakamkan ayahnya di kota kelahirannya, Peking, mereka meninggalkan Wuhu tanpa harta sedikitpun.

Di Peking, Anggrek mendengar tentang berita tentang Kaisar Hsien Feng (anak dari Kaisar Tao Kang) sedang mencari tujuh istri dan 3000 (mak?!!) selir dari keturunan Manchu. Anggrek pun mendaftar dengan harapan bisa memperbaiki kondisi keluarganya yang sengsara.

Siapa sangka, tidak hanya dia berhasil menjadi selir kesayangan, tapi juga menjadi satu-satu nya yang mampu melahirkan anak laki-laki, Tung Chih, yang menjadi putra mahkota.

Detail mengenai lokasi dan tradisi Kota Terlarang membuat saya betah membaca buku ini.
Bagaimana kehidupan Permaisuri dan para selir bukan lah suatu hal yang glamour seperti yang ada dipikiran gadis lain seantero Cina.
Saya tak bisa membayangkan bahwa buang air besar pun mereka tidak boleh sendirian, karena harus ada yang menemani dan melayani.
Hadeeeeh..

Yang menyedihkan adalah, belum tentu ketujuh istri dan 3000 selir itu bisa menghabiskan malam dengan Kaisar.
Waktu penantian digambarkan hingga pembaca ikut tersiksa.
Saya bahkan tergoda memutar Waiting in Vain saat membaca bagian ini.

Bagaimana Anggrek menahan rasa cemburu saat istri yang lain telah mengandung, kecantikan Permaisuri Utama, heboh mempersiapkan tari kipas pada malam pertama nya dengan Kaisar, mempertahankan kehormatan suami nya, memperjuangkan kedudukan anaknya, sangat detail diceritakan dalam balutan emosi Anggrek sebagai sudut pandang orang pertama.

Ada banyak hal yang bisa saya ambil dari buku ini.
Selain saya menjadi tahu sedikit lebih banyak tentang Sejarah Dinasti Chi’ing (Qing), saya juga belajar bagaimana kehidupan istri-istri yang berbagi suami, susahnya mendidik anak yang manja, sampai bagaimana membangun ‘karier’ dengan mempertahankan orang-orang yang terpercaya dan memiliki kapabilitas tinggi di bidang masing-masing.

Yang pasti, saya berdoa mudah-mudahan saya tidak akan mempunyai suami seperi Kaisar Hsien Feng yang tidak bisa mengambil keputusan. Hanya bisa mengeluh dan menyalahkan orang lain tanpa memberikan solusi. Lemah dan lembek.
Mudah-mudahan anak saya tidak semanja dan sekurang ajar Tung Chih.
*Amiiiin*

Walaupun setelah dipikir-pikir, mungkin karakter Hsien Feng dan Tung Chih seperti itu untuk membuat kepribadian Anggrek menjadi lebih kuat.
Mungkin jika Hsien Feng seorang yang tangguh, Anggrek tidak akan menjadi selir kesayangannya, tidak akan menjadi Maharani termashyur dari Dinasti terakhir yang menguasai Cina.

Segala sesuatu memang sudah ada pasangannya, sudah ada jalannya.
Tinggal bagaimana kita mengambil sikap untuk menjalaninya
Wallahualam
#edisi sok bijak, wekekekek

PS:
source lain ttg Tzu Hsi
di bagian belakang buku ini ada sesi wawancara dengan Anchee Min yang menyebutkan kalau banyak manuskrip Cina yang memojokkan Maharani Anggrek. Bahkan menuduh sebagai salah satu dari penyebab kejatuhan Dinasti Qing.
Karena saya belum membaca [book:The Last Empress|47305] yang merupakan lanjutan dari buku ini, jadi belum tau sebenarnya bagaimana penulis menempatkan posisi Maharani Anggrek
Cari Pinjeman dulu aaaah..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s