i just met summer, he said


I just met summer, he said
It is not the same, now
It no longer brings me any joy and profound smile on my face
And so I knew, time does passed by

I just met summer, he said
The breeze I feel, no more
But the days seems will be okay
Anticipation had found its place and time
Here and now, i know it is not

I just met summer, he said
It has someone else surfin’ its wave
Cruisin’ its heat
It is no longer mine..

I just met summer, he said with bright lights in the eyes
I am okay
Though I know I must awake one day,
But it is fine..
I’m hibernating, in you…

Advertisements

Asmaul Husna

Lantaran Allah adalah kesempurnaan dari nilai-nilai kebajikan yang mesti kita praktikkan, semakin banyak mengamalkan nilai-nilai tersebut, semakin besar kesanggupan kita untuk mengalami kehadiranNya.

Semakin banyak mendapat kasihNya, semakin besar kesanggupan kita untuk berenang di lautan kasihNya yang tak terbatas.

Semakin menyayangi orang lain, semakin besar kesanggupan kita untuk berlabuh di pantai sayangNya.

Semakin pandai kita memaafkan orang lain, semakin besar kesanggupan kita untuk mendapatkan samudra ampunanNya.

Hal yang sama juga berlaku untuk nilai-nilai cinta, jujur, adil, ramah, dan seterusnya. Semakin kita hidup dengan nilai-nilai ini, semakin besar kesanggupan kita untuk menerima dan mengalami sifat Allah yang sempurna

Hal. 135-136

Aku Beriman maka Aku Bertanya

Jeffrey Lang


Sami Yusuf – Asmaul Husna

Rahim
Karimun
‘Adim
‘Alimun
Halim
Hakimun
Matin

Mannan
Rahmaanun
Fattah
Gaffarun
Tawwab
Razzaqun
Syahid

Allahuma shalli ‘ala Muhammad wa ali Muhammad
Ya Muslimin shallu alayh

Allahuma shalli ‘ala Muhammad wa shahbi Muhammad
Ya Mu’minn shallu alayh

Latif
Khabirun
Sami’
Basirun
Jalil
Raqibun
Mujib
Ghafuur
Syakuurun
Waduud
Qayuumun
Ra’uuf
Shabuurun
Majid

Allahuma shalli ‘ala Muhammad wa ali Muhammad
Ya Muslimin sallu alayh

Allahuma shalli ‘ala Muhammad wa shahbi Muhammad
Ya Mu’mineen shallu alayh

Allahu Akbar Allahu Akbar
La ilaha illa hu
Al Malikul Quddus

Allahu Akbar Allahu Akbar
Ya Rahmanul irham da’fana

Allahu Akbar Allahu Akbar
Ya Ghaffaru ighfir dhunubana

Allahu Akbar Allahu Akbar
Ya Sattaru ustur ‘uyubana

Allahu Akbar Allahu Akbar
Ya Mu’izu a’izza ummatana

Allahu Akbar Allahu Akbar
Ya Mujibu ajib du’aana

Allahu Akbar Allahu Akbar
Ya latifu ultuf bina

Menerjemahkan Sastra Menerjemahkan Realitas Kemanusiaan

copas artikel dari sini

Jika dilihat dari sudut pandang kebudayaan, penerjemahan merupakan pilar yang menggerakkan suatu kebudayaan.

David Tobing

PENERJEMAHAN karya sastra bermakna menghidupkan kembali suatu karya sastra sekaligus menempatkan karya sastra hasil terjemahan menjadi bagian dari khazanah sastra bahasa penerjemah.

Sebagai bagian dari khazanah sastra bahasa penerjemah, karya sastra terjemahan meledakkan denyut kreativitas penulisan sastra bahasa penerjemah. “Ketika karya sastra itu diterjemahkan, karya sastra yang diterjemahkan itu menjadi milik bangsa penerjemah,” ringkas sastrawan cum guru besar Sapardi Djoko Damono, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, penerjemahan karya sastra penting karena sastra itu sendiri penting. Sastra jadi penting karena mampu mengembangkan imajinasi dan kesadaran akan betapa banyak masalah manusia.

Penerjemah sastra Ronny Agustinus pun mengatakan, melalui penerjemahan, publik dari bahasa penerjemah dapat menikmati bahkan mengetahui permasalahan yang tengah dihadapi suatu bangsa yang lain. “Di sisi lain, karya sastra terjemahan itu mampu menginspirasi lahirnya suatu karya sastra yang baru dalam khazanah sastra dari bahasa terjemahan,” jelas Ronny.

Dari sudut pandang kebu-dayaan. Sapardi meyakini bahwa penerjemahan merupakan pilar yang menggerakkan suatu kebudayaan. “Yang membentuk budaya adalah terjemahan. Ketika ada deadlock pada kebudayaan, terjemahan akan maju ke panggung. Penerjemahan berarti meminjam kebudayaan orang lain untuk bertahan hidup. Bahkan, kalau perlu kita merampok apa yang kita anggap baik demi bertahan hidup,” papar Sapardi.

Ia pun mencontohkan cerita Mahabharata dan Ramayana di Jawa berbeda dengan Ma-Uabharala dan Ramayana di India. Proses penerjemahan memungkinkan hal tersebut dan menjadikan dua versi Ma-habharala dan Ramayana yang berbeda.

MenerjemahKan realitas

Menurut Sapardi, menerjemahkan karya sastra suatu negara asing berarti juga menerjemahkan realitas kemanusiaan dari negara tersebut. “Melalui karya sastra terjemahan, kita dapat mempelajari bagaimana masyarakat di negara asing itu hidup, kita dapat mengenal kebudayaan mereka, permasalahan mereka,” terang Sapardi.

Mengetahui lekuk liku permasalahan bangsa lain melalui sastra terjemahan akan menyadarkan dan menambah kekayaan spiritual pembaca untuk berjaga-jaga bila berhadapandengan masalah serupa. “Hal itu dimungkinkan karena sastra itu adalah penghayatan. Membaca sastra berarti menghayati,” simpul Sapardi.

Sapardi bahkan meyakini seorang antropolog, yang tak pernah baca sastra, tak layak disebut antropolog. Alasannya, antropolog itu tidak mengetahui bagaimana dunia batin manusia yang ia teliti.

Sapardi pun mencontohkan sastra karya Okot pBitek berjudul Afrika yang Resah yang ia terjemahkan. Karya itu bicara tentang penyikapan orang Afrika terhadap budaya Barat.

Niat menerjemahkan sastra negara asing untuk mempelajari masalah bangsa tersebut juga dialami Ronny. Dia merupakan salah seorang penerjemah karya sastra yang berasal dari kawasan Amerika Latin ke dalam bahasa Indonesia. Ronny memilih menerjemahkan karya sastra dari Amerika Latin karena sadar akan adanya kemiripan situasi sosial-politik di Amerika Latin dan di Indonesia. “Kalau katakanlah sastra dari Eropa, sepertinya tidak relevan. Sastra Eropa lebih bersifat monolog batin, kadang malah narsis dan lebih pada eksplorasi bentuk,” terang Ronny.

Menurut Ronny, sastra Amerika Latin cenderung menceritakan permasalahan sosial-politik yang digarap menjadi suatu karya yang memancarkan kesinisan, kelucuan, tanpa niatan menggurui atau marah.

Dari titik tolak demikian. Ronny menilai sastra Indonesia belum dapat menceritakan permasalahan sosial-politiklewat cara yang sinis, lucu, dan tanpa menggurui. Ronny berharap sastra terjemahan menjadi medium untuk menggerakkan denyut eksplorasi kreativitas dalam sastra Indonesia.

Proses

Ronny mengungkapkan bahwa penerjemahan karya sastra tidak semata-mata berkenaan dengan kemahiran berbahasa asing. “Tetapi, si penerjemah harus benar-benar menguasai bahasa yang dituju.

Kalau si penerjemah mahir bahasa asing tapi bahasa Indonesianya belepotan, itu bisa kacau juga.”

Penerjemah, katanya harus mampu mengetahui latar belakang sejarah dan kebudayaan dari bahasa yang akan diterjemahkan. “Serta tentunya mengetahui juga konteks.”

Ronny pun mencontohkan pengalaman ia menerjemahkan karya sastra Amerika Latin karangan Isabel Allende dari bahasa Spanyol ke bahasa Indonesia dengan judul Rumah

Arwah. Dalam novel tersebut ada kata aguardiente. Serurut konteks budaya di Cile, aguar-diente mengacu pada minuman beralkohol bagi kelas rendahan, arak.

“Tapi, pada buku Allende terjemahan Inggris, kata agiutr-diente diterjemahkan menjadi whisky. Allende kabarnya sempat protes, karena whisky itu di Cile bukan minuman kelas rendahan,” jelas Ronny.

Dalam situasi penerjemahan yang demikian. Ronny mengaku bahwa bahasa Indonesiamampu menerjemahkan aguardiente tanpa menyimpangkan acuan yang hendak dituju, yakni minuman beralkohol kelas rendahan.

“Kalau di Indonesia, ada banyak kata bagi aguardiente, misalnya saja sopi, arak, dan lainnya,” terang Ronny. Keselarasan konteks bahasa asing ke dalam bahasa penerjemah menjadi kunci keberhasilan bagi sastra terjemahan. (M-4)miweekendamediaindonesia com

Kedai 1001 Mimpi: Kisah Nyata Seorang Penulis yang Menjadi TKI

miris…

Saat saya baru saja mengawang-awang ingin membuat review buku ini, saya dibuat terhenyak oleh kabar dua saudara perempuan kita dari Indonesia yang bernasib sangat jauh dari mujur

Ruyati binti Satubi dan Darsem adalah dua dari sekian banyak TKI di Arab Saudi yang menerima ketidakadilan hukum di negara tersebut

Alm Ruyati yang membunuh majikannya telah terpancung Sabtu, 18 Juni kemarin.
Sedangkan Darsem diberi ‘keringanan’ dengan membayar denda 4.7 M agar bisa terhindar dari hukuman pancung..

Miris sekali..
Saya jadi merasa bersalah karena sepanjang membaca buku ini, saya terbahak-bahak, bahkan kalau bisa meminjam kata-kata Vibi, saya ngakak sampai terjengkang setiap kali Vibi menceritakan pengalaman-pengalaman uniknya yang disampaikan dengan bahasa yang sangat enak dibaca.
*padahal sebagian besar buku ini saya baca di angkot, coba aja tuh bayangin gimana kejengkang di angkot*

Saya terenyuh betapa banyak hal-hal yang dialami Vibi sebetulnya terjadi di sekitar saya sendiri, meski dalam taraf yang tidak sekurang ajar di Saudi.
Tapi saya malah tertawa akan kejadian-kejadian aneh yang seharusnya membuat orang yang mengalaminya merasa tersiksa sampai ke ubun-ubun..

Sungguh, sampai tadi sore sebetulnya saya ingin membuat review yang menyenangkan tentang buku ini.
Tadinya ingin saya taburi dengan cukilan dari halaman-halaman yang membuat saya tertawa seperti orang gila di angkot.
Tapi menonton berita Rayuti dan Darsem malam ini di TV One, saya hanya bisa tercenung..

Ahh, kemana perlindungan yang seharusnya bisa diberikan bagi saudara-saudara kita yang mengadu nasib di negeri orang?

Innalillahi Wainnailaihi Raji’un..

Mudah-mudahan saya bisa membuat review yang jauh lebih menyenangkan untuk buku ini suatu saat..
Mudah-mudahan, itu artinya, saudara-saudara kita di sana bisa bekerja dengan lebih tenang..

Amiin..

* review di Goodreads

Empress Orchid

Anggrek (Tzu Hsi) adalah anak Hui Cheng Yehonala, mantan taotai (Gubernur) di sebuah kota kecil beranama Wuhu, di Propinsi Anhwei, propinsi termiskin di Cina.

Masa kecilnya tidak pernah mudah.
Terutama setelah ayahnya dipecat Kaisar Tao Kang karena tidak mampu menahan pemberontakan petani yang putus asa karena kemarau panjang.
Ayahnya mati dirundung malu.
Bahkan demi memakamkan ayahnya di kota kelahirannya, Peking, mereka meninggalkan Wuhu tanpa harta sedikitpun.

Di Peking, Anggrek mendengar tentang berita tentang Kaisar Hsien Feng (anak dari Kaisar Tao Kang) sedang mencari tujuh istri dan 3000 (mak?!!) selir dari keturunan Manchu. Anggrek pun mendaftar dengan harapan bisa memperbaiki kondisi keluarganya yang sengsara.

Siapa sangka, tidak hanya dia berhasil menjadi selir kesayangan, tapi juga menjadi satu-satu nya yang mampu melahirkan anak laki-laki, Tung Chih, yang menjadi putra mahkota.

Detail mengenai lokasi dan tradisi Kota Terlarang membuat saya betah membaca buku ini.
Bagaimana kehidupan Permaisuri dan para selir bukan lah suatu hal yang glamour seperti yang ada dipikiran gadis lain seantero Cina.
Saya tak bisa membayangkan bahwa buang air besar pun mereka tidak boleh sendirian, karena harus ada yang menemani dan melayani.
Hadeeeeh..

Yang menyedihkan adalah, belum tentu ketujuh istri dan 3000 selir itu bisa menghabiskan malam dengan Kaisar.
Waktu penantian digambarkan hingga pembaca ikut tersiksa.
Saya bahkan tergoda memutar Waiting in Vain saat membaca bagian ini.

Bagaimana Anggrek menahan rasa cemburu saat istri yang lain telah mengandung, kecantikan Permaisuri Utama, heboh mempersiapkan tari kipas pada malam pertama nya dengan Kaisar, mempertahankan kehormatan suami nya, memperjuangkan kedudukan anaknya, sangat detail diceritakan dalam balutan emosi Anggrek sebagai sudut pandang orang pertama.

Ada banyak hal yang bisa saya ambil dari buku ini.
Selain saya menjadi tahu sedikit lebih banyak tentang Sejarah Dinasti Chi’ing (Qing), saya juga belajar bagaimana kehidupan istri-istri yang berbagi suami, susahnya mendidik anak yang manja, sampai bagaimana membangun ‘karier’ dengan mempertahankan orang-orang yang terpercaya dan memiliki kapabilitas tinggi di bidang masing-masing.

Yang pasti, saya berdoa mudah-mudahan saya tidak akan mempunyai suami seperi Kaisar Hsien Feng yang tidak bisa mengambil keputusan. Hanya bisa mengeluh dan menyalahkan orang lain tanpa memberikan solusi. Lemah dan lembek.
Mudah-mudahan anak saya tidak semanja dan sekurang ajar Tung Chih.
*Amiiiin*

Walaupun setelah dipikir-pikir, mungkin karakter Hsien Feng dan Tung Chih seperti itu untuk membuat kepribadian Anggrek menjadi lebih kuat.
Mungkin jika Hsien Feng seorang yang tangguh, Anggrek tidak akan menjadi selir kesayangannya, tidak akan menjadi Maharani termashyur dari Dinasti terakhir yang menguasai Cina.

Segala sesuatu memang sudah ada pasangannya, sudah ada jalannya.
Tinggal bagaimana kita mengambil sikap untuk menjalaninya
Wallahualam
#edisi sok bijak, wekekekek

PS:
source lain ttg Tzu Hsi
di bagian belakang buku ini ada sesi wawancara dengan Anchee Min yang menyebutkan kalau banyak manuskrip Cina yang memojokkan Maharani Anggrek. Bahkan menuduh sebagai salah satu dari penyebab kejatuhan Dinasti Qing.
Karena saya belum membaca [book:The Last Empress|47305] yang merupakan lanjutan dari buku ini, jadi belum tau sebenarnya bagaimana penulis menempatkan posisi Maharani Anggrek
Cari Pinjeman dulu aaaah..