The Road

Apa kau membawa Api?

Membaca buku ini memberikan perasaan yang nyaris sama ketika saya membaca Blindness nya Saramago.
Kedua buku sama-sama menampar saya bahwa manusia bisa menjadi lebih kejam dari binatang kala nyawa nya berada di ujung tanduk.
Kedua buku mempunyai kekuatan dalam dialog-dialognya.

Dengan gaya yang sama-sama tidak memberikan nama pada tiap karakternya, dua buku ini menenggelamkan saya dalam sifat-sifat asli manusia yang akan keluar dalam keadaan terdesak.
Sehingga jelas terlihat kebaikan dan kejahatan
Kelicikkan pun seakan tak sanggup mengalahkan waktu untuk tetap bertahan.

Tapi bahasa McCarthy berbeda, lebih puitis.
Dan saya pun sudah langsung jatuh cinta pada dialog pertama dalam buku ini

Anak laki-laki itu menggeliat di dalam selimut. Lalu membuka matanya. Hai, Papa, katanya.
Papa ada di sini.
Aku tahu.

Hal.9

Ah, sederhana, bukan?
Tapi saya langsung terpikat, meski dialog tersebut, yang juga sama dengan dialog-dialog lain dalam buku ini, tertulis tanpa tanda “”.

Lelaki itu dan Anak itu menjadi sentra cerita dari keadaan Amerika (?) pasca kebakaran besar yang menghabiskan seluruh negeri.
Tak usah dipusingkan bagaimana dan mengapa kebakaran terjadi, Amerika di bagian mana tempat mereka memulai, melakukan, dan mengakhiri perjalanan.
Hal-hal tersebut tidak mengganggu saya. Sungguh!
Karena sepanjang perjalanan yang kelam dan suram, saya hanya ingin mengetahui, apakah mereka akan selamat?

Bahkan ketika lidah Anak itu kegirangan mengecap sekaleng Coca Cola yang mereka temukan di pasar swayalan pinggir kota yang terbengkalai, saya seperti melupakan janji saya untuk tidak lagi minum soft drink karena disinyalir mengakibatkan osteoporosis #eh? (lirik bu dokter buat klarifikasi)

Kelaparan yang mereka berdua derita menyebabkan saya harus membiarkan hati saya berteriak kegirangan saat mereka menemukan satu rumah, toko, ataupun swayalan yang artinya ada kemungkinan mereka bisa mengais sisa potongan buncis, buah kalengan, tomat kalengan, biskuit bahkan minyak zaitun untuk mereka makan.

Tapi yang menderita kelaparan bukan hanya mereka.
Ada para survivor lain yang juga berusaha bertahan hidup hingga putus asa.

Mereka akan membunuh orang itu, ya kan?
Ya.
Kenapa mereka harus melakukan itu?
Tak tahu.
Apa mereka akan memakan orang-orang itu?
Tak tahu.
Mereka akan makan orang-orang itu, ya kan?
Ya.
Dan kita tidak bisa membantu orang-orang itu, sebab mereka akan makan kita juga.
Ya.
Dan itu sebabnya kita tidak bisa menolong orang-orang itu.
Ya.
Oke.

Hal.118

Bukan hanya gelap, atau dinginnya hujan dan salju yang kelabu hingga mengiris sampai ke dalam tulang. Tapi juga kesedihan dalam bayangan yang ditinggalkan oleh ibu sang anak. Ketakutan bahwa orang-orang jahat yang akan mereka temui di jalan mempunyai niat memakan mereka hidup-hidup. Berjuang untuk tetap menjadi orang baik demi menemukan orang-orang baik lainnya. Memutuskan apakah mereka harus membunuh, melepaskan, atau membantu orang lain yang mereka temui di jalan.

Kau ingin tahu seperti apa orang-orang jahat itu. Sekarang kau tahu. Mungkin akan terjadi lagi. Tugasku adalah menjagamu. Aku ditunjuk Tuhan untuk melakukan itu. Aku akan membunuh siapa saja yang menyentuhmu. Paham?
Ya.
Ia duduk di sana, kepala tertutup selimut. Beberapa saat kemudian ia mengangkat kepalanya. Apakah kita tetap orang baik-baik? Katanya.
Ya. Kita tetap orang baik-baik.
Dan kita akan selalu begitu.
Ya. Kita akan selalu begitu.
Oke.

Hal.74

Perjalanan yang melelahkan.
Menuju selatan.
Tanpa tahu apa yang menunggu mereka di sana.
Hanya terus membawa Api.

Perasaan saya masih campur aduk bahkan hingga di akhir cerita.
Rasa sesaknya menghantui bahkan saat saya beranjak tidur.

Saya ingin terus membawa Api di perjalanan saya.
Saya harap, orang baik, orang jahat, debu, hujan, salju, kelaparan, kebakaran, bencana apapun yang saya temui sanggup menempa saya untuk terus menjaga Api dalam hidup saya.
Dan ya, semoga Tuhan memberikan saya kekuatan untuk terus berusaha untuk tetap menjadi orang baik-baik. #Amin..
Meski dengan banyak kekurangan di sana-sini.
Ya, kan?
Oke.

PS:
* Terus terang saya merasa tidak mengetahui secuil pun infomasi tentang Cormac McCarthy sebelum saya baca buku ini. Buku ini meraih Pulitzer Prize 2007 pun baru saya ketahui dari poll di GRI bulan lalu. Tapi saat menyebut buku beliau yang satu lagi, No Country for Old Men, saya langsung ingat. Hmmm, kalau tidak salah, filmnya sempet ada di daftar Jiffest 2007 yang berhasil membuat Doel tertidur demi menemani Ima nonton. Ahahahahaha..
#info ga penting

* Ngeri juga ya ngebayangin kalo ada kebakaran besar macam ini. Bumi sudah berontak. Apalagi juru bicara kepresidenan baru saja mengumumkan Jakarta terancam gempa 8.7 SR. Well, apapun jika Tuhan menghendaki, maka terjadilah.. Kita punya Api yang cukup ga, ya?

* Berburu film The Road dan No Country for Old Men, ah..

Advertisements

4 thoughts on “The Road

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s