dari kursi pada baris ketiga

di depan sana
ia bersenandung
hanya dua bait

mengenai kelelahan
mengenai kecintaan
mengenai tanah air

dari sini, di kursi pada baris ketiga
saya mendengarnya berbicara
dengan bibirnya saya berkelana
ke kota-kota tak terjamah angan
masuk ke dalam tiap hati penghuninya
jauh dari nada sumbang berselimutkan kapitalis

dengan matanya saya menjelajah
hingga menuju surga tak terjangkau mimpi
tertutup lembah bagai sangkar
menikmati warna dari tiap wajah
yang garis beda nya menegaskan batas,
menyembulkan dendam mengakar,
nyaris menghancurkan seonggok kebanggaan
dan belum mau berhenti
demi kepentingan hewan berkedok kemanusiaan

lirih saya dengar dari sini
dari kursi pada baris ketiga
lagu yang mengantar saya takjub menerka
suka cita yang tertuang pada tiap butir debu
senyum yang tersembunyi di balik kain berjendela
bukan lagi hanya derita tua peradaban
yang mengacu pada candu kemunafikkan

Sore di Festival Buku, Depok Town Square, 30 April 2011


*arisan kata 14*
*hanya sekelumit bagian dari berjuta kesan yang tertinggal dari pertemuan dengan seorang Agustinus Wibowo*
*jadi pengen ngobrol lebih banyak, ehehehehe*
*kebelet pengen buru-buru melahap habis Selimut Debu dan Garis Batas ditemani senandung sarzamin-e-man*
*gambar dari
sini *

Advertisements

10 thoughts on “dari kursi pada baris ketiga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s