Coming Home

Memaafkan bukan berarti melupakan.

Tidak melupakan bukan berarti dendam.
Memaafkan bukan berarti menerima kembali dan memberikan kesempatan kedua.
Kesempatan kedua bukan berarti membodohi diri sendiri.

Kalimat-kalimat diatas adalah beberapa jawaban atas pertanyaan,
“apakah perempuan itu memang kalo disakitin kek gimana juga, masih benci juga, tapi tep aja gampang luluh?” yang ada di review harun

Hmmmm..
Sebenarnya, memaafkan yang sejatinya itu seperti apa sih?
*halah bahasa apa ini, dhee?*

Amira berjuang begitu keras menahan harga dirinya setelah diselingkuhi Rayhan, suaminya.
Perselingkuhan yang dulu dianggap Rayhan sebagai sesuatu yang wajar ketika dia bertemu dengan Elsa yang jauh berbeda dengan Amira.
Apakah salah mendapatkan apa yang tidak pernah dirasakan sebelumnya? Apakah salah menginginkan lebih dari apa yang sudah dimiliki?. Hal.29

Amira tidak terima Rayhan menyalahkan dirinya yang kurang mengerti keinginannya sebagai suami. Bahkan nasihat dari Ajeng, sahabatnya, masih tidak bisa dia terima. Amira merasa perceraian mereka sepenuhnya adalah salah Rayhan.
Kamu hanya melihatnya pada satu sisi. Terkadang, perselingkuhan bukan hanya salah pada satu orang, Mir. Hal. 63

Tapi bagaimana jika takdir mempertemukan mereka kembali? Dengan Kirana, anak Rayhan dan Elsa, yang menjadi salah satu murid di TK tempat Amira mengajar, kebencian itu berusaha dipendam kuat-kuat.
Kamu harus berusaha memafkan, Nduk. Kebencian yang ada di hati kita akan menghancurkan diri kita sendiri. Hal.89

Mencoba..
Baik Amira dan Rayhan belajar sedikit demi sedikit mengenai apa yang sesungguhnya terjadi di antara mereka dulu, sekarang, dan yang menanti mereka di depan.

Terkadang, kita menginginkan sesuatu yang kita miliki untuk nggak pernah hilang. Tetapi kita lebih sering lengah dan tidak menyadari sesuatu itu sebenarnya sudah hilang. Hal.142

Ketika aku berpikir; suatu waktu kita menginginkan sebuah momen kembali, kita hanya bisa melihatnya, Mira. Jadi penonton. Kita nggak bisa mengubah apapun yang sudah terjadi. Hal. 148

Kadang-kadang, kita lupa mempersiapkan diri menerima kekalahan. Mungkin, karena kita terlalu banyak berharap yang baik-baik, jadi bingung berbuat apa saat menghadapi hal terburuk. Hal. 167

Jadi, apa Amira mampu menjawab pertanyaan Harun di atas?
Bahwa perempuan cenderung luluh pada perhatian yang diberikan terus menerus walau sudah disakiti sedemikian rupa?
Atau malah mendukung pernyataan-pernyataan peserta diskusi skype di atas?

Ah..
Memaafkan sungguh bukan perkara yang mudah
Apalagi jika harus ditambahkan dengan embel-embel ikhlas di belakangnya.

Saya menjadi sulit untuk mengatakan pada diri sendiri bahwa saya sudah memaafkan.
Walau sungguh ingin saya merasakan ikhlas atas kejadian-kejadian yang sudah berlalu.
Walau masih menjalin hubungan baik..
Saya kembali bertanya pada diri sendiri, apa benar saya sudah memaafkan mereka?
Apa saya sudah bisa berjalan tanpa terjebak di masa lalu?
Apa benar semuanya salah mereka, tanpa sedikitpun saya turut andil dalam semua kejadian tidak menyenangkan dulu?

Sepertinya masih banyak yang harus saya putar ulang untuk benar-benar membersihkan hati dari masa lalu.


“Apa boleh kita punya harapan?”
“Boleh, kenapa nggak?”
“Walaupun kelihatannya nggak mungkin?”
“Kenapa nggak mungkin?”
Hal.185

Sial, percakapan ini kenapa ada di buku ini juga sih?
*yang ini sebetulnya ga nyambung sama maaf-memaafkan.. tapi keselek aja pas baca nya.. hehehehehe*

baca buku ini sambil dengerin Come Home nya One Republic and Sara Bareilles

Ai: Cinta Tak Pernah Lelah Menanti

katakan padaku, apa hati bisa dipaksa?

Jika ada hati yang merasakan hidup hanya dengan kehadiran orang lain,
bagaimanakah cara untuk menjauh?

Jika ada hati yang merasakan ramai kala hanya sendiri memikirkan seseorang,
bagaimanakah cara untuk menghentikan pikiran itu?

Jika ada hati yang merasa aman kala seluruh dunia menghujat,
bagaimanakah cara melepaskan perisai itu?

Itu yang dirasakan Ai dan Sei
Keduanya berusaha untuk menjauhkan perasaan, menghentikan pikiran, melepaskan perisai..
Keduanya memaksakan hati nya
Ai kepada Shin
Sei kepada Natsu

Katakan kepadaku sekali lagi, apa hati bisa dipaksa?

tidak semuanya tentang aku

aku menekan earphone lekat ke telinga di balik jilbabku
am trying to concentrate on my work, ga mau denger apa-apa..
c’est moi, tout seul!!

then again it still bothers me
the hassles
keributan yang ada
wajah lain yang mencari solusi
mata lain yang mencari jejak runut permasalahan
hati lain yang menahan emosi
bibir lain yang tersenyum riang
senandung lain yang bersuka cita

bahkan di ‘dunia’ kecilku,
tidak semuanya tentang aku