Appraisal

Awal bulan lalu adalah waktunya appraisal atas hasil kerjaku dari bulan Jan-Nov 2010
Terus terang, aku tak berharap banyak, karena dari target-target yang ditetapkan, sebagian memang dibawah target
Walaupun itu angka dibawah target itu sudah direncanakan alias sudah diketahui jauh-jauh hari sebelumnya
Working Capital, Writte Off, Stock Cover Days..
Demi lancarnya launching (BAH!!), itu semua sudah pasti diluar area aman

Tapi bukan angka-angka itu yang aku takutkan setiap menjelang appraisal
Melainkan bertatap muka dengan superiorku, empat mata
Duh!!

Tahun ini, garis besar yang disampaikan kurang lebih adalah;
“Perbaiki cara menangani emosi, bukan jangan punya emosi karena itu berarti kamu bukan manusia”
“Jadilah orang yang berambisi, Diet.. Jangan puas dengan apa yang kamu capai sekarang”

Hal yang kedua itu disampaikan superiorku di kantor ini dari tahun ke tahun (ini sudah menginjak tahun ketiga)
Dari superior yang satu ke superior yang lain (dihitung-hitung, aku sudah mengalami lima orang superior ya?mas Ferry, Max, Pak Agung, Bu Yani, dan Pak Rubby.. Wew!!)
Hal ini tentunya membuat aku mengernyit
Ok, untuk masalah penanganan emosi, i know i still have A LOT to learn, A LOT to improve
Tapi..apakah aku terlihat kurang bersemangat kerja sehingga tampak seperti kurang berambisi?

“Jangan puas dengan posisi kamu sekarang. Kamu mau mandeg jadi spv terus? Nggak, khan? Belajarlah yang banyak, perluas jangkauan pandangan kamu, lihat lebih jauh.. Apa yang jadi barrier dan tantangan orang sales, marketing, produksi, sampai ke finance dan HR.. Lihat dalam-dalam sehingga kamu bisa membuat keputusan yang tidak hanya setingkat seorang spv..”

“mmm, maksudnya, Pak?”

“Saya mau kamu belajar banyak.. Raih semua ilmu yang bisa kamu tangkap.. Gabungkan dengan skills kamu, saya yakin kamu seharusnya mampu menjadi lebih tinggi dari posisi yang sekarang.. Mudah-mudahan kamu ga berpikiran salah ketika saya menambahkan tugas-tugas yang jauh di luar jobdesc kamu, karena saya cuma ingin kamu belajar memperluas pandangan”

Yeaaaah, si buruk sangka Didiet akan berkata, “Cih, itu alasan Bapak aja biar saya ga mengeluh ditambahin tugas terus-terusan, bilang aja mo bikin saya kerja rodi”

Kalau aku berpikir seperti itu, what do i get?
Nothing, right?
Only complains, complains, complains that would be splitted out from my mouth
Tapi saat itu yang bergumul dalam pikiranku untungnya bukan pikiran picik seperti di atas,

Di satu sisi, i do love taking new tasks, artinya, beliau-beliau percaya kalau aku mampu menangani hal-hal yang sekiranya di luar job desc aku sebagai Material Planner..
Tantangan baru lagi
Pelajaran baru lagi
Gairah baru lagi

Di sisi lain, ada rasa takut
Takut tak bisa memenuhi harapan mereka, dan harapan aku sendiri tentunya
Takut keluar dari zona nyaman
Cih.. ternyata benar kata Om Coelho, “manusia ingin mengubah segalanya, dan pada saat yang sama, ia ingin semuanya tidak berubah” –The Devil and Miss Prym
Selain itu, aku takut ternyata aku akan terbenam dalam tantangan-tantangan tersebut dan haus lalu terhanyut akan arus pekerjaan
Sampai aku lupa akan tujuan aku selama ini

Apa itu?

Aku masih punya mimpi yang lain..
Mimpi bahwa aku akan berada dalam rumah ku yang nyaman untuk menyambut anak-anakku pulang dari sekolah
Mendengarkan cerita mereka tentang kejadian di sekolah..

Yea, yea, yea.. i know, itu bisa kita lakukan kita berada di kantor, lewat telepon misalnya, bahkan dengan video call kita juga bisa melihat mimik mereka saat bercerita

Tapi, apa sama dengan mendengarkan cerita tersebut sambil menghirup bau matahari dari badan mereka?
Menyentuh rambutnya yang terkena debu saat bermain dengan teman-temannya
Membersihkan lukanya saat ia menangis pulang setelah jatuh berkelahi atau saking bersemangatnya berlari ke sana-sini
Berada di samping mereka saat mengerjakan pekerjaan rumah
Memberikan penjelasan tambahan akan acara televisi yang mereka saksikan
Menuntun jari-jari mereka menari di atas keyboard menelusuri situs-situs pengetahuan
Mengantar mereka untuk tidur siang
Membangun pribadi mereka
Menanamkan nilai-nilai dalam hati mereka
Membekali mereka agar siap menapaki hidup

Ahh, ternyata mimpi itu masih tersimpan dalam hati

Jadi, bukannya tidak ada ambisi untuk meraih posisi yang lebih tinggi dari sekedar spv, wahai atasan-atasanku yang tercinta..
Bukannya aku sudah cukup merasa puas dengan menangani dua subordinate saja seperti sekarang (yang itu saja sudah membuat seakan ada gunung besar yang diletakkan di pundak ini)
Bukannya aku tidak mau memperluas jarak pandangku
Bukan, sungguh bukan..

Hanya saja, aku belum yakin apakah hal itu masih bisa dilakukan saat aku juga sedang mengejar mimpiku ini?
Atau aku sendiri memang takut menghadapi kenyataan bahwa hal ini lah yang sebetulnya menjadi garis hidupku nanti dan aku pun akan tetap merasa nyaman dalam garis ini..
Menjadi wanita karier?
Arrrghhh!!!!
Mengapa hal ini menjadi momok yang begitu menakutkan buat aku?
Menjadi wanita karier yang sukses bekerja di suatu perusahaan..
Sial!!!
Ga berani ngebayanginnyaaaaaaa

Harus mulai fokus nih
Menjalin satu demi satu benang mimpi yang mulai kusut
Mengumpulkan tekad yang terserak di lapangan luas
Untuk satu tujuan yang sampai saat ini masih berusaha diraba

Come on, Dieeeeet…..
Semangaaaat!!!!
Fokus, fokus, fokus, fokus…
Tentukan mimpimu

*jelas banget ini efek baca Kaas dan The Devil and Miss Prym *
*jelas banget juga ini efek tahun baru*
*jelas berharap kalo ini efek hasil perenungan panjang akan apa yang harus dihadapi di depan berdasarkan apa yang terjadi di belakang*

Harus siap menghadapi apa yang akan terjadi di depan
Tentunya dengan tetap fokus pada tujuan (yang lagi-lagi aku tekankan di sini, tujuan itu sesungguhnya BELUM benar-benar ditetapkan.. yeah, dasar labil!!!)
No, bukan hanya untuk setahun ke depan ini
Karena perubahan tidak musti menunggu pergantian tahun, tidak harus tejadi dalam satu tahun
Perubahan yang sangat besar seringkali terjadi dalam bingkai waktu yang sangat sempit“, kata Om Coelho, lagi-lagi dalam bukunya The Devil and Miss Prym (noooo, bukan Meeeeee, bukan Miss Primanti Veriani.. hihihihihi *plak!! dapet tabokan dari JatiAsih* )
Segalanya musti dipersiapkan..
Dalam semangat yang tetap harus berkobar..
Kemanapun tujuannya, apapun mimpi yang akhirnya ditetapkan..
InsyaAllah masih dalam ridhoNya

Karena aku pasti akan terus berdoa, untuk dituntun mengejar mimpi yang diarahkan olehNya
Karena semua, pasti sudah diatur sedemikian rupa..
Agar aku menjadi umat yang sebaik-baiknya umat..
*menunduk dan berdoa dengan khidmat*

Advertisements

8 thoughts on “Appraisal

  1. topenkkeren said: aku merasa terwakili, Mbak. :p*ngeles biar gak bikin jurnal

    eh.. pantes gatel2 kaki.. rupanya lg dipanggil2*padahal kudisankirim tabokan jgn dari jatiasih ah.. enakan live show.. tuker sama combro ya*ngrayu

  2. helvry said: tetap semangat buk.semoga impiannya terkabul

    I do love my job, Jar.. Segala tantangan dan intrik yg bikin hidup jadi lebih hidup ada di kerjaan yg aku handle.. Soft skills and hard skills kepake nya berimbang.. Dan aku jg maximal ko kl kerja.. Tapi ya itu, aku punya mimpi yang lain.. Yg sama denganmu itu.. Nah, mau fokus ke yang mana, itu yg lagi ribet di otak.. Hi3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s