Psychology of Fashion: Fenomena Perempuan (Melepas) Jilbab

buat bisa make aja udah susah penuh perjuangan, kok malah dilepas?

Kata-kata ayu di Matraman Selasa sore kemarin sama persis dengan yang ada di pikiran saya saat Kak Lita mengusungkan judul buku ini untuk diskusi buku bulan ini

Well, sebetulnya hal itu juga yang terlintas saat bbrp teman melepas jilbabnya.
Dan sejujurnya, saya tak bisa menghindari memberikan prasangka atas kejadian tersebut, meski hanya di dalam hati.
Yang ada dalam pikiran saya adalah sama dengan yang ada dalam pikiran banyak orang pada umumnya.
Yup, degradasi iman.
Dan walaupun saya akhirnya mengetahui sedikit dari alasan-alasan teman-teman saya, prasangka itu masih tertanam ketika membaca buku ini, terutama di bagian-bagian awal.

Sekitar 120an halaman dihabiskan penulis untuk menuliskan teori-teori psikologi yang berkaitan dengan topik ini.
Walau pada awalnya saya setia mengikuti satu persatu deskripsinya (karena masih euforia akan tema tulisannya, mungkin), tapi kemudian saya terserang rasa bosan. Gemas, bahkan.
Karena teori yang dijabarkan benar-benar hanya mengambil teori yang kiblatnya ke ‘barat’.
Di sini saya langsung merasakan adanya tendency penulis untuk memihak kepada para pelaku.
*maaf jika saya menggunakan kata pelaku di sini, masih belum menemukan kata yang tepat*

Hampir saya banting buku ini, mencak-mencak lah bawaannya.
“Apa iya sedunia itu alasan orang memakai jilbab dan kemudian melepasnya? Emangnya idup itu isinya dunia doank? huh!!!”

Jadi daripada saya naik darah, halaman-halaman teori tersebut saya skimmed saja.
Langsung ke kisah para perempuan yang melepas jilbabnya.
Masuk sampai ke kisah kedua, saya makin merasa perlu mencak-mencak.
“Ya ampun, orang-orang ini sombong sekali.”

Mereka hanya memikirkan apa yang nyaman buat mereka hanya karena eksistensi mereka terancam. Dan laki-laki mengapa memegang peranan penting dalam proses mereka melepas jilbab?
No, bukan mencegah, tapi mendukung proses tersebut.
Hadeeeeh, seakan tidak ada keputusan di dunia ini yang ga bisa kita ambil tanpa ada hubungannya dengan kaum Adam ini.
*tepok jidat*

Sempat saya diskusikan dengan bbrp teman di kantor, dan ada seseorang yang mengatakan seperti ini, “Apa ada alasan yang bukan alasan dunia dalam semua alasan pelepasan jilbab?”
Sampai di kisah kedua ini, saya masih merasa pertanyaan -atau penyataan?- itu ada benarnya juga.
Lalu kembali memori teman-teman saya kembali datang.
Despite the prejudices, saya menghormati keputusan mereka.
Salah satunya adalah karena mereka tidak menyerang balik ke kelompok yang memakai jilbab.

Saya lalu membalik halaman ke kisah pertama.
She’s a thinker,
Cukup banyak membaca dan mengetahui tentang Al Qur’an dan kitab kuning.
Tapi keyakinan dia mulai terganggu saat kualitasnya sebagai manusia -dalam hal ini anggota keputrian yang sedang dalam proses pemilihan kepengurusan- dipertanyakan hanya dari lebar atau tidaknya jilbabnya.
Dan ini terus menerus mengganggunya.
Lalu lingkungan yang memacu dia untuk berpikir dan mendorong rasa nyaman saat dia mulai bertahap melepas jilbabnya.

Kisah kedua
Tumbuh dengan pengetahuan agama yang digambarkan hanya dengan dosa ini dan pahala itu, membuatnya menjalankan agama dibawah rasa takut.
Dan adanya tantangan kognitif dari pacarnya saat itu, membawa ke dalam pemikiran untuk melepas jilbab.
Lalu adanya balasan judgementnya kepada wanita-wanita yang -masih- memakai jilbab.
Oh, well.. pada beberapa bagian wawancara, saya merasa orang ini yang paling sombong dari keempat subjek.
Dia bahkan sungguh-sungguh percaya bahwa kesuksesan yang dia raih, seluruhnya karena hasil kerja kerasnya, tanpa ada campur tangan Tuhan.
Hadeeeeh…

Menuju ke kisah ke tiga, saya mulai maklum dan sedikit melihat sisi lain dari dua kisah sebelumnya.
Tapi di kisah ke4, saya kembali resah, rasanya ingin menggaruk-garuk tanah.
“Kok gara-gara cowo lagi, cowo lagi, cowo lagi seeeeeeeeeeh?”
Arrrrgh!!!

Penulis pun mengupas hasil wawancara tersebut dengan landasan-landasan teori yang diberikan di bab-bab awal.
Saya lalu mulai melihat kenetralan penulis dalam topik ini.
Dan menuju bab terakhir, saya baru bisa mengatakan bahwa penulis mengambil kesimpulan dengan cukup fair dalam topik ini.

Saya pun merenung lagi.
Apa saya sebegitu dangkalnya dalam menilai orang-orang yang melepas jilbabnya?
Mengapa saya sangat tersinggung saat subjek#2 mengatakan wanita yang memakai jilbab adalah wanita yang gagal untuk develop trust kepada orang lain?
Mungkin di sini lah letak permasalahannya.
Dan inilah tujuan dari penulis.
Dan saya pun mencoba menghilangkan prasangka-prasangka tersebut dan menelaah ulang keempat kisah tsb.

Hey, jilbab saya juga masih begini-begini saja.
Padahal dalam An-Nur 31, yang harusnya ditutupi khan sampai ke daerah dada, dan saya rasa excuse yang saya punya dalam memakai gaya jilbab pun, lagi-lagi karena kenyamanan saya.
Itu termasuk alasan yang duniawi, bukan yaa?
Hehehehehe
*Jadi garuk-garuk kepala yang ga gatel..*

Apalah saya ini sampai punya hak untuk memberikan judgement terhadap para pelaku sedangkan saya juga tidak pasti iman saya lebih hebat dari mereka.

Hanya tadi ada yang saya lupa sampaikan dalam forum diskusi di bangku nyaman yang dikelilingi tanaman sejuk.
Ada bbrp opini, baik dari dalam buku, maupun dari peserta diskusi yang menggambarkan kekecewaan akan ekslusifitas jilbaber lebar nan besar.
Saya juga pernah mengalaminya.
Saya mengenal beberapa yang memang melakukan tersebut, dulu kala saya masih SMA dan kuliah.
Kekecewaan yang sama juga membuat saya sedikit merasa jengah pada sebagian besar mereka.

Tapi semakin kini, saya juga banyak mengenal dekat jilbaber besar yang sungguh sangat patut dipuji akhlaknya.
Bahkan decak kagum dalam hati sampai berharap saya bisa mencapai tahap tersebut suatu hari.
Saya menyayangi mereka.

Jadi, saya lupa menyampaikan di forum tsb bahwa tidak semua jilbaber besar mengecewakan kita.
Karena itu artinya, kita balas mengambil prasangka terhadap mereka khan?

Saya belajar untuk mengendalikan prasangka dari buku ini.
Alasan dan rasa yang ditimbulkan oleh jilbab yang saya pakai seperti yang sempat saya dan beberapa orang cetuskan di sini pun tidak hilang.
Saya masih merasakan hal-hal tersebut.

Saya pun semakin berharap saya bisa memperbaiki jilbab saya.
Baik jilbab fisik ataupun akhlak saya.
Semoga..
*aamiiin*

Dikarenakan bahasa dan teori-teori yang diusung dengan tujuan penelitan, saya rasa akan banyak yang mengalami kesulitan atau kebosanan dalam membaca buku ini.
Setidaknya untuk pembaca yang jarang bisa menikmati buku non-fiksi seperti saya
^_^

PS:
Mengharapkan saya akan menjabarkan teori-teori yang ada di buku ini?
Kayaknya ga bakal deh.
Buat saya, jilbab memiliki makna yang lebih besar dari teori-teori tersebut
Jadi, kalau mau tau, baca aja bukunya yaaaaa
Hehehehe
http://www.goodreads.com/review/show/121596118

Advertisements

9 thoughts on “Psychology of Fashion: Fenomena Perempuan (Melepas) Jilbab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s