menghitung pahala

Aku mencarimu
Di tengah miskinnya cahaya
Terseok-seok di antara belukar dosa

Gamang berdiri di atas karang
Tak jua kutemukan obat keberanian
Pengecut menjelma penuh atas raga
Karut akan kertas bertuliskan takdir

Tersesat
Gelap makin membungkus lorong
Tulangku menggigil kelelahan
Aku masih belum menemukanmu

Bentangan kain kafan menghadang
Nafas sudah nyaris terputus
Engkau dimanaaaaaa?

Udara yang mencelos ke dalam tenggorokan
Tak mampu membantu
Namamu menggantung di dalam asa

Ketuk palu telah terdengar dari mahkamah
Waktunya telah datang,
Namun mengapa baru kau tampakkan wajah

Kala cambuk telah terayun

*racikan untuk arisan kata episode 4*

Psychology of Fashion: Fenomena Perempuan (Melepas) Jilbab

buat bisa make aja udah susah penuh perjuangan, kok malah dilepas?

Kata-kata ayu di Matraman Selasa sore kemarin sama persis dengan yang ada di pikiran saya saat Kak Lita mengusungkan judul buku ini untuk diskusi buku bulan ini

Well, sebetulnya hal itu juga yang terlintas saat bbrp teman melepas jilbabnya.
Dan sejujurnya, saya tak bisa menghindari memberikan prasangka atas kejadian tersebut, meski hanya di dalam hati.
Yang ada dalam pikiran saya adalah sama dengan yang ada dalam pikiran banyak orang pada umumnya.
Yup, degradasi iman.
Dan walaupun saya akhirnya mengetahui sedikit dari alasan-alasan teman-teman saya, prasangka itu masih tertanam ketika membaca buku ini, terutama di bagian-bagian awal.

Sekitar 120an halaman dihabiskan penulis untuk menuliskan teori-teori psikologi yang berkaitan dengan topik ini.
Walau pada awalnya saya setia mengikuti satu persatu deskripsinya (karena masih euforia akan tema tulisannya, mungkin), tapi kemudian saya terserang rasa bosan. Gemas, bahkan.
Karena teori yang dijabarkan benar-benar hanya mengambil teori yang kiblatnya ke ‘barat’.
Di sini saya langsung merasakan adanya tendency penulis untuk memihak kepada para pelaku.
*maaf jika saya menggunakan kata pelaku di sini, masih belum menemukan kata yang tepat*

Hampir saya banting buku ini, mencak-mencak lah bawaannya.
“Apa iya sedunia itu alasan orang memakai jilbab dan kemudian melepasnya? Emangnya idup itu isinya dunia doank? huh!!!”

Jadi daripada saya naik darah, halaman-halaman teori tersebut saya skimmed saja.
Langsung ke kisah para perempuan yang melepas jilbabnya.
Masuk sampai ke kisah kedua, saya makin merasa perlu mencak-mencak.
“Ya ampun, orang-orang ini sombong sekali.”

Mereka hanya memikirkan apa yang nyaman buat mereka hanya karena eksistensi mereka terancam. Dan laki-laki mengapa memegang peranan penting dalam proses mereka melepas jilbab?
No, bukan mencegah, tapi mendukung proses tersebut.
Hadeeeeh, seakan tidak ada keputusan di dunia ini yang ga bisa kita ambil tanpa ada hubungannya dengan kaum Adam ini.
*tepok jidat*

Sempat saya diskusikan dengan bbrp teman di kantor, dan ada seseorang yang mengatakan seperti ini, “Apa ada alasan yang bukan alasan dunia dalam semua alasan pelepasan jilbab?”
Sampai di kisah kedua ini, saya masih merasa pertanyaan -atau penyataan?- itu ada benarnya juga.
Lalu kembali memori teman-teman saya kembali datang.
Despite the prejudices, saya menghormati keputusan mereka.
Salah satunya adalah karena mereka tidak menyerang balik ke kelompok yang memakai jilbab.

Saya lalu membalik halaman ke kisah pertama.
She’s a thinker,
Cukup banyak membaca dan mengetahui tentang Al Qur’an dan kitab kuning.
Tapi keyakinan dia mulai terganggu saat kualitasnya sebagai manusia -dalam hal ini anggota keputrian yang sedang dalam proses pemilihan kepengurusan- dipertanyakan hanya dari lebar atau tidaknya jilbabnya.
Dan ini terus menerus mengganggunya.
Lalu lingkungan yang memacu dia untuk berpikir dan mendorong rasa nyaman saat dia mulai bertahap melepas jilbabnya.

Kisah kedua
Tumbuh dengan pengetahuan agama yang digambarkan hanya dengan dosa ini dan pahala itu, membuatnya menjalankan agama dibawah rasa takut.
Dan adanya tantangan kognitif dari pacarnya saat itu, membawa ke dalam pemikiran untuk melepas jilbab.
Lalu adanya balasan judgementnya kepada wanita-wanita yang -masih- memakai jilbab.
Oh, well.. pada beberapa bagian wawancara, saya merasa orang ini yang paling sombong dari keempat subjek.
Dia bahkan sungguh-sungguh percaya bahwa kesuksesan yang dia raih, seluruhnya karena hasil kerja kerasnya, tanpa ada campur tangan Tuhan.
Hadeeeeh…

Menuju ke kisah ke tiga, saya mulai maklum dan sedikit melihat sisi lain dari dua kisah sebelumnya.
Tapi di kisah ke4, saya kembali resah, rasanya ingin menggaruk-garuk tanah.
“Kok gara-gara cowo lagi, cowo lagi, cowo lagi seeeeeeeeeeh?”
Arrrrgh!!!

Penulis pun mengupas hasil wawancara tersebut dengan landasan-landasan teori yang diberikan di bab-bab awal.
Saya lalu mulai melihat kenetralan penulis dalam topik ini.
Dan menuju bab terakhir, saya baru bisa mengatakan bahwa penulis mengambil kesimpulan dengan cukup fair dalam topik ini.

Saya pun merenung lagi.
Apa saya sebegitu dangkalnya dalam menilai orang-orang yang melepas jilbabnya?
Mengapa saya sangat tersinggung saat subjek#2 mengatakan wanita yang memakai jilbab adalah wanita yang gagal untuk develop trust kepada orang lain?
Mungkin di sini lah letak permasalahannya.
Dan inilah tujuan dari penulis.
Dan saya pun mencoba menghilangkan prasangka-prasangka tersebut dan menelaah ulang keempat kisah tsb.

Hey, jilbab saya juga masih begini-begini saja.
Padahal dalam An-Nur 31, yang harusnya ditutupi khan sampai ke daerah dada, dan saya rasa excuse yang saya punya dalam memakai gaya jilbab pun, lagi-lagi karena kenyamanan saya.
Itu termasuk alasan yang duniawi, bukan yaa?
Hehehehehe
*Jadi garuk-garuk kepala yang ga gatel..*

Apalah saya ini sampai punya hak untuk memberikan judgement terhadap para pelaku sedangkan saya juga tidak pasti iman saya lebih hebat dari mereka.

Hanya tadi ada yang saya lupa sampaikan dalam forum diskusi di bangku nyaman yang dikelilingi tanaman sejuk.
Ada bbrp opini, baik dari dalam buku, maupun dari peserta diskusi yang menggambarkan kekecewaan akan ekslusifitas jilbaber lebar nan besar.
Saya juga pernah mengalaminya.
Saya mengenal beberapa yang memang melakukan tersebut, dulu kala saya masih SMA dan kuliah.
Kekecewaan yang sama juga membuat saya sedikit merasa jengah pada sebagian besar mereka.

Tapi semakin kini, saya juga banyak mengenal dekat jilbaber besar yang sungguh sangat patut dipuji akhlaknya.
Bahkan decak kagum dalam hati sampai berharap saya bisa mencapai tahap tersebut suatu hari.
Saya menyayangi mereka.

Jadi, saya lupa menyampaikan di forum tsb bahwa tidak semua jilbaber besar mengecewakan kita.
Karena itu artinya, kita balas mengambil prasangka terhadap mereka khan?

Saya belajar untuk mengendalikan prasangka dari buku ini.
Alasan dan rasa yang ditimbulkan oleh jilbab yang saya pakai seperti yang sempat saya dan beberapa orang cetuskan di sini pun tidak hilang.
Saya masih merasakan hal-hal tersebut.

Saya pun semakin berharap saya bisa memperbaiki jilbab saya.
Baik jilbab fisik ataupun akhlak saya.
Semoga..
*aamiiin*

Dikarenakan bahasa dan teori-teori yang diusung dengan tujuan penelitan, saya rasa akan banyak yang mengalami kesulitan atau kebosanan dalam membaca buku ini.
Setidaknya untuk pembaca yang jarang bisa menikmati buku non-fiksi seperti saya
^_^

PS:
Mengharapkan saya akan menjabarkan teori-teori yang ada di buku ini?
Kayaknya ga bakal deh.
Buat saya, jilbab memiliki makna yang lebih besar dari teori-teori tersebut
Jadi, kalau mau tau, baca aja bukunya yaaaaa
Hehehehe
http://www.goodreads.com/review/show/121596118

Heaven’s Net Is Wide (Kisah Klan Otori #0)

jaring surga itu luas, tetapi mata jaringnya sangat halus
Lao Tsu

Jujur, saya masih belum bisa memaknai dengan benar kalimat di atas..
Atau hanya saya yang masih belum berani menafsirkannya secara benar?
hehehehehe..

Kita bahas cerita di bukunya aja yaaa

Kisah ini bermula dari pembunuhan Isamu yang membuat saya harus kembali memutar ingatan ke buku#1.
Isamu itu siapa yaa?
Dan rasa penasaran saya tidak langsung terjawab di bab 2 yang menceritakan kesulitan Lady Otori (istri Shigemori) untuk mempunyai penerus Klan Otori.

Setelah berulang kali mengalamai keguguran, Shigeru dan Takeshi pun lahir.
Dan konflik pun mulai mencuat.
Mulai dari kerabat dekat, yakni kedua adik tiri Shigemori.
Mereka resah akan kehadiran penerus sah yang artinya mengancam keberadaan mereka di kastil Klan Otori.
Ketidaktegasan Shigemori pun dimanfaatkan mereka dengan meluncurkan hasutan-hasutan agar Otori yang menguasai Negeri Tengah melunak pada Klan Tohan yang menguasai negeri Timur.

Kelicikan kedua paman Shigeru bersambut ambisi Tohan yang ingin mengambil alih kuasa dan wilayah Otori.
Penerusnya, Iida Sadamu memendam kebencian yang sangat dalam pada Shigeru.
Kebencian yang cukup beralasan bagi seseorang yang dibesarkan untuk menjunjung tinggi sikap pongahnya.
Kelicikannya terbantu oleh kemampuan magis yang dimiliki para keluarga Tribe.
Keluarga yang mempunyai banyak kedok tapi sesungguhnya mata-mata dan pembunuh bayaran paling ulung.

Tapi jaring surga buat Shigeru telah membentang. Meski dikhianati Nogichi dari Negeri Barat, tapi pemimpin Klan Maruyama, Naomi, bersedia bersekutu dengannya. Begitu juga dengan Arai dari Kumamoto. Keserhanaan dan ketulusan hati Shigeru pun mempunyai tempat sendiri di kalangan kaum Hidden (yang saya kira dimaksudkan sebagai ajaran Nasrani oleh Lian).

Alur yang baik membuat saya betah menghabiskan liburan Lebaran saya untuk melahap 786 halamannya.
Meski saya lebih dulu membaca buku#1-4 yang otomatis sudah mengetahui akhir dari jalinan jaring ini, tapi Lian mampu memilin sedemikian rupa sehingga saya penasaran siapa saja yang sudah terjerat.

Rasa kagum pada Shigeru yang saya dapat kala membaca buku#1 terjawab di prequel ini.
Karakter Shigeru hasil tempaan sedemikian rupa , dan sebagian besar dibentuk oleh Matsuda Shingen tergamblang jelas.

Hanya saja, saya masih menemukan kekecewaan, soal kisah cinta..
Saya berharap bisa menemukan alasan mengapa cinta Shigeru dan Naomi yang saya temukan di buku#1 begitu indah.
Cinta besar dan meluap-luap yang terendam oleh politik dan kekuasaan.
Tapi di sini yang saya temukan hanya gairah dari keduanya.
Bahkan kesamaan rasa kehilangan kerabat dekat mereka kurang cukup untuk menggambarkan alasan mengapa cinta mereka bisa begitu dalam.

Tak mengapalah..
4.5 bintang yang saya berikan digenapkan menjadi 5 bintang.
Semata-mata karena saya tetap jatuh cinta pada Shigeru..
*lovestruck lovestruck*

13092010
*dhee yang masih mencoba meraba halusnya jaring surga*
*ngubek2 lemari lagi..penasaran..buku#1 ku masih ilang niiiiiiih*

########################################################################

baca bareng jeng muthe

dua manusia

aku ‘bertemu’ dengan dua orang manusia
di ‘dunia’ yang berbeda
dalam kesempatan yang berbeda

‘pertemuan-pertemuan’ pertama meninggalakan kesan yang cukup baik
bahkan pada beberapa pembicaraan, cukup terkagum akan dalamnya pengetahuan mereka
terutama pengetahuan agama

seiring waktu berjalan
aku mengetahui beberapa hal yang ternyata sedikit bertolakbelakang dengan apa yang mereka bicarakan sebelumnya

ok, tak mengapa
tak ada manusia yang sempurna
ada saatnya kita khilaf
aku pun tak luput dari kesalahan-kesalahan

tapi kemudian hal tersebut berulang
sehingga cukup buat aku untuk mempertanyakan setiap wacana yang coba mereka usung

apakah wajar jika kini mereka memberi pengetahuan-pengetahuan baru, yang baik tentunya, tapi aku tak lagi menanggapinya serius?
apakah baik jika kini aku tak lagi melihat bahkan memperdulikan apa yang mereka coba bawakan karena menganggap hal tersebut tak tercermin dalam keseharian mereka?
apakah secara tidak langsung aku sudah menganggap mereka munafik?
wah, lancang sekali..
dengan begitu sedikitnya kebaikan yang sudah aku lakukan di dunia ini,
sepertinya sungguh jauh untuk dapat memberikan wewenang kepadaku untuk mengatakan mereka munafik

mereka orang baik
-sepertinya- aku percaya itu
tapi, entah mengapa, apa yang mereka katakan tidak lagi membuatku kagum dan percaya, apalagi mencoba memahaminya..
bahkan kadang aku tanggapi dengan sedikit mencibir..

Astaghfirullah…
Apakah aku tidak berkaca?
bahwa mungkin saja aku berada di posisi mereka dalam pikiran orang lain..

dan aku rasa aku sudah berdosa
karena sudah menutupi diri terhadap pengetahuan yang mereka berikan
karena sudah berprasangka buruk terhadap kebaikan-kebaikan mereka
karena tidak dapat memaafkan kekhilafan saudara sesama muslim

Mudah-mudahan mata hatiku lantas terbuka
agar aku dapat menerima kebaikan mereka tanpa curiga
Mudah-mudahan..
agar aku juga selalu mawas diri..
dan berhati-hati dalam berkata dan bertindak
tidak semua orang bisa menganggap kita baik
weew..

mungkin ini sebabnya kita perlu belajar mengenai periwayat hadist..
agar kita ketahui kebenaranNya..
mudah-mudahan kita selalu dalam lindungan Allah dalam proses kita mengenalNya

amiin

The Boy Who Ate Stars (Anak Lelaki yang Menelan Bintang-bintang)

masih meledek orang yang asik dengan HP atau laptop sendirian dengan sebutan autis?

kalimat tersebut saya temukan dalam sebuah email yang menceritakan perjuangan seorang ibu dalam membesarkan anaknya yang autis. Entah cerita itu nyata atau tidak, tapi jelas sudah menggugah hati saya untuk berhati-hati menyebut kata autis.

Seorang teman juga mempunyai sepupu kecil yang autis yang pernah saya rasakan saat ‘kejahilan’nya muncul.
*pegang-pegang pundak yang dicengkeram keras selama 15 menit.. auch!*

Tidak mudah, memang..
Sangat tidak mudah bahkan..

Melihat cerita keluarga Matthew -4 tahun- dari sudut pandang Lucy -12 tahun-, saya sungguh berharap semua keluarga mempunyai kesabaran yang sama. Dengan atau tanpa anak autis. Kesabaran yang menurut saya sungguh agung. Andai saya punya sedikit saja kesabaran Marie dan Maougo, saya pasti tidak akan begitu banyak membanting telepon, menyumpah serapah, menyepelekan orang, panik.. lho, kok jadi curhat? hehehe..

Lucy bertekad mengenal tetangga-tetangga di flatnya yang baru. Tapi menemukan Matthew mengacak-acak rambut Marie dan Maougo membuat Lucy merasa cukup. Mengenal Matthew berarti mengenal dunia unik. Bersama Theo(dora)- teman sekelasnya, juga Francois- anjing titipan, mereka menikmati dunia Matthew. Dunia dimana mereka bisa melihat Matthew menelan bintang.

Jadi, masih meledek memakai kata autis?

PS: iyah, desain sampulnya emang keren.. jadi ikuta ngepens sama Satya.. ehhehehe *lirik2 echa*

suatu siang tentang wiper

ia bercerita tentang hujan..

jika hujan lebat
dan kita sedang mengendarai mobil
apakah kita takut?

mengapa kita takut?
padahal jalan tetap ada di tempatnya
tidak kemana-mana

mengapa kita takut?
tidak dapat melihat jalan, gumam kami

tapi jalannya masih ada khan?
masih..
jalannya tertutup hujan, oleh karenanya kita merasa takut..

karena kaca mobil kita kotor
tertutup hujan
oleh karena nya kita butuh wiper
agar dapat membersihkan kaca mobil
dan kita pun mampu melihat jalan kembali

jadi mengapa kita harus takut kala masalah datang?
jalannya sudah pasti ada, khan?
hanya saja, apakah kita punya wiper yang akan selalu membersihkan hati kita?

berzikir, bersyukur, tawadhu..
mudah2an Allah selalu membersihkan hati kita dan menunjukkan jalan yang benar
Amiiin

*suatu siang mendengar Aa Gym*