Rahim: Sebuah Dongeng Kehidupan

Innash-sholaatii wanusukii wamah-yaaya wamamaatii lillaahi robbil’aalamiin. Laa syarikalahuu wabi-dzaalika umirtu wa ana minal-muslimiin
*Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku, kuserahkan kepada Allah Robb semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya, demikianlah yang diperintahkan kepadaku. Dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (dari orang-orang yang berserah diri)*
dicukil dari sini

Waktu kuliah, salah seorang teman menolak membaca doa iftitah ini dalam sholat dengan alasan bahwa beliau tidak kuat dengan janji yang terlalu berat.
Membayangkan janji yang ia ucapkan lima kali sehari untuk selalu mempersembahkan sholat, ibadah, hidup dan mati untuk Allah, ia ketakutan akan balasan yang akan diterimanya.
Karena ia begitu yakinnya sebagai manusia ia pasti akan banyak melakukan hal-hal yang melanggar janji itu.
Dia memilih menggunakan doa yang lebih sedikit janjinya.

Dulu, entah mengapa saya merasa itu alasan yang salah, konyol bahkan. Tapi saya tidak menemukan argumen yang tepat saat dia menceritakan hal ini kpd saya.
Sekarang, setelah saya belajar sedikit dari sekian banyak yang harus saya pelajari dalam agama saya, terutama setelah membaca buku ini, saya rasa saya sudah tau jawabannya.

Janji dalam doa tersebut hanya alat pengingat buat kita.
Dengan ataupun tanpa janji dalam doa tersebut, kita tetap tidak seharusnya mengkhianati Pemilik Semesta Alam.
Karena apa?
Sebelum roh kita ditiupkan ke dalam rahim ibu kita tersayang, kita sudah berjanji.

Dan setelah begitu hebatnya kita mengalami hal-hal yang kita alami dalam Ruang Semesta Mini selama kurang lebih 9 bulan sepuluh hari, mengapa masih berani kita mengkhianati janji tersebut?
*garuk2 kepala yang ga gatel*

Mungkin Fahd bermaksud mengingatkan kita akan janji tersebut.
Walau mungkin terkesan sedikit menggurui, tapi setidaknya saya tidak merasa seperti membaca buku self-help (yeah, i would straightway close thus kind of books *toss sama Harun*).
Datar memang alurnya, ini pula yang membuat mood membaca saya agak sedikit tertatih-tatih.
Tapi entahlah..
Dongeng tentang kebesaranNya, dengan tokoh-tokoh yang unik dan nama yang sarat makna, mana bisa saya tidak jatuh hati?

Apalagi waktu menghadiri ngobrol bareng buku ini dengan penulisnya sendiri.
Ada apa dibalik penulisan huruf besar dan kecil dari setiap tokoh seperti yang ditanyakan ayu?
Dan yang paling menarik, ketika Fahd menuturkan hipotesisnya, bahwa jika dirunut-runut, segala permasalahan di dunia sesungguhnya bermula dari komunikasi anak dan orangtuanya.
Jika setiap anak, ibu dan ayah menyadari apa yang sebetulnya terjadi dalam Alam Semesta Mini itu, bukankah dunia bisa menjadi lebih baik?

Salut, Fahd!!!
Tiga Bintang kuberikan.
Untuk mimpi besar yang mudah-mudahan aku bisa membantu, walau sedikit.
Setidaknya dengan menulis review ini.

Love you, Mom.. One of my biggest reason i’m trying to find my happiness is to see you smile for mine..

Love you, Pak..
Mudah-mudahan rumah Bapak sekarang lapang dan tidak menemukan kesulitan satu apapun di sana.. Wait for us, we’ll be there, mudah-mudahan dalam khusnul khotimah. Karena mampu memegang janji yang diucapkan saat empat bulan dalam kandungan.
We’re trying down here..
Miss you..

*dhee yang lagi kangen banget bisa sholat khusyu’ lagi*

review-review yang lain bisa dibaca di:
Harun
Mba Truly
Hanii Marie
Mba Sam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s