Wandu: Berhentilah Menjadi Pengecut

Menelusuri jejak Tasaro..

Yep, saya penasaran dengan tulisan-tulisan terdahulunya Tasaro
Apakah dari dulu beliau sudah bisa menemukan bahasa yang ‘indah’?
Saya menggunakan tanda kutip karena indah juga sepertinya bukan kata yang tepat untuk menggambarkan tulisan Tasaro yang saya baca di Galaksi Kinanthi dan Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan.
Seperti juga yang dikatakan bbrp teman dalam review2 kedua buku di atas. Ada sesuatu di bahasa Tasaro. Sesuatu, apakah saya menemukan’nya’ di buku ini?

Nyatanya, di karya pemenang sayembara novel nasional FLP ini, saya menemukan bahasa yang masih ‘kasar’. Belum ‘indah’, tapi cukup menarik. Tasaro sepertinya masih bergulat dengan deskripsi-deskripsi panjang. Saya cenderung melewatkannya. Agak sedikit bosan. Mungkin Tasaro sedang mencari bahasa ‘indah’nya. *mode sotoy on*. Karena di dua buku yg saya baca sblmnya, saya sudah menemukannya di deskripsi2 yang Tasaro jabarkan.

Seru juga kayaknya kalau saya bisa mengikuti perkembangan bahasa Tasaro ini.

Empat bab pertama yang melelahkan. Tasaro memperkenalkan empat karakter utamanya, masing-masing satu bab. Empat bab yang ‘terlalu’ panjang menurut saya.

Mulai bab ke lima, rasa penasaran baru muncul, gerangan apa yang membuat kelima sahabat ini terpecah-belah? Maruta, Bhumi, Angkasa, Chandra, dan Dahana (ternyata kelebihan Tasaro menemukan nama-nama unik karakaternya sudah ada di buku ini, hmmm.. nice).

Lalu pertemuan itu, pertemuan yang saya harapkan menjadi klimaks, hanya lewat begitu saja. Dialognya kurang membuat saya merasa ‘marah’. Baru ketika menuju akhir, saya menjadi mahfum. Ok, ini gaya Tasaro dulu, di tahun 2005. Ide cerita yang biasa, tapi diceritakan dalam gaya yang unik. Menemukan makna ‘wandu’ pada setiap diri karakter-karakternya.

Bagian yang paling saya suka adalah ketika Chandra pergi ke stasiun Tugu Yogyakarta hanya untuk merenung. I’ve done that for so many times while i was in Yogya. Cuma untuk merenung. Sendirian maupun bersama orang-orang yang dekat di hati saya. Saya cukup terkejut ketika mengetahui bbrp teman ternyata juga suka merenung sendirian di sana. Dan dari buku ini, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa banyak orang lain yang melakukan hal yang sama. Dan kenangan-kenangan itu pun datang menyergap.
Damned, i miss Yogya very much.

Saya masih ingin menelusuri jejak Tasaro yang lain.
Ada yang mau bantu menemukan Samita?
Seperti apa bahasa Tasaro dalam cerita kolosal?

PS: ada yang janggal dalam Bab Bhumi, korban sodomi pertama-tama disebutkan bernama Nurman, lalu pada dialog Bhumi dengan teman-temannya, disebutkan namanya; Nurdin. Erwwww… yang bener yang mana, Mas Tasaro? hehehehe

Advertisements

3 thoughts on “Wandu: Berhentilah Menjadi Pengecut

  1. Ho’oh, makasih y.. Kmrn jg kalo ga salah ada yg kasih tau kl di situ ada.. Apa kamu yg ngasih tau, y? He3.. Nanti lah, abis Ramadhan.. masih *niat* puasa beli buku nih soalnya.. Hehehe

  2. Ho’oh, makasih y.. Kmrn jg kalo ga salah ada yg kasih tau kl di situ ada.. Apa kamu yg ngasih tau, y? He3.. Nanti lah, abis Ramadhan.. masih *niat* puasa beli buku nih soalnya.. Hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s