Emak Ingin Naik Haji

Mak menatap jendela yang menghadap rumah Juragan Haji.
Mak menatap mimpinya, mimpi yang diketahui sulit terjangkau tapi menancap kuat pada asa, hingga berani menjadikannya suatu keinginan.

Mak membayangkan berjalan kaki demi menemui Allah di rumahNya.
Mak ingin melihat megahnya Mesjid yang katanya berlimpah cahaya lampu.
“Mak pengin naik haji, Zein..pengin banget.”
“Kapan ya, Zein…”

Kata-kata yang dihindari Zein, namun akhirnya terdengar lirih dari perempuan yang belum sanggup dibahagiakannya.
Zein terpuruk dan merasa gagal, hingga nekat.
Kalau keberadaaanya di penjara bisa membuat Mak menjadi tamu Allah, dia siap.

Zein, layaknya semua anak di dunia, sangat ingin membahagiakan Maknya
Seperti juga curhat-curhat dalam review ini.
Saya jadi berpikir dengan keras sambil menahan sesak dan airmata yang mendesak.
Bapak, sudah sebahagia apakah beliau ketika pergi?
Sejauh mana langkah saya mampu membawa senyum kewajah beliau?
Apakah ada kelegaan dalam hatinya melihat kami, anak-anaknya?
Saya sungguh tidak tahu, yang saya tahu Emak masih ada di samping saya sekarang.
Dan InsyaAllah, saya berusaha keras untuk memastikan senyum itu ada dalam wajah Emak.
Saya sungguh berharap Emak merasakan kelegaan hatinya saat melihat anak-anaknya sekarang.

Tapi saya juga punya asa dengan segala keterbatasannya.
Saya kadang tak mampu menahan diri untuk berdebat dan mempertahankan keinginan saya.
Dibalik itu semua, Emak.. Sungguh, tidak ada sekalipun keinginan untuk mengeluarkan airmata itu agar jatuh ke keriputnya pipimu, Emak..
Sungguh…

Asma Nadia
Ketika saya mengenal tulisan-tulisan Mbak Helvy, saya pun ikut mencicipi karya beliau.
Saya baru tahu kalau ternyata mereka kakak-adik dari pengantar Mba Helvy yang sukses membuat saya pura-pura kelilipan di atas angkot yang melaju di atas TOL JORR.
Kumpulan Cerita (yang benar-benar) Pendek ini tersusun dengan baik sehingga membuat saya terhenyak, geram, lalu jatuh cinta, kemudian malu, dan kembali terhenyak.
Urutan judul yang menarik.

Isu sosial yang dibawakan dalam kisah-kisah sederhana.
Cinta Fajar yang tak sampai pada Senja, pemilihan waktu untuk membenci Koran yang ironis, kecemburuan akan terbaginya cinta suami, rasa kehilangan karena Tsunami, keinginan sederhana untuk memiliki jendela dalam tembok triplek rumah Rara, hingga terkabulnya doa seorang Nania agar semua orang melihat kelebihan yang dimiliki suaminya.

Saya suka..
Jadi kangen sama tulisan Mba Asma dan Mba Helvy lagi..
Emak, sanggupkah saya membawa beliau ke Tanah Suci?

*buku ini saya pinjam dari perpus kantor*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s