sepipun berdendang

gaduh..
jauh kudengar keluhannya
walau pelan namun sanggup membuatku menutup telinga rapat-rapat

tak bisakah dia diam?
dan mencoba mengecap malam ini..
nikmati kelamnya langit
meski membawa nuansa pahit masa lalu

tapi masih kudengar gaduh..
air mukanya yang sendu mengeluarkan cacian sia-sia
bahkan nyamuk-nyamuk berdengung marah
berkeliaran di sekeliling telinganya
muak
seakan ingin berkata,
“cukup!”
“hentikan!!”

lalu tiba-tiba mereka terkapar
terbunuh oleh hujan makian
tak sanggup lagi menghisap manisnya kata pujian

dan masih gaduh terdengar
satu demi satu ia kumpulkan kecewa
dan ia rangkai dalam racauan yang bising
sialnya, ia sangka telah membentuk simfoni

hah!
aku rasa ia takkan sanggup keluar dari hutan ini
belantara syak wasangka telah menyesatkannya
ia tak kan sanggup pulang

tidak malam ini
tidak esok pagi
tidak lusa
tidak selamanya

karena hingga kini ia masih bersenandung nestapa
layaknya mantan biduan yang kehilangan panggung pentasnya

apa dapat dikata,
kala akal kehilangan asanya

telingaku pun memerah panas terbakar jutaan cercanya
menutup telinga rasanya sia-sia
menyerah pasrah
tak sanggup membuka simpul misteri mimpi buruknya

kuhujam jantungku,
dan nyaman sepipun berdendang


*mencoba arisan kata*

Wandu: Berhentilah Menjadi Pengecut

Menelusuri jejak Tasaro..

Yep, saya penasaran dengan tulisan-tulisan terdahulunya Tasaro
Apakah dari dulu beliau sudah bisa menemukan bahasa yang ‘indah’?
Saya menggunakan tanda kutip karena indah juga sepertinya bukan kata yang tepat untuk menggambarkan tulisan Tasaro yang saya baca di Galaksi Kinanthi dan Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan.
Seperti juga yang dikatakan bbrp teman dalam review2 kedua buku di atas. Ada sesuatu di bahasa Tasaro. Sesuatu, apakah saya menemukan’nya’ di buku ini?

Nyatanya, di karya pemenang sayembara novel nasional FLP ini, saya menemukan bahasa yang masih ‘kasar’. Belum ‘indah’, tapi cukup menarik. Tasaro sepertinya masih bergulat dengan deskripsi-deskripsi panjang. Saya cenderung melewatkannya. Agak sedikit bosan. Mungkin Tasaro sedang mencari bahasa ‘indah’nya. *mode sotoy on*. Karena di dua buku yg saya baca sblmnya, saya sudah menemukannya di deskripsi2 yang Tasaro jabarkan.

Seru juga kayaknya kalau saya bisa mengikuti perkembangan bahasa Tasaro ini.

Empat bab pertama yang melelahkan. Tasaro memperkenalkan empat karakter utamanya, masing-masing satu bab. Empat bab yang ‘terlalu’ panjang menurut saya.

Mulai bab ke lima, rasa penasaran baru muncul, gerangan apa yang membuat kelima sahabat ini terpecah-belah? Maruta, Bhumi, Angkasa, Chandra, dan Dahana (ternyata kelebihan Tasaro menemukan nama-nama unik karakaternya sudah ada di buku ini, hmmm.. nice).

Lalu pertemuan itu, pertemuan yang saya harapkan menjadi klimaks, hanya lewat begitu saja. Dialognya kurang membuat saya merasa ‘marah’. Baru ketika menuju akhir, saya menjadi mahfum. Ok, ini gaya Tasaro dulu, di tahun 2005. Ide cerita yang biasa, tapi diceritakan dalam gaya yang unik. Menemukan makna ‘wandu’ pada setiap diri karakter-karakternya.

Bagian yang paling saya suka adalah ketika Chandra pergi ke stasiun Tugu Yogyakarta hanya untuk merenung. I’ve done that for so many times while i was in Yogya. Cuma untuk merenung. Sendirian maupun bersama orang-orang yang dekat di hati saya. Saya cukup terkejut ketika mengetahui bbrp teman ternyata juga suka merenung sendirian di sana. Dan dari buku ini, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa banyak orang lain yang melakukan hal yang sama. Dan kenangan-kenangan itu pun datang menyergap.
Damned, i miss Yogya very much.

Saya masih ingin menelusuri jejak Tasaro yang lain.
Ada yang mau bantu menemukan Samita?
Seperti apa bahasa Tasaro dalam cerita kolosal?

PS: ada yang janggal dalam Bab Bhumi, korban sodomi pertama-tama disebutkan bernama Nurman, lalu pada dialog Bhumi dengan teman-temannya, disebutkan namanya; Nurdin. Erwwww… yang bener yang mana, Mas Tasaro? hehehehe

Apa kabar, Cinta?

Apa kabar, Cinta?
Sudah lama tidak menyapa..
Jejak terakhir yang tertinggal telah terhapus angin kesibukan

Jika kau hendak kembali menyapa, Cinta
Coba kau pastikan kali ini kau kan menetap
Sampaikan kabar kedatanganmu pada seluruh jagat,
Dan lantangkanlah suaramu,
Lalu jabat tanganku erat
Jangan pernah berpikir untuk melepaskan

Agar aku tak lagi bodoh mengira-ngira
Kau hanya mampir sejenak

Kisah 47 Ronin

Bagaimana rasanya kalau kita tahu kita akan pensiun sebentar lagi?

Oishi dan keseluruhan prajurit Ako merasakan kecemasan dan dendam yang luar biasa saat tuannya, Asano Naganori harus melakukan seppuku karena telah menyerang Kira, sang pemimpin upacara istana yang korupsi.

Bab-bab di pertengahan membuat saya mengingat masa-masa awal pensiun Bapak saya. Perasaan beliau mungkin hampir sama. Merasa tidak lagi diandalkan.

Para samurai klan Asano merasa tidak berguna karena tidak dapat membalas dendam atas kematian majikannya. Tapi lebih dari itu, mereka juga tidak sanggup terjerembab dalam kehinaan menjadi seorang Ronin, samurai tidak bertuan. Perasaan menjadi ‘sampah’ itu membuat semangat membalas dendam mereka, terutama Hara dan Horibe, semakin berapi-api.
Oishi pun nyaris kehilangan akal, bahkan Kataoka dan Yoshida tak tau bagaimana membujuk agar anak buahnya mampu menahan diri, setidaknya sampai petisi yang mereka ajukan ke Shogun ditolak.

Tapi petisi itu tak juga berkabar. Oishi mencari akal agar rencana ia membawa anak buahnya mendapat penggalan kepala Kira tercapai tanpa ada hambatan dari klan Eusugi maupun prajurit Shogun.

Bahasa buku ini lebih mirip ke bahasa buku sejarah. Tapi dalam memasukkan unsur emosi, lumayan bisa diberikan jempol (tapi satu ajah). Saya menikmati membaca sejarah dalam buku ini. Nyaris persis jika dibadingkan dengan source lain yang coba saya googling.

Hanya saja, karena ini novel berdasarkan sejarah, akhir cerita nya tidak bisa dirubah. Terlalu indah menurut saya. Kurang tragis layaknya buku samurai yang lain. Hehehehehe
Bintang 4 nya musti turun satu karena cara penuturan akhir ceritanya.

*mari lanjut baca prequelnya Klan Otori, dan mencari akhir tragis cerita-cerita samurai.. Lord Shigeru, here i come*

description

**************************************************************
PBJ 2010, duapuluh ribu
aaah, senangnyaaa.. buku samuraiku nambah lagi
hihihihihihi.. senang, senang, senang…
Baca bareng Mba Indira