Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta

Antonio José Bolivar Proaňo bersama istrinya, Dolores Encarnación, mengungsi ke El Idilio demi menghindari syak wasangka kemandulan dari para tetangga.
Walau akhirnya harus mampu menjadi bagian dari pribumi Ekuador, Shuar, setelah peninggalan Dolores yang tak kuasa melawan malaria.
Menjadi bagian, namun bukan menjadi seorang Shuar.

Mendapatkan kunjungan dan buku-buku kisah cinta dari dokter gigi yang selalu memaki-maki pemerintah kala pasiennya meraung kesakitan.
Menyepak dengan telak Walikota gendut saat dengan sok tahu nya menuduh orang Shuar membunuh seorang Kaukasian yang ditemukan mati mengapung di sungai.

Kencannya yang menegangkan dengan macan kumbang betina, hampir mengambil sisa nafas yang tersisa saat membaca novel ini.

Habis sudah peluh menahan jengkel pada si Gendut sok berkuasa.
Nyaris putus asa melihat alam yang makin terenggut fitrah kebebasannya.

Ah, Pak Tua…
Mengapa engkau tidak diam saja bersandar pada meja dan membaca kisah cinta di Venisia dengan tenang?

buku-buku yag tergeletak melambaikan isyarat padanya dari meja tinggi itu, keluguan dari sengkarut pandangan atas sebuah masa silam yang lebih suka ia lupakan, meninggalkan perigi-perigi ingatan dalam keadaan terbuka, untuk diisi dengan suka cita dan derita cinta yang bertahan lebih kekal ketimbang sang waktu

*plok-plok-plok buat penerjemahnya, suka banget pas bagian ini*
*thanx Nura buat barternya*

The Man Who Loved Books Too Much

Dia GAK CINTA buku sama sekali!!

Huh!!! Apanya yang Loved the Books Too Much?
Apa?
Alasan Gilkey mencuri buku-buku itu cuma pengen pamer, cuma obsesi memiliki perpustakaan seperti orang-orang kaya
Dia baca ga tuh buku-buku?
Cuma satu, Lolita!!
Sisanya?

Tapi suka banget sama narasi nya Allison (eh, ini bisa disebut sebagai narasi ga sih?).
Gara-gara nemu buku langka Krautterbuch, Allison menelusuri jejak Ken Sanders sang bibliodick (penjual buku yang merangkap detekfif) dan John Gilkey, sang pencuri buku yang menurut saya GA CINTA buku sama sekali.

Udah, gitu aja reviewnya.
Masih sebel sama Gilkey dan judul buku ini.
Juga sama kolektor-kolektor yang cuma beli buat dipajang.
Cinta, katanya?
Bah!

PS: walaupun dulu saya dan keluarga tidak terlalu berkecukupan untuk bisa membeli buku-buku seperti yang saya ceritakan di sini, rasanya saya belum pernah ada keinginan mencuri buku. Mungkin karena saya ga tega mengambil sesuatu yang saya yakini berharga bagi pemiliknya.

Ronggeng Dukuh Paruk

penuh mistis dari halaman pertama hingga halaman terakhir

Alam dukuh Paruk berhasil merasuki saya
Kecabulan penduduk dan kleniknya cara hidup mereka membuat saya mengucap istighfar berulang kali
Saya kira saya akan menemukan kisah Kinanthi dan Ajuj dalam buku ini
Perkiraan saya tidak sepenuhnya salah
Kisah cinta yang bermula dari desa miskin nan terpencil juga dialami Srintil dan Rasus
Tapi nuansa yang dibawakan Dukuh Paruk sungguh jauh berbeda
Keprimitifan yang diusung Ahmad Tohari benar-benar mengakar pada setiap karakter
Bahkan Rasus yang bertahun-tahun meninggalkan Dukuh Paruk tak mampu menampik keinginan untuk selalu kembali ke desa mesum ini

Demi cinta nya pada Srintil, ronggeng karena nasib terasuki indang..
Demi Neneknya yang pikun
Demi celotehan nakal Kang Sarkum saat memainkan calungnya
Demi menyadarkan Sakarya dan Kartareja dari keserakahan
Demi darah Ki Secamenggala yang mengalir pada setiap tubuh rakyat Dukuh Paruk

Dongeng yang mencengangkan
Berkesan sederhana dari bahasa penyampaiannya tapi kerumitan konfliknya sungguh menyita perhatian
Bahkan peristiwa G30SPKI pun turut meracuni perjalanan Srintil dan Rasus
Saya tak mampu mengalihkan mata sepanjang perjalanan dari Perumnas Klender ke Pasar Rebo dan sebaliknya
Bahkan sampai rela tidak sarapan

Mirisnya, saat dibawa ke akhir cerita, saya masih tercengang
Saya terbawa mabuk, sungguh

Mafalda 1

Susanita : Nyebelin! Kenapa orang dewasa berbuat dan berkata soal hal-hal yang nggak kita ngerti?
Mafalda : Gini loh, Susanita.. Waktu Kamu ke bioskop, terus filmnya udah selesai diputar, kamu ngerti nggak ceritanya kayak gimana?
Susanita : Nggak
Mafalda : Nah, sama saja dengan orang dewasa. Gimana kita mau ngerti mereka, kalau waktu kita sudah sampai, mereka sudah pergi!

Sokola Rimba: Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba

Membaca Sokola Rimba, membuat saya mengingat kejadian bbrp tahun lalu.

Waktu saya masih bekerja di kantor pertama saya setelah lulus kuliah. Di sebuah perusahaan elektronik di Cibitung. Waktu itu saya dan teman saya, Rima, harus berjalan ke arah gudang chemical sehingga mendapatkan data aktual stok. Untuk menuju gudang tersebut, dari kantor depan, kami memilih melewati bbrp production line dibandingkan melewati jalan antar gedung yang jelas akan merasakan panas matahari yang menyengat.

Entah bagaimana pembicaraannya, tiba-tiba saya berucap, “Beruntung ya kita, bisa sekolah, bisa nerusin kuliah. Walaupun kerja capek musti bolak-balik ke gudang, musti ngomel2 sama supplier, musti siap2 lembur dan memaksimalkan kerja otak setelah MRP Run. Coba liat operator di line sana. Kerjaannya cuma nempelin label. Udah jelas musti ditaruh dimana karena udah ada cetakan tempatnya. Begitu terus selama 8 jam sehari, 5 hari kadang 6 hari seminggu. Apa ga bosen yaa?”.

Serentetan omongan saya disambut dengan kepala Rima yang mengangguk-angguk pusing memikirkan nasib stock material kimia dia yang nyaris kadaluarsa. Hehehehe..

Sesampai dirumah, belum sempat mengganti baju, saya merebahkan diri sambil menonton tv. Ibu saya lalu bercerita tentang Hani, anak tetangga yang sering dititipkan di rumah kami kala ayah dan ibu nya mendapatkan shift kerja yang berbarengan di RS. Bbrp hari itu memang si Hani sedang tegang menghadapi hari pertama sekolahnya di TK dekat rumah. Walaupun dia semangat sekali ketika kami ajari cara membaca dan mengatakan bahwa nanti di sekolah akan banyak bahan bacaan lain dan buku-buku bergambar, tapi mengetahui harus bangun pagi setiap hari dan kehilangan sedikit waktu bermainnya menjadikan sekolah bukan bayangan yang menyenangkan baginya.

Tapi ternyata di hari pertama itu, Hani belajar lagu baru dan dengan bangga menyanyikannya di depan Ibu dan Kakak perempuan saya. Lalu dia bercerita tentang teman-teman sekolahnya dengan berbagai tingkah lakunya. Jenis fasilitas permainannya, bagaimana untuk duduk dengan manis dan makan bekal bersama saja mereka lakukan sambil bernyanyi. Ditengah semangatnya bercerita, Ibunya yang memang mendapatkan shift pagi sehingga tidak bisa mengantarnya, baru saja pulang. Hani langsung berlari dan memeluk ibunya. Dengan penuh sayang, ia cium kedua pipi ibunya, gemas, seraya berkata, “Ibu, makasih yaa udah nyekolahin aku.”

Saya berhenti mendengarkan cerita ibuku itu. Pura-pura berjalan ke kamar untuk mengganti baju, saya mengutuk dalam hati sambil menyembunyikan mata ku yang tiba-tiba berkaca mendengar kata-kata Hani ke ibunya . Sial! mengapa anak kecil bebas sekali berekspresi!!

Membaca Sokola Rimba, membuat saya berpikir, masihkah Hani yang sekarang mengingat kejadian nyaris lima tahun lalu dan berhasil mempertahankan semangatnya bersekolah? Sayangnya, saya rasa tidak.. Sedih sekali melihat dia sudah tak bergairah melihat susunan huruf di buku anak-anak yang kami beli. Setiap kami mengajari berhitung, dia akan punya banyak alasan untuk melangkah pulang ke rumahnya..

Phfuih!! Susah sekali ya, menggenggam semangat belajar dan membawanya sampai mati. *pentung-pentung kepala sendiri yang lagi turun semangat melanjutkan les nya*

Seperti juga Butet yang semangatnya pasang surut untuk mengajari Orang Rimba agar mampu memperbaiki hidup mereka tanpa melanggar peraturan adat. Seru juga kayaknya belajar di tengah hutan.

Ah, kapan saya punya kesempatan bermain sambil belajar tentang hidup dari manusia-manusia yang dunianya tertutup tapi selalu merasa cukup itu?