Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan

http://www.goodreads.com/review/show/98144857

“Diet, membaca buku Tasaro ini..butuh waktu ya. Emosi bisa diaduk sama dia. Gue pengen ketemu dgn Sang Pembelah Bulan itu. Padahal ini baru halaman 17, emosi gue udah begini”

Sms dari teman saya, Ari, semalam begitu dia memulai membaca buku ini.

Saya membalasnya dengan, ” Sabar, Ri..Rasa ingin menggenggam rindu akan tertanam sampai kata terkahir di buku itu.”

Terus terang, sampai sekarang saya masih merasa sulit untuk menulis review buku ini.
Entah karena memang tidak mudah, entah karena saya belum ingin kehilangan rasa rindu yang saya punya ketika membaca buku ini.
Saya tidak bisa menggambarkan dengan kata-kata betapa saya ingin berada dalam masa itu.
Berjuang bersama beliau, Sholat berjama’ah dengan beliau sbg imamnya, mendengarkan khotbah2nya, atau kalau seperti Ari bilang, sekedar berpas2an di tengah jalan dan mendapat sapaan, “Assalammu’alaykum!” dari beliau (tapi membayangkan mendapat sapaan seperti itu rasanya saya akan langsung pingsan terharu sebelum sempat membalasnya, phuifh).
Mengetahui bagaimana para sahabat benar-benar mengobarkan seluruh jiwa raga dan harta demi membela agama tercinta dan menjadi sahabat Kekasih Allah di surga.
Membayangkan dari bbrp tempat di seluruh dunia menanti kedatangannya dengan berbagai ekspektasi seperti yang diceritakan di bab awal buku ini

Rasa rindu yang semakin ingin tergenggam dalam setiap pujian yang ditulis Tasaro dalam menyebutkan setiap julukan bagi Rasulullah.
Saya bisa merasakan betapa Tasaro sangat mencintai Nabi Akhir Jaman ini melalui bahasa yang ia gunakan di buku ini.
Sangat indah, membuat saya tidak rela untuk menyelesaikan buku ini karena ingin terus menggenggam cinta yang tertuai.

Walaupun hanya diceritakan sebagian dari hidup beliau yang sangat berharga, kita diajak mengenal betapa lembut namun tegasnya perangai beliau.
Betapa enggannya beliau memulai perang jika tidak sangat terpaksa.
Betapa cerdasnya pikiran beliau dalam membuat strategi tanpa bermaksud menyakiti dalam-dalam hati para musuh.
Betapa bersahaja nya beliau di mata para sahabat, di mata musuh, bahkan di mata Raja Heraklius yang terang-terangan berkata di depan Abu Sofyan, lelaki yang membenci Lelaki yang Santun Tutur Katanya sampai ke ubun-ubun, ingin membasuh kedua telapak kaki beliau.

Saya yang baru saja mulai untuk mengenal, memahami dan mempelajari Islam merasa sangat beruntung menemukan buku ini.
Seperti juga yang dikatakan Ari, teman saya, membaca buku ini, bukan lagi logika yang bermain, tapi iman.

Saya jadi penasaran akan bagian fiksi dari buku ini yang menceritakan petualang Kashva dari Persia mengitari India, Tibet menuju tanah Yatsrib demi menemui Sang Pembelah Bulan
Surat-surat antara Kashva dengan El, dialog dan perdebatan dengan Astu, pertengkaran batin Kashva
Sungguh indah dan berisi..entah bagaimana jadinya jika Kashva benar-benar bisa bertemu dengan Lelaki Kekasih Allah

Jadi, bagaimana Mas Tasaro? berani menjawab dengan buku kedua nya?

Untuk sementara, saya akan menanti sambil membaca petualangan Kinanthi
Yup, i’ve become one of your Fans
^_^

berikut adalah bbrp kutipan dari buku ini:

hal yang terakhir itu yang hendak dia lakukan saat ini,ketika kesunyian benar-benar sampai pada titik terparah. Hanya nafas, goresan tinta, dan sedikit bunyi api memercik di ujung lilin yang mengusik kesenyapan

–page 6–Himada!Himada!

“Rasulullah telah wafat,” jawab salah seorang dari kedua orang tadi.
“Lalu apa yang akan kalian lakukan jika beliau wafat?”

Tidak ada jawaban. Memang Anas tidak sedang menunggu sebuah jawaban. “Tetaplah berjuang sampai mati, meskipun beliau sudah tiada!”

Tidak menunggu jawaban, tidak pula menunggu reaksi dari kedua orang yang didekap rasa takut alang-kepalang. Anas menderapkan lagi langkahnya. Kali ini setengah berlari. Memburu orang-orang Quraisy yang sedang dibanjiri euforia kemenangan, “surga! aku mencium surg ayang datang dari arah Uhud!”

Teriakan Anas selantang langkah kakinya. Jubahnya berkibaran, sorbannya melambai. Dia menghambur kepada kematian dengan senyum kehidupan. Pedangnya berkelebat, sebanyak-banyak nya mencari korban. Orang-orang Quraisy menyongsong kedatangan Anas dengan keyakinan akan kemenangan. Delapan puluh tusukan lawan dan teriakan2 cercaan menghentikan kepahlawanan Anas. Lelaki itu tersungkur tanpa merasa kehilangan nyawa. Keyakinannya akan surga membuat kematiannya tak berarti apa-apa

–page 16–Perisai Manusia

“Ibumu, ibumu..balutlah lukanya. Ya Allah, jadikanlah mereka sahabatku di surga.”

Mendengar kata-katamu, Nusaibah menoleh sembari berteriak lebih kencang dibanding apapun. “Saya tidak hirau lagi apa yang menimpa saya di dunia, Wahai Utusan Allah!” ” Menjadi sahabat Kekasih Tuhan disurga, lalu apa pentingnya semua kesakitan didunia?”

–Page 19–Perisai Manusia

“Ya Rasulullah,” Zubair cepat kembali menemuimu. Wajahnya mengilat oleh keringat. Topi baja telah ia tanggalkan sejak tadi. Selain oleh basah darah, pakaiannya juga kuyup oleh keringat. “ibu tidak mau kembali ke Madinah sekarang,” kata Zubair. “Beliau telah mendengar kabar tentang kondisi Paman Hamzah, Ibu mengatakan, apapun yang dilakukan demi Allah, beliau pasti merelakannya. Ibu berjanji akan tetap tenang dan tabah. InsyaAllah!”

Apakah engkau tertegun mendengar kalimat Shafiyyah melalui lisan anak laki-lakinya yang pemberani itu, wahai Lelaki yang Berhati Sekukuh Karang?Terbayangkah olehmu keteguhan hati Shafiyyah dan ketegaran jiwanya?

–page 42–Gerbang Shafa

Bagiku, El, omong kosong jika para petinggi agama mengatakan bahwa agama tidak punya urusan dengan akal. Buat apa manusia dianugrahi otak jika hanya untuk mengenali Pencipta otak itu, dia tidak boleh menggunakan otaknya? Menurutku, agama selalu memberi kesempatab kepada para pemeluknya untuk memilah mana yang harus dia pastikan dengan akalnya, mana yang cukup dipercaya begitu saja

–page 126–Jika aku Tuhan

“Dialah Lelaki Penggenggam Hujan sejati.”
“Apa?” Kashva begitu tertarik dengan kalimat terakhir Astu. “Maksudmu, Astu?”
“Jika Namiuchi adalah bangsa yang berusaha menggenggam hujan dan ditakdirkan gagal, berarti ada seseorang yang berhak menggenggam hujan. Memberikan kesegarannya kepada seluruh umat manusia.”
Kashva tersenyum lagi. “Engkau benar. Dialah Lelaki Penggenggam Hujan sejati. Nabi yang dijanjikan.”

–page 156–Lelaki Penggenggam Hujan

Rasa ini tak diciptakan untuk menalimu, tentu
Namun, apakah itu, penyembuh penderitaan telingaku
mengharapkan rengekanmu, sekali waktu?
Kehendakku tak mau meringkusmu, tentu
Namun, bagaimanakah agar waktu masih membelah
sepenggal diri nya untuk caci makimu, buatku?

–page 188–Puisi

“Mengetahui bagaimana agama-agama lain menerjemahkan bahasa Tuhan adalah sebuah proses yang mengasah otakmu, tidak harus berakhir dengan pertukaran imanmu, Astu”

–page 250–Nama yang Terpuji

Sesungguhnya, Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata
-Al Fath, ayat 1-

“Aku jadi berpikir,” kata lelaki kedua, “baiat terhadap beliau pun menjadi berubah arah. Dari sumpah setia untuk menyatukan kekuatan fisik jika orang-orang Quraisy menyerang dan kita terpaksa berperang, menjadi sumpah setia yang menuntun kita untuk menerima perjanjian dengan lapang dada.”

Mengaangguk lelaki pertama. “Aku malah mulai percaya, tidak ada satu butir pun perjanjian Hudaibiyah yang merugikan Muslim.”

“Termasuk mengenai pertukaran tawanan yang tak adil itu?”

“ya,” kata lelaki pertama penuh yakin. “Coba engkau pikir, seorang Muslim yang lari dari Madinah berhak mendapat perlindungan di Mekkah, tetapi tidak sebaliknya. Apa yang buruk dari perjanjian itu? Seorang Muslim yang kabur dari Madinah, dia sudah tidak berguna bagi umat. Tidak ada ruginya jika dia tidak kembali sekalipun.”

Lelaki kedua menyimak, sementara lelaki pertama meneruskan kalimat, “Sebaliknya,
jika seorang Muslim dari Makkah hendak ke Madindah, wajib dikembalikan ke Makkah,” katanya. “Engkau tahu setiap Muslim memiliki kepasrahan total. Sejak awal agama ini dibangun pun hidup kita sudah penuh dengan siksaan para penyembah berhala di Makkah,” matanya tajam menatap kawannya, “dan engkau tahu, kita tidak pernah surut dalam meyakini agama ini meski nyawa taruhannya.”

Lelaki kedua mengangguk. Tiba-tiba dia merasakan ada kemantapan menyusupi setiap relung benaknya. Dia berjalan pulang, tetapi jiwa nya yakin dia telah membawa serta kemenangan. Kemenangan yang nyata

–page 391–Kemenangan yang nyata

“Sesungguhnya aku telah tahu bahwa ia akan lahir,” lanjut Heraklius. “Tetapi aku tidak mengira dia akan lahir di antara kalian. Sekiranya aku yakin akan dapat bertemu dengannya.” getar pada kata-kata sang raja kian terasa, “walaupun dengan susah payah…aku akan berusaha datang menemuinya.” Binar yang asing pada matanya. “Kalau aku telah berada di dekatnya, aku akan membasuh kedua telapak kaki nya.”

membasuh kedua kaki kedua kaki Muhammad! Abu Sofyan benar-benar merasakan kehabisan nafas. Raja seagung Heraklius memuliakan orang yang begitu ia hina dan rendahkan. Heraklius seorang penguasa besar sedangkan Abu Sofyan tahu diri di mana kedudukan dia saat ini. APa yang keluar dari lisan Heraklius serasa mencabut semua alasan Abu Sofyan untuk hidup. Muhammad, apakah benar engkau akan menjadi raja dunia?

–page 461–Heraklius

ada cuplikannya disini juga
http://akhmad03.multiply.com/journal/ite

Ribuan orang, satu seragam. Mereka berjalan kaki, sebagian lagi menaiki unta yang berjalan pelan. Pemandangan yang menyesakkan bagi para lelaki yang berdiri diatas bukit itu. Perjanjian Hudaibiyah menahan para muslim Madinah untuk menziarahi Ka’bah setahun lalu. Perjanjian telah tunai, dan tahun ini ribuan manusia berpakaian putih menenggelamkan Makkah dalam kesyahduan mereka. Rindu yang tertahan. Tumpah lewat airmata dan teriakan kesyukuran.

Tak berapa lama, pawai jemaah Madinah itu memasuki area Ka’Bah. Mereka bergantian menyentuh Hajar Aswad, mengitari Ka’bah tujuh kali, berakhir di Marwah. Unta-unta kurban disembelih dan mereka mulai mencukur rambut.

Seseorang yang legam kulitnya menaiki atap Ka’bah. Dua tangannya terangkat, merapat di kepala lalu menggemalah suara oleh lidahnya. “Allah Maha Besar! Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Suara Bilal, lelaki muazin yang suara nya sebening embun. Dia begitu merindukan Makkah dan hari itu dia merasakan bahagia yang merekah. Ribuan orang tertancap pada perasaan yang terbilang: Makkah kami pulang

–page 465–Pulang

Advertisements

7 thoughts on “Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan

  1. Subhanallah…Salaam ya Rasulullah…Katakanlah : Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. “Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [QS Ali ‘Imran(2):31]

  2. gw ikutan baca lelaki pggm hujan. inspired by ur review en komen ari.tp gw ga dapet gregetnyah..kurang nampar sbagai novel. ada dialog n plot yg nggantung, tp bukan kesengajaan.. jd ga nampol..trutama area fiksi nya.. aga ga kena crita ttg ditinggal kawinnya.. waktu bab2 blakang malah akhirnya gw skip2.. hehe..banyak tokoh dibahas mendalam tapi ditinggal gitu aja, perannya ga sip..ide utk menggambarkan Rasulullah melalui novel sih oke jg.. meski kurang dalem ‘feel’nya..bab2 ini yg aku tunggu2.. bikin haus.. wanting more..

  3. He3, kabarnya buku kedua akan nyeritain waktu Rasulullah msh kecil.. Hmmm,kisah ttg Beliau memang bikin kita selalu rindu y.. Pengen selalu mengingat ttg Beliau..Soal bagian fiksi nya, he3.. Sekali lg, mungkin emang beda selera y.. Karena gw dpt kegusarannya Kashva, dpt kepasrahannya Astu.. He3..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s