Belajar (kecanduan) membaca

Saya tidak ingat benar kapan saya bisa membaca.
Yang saya tahu, saya bisa mengetahui bahwa sesuatu yang merupakan tempat untuk masuk dan keluar itu menggunakan huruf p+i+n+t+u karena Emak saya menempelkan huruf-huruf tersebut di pintu depan rumah kami.

Saya tahu bagaimana huruf-huruf pembentuk kata televisi, lemari, meja dan kursi dengan cara yang sama. Baru setahun terakhir saya tahu metode tersebut ternyata dianjurkan oleh Glenn Doman (gara-gara ada promo dari kantor, hehehe)
Wah, jaman itu mana Emak saya kenal Glenn Doman? Beliau hanya berpikir bahwa itu cara yang mudah untuk mengajar anak2nya membaca.

Saya tidak ingat benar kapan membaca mulai menjadi candu buat saya.
Yang saya tahu, saya ikut menanti ibu tetangga pulang kantor sambil membawa majalah bobo untuk teman saya. Setiap siang, selesai membuat PR di rumah dan lalu mengintip barang dagangan sarapan pagi uwak Husin nyaris habis, saya datang pura-pura membeli ketan demi bisa membaca Pos Kota.

Saya tahu Bapak saya tidak punya cukup uang untuk terus menyediakan bahan bacaan bagi kami (anak-anak dan beliau sendiri), tapi saya ingat saya membaca beberapa seri Enid Blyton dengan lima sekawannya, Ann Martin dengan BabySitter Club nya, Goosebumps, dan lain-lain. Entah dari koleksi Bapak setelah pergi ke toko buku loak di depan gang rumah atau dari koleksi teman-teman saya.

Tapi selera Bapak sedikit banyak mempengaruhi selera baca saya dan saudara-saudara saya yang lain. Coba bayangin aja, anak kecil udah baca Laila dan Majnun!! Kakak perempuan saya terobsesi oleh Winnetou. Adik saya ikutan menunggu serial terbarunya Wiro Sableng.

Saya rasa, Bapak memang berhasil menularkan gairah membaca kepada kami. Tapi sayangnya tidak didukung oleh keadaan keuangan yang memadai sehingga kami cukup terpuaskan dengan meminjam koleksi teman. Saat beranjak remaja, kakak-kakak saya mempunyai uang jajan yang entah bagaimana cara menabungnya sehingga bisa membeli edisi majalah Hai, (walaupun tidak selalu) saya mengikuti serial Balada si Roy yang berhasil menancapkan ide di kepala saya tentang gambaran seorang cowok keren kala itu, kekekekek. Lalu saya berkenalan dengan Lupus, Olga, Vanya dan ‘teman-teman’ lain yang beranjak remaja lebih dahulu dari saya..

Entah bagaimana, saya selalu menemukan teman yang punya hobi membaca dan selalu bersedia membiarkan saya membaca koleksi bukunya. Waktu kuliah di Yogya, sebagai anak kost, kehadiran taman bacaan membuat saya girang bukan kepalang. Uang saku yang ada diatur sedemikian rupa agar cukup membeli makan, ke warnet buat cari tugas, dan meminjam buku di taman bacaan.

Sekarang, setelah sekitar 4.5 tahun sudah saya bisa mencari pendapatan sendiri, sedikit demi sedikit buku mulai bertumpuk di rumah. Saya bisa dengan puas membolak-balik halaman buku karena buku-buku itu punya SAYA! Saya beli dengan hasil keringat saya sendiri. *senyum bangga*

Hanya saja, keajaiban dunia internet membuat saya sedikit lupa akan nikmat membaca buku. Saya lebih terbuai dengan uraian kata dari blog-blog pribadi, artikel-artikel seru, dan tentu saja, diskusi menarik lewat milis. Bau buku sudah jarang sekali mampir di hidung saya -yang tidak mancung dan alhamdulillah tidak juga pesek, halah..penting yaaa?hihihihi-.

Saya jadi terpacu untuk ikut menulis blog karena dulu juga keranjingan menulis diari (kemana ya buku-buku diariku?) dan bbrp cerpen (ah, ini pun hilang entah kemana). Wujud fisik buku nyaris tidak pernah lagi saya genggam. Baru ketika seorang teman memperkenalkan Laskar Pelangi, saya tertarik lagi membaca buku dan mulai mengkoleksi lagi buku-buku yang dulu hanya bisa menunggu antrian di taman bacaan. *melirik Alchemistnya Coelho*

Dan beberapa bulan yang lalu, saya ditarik Mei ke sebuah thread yang menggelitik saya untuk sign up setelah mentah-mentah menolak bikin FB tanpa suatu alasan yang saya sendiri kurang begitu mengerti. Goodreads, bukan cuma jejaring sosial (argh, agak sedikit bosan dengan dua kata ini), terutama Goodreads Indonesia, karena telah membuat saya benar-benar kalap dengan menjejalkan begitu banyak buku bagus dan sekaligus menjadi sering garuk-garuk kepala. Kapan saya bisa membaca semua buku-buku bagus itu?

Dan belum juga setahun (kayaknya sih emang belum setahun, ga inget persis) kantor saya membuka sebuah perpustakaan. Awalnya saya sedikit skeptis dengan perpustakaan kantor ini (walaupun ketika launching saya berhasil mendapatkan voucher Gramedia sebesar 50ribu karena games susun katanya). Paling-paling isinya hanya skripsi dan laporan kerja praktik mahasiswa yang ambil studi di sini. Karena hanya hal itu yang saya temukan di perpustakaan beberapa perusahaan. Sampai sekitar dua bulan lalu, saya terkejut melihat Perang Eropa jilid 3 di meja mba Ririn, sekretaris Plant Manager Psr Rebo. Katanya buku itu ada di perpustakaan dan sedang dipinjam oleh salah satu KaBag.

Wah, saya langsung meluncur ke lantai 1 dan isi formulir keanggotaan. Mak! Isinya lumayan tidak disangka-sangka. Ada beberapa buku anak-anak dalam bahasa Inggris yang menakjubkan, Sound of Young Hunters adalah salah satunya. Sumbangan koleksi buku dan komik bahasa Perancis dari Bu Junni. Novel-novel yang baru saja saya niatkan untuk dibaca *melirik Dimsum Terakhir*. Satu hal lagi yang patut saya syukuri dengan bekerja diperusahaan ini setelah hal-hal lain (berat badan yang bertambah tujuh kilo dalam waktu dua tahun adalah salah satunya *jingkrak kegirangan ga terbang lagi ketiup angin*).

Saya bisa membaca buku dalam bahasa aslinya!!! Bukan terjemahan. Yang saya masih belum sanggup membeli sendiri. Dimana akan sulit sekali saya temui di taman bacaan yogya ataupun di perpustakaan umum yang bau ruangannya saja bisa berhasil membuat saya pucat (kalau saja dulu bukan untuk tujuan tugas atau skripsi, kunjungan ke perpustakaan tidak akan pernah tercontreng dalam kehidupan seorang Didiet). Membaca buku -fiksi- dalam bahasa asli ini satu dari gairah yang saya dapat dari mempunyai teman seperti Ima, Ian, Unyi, Emmy, Ari dan Mei (thanks a lot, sista and Bro!).

Allah memang selalu punya rencana dalam setiap hidup makhlukNya. Saya selalu dipertemukan dengan lingkungan yang selalu membuat saya mengingat kata pertama yang dibawa Jibril pada Rasulullah SAW. “Bacalah” dan InsyAllah tidak melupakan untuk selalu membaca dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pencipta. Karena jika sampai melupakan itu, saya khawatir, segala bentuk bacaan hanya akan menjadi salah satu godaan syaithan. Na’udzubillahi mindzalik.

Tapi saya tidak malu mengaku. Saya mencandu. Saya mencandu membaca.
Terimakasih Emak dengan metode Glenn Doman ‘tidak sadar’-nya karena saya jadi mencandu akan rangkaian huruf-huruf itu. Terimakasih Bapak. Bapak sudah berhasil mengajak Didiet keliling Indonesia, keliling dunia dan membuat Didiet merasakan banyak keajaiban hanya dengan menularkan gairah membaca. Bapak bisa lihat rak buku Didiet dari ‘sana’ khan? Hehehehe. Terimakasih semuanya. *peluk2 teman peminjam koleksi nya, teman mengantri di taman bacaan, teman berburu buku bekas dan diskon, teman berbagi cerita (buku), Goodreaders, semuanya*

Blindness

Satu lelaki tiba-tiba buta ketika mengendarai mobilnya
Dia ditolong oleh satu lelaki untuk kembali ke rumahnya
Dan lelaki ini pun ikut menjadi buta ketika berusaha mencari tempat aman untuk mobil yang dicuri dari lelaki buta yang pertama
Lelaki buta yang pertama pergi ke dokter mata
Dokter mata bbrp jam kemudian, buta!
Pasien2 dalam ruang tunggu yang sama dengan lelaki buta pertama bbrp jam kmdn, buta!
Karyawan di klinik mata, buta!
Seisi kota, buta!

*ok, this is creepy*

bbrp orang buta pertama diisolasi di bangkai RSJ
hidup bersama dengan orang-orang buta yang panik, sedih, shock
Menahan kelaparan menanti pembagian makanan yang tak terdistribusi dengan baik
Pembuangan hajat yang tak kenal tempat
Pelampiasan nafsu bejat yang tak kenal moral

*yaiks, ini mah jijik*

Ego setiap interniran buta yang membuat jatah makanan mjd tidak adil
Terbengkalainya mayat2 tak terkubur
Laki-laki mempersilahkan perempuan melayani nafsu gerombolan bandit buta
Pertengkaran-pertengkaran
Perdebatan-perdebatan
Di tengah-tengah keraguan mau belok ke kanan atau kekiri?
Mau maju atau mundur?
Mau nusuk pakai gunting atau lari ketakutan?
Mau bercinta di tengah-tengah kebutaan atau menyimpan rindu?

*arrrrggggh…gemes bin sebel!*

9 dari Nadira

Kalau aku bunuh diri, kira2 apa ya alasannya?

Hal ini yang ada diotak saat membaca sinopsis di belakang buku ini..
Kalau aku bunuh diri, apa mungkin karena putus asa akan cinta?
Apa mungkin karena tidak tahan akan tekanan pekerjaan?
Apa mungkin karena tidak bisa memenuhi harapan orang2 terdekat?
Atau…hanya karena aku tidak merasa bahagia?

hmmm…bahagia
satu kata yang rasanya sangat jauh untuk dicapai oleh Nadira
jauh sebelum Ibunda nya, Kemala, memutuskan bahwa hidupnya terhenti di suatu pagi, Nadira sudah bingung mengartikan esensi dari kata bahagia

Kebahagiaan itu, apakah sudah terhalang oleh bayangan Yu Nina yang berulang kali menenggelamkan kepala Nadira ke delam jamban waktu kecil?
atau ketika Mas Arya yang rela bertanggung jawab atas meledaknya kamar Nadira dan Yu Nina padahal sebetulnya Mas Arya sedang bermain petasan di halaman belakang?

Kebahagiaan semakin jauh dirasakan Nadira selama tiga tahun bersemayam di kolong meja kerjanya setelah Kemala bunuh diri.
Bodohnya Utara Bayu pun tidak membantu Nadira mencerna..
Tapi hey, butuh dua tangan untuk bertepuk, jadi kebodohoan bukan hanya milik Utara, tapi juga Nadira..
Mungkin Nadira mengira bahagia menghampirinya saat bersama Niko, dan kenyataannya?

Entahlah
Suasana kelam benar-benar dirasakan sepanjang buku ini
Sekelam lambung yang meronta selama dua hari dan membuat saya meringis miris selama membaca buku ini..

Ah, Nadira..cerita apalagi yang akan kau bawa setelah membiarkanku makin meringis membaca akhir buku ini?

PS
udah baca cerpen yang kesepuluh juga yang dimuat di majalah Femina edisi hari Kartini, No. 16/XXXVIII..tetep ya, tidak menjawab rasa penasaran, malah makin nyandu…arrrrrgggggggghhhhh…nunggu lagi nih..sudah 10 dari Nadira…nunggu yang kesebelas, dua belas, tiga belas..nagiiiiiih

Aku Lupa Cara Berdoa

Senin kemarin aku mendapat kabar dari seorang sahabat
Bukan kabar yang bisa dibilang bagus memang, tapi aku sungguh berterimakasih
Karena artinya, aku diberikan kesempatan untuk kembali bercermin..

membaca tulisan seorang teman di goodreads, sedikit tersenyum karena memang ceritanya lucu..tapi makna nya dalam..
Aku rasa, yang disebutkan oleh sang ustadz disana bukan hanya soal mencari jodoh, tetapi untuk setiap hajat yang kita punya
Berusaha
Berdoa
Bercermin

Dan ketika aku ‘tersandung’ lagi untuk usahaku yang sudah kesekian kalinya, maka aku pun bercermin..
Bukan hanya jerawat -yang sedang rajin mengunjungi wajahku dua bulan ini- yang aku lihat..
Bukan hanya wajah lelah dan mata yang tampaknya kurang bersinar akhir-akhir ini

Tapi juga mulut yang nampaknya sudah lupa cara mengucapkan doa..
Tangan yang lupa cara menengadah ba’da shalat fardhu
Telinga yang tidak lagi seksama mendengar panggilan menghadapMu disepertiga malam
Hati yang tidak lagi bergetar saat tilawah..

Astaghfirullah…

Wahai Yang Maha Membolak-balikan Hati..ajari aku lagi..
Aku rindu mengiba padaMu
Aku rindu dengan rasa membutuhkanMu
Aku rindu menginginkan cintaMu..
Ajari aku lagi untuk berdoa dengan hatiku, Ya Waddud..

on jete ou on garde..et pourqoi?

la question mène à la mémoire de vous ..
vous n’êtes pas celui que je suis amoureux, je le sais pour sûr ..
mais je vous adore, beaucoup

et il ya une chose pour sûr je garde dans le tiroir ..
le foulard bleue de vous ..
Avez-vous encore garder mon foulard rose?
hmmm .. Non, je ne pense pas que vous le gardez

Je m’ennuie nos jours .. à menages de la rue de Yogya ..
rire au boulettes de viande épicée qui obtient la sueur ruisselle creux de votre beau visage ..
damned!!
Je me demande toujours, avez-vous ressenti les mêmes papillons que j’ai fait?